Hati Suhita: Membuka Tabir Konsepsi Mikul Duwur Mendem Jero

Hati Suhita: Membuka Tabir Konsepsi Mikul Duwur Mendem Jero

Almunawwir.com – Belum lama ini, film Hati Suhita resmi tayang secara publik per tanggal 25 Mei kemarin di berbagai bioskop yang ada di Indonesia. Film ini merupakan adaptasi dari novel best seller anggitan Ning Khilma Anis.

Lahir dari rahim pesantren, penulis berhasil mengemas kehidupan rumah tangga khas pesantren secara apik sehingga mampu menyihir para penikmat sastra, baik dari kalangan pesantren sendiri, maupun non pesantren.

Diangkatnya novel ini menjadi sebuah film merupakan bukti konkret jika karya-karya pesantren juga mampu bersaing di kancah nasional dan global sembari tetap dengan visinya memberikan pesan-pesan positif kepada masyarakat luas.

Sumber : Snapinstaapp

Salah satu hal yang menarik dari film ini ialah ungkapan jawa yang diugemi Alina Suhita tentang konsep “Mikul Duwur Mendem Jero” yang menjadi gambaran bagaimana seharusnya perempuan menyikapi kondisi bahtera rumah-tangganya yang hampir karam. Bagaimana tidak, pernikahan antara Alina Suhita dan Gus Birru yang didambakan banyak orang, nyatanya menyimpan kisah pilu.

Tujuh purnama lamanya, Alina Suhita harus menerima kenyataan pahit, jika suaminya belum menyentuh dirinya sama sekali. Gus Birru tidak benar-benar mencintainya, sebab dalam hati suaminya masih tersimpan dengan rapat nama Ratna Rengganis, gadis modern intelektualis yang menjadi kenangan indah masa lalu sang suami.

Disinilah ketabahan dan kesabaran Alina Suhita sebagai istri diuji, sembari harus terus menjaga kenyataan pahit ini supaya tak membuat sakit hati mertuanya.

Baca Juga :

Melacak Genealogi “Mikul Duwur Mendem Jero”

Mikul duwur mendem jero merupakan pepatah jawa yang menyimpan banyak pesan luhur. Mikul artinya memikul berarti membawa di atas bahu. Dhuwur artinya tinggi. Mendhem artinya menanam. Jero artinya dalam.

Dengan demikian, mikul dhuwur mendhem jero bermaksud ada sesuatu yang harus dijunjung tinggi dan ada yang harus ditanam dalam-dalam. Konsep ini merupakan refleksi pengabdian kepada orang-orang yang sangat dihormati, termasuk suami. Seorang istri harus bisa menjaga rapat-rapat privasi antara dirinya dan suaminya, agar tidak menjadi sebab rusaknya reputasi keluarga. Begitu juga berlaku sebaliknya.

Bertolak dari hal itu, nyatanya konsep ini sudah pernah terucap dari lisan mulia baginda Muhammd saw. Secara substansi, ajaran leluhur masyarakat jawa ini memang memiliki singgungan yang begitu kuat dengan nilai-nilai ajaran islam.

Islam sangat ketat dalam hal menghargai dan menghormati harkat martabat manusia. Termasuk dalam konteks pernikahan. Seorang pasangan haram hukumnya menceritakan kekurangan atau aib pasangannya kepada orang lain, bahkan orang tuanya sekalipun. Nabi pernah mengecam keras terkait masalah ini,

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “إن من أشر الناس عند الله منزلة يوم القيامة الرجل يفضي إلى امرأته وتفضي إليه ثم ينشر سرها 

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa nabi pernah bersabda,”Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di hari kiamat adalah seorang laki-laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) dengan istrinya, kemudian membeberkan rahasia istrinya tersebut.” (HR Muslim)

Imam Nawawi memberikan penjelasan terkait hadis ini bahwa mengumbar suatu hal yang sifatnya privasi (hubungan suami istri) merupakan hal terlarang. Sebab itu menyelisihi kewajiban seorang muslim untuk selalu menjaga harga dirinya.

Padahal Nabi pernah bersabda, “Barang siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik, atau jika tidak mampu, maka diamlah”.

Syariat akan mentolerir hal seperti ini, apabila ada hajat yang menuntut untuk diceritakan kepada orang lain. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Sahih Muslim, [Beirut, Darul Ihya Turas: 1972], juz 10, halaman 9).

Meskipun konteksnya berbeda, namun apa yang menjadi fokus hadis ini dan kisah yang dialami Alina Suhita bermuara pada “aib” keluarga yang lazimnya dirahasiakan.

Sejalan dengan penjelasan di atas, dalam Kitab Fathu al-Mun’im Syarh Sahih Muslim disebutkan, bahwa seorang istri diibaratkan seperti penutup bagi suaminya, begitu juga sebaliknya.

Akan berbahaya jika terjadi miskonsepsi antara keduanya. Sesuatu yang seharusnya menjadi penutup atau penghalang justru membuka dan mengumbar.

Oleh sebab itu, termasuk aqbahul qabaih (perbuatan yang paling buruk) ialah dimana seorang suami menceritakan apa yang telah ia perbuat bersama istrinya ketika malam hari, baik itu perbuatan, atau ucapan sehingga berdampak memperburuk harga diri keluarganya. 

Karenanya syariat mengatur lisan agar senantiasa menjaga dari ucapan-ucapan yang bertentangan dengan akhlak karimah. (Dr. Musa Syahin Lasyin, Fathu al-Mun’im Syarh Sahih Muslim Muslim, [Dar al-Syuruq: 2002], juz 5, halaman 586).

Pesan moral mikul duwur mendem jero dalam film Hati Suhita secara aktual terlihat muncul di momen yang tepat dimana kasus kekerasan dan perceraian dalam keluarga masih kerap terjadi dimana-mana.

Ajaran ini harus terus digaungkan secara masif supaya bisa menjadi inspirasi bagi siapapun dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam intern keluarganya.

Baca Juga :

Editor : Syarafina Az

Abdillah Amiril Adawy

Abdillah Amiril Adawy

AbdillahAdawy

Santri Komplek Madrasah Huffadz 1

20

Artikel