Hablum Minallah: Berkaca dengan Sumbu Filosofis Yogyakarta

Hablum Minallah: Berkaca dengan Sumbu Filosofis Yogyakarta

Almunawwir.com – Yogyakarta dengan segala keistimewaannya menyimpan banyak hal yang tidak banyak diketahui oleh masyarakatnya sendiri. Salah satunya adalah tentang falsafah Sumbu Filosofis Yogyakarta. Bila ditarik lurus dari ujung selatan, maka titik awal sumbu berada di Pantai Parangkusumo.

Di dalam falsafah ini Pantai Parangkusumo menggambarkan air sebagai simbol asal usul manusia dan waktu ditiupkan ruh kepadanya oleh sang pencipta. Lanjut ke utara ia akan berhenti pada sebuah bangunan bersejarah yang disebut dengan Kandang Menjangan atau nama lainnya Panggung Krapyak.

Sumbu Filosofis Yogyakarta
Ilustrasi: Sumbu Filosofis Yogyakarta

Kandang Menjangan sebagai simbol perjalanan awal manusia sejak ia dilahirkan dan beranjak menuju kedewasaan. Kemudian berjalan ke utara sampai pada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang menjadi simbol fase kematangan dan kedewasaan dalam diri manusia.

Keraton Ngayogyakarta dan Tugu Golong-gilig

Dari keraton, berjalan lurus ke utara melewati Jalan Pangurakan, jalan yang diapit oleh kantor pos dan Bank Nasional Indonesia di sebelah kiri dan kanan. Visualisasi dari jalan ini adalah ketika dewasa diri seseorang harus diurak (dipandu) agar berjalan pada jalan yang benar. Dari Jalan Pangurakan lurus ke utara hingga bertemu Jalan Margomulyo (Jalan Kemuliaan).

Jalan ini memiliki arti bahwa untuk mencapai kemuliaan, manusia harus menahan diri dari godaan dunia. Godaan dunia yang digambarkan dengan sisi kanan kiri jalan yang dipenuhi oleh para penjual pernak-pernik dan Pasar Beringharjo sebagai pusat perbenlanjaan yang menyilaukan mata.

Beranjak dari Jalan Margomulyo menuju Jalan Margoutomo. Ketika manusia mampu menahan godaan, maka ia akan menuju pada jalan keutamaan yang mengantarkan ia pada ketuamaan dalam hidupnya. Keutamaan akan mengantarkan ia ke utara hingga bertemu sebuah tugu yang disebut dengan Tugu Golong-gilig (sekarang bernama Tugu Jogja).

Baca juga:

Filosofi dari tugu ini adalah Manunggaling Kawula Gusti, bersatunya antara ciptaan dan penciptanya. Melangkah pada ujung sumbu filosofis, berada pada Gunung Merapi yang kokoh berdiri melambangkan ketika seseorang sudah mencapai tingkatan ma’rifat maka akan sampai pada khusnul khotimah.

Falsafah tentang Sumbu Filosofis Yogyakarta di atas tidak lain adalah bagian dari hablum minanallah. Seorang manusia harusnya punya fikiran tentang penciptanya agar ia tidak jatuh dalam kesombongan. Apabila manusia telah beriman kepada penciptanya niscaya ia akan menjalankan kehidupannya dengan penuh ketaatan dan ketawadhuan serta mampu memperbaiki hubungannya antar sesama manusia (hablum minannas).(ANB)

Editor: Arina Al-Ayya

Baca juga:

Alma Naina Balqis

Alma Naina Balqis

AlmaBalqis

12

Artikel