Religious Literacy: Menghayati Kembali pada Esensi Beragama

Religious Literacy: Menghayati Kembali pada Esensi Beragama

Almunawwir.com – Buku yang berjudul Charter for Compassion karya Karen Armstrong menjelaskan betapa pentingnya bersikap welas asih dalam menjalani kehidupan beragama.

Prinsip semacam ini mendorong kita untuk memperlakukan orang lain sebagaiamana kita ingin diperlakukan, melepaskan kepentingan diri demi menyebarkan kebaikan dan keharmonisan untuk orang lain serta belaku adil pada sesama manusia tanpa terkecuali.

Religious Literacy
Sumber: www.spectator.co.uk

Di satu sisi, kita juga perlu menghindari setiap tindakan yang bersifat menyakiti, merendahkan dan mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

Pada hakikatnya, Armstrong berupaya untuk mengajak setiap orang agar menghidupkan nilai welas asih sebagai pondasi dalam beretika dan beragama serta melakukan interpretasi ulang terhadap penafsiran kitab suci demi menghindari munculnya kekerasan dan kebencian serta menstandarisasi sifat empati atas penderitaan sesama umat manusia.

Dalam tradisi Islam, aktifitas yang selalu dianjurkan kepada setiap umatnya adalah membaca basmalah sebelum memulai kegiatan, “Dengan menyebut nama Allah, yang maha pengasih (ar-rahman), lagi maha penyayang (ar-rahim).

Jika dikaitkan dalam konteks yang dipaparkan oleh Armstrong, tradisi ini merupakan jawaban konkrit bahwa setiap orang seharusnya menjadi agen kasih sayang dan welas asih. Namun faktanya, secara empirik nilai ini masih belum sepenuhnya dirasakan dengan benar oleh sesama manusia.

Sebagian muslim membaca basmalah hanya sebatas rutinitas, sehingga masih pada level kognitif belum sampai kepada penghayatan dan pengimplementasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Akibat dari semua itu, meskipun tradisi ini terus dilakukan setiap waktu tetapi sikap atau perilaku masih belum mencerminkan nilai kasih sayang dan walas asih. Kenyataan seperti ini dalam tradisi keagamaan kita masih berpacu pada segi output dan outcome.

Baca juga:

Penekanan pada aspek output selalu berorientasi kepada dimensi kuantitatif, nominal dan tampilan fisik. Sedangkan aspek outcome menekankan pada dimensi kualitas, spiritual, ruh dan implementasian nilai nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan tersebut tampak pada proses pendidikan agama di lembaga lembaga yang mementingkan angka (grade) daripada nilai (value). Sehingga hal ini berdampak pada setiap pelajar agama yang nilai pendidikan agamanya bagus akan tetapi tidak diimbangi dengan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata.

Maka kemudian banyak perilaku agama yang masih mendahulukan having a religioun dan tidak mengarah kepada being a religious. Dalam aspek having a religioun setiap orang masih melihat agama sebagai identitas formal, belum tentu memahami dan mengayati pada nilai-nilai agama.

Sedangkan, being a religious lebih kepada pemahaman, penghayatan dan pengamalan dari setiap nilai nilai yang terkandung pada tradisi keagamaan.

Dalam survei yang dilakukan oleh Rehman dan Askari, peneliti dari George Washington University tahun 2010 tentang negara Islam di dunia, bahwa dari 200-an negara tidak ada satupun negara anggota OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang menempati 10 besar.

Pada survei ini tingkat pertama diduduki oleh Selandia Baru. Sebetulnya riset ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Muhamad Iqbal seorang filsuf dan penyair asal Indo-Pakistan. Dalam pengalamannya yang pernah berlajar lama di Eropa, “Saya di sini melihat sedikit dari umat Islam.

Tetapi banyak di antara mereka yang mencerminkan nilai-nilai keislaman”. Beberapa pandangan seperti itu perlu direfleksikan oleh setiap umat beragama, tidak hanya Islam saja melainkan semua agama, tentang model beragama yang masih sebatas “mempunyai agama” tetapi “belum beragama”. Sebab itu, literasi beragama (Religious Literacy) sangat penting.

Penulis: Muwadhoful (Santri Komplek Asy-Syathibi)

Baca juga:

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel