Dari Irrational Claim Menuju Sikap Toleransi

Dari Irrational Claim Menuju Sikap Toleransi

Bulan Rajab kiranya menjadi bulan yang meninggalkan kesan tersendiri bagi umat Islam. Bagaimana tidak, bulan ini merupakan momentum dimana Kanjeng Nabi dapat menyaksikan Rabb-nya secara langsung. Peristiwa agung ini dimulai ketika beliau sedang mengalami kesedihan yang sangat, dimana saat itu penduduk Mekkah sedang gencargencarnya berupaya dalam menghalangi jalan dakwahnya. Pada saat itu, beliau justru kehilangan orang yang dengan setia mendukung dan melindunginya, yakni sosok istri dan pamannya. Karenanya, tahun ini pun dikenal dengan sebutan “tahun kesedihan” bagi Nabi. Pada suasana yang seperti itulah, Kanjeng Nabi kemudian dihadiahi ‘undangan’ khusus oleh Allah swt.

Undangan khusus dari Allah swt tersebut berupa rihlah melintasi alam semesta dalam jangka waktu semalam. Oleh masyarakat pada masa itu, beliau kemudian dijuluki sebagai orang gila lantaran bercerita ihwal sesuatu yang diklaim sukar untuk diterima oleh akal sehat manusia. Perjumpaan beliau dengan para nabi sebelumnya pun semakin menambah poin yang dianggap khayali oleh khalayak di masa itu. Namun bagaimanapun juga, peristiwa ini tetaplah wajib beliau diceritakan kepada khalayak ramai, karena bersangkutan dengan asal musabab dibebankannya syariat berupa shalat lima waktu kepada umatnya. Abu Bakar adalah orang pertama yang mempercayai validitas cerita tersebut tanpa syarat, hingga kemudian beliau dijuluki dengan sebutan al-Shiddiq.

Tidak hanya itu, Allah swt juga mengabadikan peristiwa yang dialami Kanjeng

Nabi tersebut dalam wahyu-Nya, yakni pada Surat al-Isra’. Keberadaan surat ini sangat menegaskan bahwasanya Allah swt benar-benar telah memperjalankan hamba-Nya, Kanjeng Nabi Muhammad saw di waktu malam, dari Masjid al-Haram, yang berada di Makkah al-Mukarramah, ke Masjid al-Aqsha, di Palestina. Perjalanan pertama inilah yang dinamakan sebagai isra’. Setelahnya, Allah kemudian mengangkat hamba-Nya tersebut menuju Sidrah al-Muntaha dan menerima perintah shalat untuk kemudian disampaikan kepada kaumnya. Perjalanan kedua ini dinamakan sebagai mi’raj. Mengenai hal ini, para ulama sepakat bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj dialami oleh Nabi secara ruhan wa jasadan.

Tulisan ini selanjutnya akan fokus pada poin bantahan berisi klaim tidak masuk akal dari orang-orang di masa Kanjeng Nabi terhadap peristiwa isra’ mi’raj. Ketidakpercayaan mereka tersebut tentunya tidak berdasar. Perilaku mereka yang menganggap Kanjeng Nabi sebagai orang gila justru menunjukkan sempitnya pengetahuan mereka dalam menelaah basis-basis pemikiran. Mereka yang berkesimpulan bahwa peristiwa yang terjadi pada Kanjeng Nabi adalah peristiwa yang tidak diterima oleh akal sehat manusia agaknya merupakan orang-orang yang memiliki kebutaan dalam metode berpikir. Pada dasarnya, mereka sendiri menggantungkan akal mereka pada sunnatullah (hukum alam), dimana hukum alam tersebut menempati posisi tertinggi sebagai dasar klaim benar/tidak benar dari mereka. Peristiwa isra’ mi’raj yang diceritakan oleh Kanjeng Nabi kemudian hadir menjadi bayan (penjelas) bahwasanya ada eksistensi lain yang mengatur semuanya, termasuk hukum alam itu sendiri, yakni Allah swt.

Normalnya, perjalanan Nabi dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha bisa ditempuh dengan waktu mencapai 15 hari perjalanan. Tentu saja pernyataan ini diafirmasi oleh khalayak pada masa itu. Alasan penerimaan tersebut hanya akan berhenti pada satu kesimpulan, yakni “karena memang itu yang terjadi”. Begitu pula misalnya mengenai pernyataan air, yang berkata bahwa ia mengalir dari tempat ke tinggi menuju ke tempat yang rendah. Postulat ini sudah pasti dianggap benar karena begitulah hukum alam yang terjadi. Kedua contoh pernyataan tersebut memenuhi syarat untuk bisa disebut sebagai peristiwa yang masuk akal. Namun kiranya perlu ada renungan, barangkali sesuatu diciptakan berkebalikan dengan apa yang kita yakini sekarang, akankah kita menerimanya? Hal itulah yang kemudian dijadikan semacam ujian kepercayaan oleh Allah swt kepada hamba-hambaNya melalui peristiwa isra’ mi’raj yang agung. Karenanya, tidak mengherankan jika selain sebagai ujian kepada umat manusia, peristiwa isra’ mi’raj juga disebut sebagai salah satu mukjizat yang diberikan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw. Arti mukjizat sendiri adalah sesuatu yang dianugerahkan kepada Rasul-Nya yang tidak bisa dipelajari oleh manusia untuk ditiru, dan tidak bisa diupayakan untuk memplagiasinya. Begitu pula pada isra’ mi’raj, akal manusia tidak akan sampai untuk membahasnya, sehingga banyak orang yang tanpa pikir panjang menggunakan klaim tidak masuk akal sebagai argumen mereka.

Memang, pada dasarnya kepercayaan adalah hak asasi setiap manusia. Terlepas dari itu, cara seseorang berargumen harus tetap melalui proses yang tepat, guna membangun landasan yang kuat. Kaitannya dengan peristiwa isra’ mi’raj, kita harus memahami bahwa tidak semua hal selalu bisa dijelaskan melalui basis hukum alam, khususnya dalam hal kepercayaan. Tentu saja tidak ada bukti yang ilmiah mengenai peristiwa isra’ mi’raj. Jika ditanya mengenai kebenaran isra’ mi’raj pun, jawaban terjauh adalah karena adanya bukti bi al-riwayat, yakni al-Qur’an yang telah diwahyukan kepada Kanjeng Nabi. Lebih jauh lagi, kita dapat meyakini wahyu itu benar karena percaya pada Rasulullah saw sebagai sosok yang jujur dan tidak pernah berdusta. Selain itu, kita juga dapat meyakini kebenaran wahyu karena dibangun oleh kepercayaan yang lain, yakni karena wahyu diturunkan oleh Allah swt sebagai Tuhan yang sudah tentu mengetahui segala hal.

Pelajaran penting yang dapat kita petik dari peristiwa isra’ mi’raj adalah sikap toleran terhadap kepercayaan-kepercayaan lain, khususnya dalam beragama. Poin yang patut digarisbawahi adalah bahwa postulat-postulat agama, apalagi yang berupa akidah tentu tidak akan sinkron jika dibandingkan dengan klaim akal sehat. Bagaimana pun, tidak bisa dipungkiri jika keyakinan agama melebihi batas-batas akal sehat tersebut. Sehingga dari sini, diharapkan seseorang lebih bersikap toleran terhadap kepercayaan-kepercayaan lain. Menggunakan klaim tidak masuk akal sebagai argumen untuk melabeli suatu kepercayaan menjadi keputusan yang tidak bijak. Hal ini karena kepercayaan hadir jauh lebih mendalam dibanding klaim atas hukum alam.

Sedikit intermezzo, kiranya kita sebagai umat Islam patut bersyukur pada Allah swt karena telah diposisikan olehNya pada zaman ini, dimana sudah banyak orang yang percaya padaNya. Kita dapat menikmati cahaya keimanan tanpa harus bersusah payah bergulat dengan kerasnya kostruk akal sehat manusia. Akal akan selalu bergantung pada hukum alam. Akal tidak akan mampu melintasi batas-batas ketentuan hukum alam tersebut. Ia akan dengan keras menolak hal-hal yang bertolak belakang dengan sunnatullah yang ada. Oleh karenanya, bagi penulis ujian kepercayaan terhadap adanya isra’ mi’raj Kanjeng Nabi ini menjadi yang paling berat untuk dilalui, semisal saja penulis ada pada zaman tersebut. Tentu saja tidak mudah untuk memutarbalikkan konstruk akal kita yang senantiasa sejalan dengan sunnatullah dan kemudian menerima suatu peristiwa yang bertentangan dengannya, apalagi sambil tetap berlapang dada atas penerimaan tersebut.

Wallahu a’lam

Penulis: Arina Al-Ayya  (PP. Al-Munawwir Komplek R2)

*tulisan ini meraih juara 2 Lomba Tulis Artikel Isra Mikraj 2022

Arina Al-Ayya

Arina Al-Ayya

Arina Al-Ayya

Santri Komplek R2, Mahasantri Ma'had Aly al-Munawwir.

7

Artikel