Larjo Gendeng

Larjo Gendeng

Almunawwir.com-Pagi di Kembangbelor dibuka oleh kokok ayam jantan bersahut-sahutan, membuat Larjo yang sedari awal sudah terjaga semakin melek matanya. Larjo tahu, kini yang berkokok bukan lagi ayam miliknya. Ayamnya yang tipe petarung wiring kuning itu telah ia sembelih sebagai rangkaian dari acara pengesahannya yang baru selesai dini hari tadi. Mulai dari selepas isya kemarin, dia bersama kawan-kawan seperjuangannya disahkan menjadi anggota, atau istilahnya warga, sebuah perguruan pencak silat asli Madiun. Larjo tak kepalang senangnya.

koleksi pribadi penulis

Malam itu menjadi akhir bagi penantiannya. Selama dua setengah tahun ia telah hidup di bawah tekanan pelatih bengis. Di bawah aturan-aturan ketat. Tanpa rambut, tanpa minum es, tanpa rasa tenang di malam-malam latihan. Malam-malam yang selalu memaksa mual mengetuk pintu perutnya. Maka wajar saja senyumnya mengembang ketika ia memandangi seragam silat barunya yang sengaja terpajang di dinding kamar, dengan sabuk kain mori yang menjadi khas perguruan bertengger di bahu kanannya.

Larjo juga tahu, kini ia bukan Larjo biasa. Ia merasa keberadaannya sudah diakui, seakan terlahir kembali dengan nasib yang jauh lebih baik. Kemarin-kemarin, ia dengan kepala botak yang pikirnya merampas kehormatannya itu, biasa menunduk kala melintasi jalanan setapak dari rumahnya ke balai desa. Kini tentu tidak. Ia sudah merasa pantas untuk menyejajarkan arah pandangnya. Ia sudah anggota, sudah warga, bukan lagi siswa. Aku adalah pendekar yang sah, ulangnya dalam hati.

Dengan senyum yang sudah tak terbit dua setengah tahun itu, Larjo berjalan menuju pawon[1]. Ia saksikan api bekerja: menyiksa air. Hatinya semakin bangga ketika gelas yang tak sengaja hampir jatuh berhasil ditangkap tangannya dengan tangkas. Pendekar betul diriku ini, batinnya tertawa. Kopi hitam asli Temanggung kiriman temannya segera mengisi gelas tadi, disusul dengan air yang sudah puas tersiksa. Lantas sendok menumpahkan gula putih, kemudian menyatukan semuanya. Kembali ia berjalan, kali ini menuju belakang rumah. Bayang[2] dari bambu menjadi sasarannya, untuk bersantai bersama kopi hitam dan kretek 76, sembari memandangi penampakan hijau Gunung Arjuno-Welirang yang baru bangun itu. Larjo siap tenggelam dalam ketenangan.

Burung kutilang mengitari sawah, berusaha lepas dari kejaran jaring Lik Ngusman. Sepeda ontel wlijo[3] milik Mas Supri yang menjual barang-barang dapur, ramai dikerumuni ibu-ibu desa, mirip gula yang dikerubungi semut. Gerombolan lowo[4] buru-buru terbang, kantuk mungkin sudah menyerangnya. Menyaksikan itu semua, Larjo yang sudah tenang dengan memandang gunung, semakin tenang, kemudian tertidur. Mengkhianati kopi.

Malamnya, ketika lima menit yang lalu Larjo terbangun, ia sudah ditemukan berseragam silat lengkap, kain mori melingkar di leher, serta kepalanya berhias topi berlambang perguruan. Ia siap untuk pergi ke balai desa, menghadiri acara tasyakuran warga baru. Dan entah sejak kapan, perguruan silatnya kini lebih suka tasyakuran dengan dangdutan, alih-alih mengadakan gelanggang berputar atau tarung bebas.

Segera saja pengeras suara raksasa yang didatangkan dari Blitar itu menggetarkan desa. Ada dua biduan yang perputaran pinggulnya menjadi fokus utama penonton. Satu sudah senior, dua tahun lagi berkepala empat, asal Nganjuk. Satu lagi junior, dara muda putri daerah, seusia dengan Larjo: sembilan belas tahun.

Ketika lagu ketiga berkumandang, “Sotya” judulnya, tiba-tiba banyak batu terlempar dari arah selatan balai desa. Beberapa terjun tanpa mampir, langsung ke tanah atau rerumputan liar saja. Namun beberapa mengenai kepala, badan, dan kaki. Kecamuk kecil lama-lama menular, puncaknya ketika salah satu batu menyasar ke kepala Kang Mas Kamid, sang ketua rayon.

Entah mengapa tak ada yang mempertanyakan mengapa Kang Mas Kamid yang sudah pasti paling jago silatnya itu tidak refleks menangkis atau menepis batu yang tak terlalu keras itu. Hingga datanglah sekelompok pelempar yang memang sudah tertebak siapa: perguruan sebelah. Kompetitor. Biduan dari Nganjuk dan Kota Mojokerto, serta tukang sound dari Blitar, dengan sigap lari menyelamatkan diri. Semua tahu, tawuran akan terjadi. Dan tak akan ada yang mempertanyakan: sejak kapan pendekar saling keroyok?

Maka segera saja balai desa itu menjadi Kurusetra bagi dua kubu yang tawuran. Kubu hijau, si penantang, berlari dengan membawa golok, celurit, dan sajam[5] lain, sambil bersumpah: “Mati kau PKI!”. Sementara kubu putih, kubu Larjo, sama berlari dan sama membawa sajam, sambil bersumpah: “Mati kau penunggang agama!”.

Larjo yang debut tawuran malam ini, beringas seperti singa muda yang pertama kali diajak ayahnya berburu rusa. Ia goyangkan celuritnya ke segala arah, tanpa seni, seakan ia tak pernah mendapat pelajaran silat senjata. Sementara di pojok utara balai desa, belakang panggung, dua biduan dan tukang sound komat-kamit berdoa supaya selamat, atau supaya aparat cepat datang. Pikiran lugunya beranggapan bahwa aparat bisa dihubungi melalui jalur doa, bukannya melalui lintasan sinyal telepon.

Sebelumnya ada selentingan bahwa salah seorang warga kubu hijau didapati tersita seragamnya kala melewati pasar wetan sepulang dari melatih. Kubu putih langsung dituduh menjadi pelakunya, tanpa curiga pada elemen-elemen lain. Aparat misalnya. Dan begitulah seterusnya bergantian setiap kali tawuran terjadi. Yang terjadi berikutnya adalah sekompi aparat datang, para pendekar lari tunggang-langgang, tawuran bubar. Larjo terpaksa tidur di gorong-gorong untuk bersembunyi dari kejaran aparat maupun kubu hijau, dengan rasa perih akibat sayatan celurit di bahu kirinya, dengan darah mengucur dari luka dan mulutnya. Dengan senyum yang sudah tak terbit dua setengah tahun.

***

Kangkung, bayam, dan selada milik Larjo sudah siap dipetik. Artinya, tiga puluh hari sudah berputar sebanyak tiga kali. Dengan kantung mata yang semakin pekat, Larjo memetik tanamannya ditemani terik yang menyengat.

Larjo tahu, kini ia bukan pendekar biasa. Hari-hari kemarin ia lalui dengan mengikuti latihan napas sehingga kini ia menguasai berbagai macam pernapasan. Mulai dari ces, cakrasurya, lebur jiwo, hingga jathayu. Pagi ia puasa, malam ia terjaga. Pernah sekali ia mencoba ilmunya pada perut siswanya. Kala itu sedang jatahan, semacam mahar yang harus dibayar oleh siswa ketika mendapat jurus atau gerakan baru.

Bayaran di sini tentu bukan uang, melainkan menyerahkan badan untuk dieksekusi: dipukul, ditendang, disabet toya rotan, digampar sandal gunung. Larjo memberi jatahan siswanya dengan menendang perutnya, dan masing-masing terlempar sejauh lima kaki. Kemudian ia menjatuhkan tapaknya di punggung siswanya, dan ditemukanlah pada masing-masing mereka sebuah cap tapak gosong menempel di punggungnya.

Maka jangan salah ketika mendapati Larjo tak lagi menyejajarkan arah pandangnya kala melintasi jalan setapak dari rumahnya ke balai desa. Ia merasa sudah berhak ndangak[6], mengedepankan dagu mulianya.

