Transformasi Pendidikan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak

Transformasi Pendidikan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak

Almunawwir.com-Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak pada tanggal 23 Desember 2023 telah melaksanakan majlis haul Al-Maghfurlah K.H. Muhammad Munawwir yang ke-85. Dalam majelis haul tersebut terdapat agenda haflah khotmil Qur’an, pembacaan tahlil, sambutan-sambutan, dan Mauidhah Hasanah.

Sambutan dari pihak keluarga disampaikan oleh Dr. H. Hilmy Muhammad sedangkan dari pihak tamu undangan ada Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan  Gus Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Untuk Mauidhah Hasanah disampaikan oleh K.H. Said Aqil Siradj.

Baik Gus Yahya ataupun K.H. Said Aqil Siradj keduanya merupakan alumni yang dahulunya pernah belajar di Pondok Pesantren Krapyak. K.H. Mustafa Bisri (Gus Mus) yang pada haul ke-84 mengisi Mauidhah Hasanah juga merupakan alumni.

Kiai Said Aqil saat menyampaikan mauidloh hasanah

Baca Juga:

Memang banyak sekali kiai, ulama, dan tokoh-tokoh nasional yang merupakan jebolan Pondok Pesantren Krapyak. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari transformasi pendidikan yang dilakukan oleh Kiai Ali Maksum. Transformasi pendidikan tersebut berhasil mencetak alumni-alumni intelektual.

Pondok pesantren Krapyak sendiri bisa dibilang melakukan transformasi pendidikannya ketika era tiga serangkai (K.H.R Abdullah Affandi, K.H.R Abdul Qodir, K.H. Ali Maksum). Pada kepemimpinan periode ini kepengurusannya dibagi kepada ketiga tokoh tersebut.

Kiai Abdullah Affandi berfokus menangani pengajian Al-Qur’an dan urusan-urusan di luar pondok. Kiai Abdul Qodir fokus pada pengajian Tahaffuzh Qur’an dan menangani urusan-urusan internal pondok.

Kiai Ali Maksum sendiri dikenal dalam merintis dan mengasuh pengajian-pengajian kitab-kitab kuning (klasik). Transformasi pendidikan di pondok pesantren Krapyak bisa dibilang dimulai sejak kiai Ali Maksum melakukan pembinaan internal untuk kalangan keluarga Kiai Munawwir dan orang-orang terdekatnya.

Hal itu dilakukan oleh kiai Ali karena pada tahun 1942-1944 situasi politik sedang tidak aman karena ada penjajahan Jepang. Pada masa itu, kiai Ali menyiapkan generasi-generasi yang akan bisa membangun pondok pesantren Krapyak nanti. Setelah melakukan pembinaan secara internal, kiai Ali Maksum bersama keluarga mulai menyusun strategi mengembangkan pesantren ke arah yang lebih tertata.

Pengembangan itu setidaknya dimulai pada tahun 1946 dengan dibangunnya madrasah-madrasah di lingkungan Pesantren Krapyak. Kiai Ali Maksum adalah figur penting dalam penyelenggaraan pengajian kitab di pondok pesantren Krapyak yang dahulunya belum tertata dengan baik.

Kiai Ali menerapkan sistem madrasi (klasikal) dan kuliah, keduanya juga dilengkapi dengan sistem “sorogan”. Pada perkembangan berikutnya pondok pesantren Krapyak juga membangun gedung-gedung baru untuk Madrasah Ibtidaiyah putra, Madrasah Tsanawiyah putra, Madrasah Banat, Madrasah Salafiyah, Madrasah Diniyyah, Madrasah Huffadh, SMP, dan TK.

Selain itu, sistem pembelajarannya sudah mencakup pengajaran di pendidikan umum, dan para santri diberi ijazah untuk melanjutkan pendidikan mereka di tingkat perguruan tinggi. Meskipun ada transformasi, Pondok Pesantren Krapyak tetap mempertahankan gaya tradisionalnya (salaf), terutama upaya untuk mempertahankan pengajaran Al Qur’an dari Kiai Munawwir.

Diakui atau tidak, Pesantren Krapyak secara tipologis mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan ke bentuk pesantren modern (khalaf). Hal ini disebabkan oleh pembentukan madrasah dengan sistem klasikal dan penambahan mata pelajaran umum. Namun, penyesuaian-penyesuaian itu tetap dilakukan (unsur-unsur modern tidak diadopsi secara utuh).

Kiai Ali Maksum menjadi figur penting dalam sejarah pendidikan santri Pondok Pesantren Krapyak. Sejak tahun 1960-an, dia memberi dorongan kepada para santri untuk belajar di perguruan tinggi. Kiai Ali sendiri juga mendapatkan amanah untuk menjadi dosen di IAIN Sunan Kalijaga.

Banyak santri dari Pondok Pesantren Krapyak akhirnya melanjutkan ke perguruan tinggi. Beberapa dari mereka, seperti Abdurrahman Wahid, juga dikenal sebagai Gus Dur, dan Gus Mus, pergi ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Alhasil, transformasi pendidikan yang terjadi di Pondok Pesantren Krapyak menghasilkan generasi intelektual yang memiliki peran di masyarakat. Mereka terlibat dalam perguruan tinggi, birokrasi pemerintah, LSM, dan organisasi kaum muda.

Oleh karena itu, menurut hemat penulis, pendidikan di pondok pesantren tidak boleh dipandang sebelah mata. Sejarah telah menunjukkan bahwa pendidikan pondok pesantren bisa menghasilkan tokoh-tokoh yang punya peran dan kontribusi di masyarakat.

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Imam Basthomi

Imam Basthomi

ImamBasthomi

5

Artikel

Artikel Terkait