The Miracle Of Giving: Lima Ribu jadi Sejuta dalam Seminggu

The Miracle Of Giving: Lima Ribu jadi Sejuta dalam Seminggu

Almunawwir.com-Senin pagi, setelah melakukan upacara bendera, OSIS keagamaan SMA TMI Raudlatul Qur’an berkeliling kelas untuk menarik infaq mingguan guna membeli hewan qurban di hari raya Idul Adha. Tiba di kelas sebelas IPS, kak Habib, anggota OSIS bagian keagamaan mengucap salam dan memohon ijin berkeliling menarik infaq di kelas sebelas IPS.

Asna duduk di bangku paling pojok belakang dekat jendela, bola matanya memperhatikan kak Habib berjalan menyusuri bangku menyodorkan kotak infaq, sedang tangannya  merogoh saku jas almamater berwarna biru muda. Asna melihat uang lima ribu rupiah yang hanya tinggal satu-satunya ia miliki.

Masukin ke kotak infaq gak ya? saya pengen sedekah, tapi ini uang terakhir. Nanti baru dikirim lagi awal bulan” gumamnya dalam hati.

Langkah kak Habib semakin dekat berjalan menuju bangkunya. Asna semakin gugup.

Aduh gimana ini, apa sedekahnya dua ribu aja? terus minta kembalian tiga ribu? Eh tapi masa sedekah minta kembalian sih! Aduh saya juga malu nanti sama kak Habib”.

Kak Habib sudah menyodorkan kotak infaq ke arah Asna. Tiba-tiba Asna mengingat buku terakhir yang ia baca, the miracle of giving karya ustadz Yusuf Mansur. Di dalam buku itu beliau menjelaskan tentang kepercayaan kepada janji Allah.

Allah telah berjanji kepada orang yang bersedekah di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 261

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah luas, maha mengetahui”.

Berbekal keyakinan satu ayat tersebut Asna memasukan lima ribu rupiahnya ke dalam kotak infaq “Bismillah nanti diganti sama Allah.” ucapnya dalam hati sembari memasukan uang lima ribu itu ke dalam kontak infaq. Setelah menginfakkan satu-satunya uang yang ia miliki, hari itu Asna hanya makan seadaanya sayur pondok, ia tak membeli lauk-pauk seperti biasa.

*****

Setelah selesai mengaji setoran hafalan kepada Kyai, semua santri bersiap untuk berangkat sekolah.

“Yah hari ini olahraga, ga punya duit lagi ah, nanti beli es pake uang siapa?” ujar Asna sembari memakai sepatu olahraga.

“Ehh ini hari selasa ya? Olahraga dong.” sahut Alifa yang baru selesai menyapu halaman kamar

“Iya ini hari selasa” jawab Asna

Sinar matahari nampak kuning berkilauan, panasnya menyengat hingga ke dalam lapisan baju olahraga, nampaknya suhu lebih panas dibandingkan kemarin.

Asna dan teman sekelasnya berjalan menuju lapangan Mulyojati. Alifa berjalan di samping Asna sembari memantulkan-mantulkan bola basket.

“Wih mau ada konser! Armada ya!”  ujar Alifa antusias menujuk ke arah lapangan.

Bola mata Asna tertuju ke arah panggung yang sedang dipersiapkan oleh para pekerja. Ia hanya menghela nafas tak bersemangat.

Hari yang cukup terik, kelas sebelas IPS bermain bola basket hinggal pukul 11.00. Asna hanya duduk di bawah pohon beringin yang sudah lumayan besar, menyaksikan teman-temannya berlarian memainkan bola basket.

“Ini untuk sangu, kamu mirip anak bapak yang sudah meninggal” ucap laki-laki paruh baya menyodorkan uang sepuluh ribu

“Bapak siapa?” tanya Asna bingung dihampiri orang asing yang entah datang dari arah mana.

“Saya pekerja panggung konser, itu uangnya buat sangu ya.” ujar pekerja panggung konser itu lalu meninggalkan Asna begitu saja. Pria itu berjalan menuju panggung konser.

“Pakkk….pakk” Asna memanggil dengan suara lirih, namun pria pekerja panggung konser itu tetap berjalan menjauh.

Melihat Asna diberi uang, teman kelasnya mendekat.

“Wiih, siapa itu Na?

“kok dikasih duit?”

“wihhh dikasih duit!”

“Saudara kamu tah Na?”

Ujar teman-teman Asna.

“Demi apa saya ga kenal bapak itu, saya ga punya saudara di sini” Asna menjawab teman-temannya dan membolak-balikan uang sepuluh ribu pemberian orang asing.

“Lah tapi kok kenal kamu Na.”

“Saya juga nggak tau, tapi katanya saya mirip anaknya yang udah meninggal”

“Malaikat kalik” ujar Alifa.

“Priiiiiiittttttttttt” suara peluit pak Satria memotong pembicaran mereka.

“Anak-anak mari kita kembali ke sekolah”

Seluruh kelas sebelas IPS bergegas pulang, Asna tetap memegang uang sepuluh ribu dan memandanginya di sepanjang jalan. Ia masih terheran orang asing memberinya uang.

Sampai di depan mushola, Asna melihat kotak infaq dan memasukan uang sepuluh ribu tadi.

“Aih daripada nanti saya kenapa napa pakai uang dari orang gak kenal, mending saya sedekahin aja ke kotak infaq” ujarnya dalam hati lalu meninggalkan kotak.

***

“Panggilan kepada saudari Asna Azizah untuk segera menuju kantor putri, terimakasih” suara ustadzah dari spiker pesantren

“Waduh kenapa saya dipanggil ke kantor? Saya bikin kesalahan apa emang?” ujar Asna kepada teman kamarnya.

“Hayo lo Na! Abis ngapain kamu?.”

“Enggak! Saya gak ngapa-ngapain.”

“Udah sana cepet ke kantor, kelamaan nanti kami kena marah” ucap Alifa

Asna berjalan menuju kantor putri di sebelah gedung puskestren, ia menemui ustadzah yang sedang berjaga di kantor sore itu.

“Assalamualaikum, ustadzah ada apa ya saya dipanggil ke kantor?” ucap Asna kepada ustadzah Zulfa pembimbing kamarnya.

“Waalaikumsalam, eh Asna maaf ustadzah lagi jaga kantor, makanya kamu dipanggil kesini, Ini ada pesan dari orang tuamu, katanya sudah transfer satu juta”

Loh kok udah transfer ya ustadzah? Kan belum awal bulan? Satu juta buat jajan aja?” Asna bertanya dengan ekspresi wajah heran

“Oh iya tadi ibumu nitip salam, yang rajin ngajinya, jangan lupa doain ibu sama bapak di rumah”

Jawaban ustadzah Zulfa belum memuaskan Asna

“Ustadzah, saya boleh telpon ibu ga?” pintanya kepada ustadzah Zulfa.

“Boleh tapi 5 menit aja ya” ustadzah Zulfa memberikan ponselnya.

“drttttttttt”

“Hallo assalamualaikum” suara ibu Asna

“Waalaikumsalam bu, ini Asna”

“Iya kenapa nak?”

“Ibu kok udah transfer? Itu satu juta buat jajan semua?”

“Udah disampaikan ya sama ustadzah? Iya ibu transfer karena ada rezeki lebih, itu untuk Asna jajan siapa tau pengen beli sesuatu”

“aaaaa makaasih ibuuuu” jawab Asna manja.

“Iya sama-sama, do’akan ibu terus ya nak supaya rezekinya lancar”

“Iya bu iya Asna do’ain”

“Yaudah gitu dulu nak, ibu repot. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam” Asna menutup ponsel dan mengembalikan kepada ustadzah Zulfa

Asna berjalan dengan gembira menuju kamar, ia menyapa semua orang yang ia kenali di sepanjang jalan dengan senyum ramah. Sampai di ssrama Asna berdiri di balkon depan kamar memandangi langit senja yang hampir magrib, kebetulan ia sedang tidak shalat.

“Bener yang dibilang ustadz Yusuf Mansur, Allah gak pernah ingkar janji! Hari senin aku sedekah lima ribu di sekolah, hari selasanya aku dapet uang sepuluh ribu dari bapak pekerja panggung yang gak aku kenal, sekarang hari rabu sore ibu transfer satu juta, padahal belum waktunya kiriman dan biasanya aku gak di transfer satu juta”  Asna berbicara kepada dirinya sendiri.

Sejak saat itu Asna semakin menyadari dan meyakini kebenaran janji Allah, ia menjadi lebih sering bersedekah yang ganjarannya ia hadiahkan kepada orang tua. Asna selalu meyakini dan merasakan balasan yang begitu cepat dari bersedekah.

******

Apakah itu sebuah kebetulan?

Lalu siapa laki-laki paruh baya asing yang memberinya uang?

Siapa yang memberi rezeki lebih untuk orang tua Asna?

Dan siapa yang menggerakan hati orang tua Asna untuk memberinya satu juta, melebihi jumlah biasanya dan sebelum waktunya?

Allah selalu memberi rezeki min haitsu la yahtasib (dari arah yang tidak disangka-sanka). Allah telah memberikan petunjuk kepada kita,“Bersedekahlah jika menemui kesulitan, serta ingin dilipat gandakan hartanya” dan INILAH IMAN, INILAH TAUHID!

“Apakah kita disebut tidak ikhlas hanya karena beribadah dan berharap akan kebenaran janji-Nya? Salahkah kita bila percaya sama omongan-Nya? Sama iming-iming Nya? Salahkah juga kalau kita kemudian bersedekah karena ingin kepengen diberikan kemudahan atau karena kesulitan kita kepengen dihapus-Nya? Sedang ini adalah Firman-Nya? Nampaknya tega betul bila disebut tidak ikhlas, saya lebih suka menyebutnya saking percayanya sama Allah, sama petunjuk Allah lalu kita melakukannya”

Ust. Yusuf Mansur

Sebab, jika tidak kepada Allah, lantas kepada siapa kita akan datang meminta pertolongan? Sedekah adalah ibadah, do’a adalah ibadah. Berdo’a dan bersedekah adalah cara yang paling baik untuk mendatangi Allah kemudian meminta pertolongan-Nya.

“مَا نَقَضَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةّ….، بَلْ يَزْدَاد….

 بَلْ يَزْدَادُ……  بَل يَزْ دَاد”ُ

“Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkah, kecuali ia bertambah…bertambah… bertambah”

(H.R. at-Tirmidzi)

Penulis: Ajeng Diana

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Ajeng Diana

Ajeng Diana

Ajeng Diana

Santri Komplek R3

5

Artikel