[Cerpen Nasihat] Rinai Niat Mondok

[Cerpen Nasihat] Rinai Niat Mondok

Almunawwir.com- Langit mulai muram, menyisihkan mentari yang sedari tadi bertengger dengan ceria di luasnya langit raya, namun kelabu jingga justru meredupkan cahayanya. Dengan lapangnya dan atas izin Tuhannya, ia mempersilahkan senja bertahta menggantikannya. Ia kini di atas bumi Krapyak, menggoreskan keindahan langit di atas ramainya santri Krapyak yang tengah memadati jalanan sore, dari Alun-alun Kidul sampai Kandang Menjangan hingga seterusnya.

Di depan salah satu komplek yang berada di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, berdiri seorang gadis bernama Rinai. Gadis itu berjilbab pashmina abu. Ia baru saja selesai memindai satu koper dan beberapa barang bawaannya. Hal itu memberikan pertanda bahwa dia adalah seorang santri baru di Pondok Al-Munawwir.

“Abah, Umik, sama Mamas pamit sek ya, Nduk…, selak wengi iki engko. Patang sasi engkas insya Allah Abah lan Umik sambangi“ ujar ayah gadis itu yang disambut dengan anggukan gadis itu sembari mencium tangan keriput abahnya.

Gadis itu berganti menyalami tangan kakak laki-laki nya,

“Alhamdulillah ya, Mik, akhirnya mas bisa makan masakan Umik lebih banyak tanpa ada kucing yang mengganggu“

“Dih, apaan sih, Mamas!“

“Wleeeee, selamat makan terong Gambas, sayuran ala pondok, Adikku sayang“

“Mamasssssss!“ Teriak gadis itu kesal dengan ledekan Kakak laki lakinya. Abah dan Umik hanya tertawa menyaksikan Tom and Jerry yang hendak berpisah itu.

Baca Juga:

“Ummikkkk, nanti sering-sering ya maketin Rinai kering sambal dan brambang goreng buatan Umik. Walaupun Rinai bisa buat sendiri atau beli sendiri di sini, tapi masakan Umik yang terfavorit bagi Rinai.“ Gadis itu beralih ke umiknya dengan manja dan gaya memelas disertai kekehan satu keluarga karena tingkah manjanya.

Umik hanya tersenyum geleng-geleng kepala, hingga akhirnya umik berjalan ke arah mobil. Abah, Mamas, dan Rinai hanya mengamati dan menunggu Umik yang seperti mengambil sesuatu dari dalam mobil, hingga ketika Umik berbalik dan kembali ke arah ketiganya dengan 3 barang dalam dekapannya.

“Nduk, Ngger, Cah ayu, iki sarung Umik, Al Qur’an, ambek kitab Ta’lim Muta’alim. Umik tahu Nduk sudah
mempunyai ketiganya. Bahkan tidak hanya satu, tapi Umik tetep minta Nduk buat menjaga ketiga barang ini, nggeh? Umik nyuwun Nduk cekeli tenanan 3 barang ini. Doa Umik ga bakal terhenti buat Rinai. Bahkan jika Umik sudah tak dapat lagi berdoa di dunia ini“

“Umik, nopo sih mik, Rinai mboten remen kaleh kalimat terakhir Umik. Umik kaleh Abah kan kedah sehat selalu. Mosok mboten kerso ningali putri manja kesayangan Umik niki wisuda Bil-Ghoib di Pondok Al-Munawwir ingkang Umik pilihin langsung buat Rinai?“, jawab rinai sembari menahan bulir bening yang menggantung di kedua matanya.

Nggih, Nduk. Umik sama Abah bakal dateng di wisuda Nduk nanti. Umik percaya Nduk bisa! Seterjal-terjalnya jalan yang akan Nduk lalui nanti, Nduk kedah yakin sama Pengeran. Nduk kudu percaya bahwa tirakat lan riyadoh e Nduk nanti bakal indah pada waktunya“

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa, Umikkkkkk“ Rinai tersenyum memeluk umiknya manja, disusul tangan Mamas yang ikut andil membelai kepala adik kesayangannya itu.

“Belum ditinggal aja udah gembeng. Apalagi nanti kalau sudah ditinggal. Mesti bakal kangen banget sama Mamasmu yang paling ganteng dhewe ini “

“Dih, ge-er banget sih! Punya Mamas songong banget, Ya Allah. Palingan juga Mas yang kangen aku! “, balas rinai tak terima.

Abah dan Umik hanya geleng-geleng kepala menyaksikan Tom and Jerry yang hendak berpisah itu. Ini pertanda bahwa rumah akan sepi dari pertengkaran kakak-beradik itu.

Sampun. Abah sama Umik pamit. Udah sore banget ini“

Rinai dengan kaki lunglai berjalan mencium tangan ketiga orang hebat dalam hidupnya itu, dan yang terakhir adalah umiknya. Rinai memandang lekat lekat wajah umiknya itu. Wajah yang teduh meskipun di wajahnya telah terlukis oleh keriput. Senyumnya begitu indah. Tatap matanya begitu teduh memandang putrinya dalam-dalam.

“Umik pamit nggeh, Nduk. Umik pulang. Assalamu’alaikum”

“Waalaikum salam, Umik”

Abah, Umik, dan Mamas pun berjalan ke arah mobil. Ketika mereka telah siap untuk melanjutkan perjalanan, ketiganya melambai pada Rinai yang dibalas lambaian juga oleh Rinai. Padahal itu bukan kali pertama bagi Rinai untuk mondok. Tetap saja diantar saat hari pertama mondok itu menyisakan rindu dan air mata, meskipun kala itu Rinai telah memasuki usia dewasa dan bukan anak-anak lagi. Mobil keluarga Rinai pun perlahan hilang dari pandangan Rinai. Ia tersenyum menatap papan nama bertuliskan ‘PONDOK PESANTREN AL MUNAWWIR KRAPYAK‘.

Baca Juga:

Rinai teringat akan cerita Abahnya kala sedang deep talk di halaman rumahnya seminggu yang lalu. Mereka membahas tentang niat mondok. Abah mengatakan,

فاعلم أيها الحريص المقبل على اقتباس العلم، المظهر من نفسه صدق الرغبة”وفرط التعطش إليه…أنك إن كنت تقصد بالعلم المنافسة، والمباهاة، والتقدم على الأقران، واستمالة وجوه الناس إليك، وجمع حطام الدنيا؛ فأنت ساع في هدم دينك، وإهلاك نفسك، وبيع آخرتك بدنياك؛ فصفقتك خاسرة، وتجارتك بائرة،

Artinya : “Ketahuilah, Wahai manusia yang ingin mendapat curahan ilmu, yang betul-betul berharap dan sangat haus kepadanya, bahwa jika engkau menuntut ilmu guna bersaing, berbangga, mengalahkan teman sejawat, meraih simpati orang, dan mengharap dunia, maka sesungguhnya engkau sedang berusaha menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu, dan menjual akhirat dengan dunia. Dengan demikian, engkau mengalami kegagalan dan perdaganganmu merugi. (terj. Abu Ali Al-Banjari An-Nadwi).

Nduk, kudu ati-ati saat niat mondok. Pokok e sesok lek Abah anter teng pondok, Nduk ndang di peneri niate. Imam Al-Ghozali pernah berkata begini,

وإن كانت نيتك وقصدك، بينك وبين الله تعالى، من طلب العلم الهداية دون مجرد الرواية؛ فأبشر؛ فإن الملائكة تبسط لك أجنحتها إذا مشيت، وحيتان البحر تستغفر لك إذا سعيت

“Jika niat dan maksudmu dalam menuntut ilmu untuk mendapat hidayah, bukan sekadar mengetahui riwayat, maka bergembiralah. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya untukmu saat engkau berjalan dan ikan-ikan paus di laut memintakan ampunan bagimu manakala engkau berusaha”

“Begitu kata Imam Al-Ghozali. Jadi, hidayah bakalan datang karena semacam buah dari ilmu atau bisa
disebut sebagai petunjuk. Jadi, Nduk juga harus berusaha melawan segala niat buruk atau kotoran hati dengan sungguh-sungguh. Ikhlas, sabar, dan tawakkal dijadikan pondasi bagi Nduk semata mata untuk mencari ridho-Nya”, pesan Abah kala itu.

Langit diam sejenak menatap mantap pondok barunya. Rinai berkata di dalam hati,

“Wahai Allah-ku, sesungguhnya aku berniat tholabul ilmi semata mata untuk mencari ridho-Mu. Maka
sertailah aku dan permudahkanlah jalanku untuk selalu menuju-Mu”

Setelah itu Rinai melihat kanan kirinya. Jalanan ramai akan santri yang membeli jajan sana sini. Ia tersenyum melihatnya. Jalanan Krapyak ini layaknya surga dunia. Padahal oh padahal, jalanan Krapyak sudah mulai menggoda dan hampir saja Rinai salah niat.

Suara lantunan azan maghrib pertama menyapa indera pendengaran Rinai. Ia segera berjalan kembali ke arah kamarnya, karena kata Bu Nyai dan Pak Yai ketika sowan tadi, pada waktu magrib para santri harus sudah berada di pondok. Syukur-syukur sudah menggelar sajadah di musala untuk melaksanakan salat berjamaah.

Demikian tadi cerita awal seorang gadis bernama Rinai menimba ilmu di Pondok Pesantren Krapyak.
Semoga tidak hanya Rinai yang berhasil menjadi salah satu manusia yang niatnya semata mata ikhlas mencari ridho dari Allah SWT. Tunggu cerita Rinai selanjutnya yaaa… Terimakasih penulis sampaikan kepada siapapun yang berkenan membaca cerita Rinai. Semoga bermanfaat. Apabila ada kurang lebihnya bisa langsung disampaikan melalui DM akun instagram: @B.nayaaa_

Baca Juga:

Penulis : B.nayaaa_ (Santri Komplek Nurussalam Putri)

Editor : Syarafina Az

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel