Terlalu Banyak Menghafal, Melemahkan Daya Analisis?

Terlalu Banyak Menghafal, Melemahkan Daya Analisis?
Sumber Gambar: dream.co.id

Perdebatan di ruang akademik selalu saja membahas tentang efektivitas pembelajaran. Institusi pendidikan modern cenderung mengunggulkan metode analisis dalam proses pembelajaran.

Beberapa institusi pendidikan klasik lainnya “ngotot” bahwa metode menghafal adalah cara terbaik dalam memperoleh keilmuan. Perdebatan sejenis ini akan selalu terjadi dalam lintas antara zaman klasik dan modern.

Saya ingin menguliti perkara ini dari ungkapan seorang ulama sekaligus sastrawan asal Afrika Timur, Abu Utsman Amr Ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi, atau akrab dipanggil “al-Jahiz” (254 H/868 M). Jatuhnya beliau seorang ulama yang “kemaruk”.

Karena bukan hanya ilmu keagamaan saja yang ia kuasai, tetapi juga ilmu sejarah, psikologi, linguistik, biologi, dan zoologi.

Imam al-Jahiz menulis sebuah kitab dengan judul Al-Rasail li al-Jahiz. Di sana beliau memaparkan:

أنه متى أدام الحفظ أضر ذلك بالاستنباط، ومتى أدام الاستنباط أضر ذلك بالحفظ، وإن كان الحفظ أشرف منزلة منه

“Membiasakan menghafal dapat melemahkan daya analisis. Membiasakan menganalisis dapat melemahkan daya hafal. Kendati menghafal lebih utama dari menganalisis.” (Jilid 3 halaman 29).

Perkara menyulitkan sebetulnya terletak pada dua entitas (menghafal dan menganalisis) yang secara mutlak selalu kita pisahkan, seakan tiada korelasi di dalamnya. Padahal dua entitas itu tentu saja berbeda, tetapi tetap berkaitan.

Baca juga: KH. R. Abdul Hamid Pimpin Pelantikan Pengurus Yayasan PP. Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta

Untuk menghafal, terkadang seseorang memerlukan analisis. Sebaliknya, untuk menganalisis, seseorang memerlukan hafalan yang terekam di memori otaknya. Pasti dan akan selalu seperti itu.

Tetapi juga bukan berarti salah apa yang diungkapkan al-Jahiz. Kata “melemahkan” di situ mengandung bobot dominasi. Ibarat persentase dari 1 sampai 100. Ketika seseorang “sering” menghafal, dominasi menghafal dia tentu akan lebih tinggi ketimbang menganalisis.

Berarti aktifitas menghafal dia berada di 51 persen, dan aktifitas menganalisis dia ada pada angka 49 persen. Begitu sebaliknya.

Kekeliruan orang awam selalu menganggap “lemah” sebagai kata yang bersifat peyoratif. Sementara tidak demikian. Karena memang sudah pasti bila kita condong kepada satu hal, tentu akan berdampak mengurangnya satu hal yang lain.

Upaya Mendamaikan Keduanya

Persoalan ini jika ditarik ke dalam ruang institusi pendidikan, maka yang kita butuhkan adalah keseimbangan dua aktifitas ini. Terlalu banyak menghafal dan minimnya aktifitas menganalisis (atau sebaliknya) itu juga keliru.

Sebab di era modern seperti ini kita membutuhkan daya kritis yang kuat serta berpikir secara komprehensif, global, dan universal.

Betapa banyak institusi pendidikan di luar sana, yang terlalu mementingkan metode menghafal tanpa diimbangi aktifitas menganalisis, akhirnya menjadi semacam alat politik bagi salah satu partai.

Ini semua diakibatkan kekurangan daya kritis kita dalam merobek topeng kemunafikan seorang tokoh.

Bahkan tidak sedikit juga kerap dibodohi oleh slogan “barokah”. Seakan tidak manut pada guru akan berakibat masuk neraka.

Padahal, dalam koridor perpolitikan, suudzon harus diikutsertakan dalam berpikir sebagai usaha merangkai pagar preventif dari praktik “nakal” sebuah partai. Ya ampun ya salam..

Lebih lanjut, implikasi dari sekadar aktifitas menghafal saja, dapat kita intip kisah yang terjadi pada masa sahabat. Kisah seseorang yang diutus oleh Sayyidina Umar bin Khattab dalam menjalankan misi mengajarkan Al-Quran kepada penduduk Mesir, yakni Ibnu Muljam. Dahulu sang utusan ini sangat disanjungi dan dibanggakan, hingga dikomentari:

إن عبد الرحمن بن ملجم كان إنسانا تقيا زاهدا صالحا، فقد كانت علامة السجود ظاهرة في وجهه

“Sesungguhnya Abdurrahman bin Muljam adalah sosok manusia yang bertakwa, zuhud, serta salih. Bahkan tanda sujudnya (wajah berseri-seri) terlihat secara jelas di wajahnya.”

Dikirimnya Ibnu Muljam oleh Sayyidina Umar ke Mesir karena atas permintaan Amr bin Ash. Beliau membutuhkan seorang ahli Al-Quran demi menyebarluaskan ajaran agama Islam. Dikisahkan sebagai berikut:

حيث قال: يا أمير المؤمنين أرسل لي رجلا قارئا للقرآن يقرئ أهل مصر القرآن. فقال عمر بن الخطاب: أرسلت إليك رجلا هو عبد الرحمن بن ملجم من أهل القرآن آثرتك به على نفسي -يعني أنا أريده عندي في المدينة لكن آثرتك به على نفسي- فإذا أتاك فاجعل له دارا يقرئ الناس فيها القرآن وأكرمه

“Amr bin Ash berkata: “Duhai Amirul Mukminin (Umar bin Khattab), bawakan kepadaku seorang ahli Al-Quran untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir.” Lalu Sayyidina Umar bin Khattab menjawab: “Aku mengutus padamu seorang lelaki, ia bernama Abdurrahman bin Muljam dari golongan ahli Al-Quran.

Baca juga: Dilarang Parkir Sembarangan, Ngeyel Gembosi!

Aku utamakan padamu daripada diriku sendiri (yakni aku ingin Ibnu Muljam bersamaku di Madinah akan tetapi aku utamakan untukmu). Jika ia telah datang, siapkan rumah untuknya sebagai tempat pengajaran Al-Quran dan muliakanlah ia.”

Akan tetapi pujian itu kini sirna lenyap terbakar. Lembar sejarah mengatakan bahwa Ibnu Muljam adalah sosok yang keji, bengis, serta biadab. Sosok yang tega dengan kejamnya membunuh Sayyidina Ali bin Abi Talib. Pada satu riwayat mengatakan Sayyidina Ali ditikam pedang beracun dari belakang saat mengimami salat Subuh.

Riwayat lainnya menyebutkan, pembunuhan itu terjadi ketika Sayyidina Ali hendak menuju masjid untuk melaksanakan salat Subuh. Dari belakang, Sayyidina Ali ditebas kepalanya (dari atas) sampai bagian dada hingga setengah tubuhya terbelah dua.

Kebiadaban sejenis itu terjadi karena Ibnu Muljam sekadar menjalankan agama secara dogmatik, tidak berpikir kritis-komprehensif dalam menerima ajaran-ajaran dalam Kitab Suci.

Pada konteks ini, Ibnu Muljam hanya membaca Al-Quran sebatas kerongkongan, tidak merenungi secara mendalam muatan substansi-esensial, untuk apa sebetulnya tujuan Al-Quran diturunkan.

Sejalan dengan ini, Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis (nomor 6344) yang menuturkan bahwa Nabi saw menaruh keresahan dahsyat, karena sesungguhnya mayoritas orang munafik umat Islam di kemudian hari ialah pembaca Al-Quran:

إِنَّ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣُﻨَﺎﻓِﻘِﻲ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻗُﺮَّﺍﺅُﻫَﺎ

“Sesungguhnya kebanyakan orang munafik dari umatku adalah pembaca Al-Quran (ahli Al-Quran).”

Pepeling Bagi Seorang Penghafal

Syekh Abdul Aziz al-Syahawi al-Husaini juga turut memberi lampu kedip terkait tujuan utama Al-Quran diturunkan saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Munawwir Yogyakarta beberapa bulan yang lalu.

Menurutnya jangan sekali-kali menyombongkan atas hafalan yang kita miliki. Karena sejatinya Al-Quran itu untuk diamalkan, bukan sekadar dihafal saja.

“Duhai para penghafal Al-Quran, jangan bangga dengan menghafal saja, sampai engkau melihat apakah dirimu sudah mengamalkan kandungannya atau belum,” tutur Syekh Abdul Aziz.

Apapun itu yang bersifat berlebihan sangatlah tidak baik. Allah Swt mengingatkan dalam surat Al-A’raf ayat 31:

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Innahu laa yuhibbul musrifiin).

Sedangkan dalam ayat itu sedang membahas makan dan minum, tetapi Allah menuturkan kepada manusia supaya tidak berlebihan.

Jadi bayangkan, soal makan dan minum yang sudah jelas kebutuhan primer manusia saja Allah tidak menyukai andai berlebihan. Apalagi perihal lain yang hanya bersifat sekunder.

Cukuplah potongan-potongan paragraf di atas sebagai pengingat betapa pentingnya beragama dalam kendali hati yang jujur dan pikiran yang sehat. Sebab itu semua, mari kita lestarikan budaya menghafal dan menganalisis. Perkuat serta seimbangkan keduanya.

Fawaillul lil musallin, allaziina hum an salaatihim saahuun!

Editor: Abdillah Amiril Adawy

Baca juga: Biografi KH Dalhar Munawwir: Ulama Sederhana, Nasionalis dan Pengabdi Umat

Afda Muhammad

Afda Muhammad

Afda Muhammad

Santri Komplek L Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak. Minat Kajian di Budaya, Gender, dan Politik

3

Artikel