Malamnya, suara berisik garangan tak mau keluar. Mungkin para penangkap berhasil melaksanakan pekerjaannya. Jangkrik juga tak terdengar mengerik seekor pun, rakus sekali jika itu adalah sebab ulah burung cabak gunung. Suasana yang lengang ini didukung oleh sedikitnya manusia yang hadir di balai desa. Terhitung hanya tiga orang saja: Larjo selaku pelatih, Pak Tomo pegawai bank selaku siswa, dan Inem siswi SMA yang juga selaku siswa. Entah menghilang ke mana kawan-kawan Larjo. Ia hanya setengah tahu, memang ada rencana untuk geger dengan perguruan kera di perbatasan desa. Larjo meyakinkan diri bahwa itu hanyalah kabar burung belaka.

Atas dasar kebingungan, Larjo mengajak para siswanya beristirahat. Sambil membujurkan kaki menghadap Larjo, tanpa menunggu diperintah mereka memulai kebiasaan herbal di istirahat latihannya. Diawali mengupas bawang putih dengan tangan kosong, mencuil sejumput gula batu, dan memotong jeruk nipis. Ketiganya dimakan secara bersamaan, disusul dengan jamu dari rebusan daun pepaya, kemudian air putih, dan diakhiri dengan raut muka yang berantakan. Larjo tertawa kecil melihat siswanya, teringat dirinya dengan kawannya dahulu. Setelah ini sesi tanya jawab dimulai.

“Sudah hafal tujuan pencak silat?” Larjo memulai. Ia menyuruh siswanya membacakan setelah mereka mengamini pertanyaan sebelumnya.

“Mendidik manusia berbudi luhur, tahu benar, tahu salah; bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa; serta berbakti pada kedua orang tua,” Pak Tomo dan Inem menjawab kompak meski sedikit terbata-bata. Namun entah kenapa, Larjo justru menunduk ketika siswanya melakukan hal yang benar. Mungkin Larjo teringat hancurnya tugu-tugu pencak silat di desanya akibat dari tawuran antar pendekar. Tawuran antar pendekar? Larjo tertawa hatinya.

“Mas, apakah tidak ada falsafah baru yang ingin diberikan pada kami? Hehe, Mas Larjo kan pintar, mahasiswa, siapa tahu ada falsafah baru.” Pertanyaan Pak Tomo menendang: menancapkan cocor kakinya tepat ke ulu hati Larjo. Meski sudah pendekar, ternyata ada saja sesuatu yang tak dapat ditangkis.

“Begini, falsafah apa saja yang sudah kalian dapat?”

“Satrio ingkang pilih tandhing,” Larjo mengangguk, bermaksud agar Pak Tomo lanjut dengan penjelasannya. “Seorang pendekar harus berjiwa satria, yakni pandai memilih lawan. Artinya, seseorang yang berjiwa satria hanya mau menghadapi orang yang mampu menghadapinya, bukan yang lebih lemah darinya,” Larjo mengangguk, puas dengan penjelasan siswanya. Pak Tomo senang melihat gurunya senang. Ia tak mungkin tahu bahwa penjelasannya menampar hati Larjo. 

“Giliranku, Mas. Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake, sekti tanpo aji-aji,” Inem semangat menjawab. Setelah melihat pelatihnya tersenyum, ia melanjutkan, “artinya: pertama, mendatangi tanpa kawan. Seorang pendekar harus berani bertanggung jawab atas dirinya sendiri tanpa membawa-bawa kawan atau lambang perguruan.” Kepala Larjo menunduk.

“Kedua, menang tanpa mengalahkan. Pendekar sejati bukanlah mereka yang mencari kemenangan pribadi, melainkan kemenangan bersama.” Badan Larjo membungkuk. Jika saja ia boleh menyuruh Inem berhenti, sudahlah pasti ia lakukan sedari awal.

“Terakhir, sakti tanpa aji-aji. Pendekar tak diperkenankan meminta bantuan kepada selain Tuhan yang diyakininya, lebih-lebih jin dan setan.” Inem tersenyum, matanya mencari gurunya, dan yang ia temukan hanyalah Larjo yang pasi.

“Mas, apakah penjelasan saya salah?”

“Tidak-tidak. Tidak, Inem, kamu benar.” Larjo meminta izin pada siswanya untuk menyulut kretek. Mereka mengangguk. Mereka setuju contoh buruk sedang diperagakan gurunya.

“Baik. Dengarkanlah falsafah yang satu ini. Aku mendapatnya dari Mas Hajar, dia sekarang sedang merantau ke Jogja untuk kuliah.” Pak Tomo dan Inem takzim mendengar.

“Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan, tetapi manusia tak dapat dikalahkan selama ia setia pada hatinya sendiri. Artinya, tak ada kekuatan apa pun di atas manusia yang bisa mengalahkan manusia kecuali kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Yakinilah hal itu di hatimu, dan setialah kepadanya.” Larjo mengambil jeda. Menghisap dalam-dalam kreteknya, kemudian melanjutkan.

“Falsafah itu bertujuan agar kita dan seluruh anggota pencak silat, senantiasa mengembangkan karakter yang jujur, menyeimbangkan kekuatan fisik, mental, kecerdasan, emosi, sosial, dan terakhir spiritual.

Jika semua itu sudah ada dalam hati kita, kewajiban kita hanya satu: setia kepadanya.” Pak Tomo dan Inem mengangguk-angguk, dan berusaha menangkap kata-kata yang banyak itu supaya tak lepas.

“Semoga kita termasuk golongan orang yang setia pada hatinya,” semua mengamini.

Latihan diakhiri. Setelah memastikan balai desa tetap bersih, mematikan lampu, siswanya pulang dengan aman: Pak Tomo dengan motornya harus pulang ke daerah Mojosari yang berkisar tiga belas kilo jauhnya, sementara Inem tinggal melangkah beberapa meter saja untuk mencapai pintu rumahnya yang bertetangga dengan balai desa. Larjo menutup gerbang, kemudian berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumahnya.

Sembari berjalan, Larjo termangu. Percakapan dengan dua siswanya tadi terus terlintas di benaknya. Ia coba alihkan fokus dengan memandangi sekitar. Tiba-tiba deretan pohon di sekitarnya terasa menyumpahinya. Nyanyian kodok, juga burung hantu, ikut merendahkan dirinya. Ia memukul-mukul kepalanya, berharap hal-hal buruk segera musnah dari kepalanya.

Di tengah jalan, di sela ruang kosong antara kedua kaki Larjo, tiba-tiba ular dengan belang-belang di tubuhnya lewat. Larjo memaksa dirinya mematung, berdoa semoga ular menganggap dirinya pohon belaka. Setelah terlihat menjauh, Larjo terduduk lemas. Keringat menitiki pelipisnya, perlahan mengalir ke dagu, sebagian jatuh, sebagian terus mengalir dan berhenti di rongga dada. Ia diam sejenak, berpikir. Sebab ia tahu, kemunculan ulo weling[7]adalah sebuah peringatan.

Teringat Larjo akan cerita Mas Prayit, yang nekat keluar dari perguruannya dengan alasan tidak kerasan, dan akhirnya melarung morinya di sungai. Seminggu kemudian ia ditemukan sudah gendeng. Istri dan anaknya menangisinya. Entah karena kehilangan Mas Prayit, atau kehilangan satu-satunya orang yang menghidupinya.

“Ah, jangan. Kasihan diriku jika harus gila.” Larjo ngomong sendiri.

“Tawuran, saling bunuh, amarah meledak tak kenal tempat, membuat rusuh di jalanan, bukankah itu juga gila?” tanyanya pada diri sendiri. Ah, aku bukan lagi pendekar yang kuat, keluh Larjo dalam tangis sunyinya.

Kala hampir sampai di rumahnya, ia berencana mengambil wuwu, jebakan ikan yang ia pasang di sungai dekat rumahnya sore tadi. Sedap juga makan kutuk atau udang sungai dini hari begini.

Sesampainya di bantaran. Bukan kutuk, bukan pula udang sungai. Justru kawan-kawan silatnya, termasuk Kang Mas Kamid, sedang melarung kain morinya.

A Danny Darmawan

Baca Juga:


[1] Pawon= Dapur

[2] Bayang= Tempat duduk terbuat dari bambu

[3] Wlijo= Penjual sayur

[4] Lowo= Kelelawar

[5] Sajam= Senjata tajam

[6] Ndangak= Mendongakkan kepala

[7] Ulo weling= Ulo (ular) Weling (peringatan) Ulo Weling (ular yang dipercaya membawa sebuah peringatan) biasa hidup di semak belukar, perkebunan, dan lahan pertanian.

Abdillah Danny Darmawan

Abdillah Danny Darmawan

AbdillahDarmawan

4

Artikel