Tiga Kriteria Kolonialisme dalam Al-Quran

Tiga Kriteria Kolonialisme dalam Al-Quran

Almunawwir.com-Ketika mendengar kata “penjajah” kebanyakan dari kita akan langsung membayangkan orang-orang Eropa dan Asia yang datang ke Nusantara dengan berkeinginan menguasai dan merampas hak milik warga negara. Meski sebenarnya berbicara merdeka dan kolonialisme lebih luas maknanya dari sekedar romusha atau kerja rodi yang pernah diberlakukan di Indonesia.

Penjajah sendiri bukan hanya warga Negara asing yang zalim, tapi setiap orang yang melanggar dan menjarah hak manusia lainnya pantas disebut penjajah. Dalam Al-Qur’an ada beberapa sifat diktator yang digambarkan. Sifat-sifat ini bertentangan dengan kemerdekaan. Kriteria pertama, digambarkan dalam surah al-Fil,

اَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصۡحٰبِ الۡفِيۡلِؕ

Artinya : “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?”

Ayat pertama surat Al-Fiil ini berisikan balasan Allah terhadap mereka, yakni pasukan gajah yang melakukan penyerangan. Penyerangan tersebut dikerahkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya yang kita kenal dengan istilah invasi.

Sedang menurut KBBI, invasi adalah perbuatan memasuki wilayah Negara lain dengan mengerahkan angkatan bersenjata dengan maksud menyerang atau menguasai negara tersebut. Tentu pada zaman Nabi sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Fiil merupakan salah satu invasi besar-besaran yang pernah terjadi.

Invasi yang dipimpin oleh panglima Abrahah dari Yaman tersebut bermaksud menundukkan penduduk Mekah dan meruntuhkan Ka’bah.

Dalam kitab tafsir Mafatihul Ghaib juz 32 halaman 96 menjelaskan latar belakang penyerangan Abrahah. Intinya dalam kasus invasi ini terjadi dikarenakan kebutuhan untuk memenuhi ambisi dan hasrat pribadi atau sekelompok orang.

Dari kisah tersebut kita bisa melihat bahwa invasi yang dilancarkan Abrahah secara massif, terorganisir, serta besar-besaran, berangkat dari ambisinya untuk membuat suatu monumen yang hendak dijadikan sebagai penanding kakbah. Hasrat semacam itu tak lain adalah buah dari sifat hasud yang telah bercokol dalam dirinya.

Baca Juga:

Kriteria kedua adalah Perampokan.

Dalam Al-Quran, Allah berkali-kali memperingatkan hal ini, salah satunya dalam surat An-Nisa’ ayat 29,

وَلَا تَاۡكُلُوۡٓا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ وَتُدۡلُوۡا بِهَآ اِلَى الۡحُـکَّامِ لِتَاۡکُلُوۡا فَرِيۡقًا مِّنۡ اَمۡوَالِ النَّاسِ بِالۡاِثۡمِ وَاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡن

Artinya: “Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”

Dalam kitab tafsir yang sama, hal lainnya yang tak bisa dilepaskan dalam setiap penjajahan atau pendudukan suatu wilayah secara zalim adalah perampasan harta atau hak orang lain secara zalim pula.

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menyebut, bahwa makna “al-batil” dalam ayat tersebut adalah setiap cara-cara yang melanggar syariat seperti riba, ghasab, mencuri, dan cara lain yang merugikan orang lain. Hal seperti ini tentu sangat tidak terpuji, dan dimurkai Allah.

Yang terakhir adalah kesewenang-wenangan yang diabadikan dalam surat Yunus ayat 83

فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِۦ عَلَىٰ خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَإِي۟هِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ ۚ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلْمُسْرِفِينَ

Artinya: “Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.”


Sangat jelas dari ayat di atas menggambarkan bahwa Fir’aun adalah penguasa yang bengis, Ar-Razi dalam tafsirnya Juz 17 halaman 151 pada lafadz “la’alin fil ardl” menjelaskan bahwa pada masa Fir’aun memimpin, terjadi banyak penyiksaan dan pembunuhan terhadap siapa saja yang berani menentang keputusannya itu alasan sifat lalim melekat pada dirinya.

Jika flashback pada masa 90’an, Indonesia juga memiliki sejarah kelam pembantaian dan pembunuhan massal yang dikoordinir oleh seorang pemimpin, seorang pemimpin yang tidak memerdekakan rakyatnya setelah kemerdekaan Negaranya dari penjajah luar.

Indonesia sekarang harusnya sudah merdeka dari penjajah luar maupun dalam, genderang perang yang pernah nenek moyang kita saksikan memang sadis, tapi lebih sadis lagi andaikata pembela rakyat, dan orang dalam sendiri yang membelenggu, dan membatasi gerak rakyatnya.

Pada hakikatnya masih banyak sifat zalim lain yang bertentangan dengan kemerdekaan terlebih merdeka secara personal, merdeka belajar, merdeka berpendidikan, merdeka berpendapat dan merdeka lainnya, namun Allah sangat mengutuk tiga kriteria di atas.

Tragisnya sejarah penjajah zaman dulu membunuh fisik, tapi di masa ini jangan sampai pemimpin membunuh harapan atau psikis rakyatnya. Waalahu A’lam

Editor: Redaksi

Kana Hanifah

Kana Hanifah

Kana Hanifah

Pegiat Ilmu Al-Qur'an Tafsir, Santri Al-Munawwir

4

Artikel