Membincang Pemikiran Progresif ala Gus Nadir

Membincang Pemikiran Progresif ala Gus Nadir

AlMunawwir.com – Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta gelar diskusi bertema “Diplomasi Intelektual Muslim Membangun Peradaban Dunia” (14/06/2023). Narasumber pada diskusi tersebut adalah Dr. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D atau lebih akrab disapa Gus Nadir.

Dalam diskusi yang digelar, Gus Nadir menyampaikan beragam materi yang isinya daging semua, di mana fokus pembahasannya adalah pemahaman terhadap keywords “Membangun Peradaban Dunia”.

Beliau mengatakan bahwa ada lima karakter dari peradaban modern saat ini, yaitu transportasi, konstruksi, industri, komunikasi dan teknologi. Kelima karakter tersebut menjadi elemen penting untuk membangun peradaban dunia, karena dinamika peradaban saat ini terhegemoni oleh kelima bidang tadi.

Gus Nadir tengah menyampaikan materi

Maka persoalan selanjutnya adalah bagaimana cara kita (intelektual muslim) untuk menguasai lima aspek tersebut, seperti menjadi pengusaha transportasi, mengembangkan konstruksi (infrastruktur), memegang kendali industri (produksi), menguasai komunikasi (media) dan penguasaan teknologi. Hal ini justru menjadi tantangan bagi kita. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan?

Baca Juga:

Untuk mengaktualisasikan tantangan tersebut, beliau memberikan tawaran-tawaran progresif yang keren. Pertama, bahasa. Ketika berbicara tentang diplomasi maka penekanan terhadap kemampuan berbahasa asing menjadi syarat fundamental atau kebutuhan mendasar. Maka setidaknya ada satu bahasa asing yang dikuasai, baik itu bahasa Inggris, Arab atau yang lain.

Kebanyakan kultur pesantren-pesantren salaf hanya memprioritaskan pemahaman terhadap alfiyyah, sementara kemampuan bahasa dijadikan aprioritas. Hal tersebut terjadi karena terkadang kita terjebak dalam komposisi pikiran bahwa santri idealis adalah mereka yang ngelontok alfiyyahnya.

Padahal mungkin tidak dibutuhkan sejauh itu atau tidak semuanya harus begitu. Jadi, bagaimana cara kita harus menjadi aktif, seperti menulis di koran Arab, berkomunikasi (bahasa asing) dengan baik dan melahirkan buku-buku yang menjadi rujukan dunia.

Kedua, wawasan. Dengan bertambahnya wawasan maka pembacaan kita semakin luas. Terkadang kita hanya menyempitkan wawasan sekedar hafalan, tanpa diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Tentu hal ini menjadi problem. Seharusnya pembacaan kita bukan hanya pada kitab-kitab klasik melainkan juga eksplorasi teks-teks yang lain.

Baca Juga:

Ketiga, jaringan (networking). Memperbanyak networking dengan berbagai kalangan seperti pengusaha, politisi dan sebagainya menjadi salah satu faktor yang berpengaruh besar. Beliau menginginkan perlu adanya pembinaan terhadap penguasaan jaringan di Pondok Pesantren. Hal ini bertujuan untuk tetap menjaga keberlangsungan pesantren sebagai wujud transformasi sosial masyarakat.

Keempat, manajemen (administrasi). Membangun manajemen tanpa mental petarung itu tidak bisa. Beliau mengatakan salah satu langkah membangun manajemen adalah dengan mengadministrasikan nilai-nilai kebersihan, keadilan sosial. Maka persoalan mengadministrasikan manajemen itu penting.

Gus Nadir foto bersama para santri

Kelima, adab. Puncak dari tawaran-tawaran di atas tidak akan ada artinya jika tak menjadikan adab sebagai “teman”. Terminologi peradaban berakar dari kata “adab”. Dengan demikian, jangan sampai membangun peradaban tanpanya. Maka dapat dikatakan tawaran-tawaran yang disampaikan oleh Gus Nadir tersebut bersifat harmonis. Semua harus dikuasai dan tidak boleh ada yang ditinggalkan.

Editor: Abdillah Amiril Adawy

Ahmad Fatih Syarofuzzaman

Ahmad Fatih Syarofuzzaman

AhmadSyarofuzzaman

1

Artikel