Seringkali Mengucapkan “Maaf” dan “Terimakasih”, Beginilah Etikanya!

Seringkali Mengucapkan “Maaf” dan “Terimakasih”, Beginilah Etikanya!
sumber foto: mediapakuan.com

Ucapan memang selalu diungkapkan oleh seseorang  sebagai medium menggambarkan perasaannya. Tidak hanya perilaku dan perbuatan, ucapan juga termasuk penyampaian suatu hal terkait makna dan perasaan. Di antara banyaknya kosakata ucapan, “maaf” dan “terima kasih” menjadi kata yang memiliki makna perasaan yang begitu berarti. Terdengar simpel dan sepele, namun siapa sangka bahwa kedua kata ini menunjukkan bentuk sikap menghargai orang lain.

Kata “maaf” berarti pembebasan hukuman atau pemberian ampunan dari suatu kesalahan. Setiap orang tak luput dari suatu kesalahan yang diperbuat, baik kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Tetapi dalam meminta maaf ada beberapa hal terkait etika dan moral yang harus diperhatikan:

Sadar atas Kesalahan yang Diperbuat

Kesadaran terletak pada setiap diri seseorang. Namun, apabila seseorang tersebut tidak merasa atau bahkan tidak peka, maka orang lain yang mengetahuinya dapat membantunya dengan mengingatkan. Mungkin dikarenakan tidak semua orang memiliki kesadaran dan kepekaan yang sama. Maka dari itu, hal ini tentunya boleh dilakukan sebagai bentuk praktik sosial terhadap sesama dengan saling mengingatkan satu sama lain.

Meminta Maaf dengan Tulus

Mungkin kebanyakan orang enggan meminta maaf hanya dikarenakan malu untuk mengakui kesalahannya. Atau bahkan enggan karena gengsi yang dimilikinya terlalu tinggi. Cobalah untuk mengerti bahwa meminta maaf bukanlah hal yang patut untuk dipermalukan. Tetapi patut dibanggakan karena melatih diri berani bertanggung jawab, menunjukkan sikap sadar diri, dan merupakan suatu sikap menghargai kepada orang lain.

Adanya Penyesalan

Merasa menyesal telah berbuat suatu kesalahan termasuk dalam kesadaran yang sangat mendalam terutamanya perasaan hati. Ketika meminta maaf dengan tulus, pasti penyesalan selalu turut menyertai. Karena penyesalan akan menciptakan janji untuk tidak mengulangi perbuatan salah yang dilakukan serta wajib untuk menepatinya. Namun jika khilaf, maka menjadi tanggung jawab sesama makhluk untuk saling mengingatkan.

Berubah menjadi Lebih Baik

Terkadang tidak semua permintaan maaf dapat diterima. Adanya beberapa hal yang kurang berkenan menjadi suatu alasan permintaan maaf itu tertolak. Maka dari itu, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi hendaklah setelah meminta maaf cobalah untuk berubah menjadi lebih baik atas perbuatan sebelumnya. Atau mungkin jika seseorang yang dimintai maaf masih merasa kesal dan kecewa, maka tidak bisa untuk dipaksa menerima maaf. Berilah waktu untuknya, setidaknya sudah pernah terlontar akan kata maaf walaupun harus diulang hingga beberapa kali. Dan ingatlah bahwa tujuan kita meminta maaf adalah untuk memperbaiki hubungan agar tidak renggang dengan orang tersebut.

Kata “terima kasih” berarti ungkapan rasa syukur atau ungkapan rasa senang. Mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik termasuk ketika kita juga membalasnya dengan baik pula. Tidak hanya sekedar ucapan, tetapi kata terima kasih memiliki makna yang lebih mendalam. Orang lain juga akan merasakan senang walaupun hanya dari ucapan kata terima kasih. Sama halnya dengan meminta maaf, dalam berterima kasih juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan,

Lakukan secara Tulus

Salah satu hal yang menandakan adanya ketulusan adalah dengan kontak secara langsung. Berterima kasih secara langsung kepada orang yang telah membantu, tentunya dengan tanpa paksaan dari orang lain untuk berterima kasih. Karena orang tersebut pasti pula akan merasa senang ketika jasanya telah diapresiasi walaupun dalam bentuk ucapan. Hal ini menjadi timbal balik oleh semua pihak, karena sama-sama merasa senang atas perbuatan baik yang sama-sama dilakukan walau berbeda konsep penyampaian.

Berterima Kasih tanpa Perantara Orang Lain

Berterima kasih secara langsung tanpa perantara juga merupakan bentuk ketulusan dari diri sendiri. Bukan karena gengsi yang tinggi bisa membuat malu diri sendiri untuk berterima kasih yang akhirnya meminta tolong kepada orang lain untuk mewakilinya. Berterima kasih tanpa perantara orang lain termasuk dalam melatih diri berani bertanggung jawab, menunjukkan sikap menghargai secara langsung.

Lakukan secara Sederhana

Tidak perlu berlebihan dalam berterima kasih. Karena dikhawatirkan seseorang tersebut merasa risih atau tidak nyaman atas sikap tersebut. Juga agar terbiasa bersikap sederhana dalam segala hal. Dan sederhana merupakan bentuk dari rasa cukup seseorang atas sesuatu tanpa adanya kelebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Hiasi Diri dengan Senyuman

“Senyum manismu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh” begitulah kata nabi.

Selain merupakan ibadah, senyum juga menghantarkan perasaan hangat kepada orang lain yang nantinya dapat memupuk hubungan baik antar sesama. Makna senyum menyiratkan ketulusan besar dari hati. Senyum juga dapat menjadi perwakilan dari perasaan senang tanpa harus melontarkan kata-kata maupun perbuatan lainnya. Senyum terlihat sepele, namun apabila dilakukan dengan ikhlas maka aura positif juga dapat ikut tersalurkan kepada yang lain. Seperti dalam berterima kasih, senyum dapat membantu diri agar lebih rileks ketika berterima kasih.

Kata “maaf” dan “terima kasih” mungkin terdengar sepele, tetapi terkadang susah untuk selalu diucapkan oleh seseorang. Apa yang membuat seseorang enggan untuk berucap demikian? Dapat dipastikan dalam diri masih dihinggapi rasa takut, cemas, gengsi ataupun sikap kecerobohan lainnya dalam berbuat dan berucap. Maka dari itu, harus ada sikap percaya diri dan perlunya mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan etika dalam berucap maaf dan terima kasih. Karena nantinya tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain.

Aku ada di antara ribuan sifat yang hebat. Kamu ada dari sekian sikap yang kuat. Tapi perlu diingat bahwa dari segala sikap dan sifat yang sempurna, kita ada di antara hal-hal terbaik. Seperti itulah analogi ucapan “maaf” dan “terima kasih”.

 

Oleh: Zia Zahra Hudaya (Santri Komplek Komplek Q)

Editor: Abdillah Amiril Adawy

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel