Segerakan Bertaubat: Persiapan Penting Menyambut Ramadhan

Segerakan Bertaubat: Persiapan Penting Menyambut Ramadhan

Sebagai manusia, tentu kita tak pernah luput dari dosa, baik dosa sebab kemaksiatan kita kepada Allah, maupun dosa antar sesama. Terlebih untuk menyambut bulan suci Ramadhan ini, upaya untuk melakukan pertaubatan harus disegerakan. Sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi:

اعلم أن كلَّ من ارتكب معصيةً لزمه المبادرةُ إلى التوبة منه،

“Ketahuilah bahwa setiap orang yang berbuat maksiat harus bergegas untuk bertaubat darinya.”

Terkait dosa yang berhubungan dengan Allah, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ada tiga syarat agar taubat seorang hamba diterima. Pertama, berhenti melakukan maksiat seketika itu; Kedua, menyesali perbuatannya; Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya kembali.

Adapun taubat dari dosa yang berkaitan dengan hak-hak manusia ialah tiga cara yang telah disebutkan, namun ada tambahan satu lagi, yakni mengembalikan kedzaliman (ketidakadilan) kepada pelakunya atau meminta maaf dan dibebaskan darinya. [Imam Al-Nawawi, kitab Al-Adzkar, Cet: Darul Fikr, halaman 346]

Termasuk dosa yang terkait dengan hak-hak manusia adalah ghibah. Seringkali kita abai dengan dosa ghibah ini, padahal nyatanya ini merupakan dosa yang sangat serius. Sampai-sampai Allah tidak akan pernah melupakan dan meninggalkannya. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

الدَّوَاوِينُ عِنْدَ اللَّهِ ثَلاثَةٌ : دِيوَانٌ لا يَعْبَأُ اللَّهُ بِهِ شَيْئًا، وَدِيوَانٌ لا يَتْرُكُ اللَّهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَدِيوَانٌ لا يَغْفِرُهُ اللَّهُ، فَأَمَّا الدِّيوَانُ الَّذِي لا يَغْفِرُهُ اللَّهُ فَالشِّرْكُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَأَمَّا الدِّيوَانُ الَّذِي لا يَعْبَأُ اللَّهُ بِهِ شَيْئًا فَظُلْمُ الْعَبْدِ نَفْسَهُ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ مِنْ صَوْمِ يَوْمٍ تَرَكَهُ أَوْ صَلاةٍ تَرَكَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ ذَلِكَ وَيَتَجَاوَزُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَأَمَّا الدِّيوَانُ الَّذِي لا يَتْرُكُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ شَيْئًا فَظُلْمُ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، الْقِصَاصُ لا مَحَالَةَ

“Catatan (catatan dosa) di sisi Allah ada tiga: Pertama, catatan dosa yang tidak dipedulikan Allah sama sekali. Kedua, catatan dosa yang tidak ditinggalkan Allah sama sekali, dan ketiga, catatan dosa yang tidak diampuni Allah. Catatan yang tidak Allah ampuni adalah menyekutukan Allah. Allah berfirman, “Barang siapa yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah akan mengharamkan surga baginya.” (QS. Al-Maidah: 72). Adapun catatan dosa yang tidak dipedulikan Allah sama sekali yaitu seorang hamba yang mendzolimi dirinya (hanya) antara dia dengan Tuhannya (yang tahu), seperti: meninggalkan puasa, meninggalkan salat. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa yang seperti ini dan tidak menganggapnya jika Dia menghendaki. Adapun catatan dosa yang tidak ditinggalkan Allah sama sekali yaitu kedzoliman seorang hamba yang dia lakukan kepada orang lain. Tidak ada jalan keluar kecuali dengan cara ‘qishash’ (dihukum dengan hukuman yang semisal).” (HR. Ahmad)

Dari hadist tersebut, dapat dipahami bahwa catatan dosa selain syirik yang juga akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah ialah dosa sesama manusia, termasuk ghibah di dalamnya. Adapun dosa seorang hamba kepada Allah (selain syirik) masih sangat bisa ditoleransi, kendati demikian seorang hamba tetap tidak boleh meremehkannya.

Lantas, bagiamana seharusnya sikap seorang muslim ketika ingin bertaubat dari dosa ghibah. Apakah harus berterus terang atau cukup beristigfar dan mendoakan orang yang ia pernah gunjing?. Andaikan harus berterus terang, lalu muncul pertanyaan: Apakah cukup mengatakan “Aku telah mengghibaimu, jadi bebaskanlah aku.” Atau haruskah dia menjelaskan apa yang telah dia ghibahi?

Merespon pertanyaan di atas, Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar menjelaskan mengenai hal ini. Beliau mengutip dari dua pendapat yang dikemukakan oleh para murid Imam Syafi’i.

Pendapat pertama menyatakan disyaratkannya adanya penjelasan apa yang dighibahinya. Jadi jika yang bersangkutan memaafkan tanpa ada penjelasan dari orang yang menggibahinya, maka itu tidak berlaku (tidak sah).

Sedangkan pendapat kedua menyatakan tidak disyaratkan adanya penjelasan. Alasannya karena konten atau isi ucapannya adalah sesuatu yang dapat ditoleransi, maka tidak disyaratkan pengetahuan tentangnya, berbeda dengan kasus harta (disyaratkan penjelasan).

Dari dua pendapat ini, pendapat pertama lebih masuk akal dan lebih jelas, karena seseorang terkadang dapat memaafkan suatu gunjingan tetapi tidak untuk gunjingan yang lain. Lantas bagaimana jika yang bersangkutan telah tiada atau sulit ditemukan.

Apabila kondisinya seperti itu maka itu termasuk uzur, sehingga otomatis sudah dianggap mendapat maaf. Namun para ulama tetap menganjurkan untuk memperbanyak istighfar  dan melakukan amal amal kebaikan yang diniatklan untuk orang yang dighibahinya. [Imam Al-Nawawi, kitab Al-Adzkar, Cet: Darul Fikr, hal. 346]

Kesimpulannya, bagi kita seorang muslim harus selalu waspada dan mawas diri dengan segala hal yang berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kualitas kesalehan kita. Dosa-dosa kemaksiatan harus ditekan sebisa mungkin, terlebih sebagai upaya menyambut bulan suci Ramadhan. Wallahu a’lam

Baca Juga:

Penulis: Abdillah Amiril Adawy

Editor: Redaksi

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel