Akulturasi Budaya di Masjid Gedhe Mataram Kotagede

Akulturasi Budaya di Masjid Gedhe Mataram Kotagede
Gambar ini adalah Masjid Gedhe Mataram Kotagede (Sumber: Dokumen Pribadi)

Almunawwir.com – Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Dengan populasi Muslim tertinggi, maka wajar jika jumlah masjid di Indonesia sangat banyak. Berdasarkan data dari Kementerian Agama, jumlah masjid Indonesia mencapai 279.163. Pembangunan masjid sendiri sudah dilakukan sejak awal masuknya Islam ke wilayah Nusantara. Salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang adalah Masjid Gedhe Mataram Kotagede di Yogyakarta.

Masjid Gedhe Mataram Kotagede didirikan sejak adanya kerajaan Mataram Islam. Masjid ini pada awalnya berupa langgar kecil yang dibangun oleh Ki Ageng Pamenahan saat pertama kali membangun wilayah Kotagede yang dahulu berupa alas Mentaok. Setelah Ki Ageng Pamenahan wafat pada tahun 1587, Panembahan Senapati (Pangeran Sutawijaya) sebagai putranya merubah langgar itu menjadi sebuah masjid dengan liwan dan mihrab.

Masjid di Kotagede merupakan monumen saksi kebesaran Kerajaan Mataram Islam. Atas saran dari Sunan Kalijaga, pembangunan Masjid dan lingkungan di sekitarnya diberikan nilai-nilai simbolik atau filosofis. Hal itu dilakukan sebagai sarana dakwah atau Islamisasi masyarakat yang saat itu masih banyak menganut ajaran Hindu-Budha atau animisme dan dinamisme.

Nilai-nilai simbolik dan filosofis Masjid Gedhe Mataram Kotagede merupakan hasil akulturasi budaya Islam dengan budaya Jawa pada masa itu. Menurut Bapak Warisman (pengurus takmir Masjid Gedhe Mataram Kotagede), Masjid Gedhe Mataram memiliki makna filosofis Catur Gatra. Catur berarti 4, Gatra berarti wujud, Tunggal berarti 1. Secara harfiah dimaknai sebagai sebuah landasan idiil yang digunakan oleh kesultanan Islam pada saat itu. Dalam sebuah kerajaan harus ada Catur Tunggal, yakni Keraton sebagai simbol birokrasi, Alun-alun sebagai simbol demokrasi, pasar sebagai simbol ekonomi, dan masjid sebagai simbol religi.

Baca Juga:

Masjid Gedhe Mataram Kotagede dahulu dipakai sebagai pusat pengembangan dakwah Islam. Sunan Kalijaga memberikan nilai-nilai simbolik filosofis berbasis akulturasi pada setiap bangunan yang ada di sana. Masjid ini memiliki tata ruang luar dan dalam. Tata  ruang  luar  terdiri  dari  pagar pembatas dan halaman masjid. Pagar pembatas adalah dinding yang mirip dengan dinding Candi Hindu-Buddha. Dinding pagar keliling memiliki 3 buah Gapura paduraksa sebagai pintu masuk. Pada halaman masjid ada 2 bangsal pacaosan. Pada tata ruang dalam adalah bangunan masjid itu sendiri.

Menurut Warisman, pembangunan masjid Mataram ini menggunakan filosofi kalimat tarji’. Kalimat tarji’ mengandung arti bahwa semua mahkluk adalah milik Allah dan akan kembali padanya. Hal itu tersimbolkan dalam pembangunan pada bagian gapura, serambi, dan mustaka masjid. Pintu masuk gapura dahulu dijaga oleh penjaga kerajaan. Masyarakat yang hendak masuk harus mengucapkan syahadat. Ukiran wajah kala makara yang ada di atas gapura digunakan sebagai simbol tolak bala dan sebagai perwujudan sifat angkara manusia.

