(Sajak Kemerdekaan): Ibu Sang Penjahit

(Sajak Kemerdekaan): Ibu Sang Penjahit

Tepat jam sepuluh
Sang Ibu masih menjahit dengan berpeluh
Ia sudah sepuh, tapi tak pernah mengeluh,
meski harus menambal robekan-robekan yang lusuh.

Sumber: Tribunnews.com

Aku ingin membantunya…
tapi apa daya.. aku ini hanya anak bodoh yang tuna..

Segera aku bangkit dan menemuinya,

“Bu,
Renta sudah usiamu.
Tapi kenapa, tetap terang wajahmu di saat orang-orang yang di sana mencerca karyamu.

Kenapa tetap tegar badanmu, di saat orang-orang di sana banyak yang melupakanmu.

Dan kenapa kau tetap menjahit pakaian itu, sedangkan di sana banyak yang ingin merobek dan merusak jahitan itu.”

Sang ibu hanya tersenyum
melihat wajahku yang hanya termenung.

Baca Juga:

Ibu beranjak dari kursinya
membawa baju yang sudah ia jahit dengan seksama.

“Nak,
Pakailah baju ini.
Merah Putih, begitulah aku menamainya.
Kamu pantas memakainya.
Pakailah nak.
Walaupun lusuh, ibu sudah mencucinya.
Walaupun robek, ibu sudah menjahitnya.

Banggalah kamu memakai itu nak,
Jangan kamu kotori baju itu
Jangan kamu buang baju itu
Jangan kamu robek baju itu

Apa yang ibu jahit,
Pakailah, Jagalah,
dan simpanlah,
untukmu dan kelak untuk anak cucumu

Krapyak, 17 Agustus 2023

Penulis: Agus Akhmad Munadi

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel