Mudir Ma’had Aly Resmikan Perkuliahan Mahasantri Al-Munawwir

Mudir Ma’had Aly Resmikan Perkuliahan Mahasantri Al-Munawwir

Krapyak – Ma’had Aly Al-Munawwir gelar sidang senat terbuka dalam rangka menyambut mahasantri baru dan kuliah perdana pada hari Rabu (30/11). Acara ini turut dihadiri oleh beberapa Dewan Pengasuh Al-Munawwir; KH. R. Abdul Hamid Abdul Qodir, KH. Muhtarom Busyro, dan jajaran dewan lainnya.

Ketua Yayasan Al-Munawwir; KH. Ahmad Shidqi Masyhuri. Jajaran Masyayikh Ma’had Aly; Prof. Suwandi, KH. Fauzi. Lalu Mudir Ma’had Aly; Nyai Hj. Ida Fatimah Zainal, Nyai Hj. Khusnul Khotimah Warson, dan Nyai Hj. Fatimatuz Zahro Munawwir. Serta Mahasantri dan Tamu Undangan.

Baca juga: Semarak Haul Mbah Ali ke-34: Panitia Gelar Sunatan Massal

Acara dimulai dengan pembacaan Ummul Kitab oleh MC acara. Lalu pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Saudara Alfin Fauzi. Selanjutnya sambutan Ketua Yayasan Al-Munawwir, KH. Ahmad Shidqi Masyhuri.

Sambutan Ketua Yayasan Al-Munawwir dalam Sidang Senat Ma’had Aly

Beliau menyampaikan bahwa sudah ada 74 Ma’had Aly yang terdaftar di Indonesia, sebagai prosesnya Ma’had Aly Al-Munawwir ini tengah dalam pencatatan daftar di Indonesia.

Sebenarnya Ma’had Aly Al-Munawwir sudah ada sebelum Ma’had Aly lainnya di Indonesia, sudah ada sekitar tahun 90-an, salah satunya adalah Prof. Suwandi yang menjadi Founding Father.

Ujar beliau

Baca juga: Dr. Lilik Umi Kulsum: Trend Tahfidz yang Tidak Diimbangi Tajwid

Ketua Yayasan ini berharap lulusan Ma’had Aly Al-Munawwir bisa menjadi tokoh yang berpengaruh di masyarakat dan mewarnai khazanah keilmuan di Indonesia. Beliau juga memberikan dukungan dan selamat kepada mahasantri baru Ma’had Aly.

Selamat kepada mahasantri semoga kalian semua nantinya menjadi pionir bagi mahasantri berikutnya yang bisa mengkader ulama-ulama sebagai lulusan dari Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Pungkasnya.

Acara berikutnya adalah laporan tentang penerimaan Ma’had Aly oleh Agus Ahmad Khoiruzad. Beliau menjelaskan bahwa Ma’had Aly periode tahun ajaran 1444-1445 H sudah buka mulai pada tanggal 28 Shafar – 27 Rabi’ul Akhir 1444 H, yang terbagi menjadi tiga gelombang.

Pembacaan Laporan Penerimaan Mahasantri Baru Ma’had Aly oleh Agus Ahmad Khoiruzad

Penerimaan mahasantri baru ini terbilang cukup selektif, hal ini bertujuan agar para masyayikh dapat menemukan sosok yang mampu bersungguh-sungguh dalam mengembangkan ilmunya. Adapun jumlah mahasantri pada periode ini adalah sebanyak 30 mahasantri putra dan 9 mahasantri putri yang dinyatakan resmi sebagai mahasantri baru Ma’had Aly Al-Munawwir.

Semoga dengan penerimaan Ma’had Aly ini mampu menghasilkan mahasantri yang berkualitas demi tercapainya tujuan Ma’had Aly Al-Munawwir

Imbuhnya.

Baca juga: Sejarah Perjalanan Burdah Nabi Sampai Ke Turki

Acara selanjutnya adalah sambutan sekaligus membuka perkuliahan secara resmi oleh Mudir Ma’had Aly Al-Munawwir, Nyai. Hj. Ida Fatimah Zainal. Beliau sedikit menyinggung tentang kondisi kelimuan Islam yang perlu reaktualisasi berdasarkan tuntutan zaman. Seseorang yang belajar Agama tidak cukup hanya mengenal sekilas saja, tetapi harus tafaqquh fi din (mendalami ajaran Islam).

Habiskan ilmu yang ada di Al-Munawwir ini, kalau sudah tidak bisa (sudah habis ilmunya), baru pindah. Oleh karena itu, jangan berhenti di tengah jalan.

Begitulah pesan beliau kepada para Mahasantri baru Ma’had Aly.

Acara berikutnya yaitu kuliah singkat dari Prof. Suwandi sebagai Masyayikh (Dosen) Ma’had Aly Al-Munawwir. Beliau sedikit menjelaskan tentang pemaknaan ayat Al-Qur’an pada lafal fi ahsani taqwim yang memiliki arti bahwa manusia tercipta sebagai sosok yang multi kompleks.

Mudir Ma'had Aly
Prof. Suwandi Menyampaikan Perkuliahan Singkat kepada Mahasantri Ma’had Aly

Beliau melanjutkan bahwa manusia itu memiliki komponen, antara lain fisik, psiko (jiwa), sosio, dan religius (spiritual). Dalam dunia medis pun, manusia tidak boleh terlepas dengan sesuatu yang bersifat spiritual, karena hal tersebut merupakan satu kesatuan.

Baca juga: Sosok KH. Nawawi Abdul Aziz Sebagai Ulama Penjaga Al-Qur’an

Hanya saja, sekarang sisi religius jarang sekali orang pakai, kebanyakan mereka menggunakan ilmu sekuler. Padahal tidak semua pengobatan medis bisa selesai dengan mengandalkan ilmu-ilmu tersebut. Prof. Suwandi merupakan salah satu tokoh yang percaya bahwa pengobatan medis yang biologis itu hanya 20% saja, sisanya Nol, artinya di luar obat-obatan yang ada.

Lantas beliau pun mengutik tentang dunia medis yang berhubungan dengan masa’il diniyyah. Persoalan-persoalan medis terkadang perlu formula berdasarkan hukum syariat Islam. Satu kasus yang beliau sebutkan adalah seseorang yang bertanya tentang masa’il fiqh fi hukm al-khuntsa, penentuan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan.

Tentu dengan hadirnya Ma’had Aly Al-Munawwir ini, beliau meyakinkan bahwa mahasantri harus mampu menjawab tantangan problematika yang semakin kompleks ini dengan tetap berlandasan literatur turats dengan pembacaan argumentatif, kritis, dan solutif.

Selanjutnya pembacaan doa oleh KH. Fairuz Afiq Dalhar sebagai penutup dari acara sidang senat terbuka penerimaan mahasantri baru dan kuliah perdana Ma’had Aly Al-Munawwir tahun ajaran 1444-1445 H.

Baca juga: Dinamika Al-Qur’an: Mengenal Qira’ah Sab’ah dan ‘Asyroh

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel