Haul Virtual KH. M. Moenawwir Ke-82, Gus Yahya Menyebut Krapyak Tidak Kurang Teladan

Almunawwir.com – “Di tahun ini, pelaksanaannya berbeda dengan tahun sebelumnya. Biasanya kami menyebar undangan kepada khalayak ramai. beberapa acara seperti pertemuan alumni, seminar dan lain lain ditiadakan, karena covid-19 belum menunjukkan gejala menurun” isi sambutan yang di sampaikan KH Fairuzi hafiz dalhar pada acara haul almaghfurlah KH M Moenawwir bin abullah rasyad yang ke 82.

Acara haul dilaksanakan di depan halaman Masjid Pondok Pesantren Al munawwir , sabtu (23/01) malam. Acara hanya dihadiri oleh dzuriyyah dan para santri yang berada di sekitaran masjid saja dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, bagi santri yang masih berada di rumah ataupun para alumni menyaksikan acara melalui live streaming youtube Almunawwir TV.

Acara ini diawali dengan pembacaan burdah oleh semua khalayak, kemudian tahlilan dipimpin oleh KH Yasin Nawawi dilanjutkan do’a oleh KHR Abul Hamid Abdul Qodir, sambutan oleh KH Fairuz Hafiz Dalhar, dan dilangsungkan Mau’idhoh Hasanah oleh KH Yahya Cholil Staquf. Katib Aam PBNU.

KH Yahya Cholil Staquf mengajak untuk mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang baik. Salah satu tokoh yang beliau contohkan adalah KH Wahid Hasyim yang sejak muda sudah berkiprah di masyarakat. Pada usia 26 tahun, beliau menjadaptan amanah menjadi pengurus besar Nahdlatul Ulama, sedangkan pada usia 28 tahun menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.

Baca Juga: Haul Virtual Komplek L: Ilmu, Akhlak dan Dakwah Sebagai Falsafah Hidup Santri

Para hadirin mendengarkan ceramah yang disampaikan KH Yahya Cholil Staquf dengan penuh rasa ta’dzim. Beliau menceritakan bahwa umumnya orang ingin awet muda. Padahal yang tepat “ojo nganthi telat tuwo” atau dalam bahasa Indonesianya diartikan jangan sampai telat menjadi tua.

Di Pondok Al-Munawwir Krapyak, anak muda/santri yang nantinya dituntut untuk menjadi tua itu tidak perlu khawatir kalau tidak bisa, sebab banyak tokoh yang bisa ditiru di pondok ini. Beberapa model kiai Krapyak sejak tahun 1990-2021 yang dijadikan contoh adalah sebagai berikut. 1) KH Ali Maksum (progresif, sangat maju wawasannya), 2) KH Zainal Abidin (sangat hati-hati). Pada masa hidupnya, Mbah Zainal pernah menjadi DPR dan tidak pernah mengambil gajinya karena kehati-hatiannya itu. Pernah suatu ketika KH Ali Maksum ngendikan “Nek Zainal taksih urip, dunyo iki rak bakal kiamat.”. KH Yahya Cholil juga nggleweh KH Hilmy Muhammad Hasbullah yang sedang menjabat sebagai DPD DIY pasti juga niat meneladani Mbah Zainal. KH Yahya Cholil mampu membuat suasana tetap renyah meskipun majelis dilaksanakan secara virtual, 3) KH Warson Munawwir (menjadi guru muda dan aktivis), 4) KH Najib Abdul Qodir (mewakafkan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Al-Qur’an) .

“Sanajan ora kuat koyo seng ndesek-ndesek , paleng ora yo iso tiru-tiru sanajan sitek” pesan terakhir pembicaraan yang disampaikan oleh KH Yahya Cholil Staquf.

Rangkaian acara berjalan dengan lancar. Semoga yang hadir paa majlis haul maupun hadir melalui media sosial memperoleh keberkahan. Tentu juga,  do’a untuk Al Maghfurlah KH M.Moenawwir bin Abdullah Rasyad dan para masyayikh tak henti-hentinya kita lantunkan untuk beliau-beliau. Al Fathihah.

 

 

 

 

Haul Virtual Komplek L: Ilmu, Akhlak dan Dakwah Sebagai Falsafah Hidup Santri

Almunawwir.com – Tidak seperti biasanya, haul yang biasa ramai oleh lalu-lalang manusia kini tiba-tiba menjadi dibatasi sebab kedatangan pandemi. Namun nyatanya, meskipun dilaksanakan melalui virtual, acara ini tidak sedikit pun menyurutkan ghiroh santri dan tetap berjalan semarak dan sukses.

Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L menggelar rangkaian Haul secara virtual pada Kamis sampai Sabtu, 21-23 Januari 2021. Dimulai agenda Jam’iyyah Ushbuiyyah dengan pembacaan Simthudduror, Majelis Sima’an Alquran, Roan Akbar, Ziarah Maqbarah, dan diakhiri acara puncak pada hari Sabtu malam Minggu, 23 Januari 2021. Acara puncak ini berlangsung ba’da Maghrib dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Rangkaian acara puncak haul dibuka dengan Tahlilan yang dipimpin oleh KH. Muslim Nawawi, pengasuh PP. An-Nur Ngrukem, Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan Doa Khatmil Qur’an sekaligus Mau’idzhoh Hasanah oleh Habib Sayyidi Baraqbah.

Dalam ceramahnya, beliau memberikan banyak pesan. Terutama pentingnya menjaga dan mengingat perjuangan para pendahulu.

“Namanya cucu masih mengingat apa yang dilaksanakan pendahulunya maka itu salah satu tanda kebaikan”. Beliau membuka ceramahnya.

Beliau menceritakan sebuah kisah di Tarim, Hadhramaut bahwa ada majelis manaqib yang rutin membaca Sirroturrijal atau membaca tentang sejarah orang tua. Sebab hal ini agar anak mereka termotivasi dengan perjuangan orang tuanya. Jika Dzuriyyat tidak ingat sejarah leluhur mereka, maka mereka akan kebingungan serta perjuangan leluhur akan hilang dengan sendirinya.

“Ulama-ulama yang saya kenal banyak menceritakan tentang bagaimana orang tua, kakek, leluhur mereka menghafal Al-Qur’an, mengkhatamkan Minhajul Tholibin, membahas kitab Fathul Wahhab, Kitab ini dan itu.” Lanjut beliau dalam kisahnya.

Beliau juga menjelaskan maksud dari istilah “karamah”. Kerap kali orang-orang mengatakan ulama ini memiliki keramat-keramat khusus. Dalam pandangan Habib Baraqbah, beliau menegaskan bahwa yang dimaksud karamah di sini adalah kemuliaan yang Allah berikan kepada para hamba-Nya.

Dikisahkan ada seorang Guide (pemandu jalan) dari kalangan Badui, ketika itu ia sedang mendengarkan para habaib dan para alim ulama yang sedang bercerita dan membacakan biografi dan manaqib. Tiba-tiba Guide (orang Badui) itu nyeletuk dan memotong pembicaran para Ulama.

Badui memang terkenal sebagai orang yang bebas dan kurang beradab. Mereka adalah masyarakat pedalaman Arab. Di masa Nabi pun suku Badui memang sudah banyak ulah, pernah suatu ketika Kanjeng Nabi Muhammad sedang khutbah, tiba-tiba ia malah meminta kepada Nabi agar segera selesai dan jangan lama-lama langsung doa saja.

Jika saja ia adalah Sahabat mungkin sudah dihukum oleh Sahabat lainnya. Beruntung ia seorang Badui maka hal itu tidak dilakukan. Sambung Habib dalam kisahnya.

Begitu pula dalam kelanjutan kisah Badui yang bekerja sebagai petunjuk jalan tadi. Tiba-tiba ia memotong pembicaraan dan bertanya kepada para Ulama dan Habaib “Apa yang kalian baca?”.

Habaib dan Ulama menjawab: “Mereka adalah pendahulu-pendahulu kami”.

Badui itu menjawab: “خير الاباء هم وبئس الأولاد انتم” (Sebaik-baik ayah adalah mereka, seburuk-buruk anak adalah kalian(. Sontak jawaban Badui ini membuat para Habaib dan Ulama kaget dengan pernyataan tersebut.

Badui menjelaskan sebab perilaku kalian (anak) dan bapak kalian di cerita berbeda-beda. Habaib dan ulama ada yang marah dan bertanya “Kalau dengan engkau bagaimana, hai penunjuk jalan?”.

Badui menjawab, Bapak dan leluhur saya penunjuk jalan, wajar saya begini. Sedangkan kalian tidak seperti yang dibaca dalam manaqib dan biografi tersebut”.

Ulama dan Habaib menjawab “Betul yang diucapkan engkau, demi Alllah kita belum sampai setengahnya dari mereka”. Mereka pun terdiam dan menunduk.

Habib Sayyidi Baraqbah menjelaskan dalam ceramahnya “Bagaimana manfaat Simbah KH Munawir di Indonesia? Berapa banyak orang yang mengambil ilmu dari beliau dan berapa banyak ilmu yang sudah disebarkan? Salah satu contohnya ialah Komplek L, sudah berapa ribu santri dan berapa ratus ribu orang yang memiliki hubungan ke pondok pesantren Al-Munawwir”.

“Maka ini jadi salah satu motivasi bagi kita, manjada wa jada, barang siapa bersungguh sungguh maka dia akan berhasil. Hasilnya di dunia tidak terlalu penting tapi walal akhiratu khoirullaka minal ula (QS. Al-Dhuha: 4). Kenikmatan di alam akhirat itu lebih utama daripada yang ada di atas muka bumi”.

Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan di dunia bukan barometer keberhasilan yang hakiki. Harta dan tahta itu bukan barometer. Seperti dikatakan oleh para alim ulama:

ان الله يأتي الدنيا لمن يحب وممن لا يحب

“Sesungguhnya Allah memberikan kenikmatan dunia kepada siapapun baik kepada yang dicintai maupun tidak”

Tidak sedikit orang yang Allah tidak dicinta, namun Allah melaknat sekaligus memberikan kenikmatan dunia. Contohnya Raja Namrud, Fir’aun, dan Abu Jahal. Akan tetapi, ولا يأتي الاخرة الا لمن يحب (Akan tetapi Allah tidak memberikan kenikmatan akhirat kecuali kepada orang yang dicintai-Nya).

Dunia seisinya bahkan bila perlu galaksi Bimasakti, jika dibandingkan cinta dari pada Allah itu tidak ada apa-apanya. Sebab semahal-mahalnya perkara adalah mahabbatullah (cinta kepada Allah).

Maka gelar Kanjeng Nabi bukan Khalilullah, melainkan Habibullah yaitu kekasih tercinta atau yang paling dicintai Allah.

“Jadi barometer kesuksesan bukan di dunia akan tetapi bagaimana engkau di sisi Allah. Bagaimana cara mengetahuinya?”. Beliau bertanya.

“Jawabannya adalah bagaimana Allah di sisimu? Kalau ingin dekat Allah, Dia harus ada di sisimu. Kemudian diperhatikan bagaimana akhlakmu, adabmu, ubudiyyahmu dan muamalahmu”.

Seorang santri (sebagai seseorang yang pernah punya ikatan dengan pondok pesantren) jika kepada orang yang memberinya ilmu (Kyai dan Assatidz) tidak memiliki hormat. Jangankan kepada Rasulullah, orang yang jelas ditemui, jelas-jelas menyuapi dengan ilmu pengetahuan, amal shalih, engkau tidak berakhlak dan tidak beradab dengan mereka. Bagaimana dengan Kanjeng Nabi? Yang tidak pernah menemuinya dan mencium wanginya.

Lha wong, dengan yang mengajari tidak berharga di sisimu apalagi dengan yang Rasulullah yang tidak pernah diketahui olehmu?” Tegasnya.

“Karena Alakhlaq waladab muttashilah, adab dan akhlak itu menyambung. Kita beradab kepada guru, sama dengan beradab pada kakek-gurunya, beradab kepada guru sama dengan berakhlak pada sanad yang bersambung pada Rasulullah SAW”.

Dalam cerita lainnya, beliau menjelaskan jikalau menundukkan pandangan kepada guru berarti kita sama saja menghormati guru kita. Kalau saja tidak berakhlak, termasuk orang zaman sekarang yang hormat di depan, sedangkan di belakang penuh amarah, ketidaksukaan, dan suudzon.

Bahwa dhamir (hati) orang tersebut termasuk min ‘alamatinnifaq (tanda kemunafikan). Di depan engkau merasa hormat dan menunduk, akan tetapi di hati engkau merasa lebih baik daripada guru.

ان الله لا ينظر الى صوركم ولا اموالكم ولكن ينظر الى قلوبكم

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuhmu. Juga bukan pada hartamu. Tetapi Allah melihat kepada hatimu”.

“Oleh karenanya, kita melihat banyak orang yang dianggap ilmunya tidak terlalu besar tapi kenapa dia dicintai banyak orang? Karena mereka orang yang dicintai Allah. Allah berkehendak demikian maka kalian bisa apa? Hanya hati yang suci, penuh dengan husnuzhon, akhlak, dan keindahan Kanjeng Nabi”.

Di penghujung ceramahnya, beliau mengajak dan memberikan pesan kepada para santri. “Ayo bersama mempersatukan ilmu, akhlak, dan ketiga yang paling penting ialah dakwah. Perlu beramal untuk diri sendiri dan kemudian mengajak orang lain.

من علم بما عمل ثم عَلَّمَ اورثه الله بما لم يعلم

Barang siapa yang mengetahui lalu mengamalkan lalu mengajarkan, maka Allah akan memberikan kepada dia apa-apa yang tidak diketahui olehnya (ilmu Laduni)”.

“Ayo semua menjadi hamba yang bisa diridhoi Allah. Semoga Allah memudahkan itu semua. Allah menjadikan kita membanggakan orang tua. Muridnya yang membanggakan guru dan leluhur”. Sambung beliau.

Kemudian beliau menutup kalamnya dengan doa:

اللهم اجعلنا خيرَ الخلاف لخيرِ السَّلَاف

“Ya Allah jadikanlah kami sebaik-baik penerus daripada sebaik-baik orang yang diteruskan”

Setelah rangkaian acara ini berakhir. Para santri melanjutkan dengan menonton bersama secara virtual melalui proyektor acara haul yang diselenggarakan PP. Al Munawwir pusat hingga selesai.

 

Penulis: Ajie Prasetya

Editor: Irfan Fauzi

Khotmil Qur’an Virtual Komplek R dan Komplek Putra Anak Al Fatimiyah

Almunawwir.com – Sabtu pagi (23/1) menjadi momen istimewa bagi santriwati Komplek R dan santri Komplek Al Fatimiyah yang telah mendapat gelar sebagai khotimin dan khotimat karena telah menyelesaikan al-Qur’annya. Acara ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya dilaksanakan malam hari, kini acara Khotmil Qur’an dilaksanakan pagi hari dan hanya dihadiri oleh dzurriyyat Pondok Pesantren Al-Munawwir dan wali santri khotimat dan khotimin saja karena melihat kondisi dan keadaan yang belum kondusif dari situasi pandemi covid-19. Bagi santri yang masih berada di rumah acara disaksikan melalui live streaming youtube almunawwir-tv.

Ada 72 Santri yang diwisuda oleh pengasuh pada pagi itu yaitu, 1 santriwati peserta khotmil Qur’an bil-hifdzi 30 juz, 25 santriwati peserta khotmil Qur’an binnadzri, 4 santriwan 5 juz, 8 santriwan dan 34 santriwati peserta khotmil Qur’an juz 30 (juz amma).

Prosesi Khotmil Qur’an dimulai, para khotimin dan khotimat memasuki panggung dan melantunkan alunan ayat Al-Qur’an secara bergantian. Suasana kian haru saat penyerahan syahadah oleh Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah Zainal selaku pengasuh Komplek R dan Komplek Fatimiyah kepada khotimat 30 juz bil hifdzi saudari Ngafiatus Shalikhah Binti Bapak Muhtarois, Palembang, Sumatra selatan.

Baca Juga:

Kemudian acara dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang di sampaikan oleh Ibu Nyai Hj. Hanik Maftuhah dari Temanggung. “Mbahas santri iku kudu istiqomah, tenanan, ojo boros, ojo tumbas-tumbas seng ra penting, ojo metu nek gak ono perlu, lan ojo kokean nyekel hp” pesan beliau.  Acara selesai sekitar pukul 12.00 WIB dan di tutup dengan do’a oleh Ibu Nyai Hj. Munawwaroh Abdul Qadir.

Barokallah untuk para khotimin dan khotimat. Semoga senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjaga hafalan al-Qur’an nya, serta semoga menjadi motivasi dan semangat bagi kita semua untuk bisa mempelajari Al Qur’an bahkan bisa menghafalkan dan menjaganya. Amin ya robbal ‘alamin.

 

Pewarta: Dessy Melyana

Editor: Khansa Syaridah

Katib ‘Am PBNU: Barokah dan Atsar KHR. M Najib Abdul Qodir, sebagai Pijakan Menghidupi Wadhifah-Wadhifah dan Menghidupkan Ilmu

Almunawwir.com – Pagi itu, Selasa (5/1) suasana Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak masih meyisakan kesedihan yang sangat mendalam setelah kabar duka itu datang menyelimuti bumi Krapyak pada Senin (4/1) pukul 16.45 menjelang maghrib. KHR M Najib Abdul Qodir, pengasuh Pondok Al Munawwir Krapyak itu wafat di usia 66 tahun.

Riuh suara tangis bersahutan di penjuru komplek pesantren setelah berhamburan kabar di grup WhatsApps. Kabar duka itu dikuatkan dengan unggahan storyWA dari keluarga (ahlein). “Innalillahi Wa Innailaihi Raji’un Mbah KH. Najib Abdul Qodir Munawwir kapundut nembe mawon, ya Alloh…” unggahan Bu Nunung, sapaan akrab Ny. Hj. Nurkhasanah Abdullah, istri KH. Dr. Hilmy Muhammad.

Malam itu lantunan kalimat La ilaha illallah, semakin santer terdengar setelah jenazah almarhum di bawa dari kediamannya menuju Komplek G, aula pesantren yang tepat berada di depan rumah Kiai Najib, sebelah barat Masjid Jami’ Al Munawwir. Puluhan santri berjejer rapi dari kediaman menuju aula untuk membawa jenazah. Tanpa jeda waktu, meraka langsung mensolati jenazah Kiai Najib.

Lantunan bacaan Al-Qur’an  oleh santri-santri terdengar semakin khidmat dan khusyu’, terlebih dari santri Huffad asuhan Kiai Najib yang sangat kehilangan guru tercintanya.

Selasa (5/1) pagi, untaian karangan bunga telah berjejer rapi sepanjang Jalan KH. Ali Maksum, halaman depan komplek pesantren. Karangan bunga datang dari berbagai kalangan, mulai tokoh-tokoh negara seperti Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin ataupun lembaga yang memiliki hubungan dekat dengan pesantren.

Para pentakziyah datang silih berganti untuk menshalati jenazah kiai kharismatik yang juga merupakan cucu KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pesantren Krapyak tersebut.

Sebelum pemberangkatan, jenazah dipindah menuju masjid untuk menjangkau beberapa kloter jama’ah yang hendak menshalati.

Acara prosesi pemberangkatan jenazah diawali pembacaan kalam suci oleh santri komplek Ribatul Qur’an, Ahmad Alvin. Lantunan ayat 153-156 Al Baqarah yang dibawakannya menambah suasana khidmat prosesi pemberangkatan.

Baca Juga: Wasiat Kiai Munawwir kepada Kiai Arwani Kudus

Sambutan keluarga disampaikan oleh Dr. KH. Hilmy Muhammad. Dalam penyampaiannya beliau memohonkan ziyadah do’a kepada seluruh jamaah, agar diberi ketabahan dan dapat melanjutkan cita-cita almarhum. Di akhir sambutannya beliau juga menyampaikan bahwa estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Al Munawwir diasuh oleh KHR. Abdul Hamid Abdul Qodir adik KHR. M Najib Abdul Qodir. “ugi kito caos pangertosan dumateng sedoyo muazin muaziyyat, bilih kepemimpinan Pondok pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta badhe diayahi dening Dewan Pengasuh…, lan wonten kesempatan puniko kepemimpinan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak badhe dipun pimpin dening KHR. Abdul Hamid Abdul Qodir” terang Kiai yang juga keponakan almarhum diikuti isak tangis lirih beliau disambut suara pelan jamaah mengucap “Allahuakbar”

Memasuki acara selanjutnya yaitu sambutan atas nama Pengurus Besar Nahdlatu Ulama’ (PBNU) dalam hal ini wakili oleh KH. Yahya Cholil Staquf, Katib ‘Am PBNU. Kiai yang mengenakan baju hitam dan sarung batik itu membuka sambutannya dengan menyampaikan salam ta’dhim PBNU kepada Dzuriyyah KH. M. Munawwir juga salam dari Menteri Agama, dari KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan seluruh Dzuriyyah KH. Bisri Mustofa, Rembang yang belum bisa sowan (mengunjungi) Krapyak. Dalam sambutannya kiai yang juga merupakan keponakan Gus Mus ini menyampaikan bahwa atsar yang ditinggalkan KHR. M Najib Abdul Qodir akan menjadi pijakan untuk menghidupkan ilmu-ilmu yang ditinggalkan.

“beban kita lebih berat dengan kepergian beliau. Tapi jelas, kita yakin bahwa barokah dan atsar yang beliau (KHR. M Najib Abdul Qodir) tinggalkan insyaallah cukup menjadi pijakan yang kokoh bagi kita semua untuk menghidupi wadhifah-wadhifah beliau, menghidupkan ilmu beliau untuk terus menyebarkan barokah yang beliau tinggalkan kepada kita semua” harap beliau.

Di akhir sambutannya kiai yang tak lain kakak Menteri Agama KH. Yaqut Cholil Choumas ini mengajak kepada muazin muaziyyat untuk berdoa agar barokah yang ditanam dan ditumbuhkan senantiasa berkembang dan menaungi perjuangan yang sama seperti yang KHR. M Najib tempuh selama hidupnya.

Selanjutnya acara terakhir yaitu do’a yang disampaiakan oleh KHR. Abdul Hamid Abdul Qodir dan dilanjutkan pemberangkatan jenazah menuju Makam Keluarga Besar KH. M Munawwir, Dongkelan oleh keluarga Pondok Pesantren Krapyak diiringi gemuruh lantunan kalimat toyyibah yang bersahut-sahutan.

 

 

Cara Agama Islam Dikawal dengan Ukuran Minimal Menurut Gus Baha

Almunawwir.com – Ahad, 10/01/21. PP. Al-Munawwir Krapyak menggelar peringatan tujuh hari wafatnya almaghfurlah KHR. Muhammad Najib Abdul Qadir. Berlangsung sekitar pukul 20.00- 22.00 WIB, majelis ini juga ditayangkan secara virtual untuk meminimalisir hadirin yang datang lantaran masih diterapkannya protokol pencegahan Covid-19. Pembacaan tahlil dipimpin oleh KH. Mas’ud Masduqi dari Sleman dan pembacaan Surah Yasin oleh Gus Kholaf Muhammad. Acara ini juga dihadiri oleh seorang ulama kharismatik yang terkenal sebagai pakar dalam bidang al-Qur’an dan tafsir yakni KH. Ahmad Bahaudin Nur Salim atau yang akrab disapa dengan panggilan Gus Baha’, beliau hadir sebagai pengisi mau’idhoh hasanah.

Dalam ceramahnya, Gus Baha’ menceritakan tentang kesenangan orang di luar sana (di luar pesantren) yang harus menunggu kaya dan memiliki pangkat yang tinggi terlebih dahulu sebelum meraihnya. Berbeda halnya dengan santri. Bagi seorang santri dapat setoran dengan lancar tanpa kena teguran kiai merupakan kesenangan dan kepuasan tersendiri. Karena pada dasarnya senang dengan kebaikan itu merupakan perlawanan terhadap keburukan.

Di dalam Kitab Kasyifatus Syaja dijelaskan bahwasanya cara melawan setan di antaranya adalah dengan menikmati sesuatu yang tidak haram. Dan lagi sebagai contohnya, ketika iuran pondok yang katakanlah mengharuskan untuk membayar tiga juta, namun si santri mengatakan kepada orang tuanya kalau iurannya sebesar lima juta. Hal itu dikatakan halal karena haramnya berbohong itu menjadi halal ketika orang tua sudah ridho uang tersebut untuk anaknya.

Dengan demikian agama Islam perlu dikawal dengan ukuran minimal (‘adnal haalat)  karena agama butuh nilai minimal untuk membatasi manusia. Maksudnya, agar manusia tahu di mana batasan minimal dan maksimal suatu hukum sehingga tidak terpaku kepada yang maksimal saja. Mengambil contoh dari syarat sahnya shalat, shalat merupakan ibadah yang utama sehingga selalu dilakukan di tempat yang bersih dengan pakaian yang tertutup. Namun batasan aurat sebenarnya dalam shalat bagi laki-laki adalah dari pusar hingga lutut. Maka apabila ada seorang petani hanya berpakaian seperti itu (memakai celana pendek selutut) ketika sudah masuk waktu shalat, ia tetap dapat melakukan shalat meski ia tidak berpakaian rapi dari atas hingga mata kaki.

Baca Juga: Gus Baha: Tradisi Keilmuan itu Harus Dijaga dengan Hujjah dan Pembukuan

Selanjutnya, Gus Baha’ bercerita tentang kisah pemilihan khalifah setelah wafatnya Rasulullah saw. Menurut perhitungan Gus Baha’, Rasulullah saw wafat pada hari Senin dan dikebumikan pada malam Rabu. Hal ini tidak berarti para sahabat mengabaikan hadis Nabi tentang ‘asri’ul janazah (mempercepat pemakaman jenazah), akan tetapi para sahabat ingin memutuskan pengangkatan khalifah terlebih dahulu sebelum pemakaman agar khalifah terpilih selanjutnya dapat disaksikan langsung oleh jenazah Rasulullah saw.

Sama halnya dengan wafatnya KHR. Muhammad Najib AQ, seorang maestro al-Qur’an yang sangat tawadhu’. Wafatnya Kiai Najib meninggalkan kesedihan yang mendalam tak hanya pada keluarga besar pesantren, juga di hati para sahabat, masyarakat dan ulama yang mengenal beliau. Oleh karena itu, sudah seharusnya segera ada pengganti untuk meneruskan perjuangan beliau dalam memimpin pesantren dan membina para penghafal al-Qur’an. Menurut Gus Baha’ apa yang dilakukan Gus Hilmy sudah benar yakni mengumumkan pengganti Kiai Najib sebelum jenazah beliau disemayamkan.  Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh ulama sekarang ini telah ada praktiknya sejak zaman Rasulullah saw.

Gus Baha’ berpesan bahwasanya bentuk menjaga al-Qur’an itu tidak hanya dengan menghafalnya, melainkan juga dengan berkhidmah, dan yang terpenting bagi santri adalah memiliki mental untuk membina masyarakat. Jika seorang santri yang berilmu hanya berdiam diri saja, maka resikonya masyarakat kelak akan dipimpin oleh kelompok yang bukan dari golongan Ahlussunnah wal Jamaah. Maka dari itu sudah seharusnya bagi kita seorang santri untuk mempersiapkan diri mulai dari sekarang agar kelak dapat meneruskan perjuangan para ulama dalam membina umat serta mengamalkan ilmu yang telah didapat. Wallahu a’lam bis shawab.