Meneladani Sosok Allahu Yarham K.H. Ali Maksum

Meneladani Sosok Allahu Yarham K.H. Ali Maksum

Banyak sifat-sifat kepribadian Kiai Ali yang dapat dijadikan sebagai suri teladan terutama bagi para santri. Sekaligus mempengaruhi tipologi kepemimpinannya di PP Al-Munawwir, diantaranya adalah istiqomah mengajarkan kitab kuning.

Sekalipun kesibukan beliau bertumpuk-tumpuk, seperti sebagai seorang muballigh, dosen di IAIN dan pengurus NU (Rois ‘Am) yang sering keluar kota, beliau jarang sekali meninggalkan pengajian dan sorogan yang menjadi rutinitasnya sehari-hari. Kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak, terutama di akhir hayatnya yang sering sakit-sakitan.

Kiai Ali berpola hidup sederhana, zuhud, tidak terkesan hidup mewah, dan tampil apa adanya. Hal ini ditunjukkan oleh kondisi pakaiannya, tempat tinggal, kendaraan dan makanannya yang sangat sederhana, tidak terkesan mewah. Bahkan bisa dikatakan tidak layak untuk ukuran dan statusnya sebagai seorang Kiai besar.

Keseriusan usahanya dalam pengembangan pesantren seperti pembiayaan pembelian tanah untuk perluasan lokasi pesantren, pengadaan bangunan, fasilitas pesantren dan kegiatan-kegiatan keagamaan (konsumsi majlis taklim, dll). Baik dengan dana pribadi maupun dana sumbangan dari berbagai pihak, semua itu menunjukkan sikap kezuhudannya.

baca juga : Dari Lasem ke Krapyak : Membaca Riwayat Transisi Mbah Ali Maksum”

Bahkan, jauh sebelum wafatnya Kiai Ali sudah mempersiapkan untuk membagi-bagikan seluruh harta kekayaannya tanpa diketahui oleh siapapun dengan cara membuat catatan beberapa lembar kertas yang kemudian disimpan di lemari diantara tumpukan pakaiannya.

Isinya : 1) jumlah total berbagai jenis harta benda yang dimiliki (tanah, rumah, pakaian, kendaraan, uang, dll) beserta tempat penyimpanannya, 2/3 harta benda tak bergerak dihibahkan untuk pesantren dan sisanya dihibahkan untuk anak-anaknya. 2) daftar nama orang satu persatu dari kalangan masyarakat tetangga pesantren, para sahabat dan kenalan, sanak kerabat dan putra-putrinya. Lengkap dengan angka nominal dan jenis harta yang akan diterimanya. Sehingga pada saat wafat, beliau sedikit pun tidak meninggalkan harta warisan.

Sungguh, tindakannya ini sesuai sekali dengan isi kandungan syi’iran sholawatan berbahasa Jawa yang beliau gubah dan sering beliau lantunkan di tengah atau akhir memberikan ceramah pengajian, antara sebagai berikut :


Kulo sowan nang Pangeran // Kulo miji tanpo rencang // Tanpo sanak tanpo kadang // Bondho kulo ketilaran //

Yen manungso sampun pejah // Uwal saking griyo sawah // Najan nangis anak simah // Nanging kempal boten betah //

Senajan berbondho-bondho // Morine mung sarung ombo // Anak bojo moro tuwo // Yen wis nguruk banjur lungo //

Yen urip tan kebeneran // Bondho kang sa’ pirang-pirang // Ditinggal dienggo rebutan // Anak podho keleleran //

Yen sowan kang Moho Agung // Ojo susah ojo bingung // Janji ridhone Pangeran // Udinen nganggo amalan


Pembawaan Kiai Ali yang tenang, santun dan mengesankan, wataknya yang arif dan bijaksana, serta sifatnya yang lemah lembut, grapyak (mudah menyapa, mudah bergaul) dengan siapa saja yang ditemui. Tutur katanya yang manis, serta raut wajahnya yang selalu ceria dan semringah dengan hiasan senyuman yang khas. Menyebabkan beliau disukai oleh siapa saja.

Demikian pula sikap beliau yang tawadhu’, tidak suka dihormati secara berlebihan apalagi dikultuskan,[13] suka memaafkan kesalahan orang[14]. Serta jauh dari sifat pendendam dan dengki, menyebabkan beliau selalu dihormati dan disegani.

Pergaulan KH Ali dengan Para Santri

Kiai Ali sangat dekat hubungannya dengan para santri, dan begitu pula sebaliknya. Kiai Ali hampir hapal semua nama santri, tempat tinggalnya di lokasi pesantren, nama orang tuanya dan asal usul daerahnya. Di hadapan para santri, Kiai Ali bukanlah sosok yang menakutkan. Pada umumnya, para santri merasa takut dan lari atau bersembunyi ketika bertemu dengan kiai, akan tetapi tidak demikian terhadap Kiai Ali.

Hubungan Kiai Ali dengan santri seperti layaknya hubungan bapak dengan anak. Kedekatan hubungan ini ditunjukkan oleh kesukaannya bercanda dan bergurau dengan para santrinya, baik secara individu maupun secara jamaah di pengajian. Kalaupun ada santri yang lari atau takut ketika berhadapan Kiai Ali, mereka justru akan dipanggil, baik secara langsung maupun lewat microphone untuk sekedar diajak ngobrol sambil mendengar-kan lagu-lagu kesayangannya atau menonton TV.[15]

Kemudian diajak jalan-jalan keliling pondok sambil mengambili sampah-sampah kering (kertas, plastik dan dedaunan), disuruh memijatnya, disuruh menyapu atau membersihkan kamar pribadinya atau halaman rumahnya, dan lain-lain, sehingga mereka tidak lagi merasa takut dan terasa begitu dekat dengan Kiai Ali.

