Alina Suhita: Muslimah yang Memegang Falsafah Jawa ‘Bekti, Nastiti, Ati-Ati’

Alina Suhita: Muslimah yang Memegang Falsafah Jawa ‘Bekti, Nastiti, Ati-Ati’

Almunawwir.com – Jika ada yang mengatakan novel Hati Suhita sama dengan novel genre romance lainnya, saya yakin dia hanya melihat isi novel tersebut dari kisah cinta yang ada di dalamnya. Bukan berarti pendapat itu salah, tetapi mari kita lihat novel tersebut dari sisi yang lain.

Hati Suhita, novel yang sudah diadaptasi menjadi film ini, banyak menyelipkan falsafah dan kosmologi Jawa di dalamnya. Penggambaran sikap dan laku wanita muslimah dengan latar belakangnya sebagai orang Jawa adalah poin eksotis yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Sebelum lebih lanjut, marilah kita awali pembahasan ini dengan menyepakati bahwa ketika mengupas falsafah perempuan Jawa dan muslimah pada umumnya, maka kita kesampingkan isu feminisme terlebih dahulu. Bukan untuk menafikannya, tetapi kita letakkan dulu isu itu sejenak, dan membahasnya kembali di momen yang lain.

Baca juga:

Penerimaan perempuan Jawa dan muslimah terhadap konsensus hidup dan prinsip-prinsip mendasar yang selama ini mereka jalankan rasanya sudah final. Jika ada beberapa yang menolak hal tersebut, maka itu menjadi pengecualian yang bisa dimaklumi.

Tulisan ini ingin menunjukkan kejelian Khilma Anis dalam menyelundupkan nilai-nilai moral orang Jawa yang beririsan dengan ajaran agama Islam dalam novelnya. Lebih khusus tentang falsafah hidup yang dipegang oleh perempuan Jawa. Falsafah itu dapat kita lihat dalam potongan cerita di bawah ini.

“Dia harus tau bahwa aku sekarang adalah seorang putri, meruput katri. Mendahulukan tiga hal seperti ajaran nenek moyangku yang berdarah biru. Bekti. Nastiti. Ati-ati. Dia tidak boleh tahu yang terjadi. Dia harus tahu bahwa kepada suamiku, aku bekti-sungkem. Pasrah-ngalah. Mbangun-turut. Dan setya-tuhu.” (Anis, 2019: 19).

Lebih Lanjut tentang Falsafah Perempuan Jawa

Falsafah Bekti, nastiti, dan ati-ati menunjukkan bahwa perempuan Jawa dalam lakunya harus mengedepankan tiga hal, yaitu berbakti kepada orang tua dan suaminya, cermat dan teliti dalam mengerjakan segala sesuatu dan selalu berhati-hati dalam bertindak dan bersikap. (Saputri, 2019: 13-14), (Afifah, Sari, 2022: 37).

Pengamalan sikap bekti dalam novel tersebut ditunjukkan oleh Alina Suhita yang dengan ikhlas menerima perjodohannya dengan Gus Birru. Ia juga bersedia ketika diperintah untuk mengelola pesantren milik mertuanya. Sebagai seorang istri, Alina Suhita selalu mempersiapkan segala kebutuhan suaminya, meskipun ia harus sabar menerima kenyataan bahwa Gus Birru tidak mencintainya.

Sikap nastiti dan ati-ati ditunjukkan Alina Suhita dalam kesehariannya sebagai seorang istri dan pengelola pesantren. Dia sangat teliti ketika mengambil keputusan dan tidak gegabah dalam menyikapi persoalan hidupnya.

Alina Suhita sangat menjaga martabat suaminya, ia tidak mau semua orang tahu masalah hubungannya dengan Gus Birru. Ketika berinteraksi dengan laki-laki lain Alina Suhita sangat berhati-hati, ia menyadari bahwa dirinya adalah seorang ‘putri: meruput katri’ yang harus menjaga marwahnya sebagai istri.

Kita bisa melihat sikap Alina Suhita tersebut saat dia bertemu dengan Kang Dharma. Ia menjaga jarak dengan Kang Dharma dan berhati-hati dalam berkata, meskipun sebenarnya ia ingin menceritakan permasalahan hubungannya kepada Kang Dharma. Alina Suhita menyadari posisinya sebagai seorang istri yang harus menghormati suaminya dan menjaga diri ketika bertemu dengan laki-laki lain.

Falsafah Perempuan Jawa dan Ajaran Akhlak Muslimah

Falsafah Jawa yang dipraktikkan Alina Suhita tidak hanya menunjukkan dirinya sebagai perempuan Jawa, tetapi juga akhlak muslimah pada umumnya. Jika kita tarik dalam ajaran agama Islam, maka kita akan menemukan banyak dalil yang menguatkannya.

Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu amal yang paling utama, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه سألتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قلتُ يَا رسولَ الله أَيُّ العملِ أفضَلُ قال الصلاةُ على مِيْقاتِها قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قال ثُمَّ بِرُّ الوالِدَيْنِ قلتُ ثُمَّ أَيٌّ قال الجِهادُ في سبيلِ اللهِ

“Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, ia bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal paling utama?’ ‘Shalat pada waktunya,’ jawab Rasul. Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ ‘Lalu berbakti kepada kedua orang tua,’ jawabnya. Ia lalu bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawabnya,”

Dalam Al-Qur’an, perintah berbakti kepada orang tua disebutkan dengan menggunakan diksi بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا dan بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا seperti dalam surat al-Isrā` ayat 23 dan surat al-‘Ankabūt ayat 8.

Kiai Bisri Musthofa dalam tafsir Al-Ibrīz li Ma`rifah Tafsīr al-Qur`ān al-Azīz menafsirkan dua diksi tersebut sebagai perintah untuk berbuat baik kepada orang tua, dalam artian berbakti kepada keduanya. “Allah ta’ala ‘wasiat’ wus perintah supoyo sira mbeciki, mbagusi marang wong tuo loro, ateges ngabekti marang bopo biyung.”

Baca juga:

Selanjutnya, perintah untuk berbakti kepada suami dan berhati-hati atau menjaga diri ketika suaminya tidak ada dapat kita lihat dalam surat an-Nisā` ayat 34.

..,فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗ

“Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka).”

Kiai Bisri Musthofa dalam tafsir Al-Ibrīz menjelaskan bahwa seorang wanita yang salihah adalah wanita yang taat kepada suaminya, yang menjaga diri ketika suaminya pergi. “wong wadon kan sholehah iya iku wong wadon kang tho’at marang lakine, kang ngerekso awake lan liya-liyane nalikane lakine lungo.” Meski pemaknaan Kiai Bisri terlihat sangat tekstual, namun paling tidak penafsirannya merepresentasikan falsafah hidup orang Jawa.

Baca juga:

Falsafah Jawa dalam praktik tertentu memiliki kesamaan prinsip dengan ajaran Islam. Boleh dikatakan bahwa proses akulturasi Islam-Jawa tidak hanya terjadi di satu sisi, tetapi keduanya saling mempengaruhi, Islamisasi-Jawa dan Jawanisasi Islam.

Bukan bermaksud untuk melakukan cocokologi, tetapi mari kita lihat itu sebagai salah satu keindahan yang ada dalam novel Hati Suhita. Poin yang harus digaris bawahi adalah agama Islam dan budaya Jawa sama-sama menjunjung tinggi nilai moralitas, etika, dan akhlak dalam ajaran-ajarannya.

Oleh: Chaudi Al Anshori (Santri Komplek Madrasah Huffadh 1)

Editor: Arina Al-Ayya

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel