Cerita Empat Sekawan Mengejar Mimpi

Cerita Empat Sekawan Mengejar Mimpi

Almunawwir.com-Cowok kurus tinggi berkulit hitam bermata lebar hidung pesek mengendarai motor astrea keluaran tahun 1975. Nusa, itulah namaku. Pagi ini tepat pukul sembilan aku ada janji buat ketemu sama teman lamaku. Mereka tiga orang, yang satu aku jemput di perpustakaan kota dan duanya menunggu di taman kota.

Aku perkenalkan mereka. Pertama, Atar, cowok kurus berkaca mata dan berambut hitam lurus, hidung mancung berkulit sawo matang. Kedua, Tara, cowok putih, badan berisi, mata agak sipit dan rambut hitam lurus, yang ketiga ada Arka cowok kekar berisi, agak kriting berambut gondrong.

Kami bersepakat untuk bertemu di taman kota Matar pagi ini. Atar sudah menungguku di perpustakaan kota Matar yang berjarak 3 kilometer dari taman kota. Atar adalah temanku paling dekat dan kebetulan kami satu kampus di kota Matar.

Sesampai di taman kota Matar kami berdua bertemu Arka dan Tara. “Tara, Arka, apa kabar boy?” tanyaku sambil melambaikan tangan kiriku. Kami berempat saling berjabat tangan dan bertukar senyum hingga berangkulan sampai tertawa lepas, maklumlah sudah lima tahun kami tidak berjumpa.

Kami berempat berjalan bersama menuju jembatan di atas sungai kecil di tengah taman menuju gazebo untuk duduk bareng sambil bercanda dan bercerita selama lima tahun terakhir setelah lulus dari SMA, bersendaugurau dan bernostalgia ketika kami masih di bangku SMA dulu.

Walaupun kuliah kami disatu kota yang sama, namun kami memiliki kesibukan masing-masing sehingga tidak pernah saling berjumpa selama kurang lebih lima tahun lamanya. Tara dan Arka waktu masih SMA, mereka bertubuh kecil, kurus dan buluk. Sekarang aku dan Atar dibuat pangling oleh perubahan fisik mereka saat pertama bertemu di taman kota Matar. Atar dan aku masih tetap kurus seperti dulu.

Kami kebetulan satu kelas waktu di SMA jurusan IPA. Awal pertama pertemuan kami yaitu ketika sama-sama suka rebana dan sholawatan. Walaupun SMA kami swasta, namun ekstrakulikuler di sekolah kami termasuk lengkap, sejak saat itu kami selalu bersama dan satu kelas sampai kelas 3 SMA.

Setelah lulus dari SMA, kebetulan kami melanjutkan kuliah di kota Matar dengan jurusan dan kampus yang berbeda. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama kami berempat setelah lima tahun tidak bertemu dan tepat dua bulan lalu kami di wisuda S1 di kampus masing-masing. Aku sendiri lulusan Ilmu Komunikasi, Atar lulusan Teknik Kimia, Arka lulusan Teknik Arsitektur, dan Tara lulusan jurusan Sejarah.

Waktu masih di bangku SMA, ketika istirahat makan siang, kami berempat pernah memiliki impian dan harapan yaitu bersama-sama menuliskan harapan di sepotong kertas kecil akan keliling menjelajahi benua biru untuk liburan.

Setelah lulus dari S1 ini, akhirnya kami berempat mendapatkan kesempatan itu ketika aku, Arka, Atar, dan Tara memperoleh beasiswa dari pemerintah untuk melanjutkan studi S2 di Eropa. Tidak terbayangkan rasanya impian kami berempat waktu di kantin SMA ketika jam makan siang benar-benar terwujud.

Aku mengambil jurusan master Ilmu Komunikasi di University Of Bologna Italia, Atar diterima di jurusan master Teknik Kimia di Johannes Gutenberg University German, Arka diterima di jurusan master Teknik Arsitektur di University of Edinburgh Skotlandia, dan Taraditerima Master Sejarah di University of Groningen Belanda. Setelah dinyatakan lulus mendapat beasiswa, satu tahun kemudian kami berangkat ke Eropa.

Setiap liburan musim panas dan musim dingin, kami berempat selalu berkeliling menjelajahi benua biru. Beruntungnya kami berempat mendapatkan beasiswa yang sama dari pemerintah untuk study S2 selama kurang lebih 2-3 tahun di Eropa.

Sewaktu kami liburan dan berkeliling di Eropa, kami banyak bercerita satu sama lain tentang perjalanan kami setelah lulus S1. Atar dan aku misalnya, harus mengulang dan mengikuti ujian bahasa asing tiga kali baru bisa lulus ujian bahasa. Karena salah satu syarat untuk bisa berangkat ke Eropa harus lulus ujian bahasa asing.

Arka dan Tara harus mengikuti ujian sebanyak 4 kali baru bisa lulus. Entah karena sihir atau mantra apa, akan tetapi masing-masing dari kami memang sebegitunya ingin melanjutkan study S2 di Eropa dan ingin mewujudkan impian ketika kami sedang makan siang di kantin SMA dulu.

Memang benar kata pepatah bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Walaupun harus berkali-kali kami mengikuti ujian bahasa asing, namun akhirnya kami diizinkan oleh Allah untuk mencari ilmu di negara-negara maju di dunia.

Penulis: Mohammad Nur Faiz

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Mohammad Nur Faiz

Mohammad Nur Faiz

Mohammad Nur Faiz

2

Artikel