Sebelum masuk ke serambi masjid, orang-orang harus membersihkan kakinya di kolam air. Kolam air itu memiliki makna tersirat bahwa setiap manusia harus suci dan bersih ketika menghadap Allah dan beribadah. Di bagian atap masjid ada mustaka yang berbentuk daun kluwih dan gadha. Daun Kluwih bermakna linuwih yang dapat diartikan memiliki kelebihan yang sempurna. Sementara gadha bermakna tunggal yang dapat diartikan harus menyembah Tuhan yang Maha Esa. Makna filosofis dari keduanya adalah bahwa manusia akan memiliki kesempurnaan hidup jika sudah sampai tahap makrifat dan hanya menyembah Allah SWT.

Baca Juga

konstruksi Masjid Gedhe Mataram Kotagede mayoritas menggunakan kayu jati. Pemilihan kayu jati secara simbolis memiliki makna khusus bahwa manusia harus mempunyai jati diri yang kuat dalam menjalani kehidupan tanpa meninggalkan ibadah kepada Tuhan. Di dalam liwan masjid ada saka guru (kolom penyangga). Saka guru ini juga memiliki relasi dengan arsitektur masjid yang merupakan perwujudan hubungan kepercayaan dan makna metafisik. Saka guru dianggap sebagai lambang dari 4 unsur dalam pandangan masyarakat Jawa. 4 unsur itu yaitu tanah, air, api, dan, udara di mana empat unsur tersebut dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuninya.

Ornamen-ornamen yang ada di dalam masjid ini juga sarat akan makna dari akulturasi budaya. Pada pintu masuk ruang liwan ada ornamen tulisan Jawa yang diapit tulisan Arab. Mihrab  yang  terdapat pada ruang liwan juga memiliki ornamen motif sulur daun dan tiang semu dengan bingkai di bagian atasnya. Kelompok motif hias tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada ruang tersebut khususnya pada mihrab umumnya bermakna suci, indah, ukirannya halus, dan simetris serta mengandung daya estetis.

Makna-makna filosofis lainnya dapat terlihat pada bagian serambi masjid. Ada 8 tiang besar yang menyangga masjid. Menurut Warisman, 8 tiang tersebut menyimbolkan 8 perkara dalam menjaga sholat. Sementara 5 gerbang kecil sebelum masuk ke serambi juga memiliki makna sebagai 5 hal yang harus dijaga, yakni akhlak, tingkah laku, perkataan, raut muka, dan penampilan.

Baca juga: Nyi Ageng Serang, Sosok Pahlawan Nasional dan Ulama Perempuan

Di halaman sekitar masjid ditanami pohon sawo kecik. Jumlah pohonnya ada 17 sebagai filosofi jumlah rakaat salat 5 waktu. Beralih ke dinding atau benteng yang mengelilingi masjid, secara model dinding tersebut mirip dengan desain pada bangunan candi. Pada bagian atasnya ada kemuncak seperti yang ada pada candi. Kemuncak tersebut terbagi 3 lapisan yang memiliki makna filosofis Islami, yakni yang paling bawah syariat, yang kedua hakekat, dan yang paling atas adalah makrifat.

Masjid Gedhe Mataram Kotagede pada intinya memiliki arsitektur yang tidak bisa lepas dari akulturasi budaya Jawa, Hindu-Buddha, dan Islam. Budaya itu hidup berkembang bersama secara selaras, saling melengkapi satu sama lain, menjadi satu kesatuan bangunan yang indah dan bermakna. Dengan adanya akulturasi ini juga Islam dapat disebarkan dan diterima secara cepat oleh masyarakat. Itu merupakan khazanah sejarah dan budaya yang harus dilestarikan eksistensinya agar tidak lenyap dan hilang.

Baca juga: KH. Hasyim Asy’ari dan Fanatik Buta

_____

Oleh: Imam Basthomi (K3 Arafah)

Editor: Abdillah Amiril Adawy

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel