Decluttering Ala KH Zainal Abidin Munawwir

Decluttering Ala KH Zainal Abidin Munawwir

Almunawwir.com – Sebagai santri generasi masa kini tentunya kita tidak asing lagi dengan termin Decluttering. Decluttering adalah bahasa populer untuk kegiatan memilah dan menyortir barang pribadi dan membuat tempat penyimpanan menjadi lebih tertata.

Jika barang sortiran masih layak maka barang tersebut dapat diberikan manfaatnya untuk orang yang lebih membutuhkan. Pun aksi ini juga membawa dampak yang baik bagi lingkungan hidup karena termasuk bagian dari sustainable living (gaya hidup ramah lingkungan).

Decluttering
Ilustrasi: inc.com

Dalam Islam sendiri termin ini menjadi penting, sebab barang yang dimiliki akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Di beberapa pesantren seringkali ada peraturan untuk membawa pakaian dan barang pribadi secukupnya. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi sebagai berikut:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada Hari Kiamat sampai ia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, ke mana menghabiskannya, tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperolehnya, dan ke mana dibelanjakannya; serta tentang tubuhnya, untuk apa digunakannya. (H.R. At-Tirmidzi).

Baca juga: Biografi KH. R. M. Najib Abdul Qodir: Ahlul-Qur’an yang Tawadhu’

Pengamalan hadis di atas relate dengan kisah teladan KH Zainal Abidin Munawwir. Seperti yang pernah diceritakan oleh Bu Nyai Ida Fatimah, istri dari Mbah Yai Zainal–panggilan akrab KH Zainal Abidin, ketika sedang bepergian Ibu senang membelikan oleh-oleh untuk Mbah Yai berupa sarung, peci, maupun pakaian yang lain.

In Frame (Tengah): KH. Zainal Abidin Munawwir
Sumber: Almunawwir

Mbah Yai Zainal selalu menerima dan menyambutnya dengan sukacita. Akan tetapi, sebagai ganti masuknya pakaian yang baru, Mbah Yai selalu memilah pakaian lain di lemari untuk diberikan kepada santrinya.

Menurut hemat penulis, tindak-tanduk Mbah Yai Zainal dalam hal decluttering adalah penerapan dari sifat zuhud. Memanfaatkan dan mencintai barang yang dimiliki secukupnya dan tidak berlebihan dalam menyimpan sejumlah barang.

Walau telah menerapkan sifat zuhud seperti di atas, hal itu tidak mengurangi eloknya penampilan Mbah Yai Zainal, karena prinsip zuhud bagi beliau adalah,

Zuhud kui ora penampilane sing lusuh lan opo anane, tapi zuhud kui penampilane kudu tetep rapi mung atine sing gumantung maring Gusti Allah”
(Zuhud itu bukan berarti penampilannya yang lusuh dan apa adanya, tapi zuhud itu penampilannya tetap rapih, namun hatinya bergantung pada Gusti Allah).

Baca juga: Meneladani Sikap Tawadhu’ KH. R. M. Najib Abdul Qodir

Meskipun pakaian yang dimiliki tidak banyak macamnya, sebisa mugkin penampilan harus tetap rapi dan sedap dipandang.

Selain zuhud, kegiatan decluttering yang dibiasakan Mbah Yai Zainal termasuk dalam sifat qonaah. Kegiatan meminimalisir barang akan sejalan dengan pengurangan pembelian barang. Dengan begitu seseorang akan berusaha cukup dengan apa yang sudah dimiliki dan berusaha tidak menambah jenis barang yang sama fungsinya.

Tindakan Mbah Yai Zainal di atas elok untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat dari Decluttering bisa berimplikasi positif pada banyak aspek. Dari sisi Agama, memberikan barang yang masih layak pakai pada saudara kita yang membutuhkan termasuk dalam amal jariyah karena manfaat barang akan mengalir kepada orang lain.

Sementara itu dari tinjauan psikologis, mengurangi jumlah barang tidak terpakai dalam kehidupan sehari-hari dapat menurunkan tingkat stress. Dalam penerapannya, misal pakaian-pakaian tidak terpakai dan hanya tertumpuk di dalam lemari akan lebih baik jika dipilah, dikeluarkan bahkan lebih baik jika disumbangkan supaya bermanfaat dan tidak mubadzir.

Sehingga yang tertinggal hanyalah pakaian yang selalu digunakan dan tempat penyimpanan menjadi lebih lega.

Turut mengamalkan konsep decluttering ala Mbah Yai Zainal setidaknya kita telah berpartisipasi mengurangi salah satu permasalahan jangka panjang manusia di bumi yakni pengolahan sampah pakaian dan barang bekas.

*Sumber disarikan dari cerita Ibu Nyai Hj Ida Fatimah saat haul ke-9 KH Zainal Abidin Munawwir

Baca juga: Mbah Ali: “Zainal kui cagake langit. Durung kiamat yen Zainal esih ning dunyo.”

Alma Naina Balqis

Alma Naina Balqis

Alma Naina Balqis

Santri Komplek R2 dan Pegiat Kajian Sejarah.

11

Artikel