Kiai Ali sangat rajin mendatangi kamar-kamar santri dan membangunkan mereka untuk diajak shalat subuh berjamaah. Terhadap santri yang dipandang malas dan bandel berjamaah tarawih setiap datangnya bulan Ramadhan, Kiai Ali mengadakan “Tarawih Panggilan” di kediamannya dan diimami sendiri. Ini bukan berarti memberi kesempatan atau peluang untuk bandel, akan tetapi mendidik mereka bahwa dengan sering dipanggilnya mereka, maka lama kelamaan mereka akan sadar dan malu dengan sendirinya.

baca juga : Sisi Romantisme K.H. Ali Maksum Allahu Yarham”

Demikian pula kedekatan Kiai Ali terhadap para alumninya, yang ditunjukkan oleh seringnya beliau menitipkan salam kepada alumni lewat para tamu, wali santri, atau santri yang kebetulan kenal dan dekat tempat tinggalnya dengan alumni tersebut. Bahkan Kiai Ali sering mampir ke rumah alumni di tengah perjalanannya ke luar kota.[16]

Terutama setiap ada event Haul KH Munawwir, para alumni selalu dikirimi undangan untuk meng-hadiri Haul tersebut. Dari sini dapat dikatakan bahwa kedekatan hubungan santri dengan Kiai tetap berlanjut sampai menjadi alumni. Dalam soal ketaatan “mutlak” santri kepada kiyai hingga sampai pada tingkat pengkultusan, adalah tidak sejalan dengan pandangan kiai Ali. Ketaatan murid terhadap guru sebatas pada hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at dan dilakukan secara wajar.

Kiai Ali sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan pondok. Beliau sering berjalan-jalan sambil mengelilingi pondok. Begitu melihat lingkungan yang kotor dengan berbagai jenis sampah, langsung saja memanggil santri yang ada di situ, terutama para santri yang tidak ikut sorogan untuk diperintah mengambili sampah-sampah tersebut dengan tangannya, karena beliau memang sangat “titen” (ingat, dan teliti) pada santri yang ikut dan yang tidak ikut sorogan.

Bahkan terkadang beliau sendiri yang mengambilinya. Selain itu, beliau juga sangat peduli dengan kondisi suatu bangunan yang rusak, kumuh, atau yang tidak layak huni, langsung saja beliau mengerahkan, memimpin dan mengawasi para santri untuk kerja bakti.

Ulama Intelek dan Tokoh Modernis NU

Nama KH Ali Maksum di kalangan masyarakat tidak asing lagi. Perannya begitu besar di berbagai sektor, sebagai pengasuh pesantren, sebagai ulama intelek, sebagai ilmuwan, sebagai tokoh organisasi Islam, modernis NU, dan sebagai pemimpin lainnya.

Kiai Ali merupakan tipe seorang Kiai yang memiliki semangat autodidak yang tinggi. Bagi Kiai Ali, pameo “Belajar sendiri tanpa guru (misalnya mengkaji sendiri kitab yang belum pernah dingaji-kan), maka gurunya adalah syetan”. Dipandangnya salah kaprah dan tidak berlaku lagi. Pameo itu sebenarnya hanya berlaku khusus pada murid thariqat yang sangat membutuhkan bimbingan spiritual seorang mursyid dalam mendalami ilmu-ilmu haqiqat.

Sebab, jika ilmu hakekat didalami sendiri tanpa bimbingan guru terkadang justru dapat menyesatkannya. Berbeda kondisinya dengan para santri yang mendalami ilmu-ilmu syari’at, bahwa kitab-kitab yang dikaji tersebut justru dipandang sebagai guru yang terbaik.

Beliau tidak pernah berbohong, paling sabar dan tidak pernah marah. Artinya, kitab-kitab tersebut berbicara dengan bahasa tulis apa adanya, terbuka untuk dikoreksi dan dikritik. Berbeda dengan guru manusia yang suka menutupi kekurangannya dan menonjolkan kelebihannya.

Pandangan inilah yang melandasi Kiai Ali memiliki semangat otodidak tinggi, berwawasan luas dan dalam, serta berpandangan moderat. Bahkan pandangannya ini sering kali dilontarkan kepada para santri di tengah memberikan pengajian. Sehingga mampu mendorong para santri untuk memiliki semangat otodidak yang tinggi seperti yang dimiliki oleh Kiai Ali.

baca juga : Mbah Ali, Pohon Kristen dan Anomali Logika Beragama”

Kiai-Kiai yang seangkatan dengan beliau atau yang lebih sepuh lagi, dan juga kalangan intelektual muda mengakui keluasan ilmunya. Beliau adalah ulama ahli tafsir, hadis, fiqih, bahasa Arab beserta ilmu alatnya, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Serta menguasai berbagai macam kitab, baik yang menjadi rujukan ulama tradisional maupun ulama modernis.

Bahkan penguasaannya terhadap kitab-kitab rujukan ulama modernis tersebut (seperti karya Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Sayyid Quthub, Hassan Al-Bana, Muhammad Abduh dan lain-lain) justru melebihi dari para ulama kelompok modernis itu sendiri[20]. Julukan “Munjid Berjalan” oleh masyarakat untuk Kiai Ali Maksum menujukkan keluasan bidang keilmuan yang dikuasainya.

~Allahu Yarham

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel