Gus Baha: Salah Satu Kemukjizatan Al-Qur’an adalah Bahasa

Cair: Penyampaian Ceramah yang disampaikan Gus Baha membius audiens untuk belajar agama dengan santai. Doc: Almunawwir (Istimewa)

Almunawwir.com – Salah satu kemukjizatan al-Quran adalah bahasa. Seperti yang masyhur diketahui bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang diistimewakan setelah bahasa-bahasa lain.

Dalam bahasa Arab, lafaz yang sama namun memiliki harakat yang berbeda akan bermakna berbeda pula. Terkadang di beberapa kondisi bisa menjadi kebalikannya. Kaidah tersebut bisa menjadi terbalik apabila tulisan dalam lafaz yang berbeda justru memiliki makna dan kedudukan yang sama.

Selaras dengan apa yang dicontohkan oleh KH Ahmad Bahaudin Nursalim (Gus Baha) dalam acara Temu Alumni IKAPPAM (Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Kata madda memiliki 2 fiil amr yakni umdud dan imdad. Contoh yang serupa pada kata saala, juga memiliki 2 fiil amr yakni is`al dan sal (bertanyalah).  Kedua fiil tersebut tertulis di dalam al-Quran pada lafaz ‘sal banii isroil’ (Al Baqarah ayat 211) dan ‘was’aluhum ‘anil qoryati.. (Al-A’raf ayat 163).

Bahasa Arab dalam al-Quran selain memiliki keistimewaan dalam segi penulisan juga memiliki keistimewaan dalam ragam dialek. Tidak sedikit suku-suku yang ada dan tersebar di Jazirah Arab. Hal tersebut menyebabkan pemakaian dialek di beberapa tempat berbeda pula. Selain diperlukan ilmu sejarah untuk mengetahui perkembangan dan penyebaran dialek tersebut—kaitannya dengan al-Quran—juga perlu pemahaman mengenai ilmu yang membahas Manhaj Qira’at (metode atau variasi bacaan al-Quran).

Perbedaan dialek tidak berhenti pada pelafazan atau percakapan sehari-hari saja. Namun juga mempengaruhi cara mereka dalam membaca al-Quran. Salah satu perbedaan dialek yang masyhur antara Bani Quraisy dan Bani Tamim. Bani Quraisy dalam pengucapan huruf hamzah terbiasa dengan menyamarkannya sedangkan Bani Tamim sebaliknya.

Seperti kisah pada zaman nabi, terdapat seseorang yang datang kepada beliau dan berkata ‘Ya Nabi Allah’ (wahai orang orang yang dicintai Allah) -orang ini merupakan Bani Tamim yang identik dengan menampakkan huruf hamzah.  Lalu nabi tersenyum dan berkata ‘Ana Quraisy, la yuhamiz’ (saya orang Quraisy, orang Quraisy tidak menyukai Hamzah) – kalimat Ya Nabi Allah menurut nabi dibaca Ya Nabiyallah.

Dikisahkan pula dalam sejarah, dua murid Imam Ashim, yaitu Imam Hafs dan Imam Syu’bah berselisih pendapat tentang sebuah lafaz yang diajarkan gurunya. Imam Syu’bah mendengar bahwa gurunya melafazkan ayat terakhir surat Al-Ikhlas dengan lafaz walam yakul lahu kufan ahad. Sedangkan Imam Hafs merasa yakin bahwa gurunya itu membaca dengan kalimat kufuwan ahad.

Akhirnya mereka bertanya kepada Imam Ashim, lalu beliau menjawab bahwa beliau membaca al-Quran kepada Syu’bah dengan menggunakan dialek dari Anizirrun bin Hubbais dari Abdillah bin Mas’ud (Bani Hudzali). Sedangkan kepada Hafs beliau membacanya dengan menggunakan dialek dari Ali bin Abi Tholib (Bani Quraisy).

Baca Juga: Mengenal Mushaf Pojok: Sejarah, Perkembangan dan Karakteristik

Dari hal yang telah dipaparkan tersebut, dapat dipahami bahwa mempelajari al-Quran tidak boleh dilakukan sembarangan. Perlu adanya seorang guru yang memiliki sanad keilmuan sampai ke Rasulluah. Sanad yang mashur di Indonesia dalam penyebutannya akan menjumpai sanad al-Quran sampai pada Imam Hafs. Setelah Imam Hafs maka ada Imam Ashim, setelah itu terdapat 2 imam yang masyhur disebut yakni Abdurrohman Assalam Abi Abdillah dan Ziraih bin Hubbais. Kemudian guru dari mereka yang ditulis sebagai sahabat, diantaranya yang terkenal adalah Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubaid bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit.

Bila diteliti, Zaid bin Tsabit merupakan orang Anshar –tentu tidak menjumpai periode Makkah-, padahal ayat al-Quran banyak yang diturunkan di Makkah. Hal ini menjadi pertanyaan bagaimana Tsabit dapat menjadi salah satu dari rangkaian sanad al-Quran.

Menyikapi Sanad

Terkait rangkaian sanad tersebut, Gus Baha mengingatkan apabila sanad itu baiknya ditulis tapi tidak diimani. Jadi yang ditulis itu sebagai perangkat mudawan, sebab kalau diimani nanti tidak haddid tawadur, karena itu kritik ahli hadis terhadap sanad ahli qiro’ah itu mereka hanya menyebut satu orang yang harus dicatat. Padahal, sanad, khusunya al-Qur’an itu lafadnya harus mutawattir kaifiyatul ada’  (harus sesuai dengan kaidah riwayatu jamun an jamin la yumkinu tawadhu’hum ala kazib). –periwayatannya harus dari kelompok besar kepada kelompok besar yang telah bersepakat untuk tidak berbohong-.

Tujuannya adalah untuk menjaga ke-mutawatir-an al-Quran. Sehingga walaupun yang mashur tertulis riwayatnya adalah Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubaid bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit, penyebutannya tetap memakai minhum.

Sebab itu, kalau mengaji sanad, katakanlah kita menyebut Simbah Munawwir itu fardlun min afrodi dzalika al jam’i, kalau tidak berarti sanad kamu menjadi al hadi. Kita tahu, bahwa hadis al hadi itu masalah. Hadis yang baik itu yang mutawattir, dan al-Qur’an itu fauqol hadis. Baiknya, sanad itu perlu ditulis tapi tidak perlu diimani. Harus diimani apabila itu sebagai jamun an jamin/dari kelompok besar ke kelompok besar, kebetulan yang kita tahu lewat satu orang ulama.

Dalam kesempatan ini, Gus Baha begitu gamblang menjelaskan tentang ilmu qiraat—tentunya tidak bisa dijelaskan satu per satu di sini. Sebegitu luasnya cakupan keilmuan yang dikuasai oleh Gus Baha, sehingga, secara tidak langsung, beliau berpesan untuk secara serius mendalami khazanah keilmuan Islam, terutama khazanah intelektual pesantren.

Di akhir penyampaiannya, Gus Baha mengatakan “Ya Allah, betapa hebatnya Engkau, semua lughoh yang terjadi di Arab pernah dipraktikkan di Kitab Njenengan.”

KH Ahmad Habibullah Zaini, Kiai yang Bersahaja dan Mencintai Ilmu

Almunawwir.com – Beliau lahir pada bulan Agustus 1954. Putra kedua dari pasangan KH Zaini Munawwir (Krapyak) dan Nyai Qomariyah Abdul Karim (Lirboyo). Kiai Zaini dan Nyai Qomariyyah memiliki 4 putra. Putra pertama wafat saat masih kecil. kemudian putra kedua, almarhum H. Thoha Zaini, (bapak saya). Putra ketiga adalah KH Habibulloh Zaini. Dan putra bungsunya adalah almarhum Hasan Zaini.

Sejak kecil Kiai Habibulloh belajar di bawah pengampuan orang tua dan para gurunya di Pesantren Lirboyo, kediri. Setamat dari Lirboyo, beliau melanjutkan nyantri di Pesantren Tanggir, Tuban. Usai nyantri di Pesantren Tanggir, beliau pulang kembali ke Lirboyo, menikah dan melanjutkan pengabdiannya sebagai dzurriyyah Lirboyo: mengajar dan mengasuh santri.

Kiai Habibulloh Zaini adalah sosok pecinta ilmu yang bersahaja, tekun dan telaten. Pada masa kepengasuhan Kiai Idris Marzuki, Kiai Habibulloh mendapatkan amanah untuk menjadi kepala Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Pesantren Lirboyo. Dan saat ini beliau adalah salah satu pengasuh Pesantren tsb.

Kiai Habibulloh termasuk sosok yang jarang bepergian. Di waktu sehatnya, aktifitas utamanya adalah mengaji dan mengasuh santri. Karena ndalemnya yang berada tepat di depan Masjid Lawang Songi Lirboyo, maka tiap kali ngimami sholat, beliau cukup ke masjid dengan melawati “bancik” yang menghubungkan ndalem beliau dengan masjid Lawang Songo. (Bancik adalah semacam media seukuruan ubin yang digunakan untuk menghubungkan antar bangunan. Bancik banyak ditemui di Pesantren Lirboyo yang terbukti efektif sebagai media yang menghubungkan antara bangunan di area pesantren yang total luasnya lebih dari 5 hektar itu.)

Baca Juga: Gus Baha: Salah Satu Kemukjizatan Al-Qur’an adalah Bahasa

Bersahaja dan Mencintai Ilmu

Kiai Habibulloh adalah sosok yang bersahaja dan mencintai ilmu. Kebersahajaan beliau dapat dilihat dari sikap hidupnya sehari-hari. Dari cara berpakaian, cara dahar, cara berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Beliau juga selalu berhati-hati dalam persoalan fiqh, akhlak dan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesederhanaan dan akhlak beliau sungguh tampak saat berdekatan dengan beliau. Ketawadluan beliau juga akan dapat terlihat dari melihat bagaimana sikap tubuh beliau kala beliau berada satu majelis dengan kiai-kiai yang lain.

Saya teringat saat beliau mengantar saya ke Kajen, ketika saya menikah. Waktu itu, bapak saya sudah wafat. Karena beliau adalah satu-satunya adek kandung bapak saya yang masih ada, maka beliaulah yang membimbing dan masrahke saya ke Kajen. Sikap tawadlu’ beliau terlihat bagaimana pada saat momen makan bersama kiai-kiai yang lain di ndalem Kiai Sahal Mahfudh. Walau di Lirboyo beliau dihormati oleh ribuan santri, tapi ketika berada dalam kesempatan dahar siang di Kajen, Kiai Habibulloh justru berinisiatif mengambilkan nasi (nanduki) kiai-kiai lain yang berusia lebih lanjut.

Tawadlu’ beliau juga sungguh terlihat saat berada dalam majelis ngaji Kamis Legian yang diselenggarakan oleh pengasuh pesantren Lirboyo untuk para alumni pada tahun-tahun terakhir ini. Kala badan dalam kondisi sehat, Kiai Habibulloh, bersama dengan dzurriyyah yang lain selalu tampak ikut mengaji, menyimak dengan takzim pengajian kitab al Hikam Kamis Legi yang diampu KH Anwar Mansur tsb.

Pribadi beliau yang pendiam, akan terlihat berbeda saat “madep dampar” (sebuah istilah yang lazim digunakan di Lirboyo untuk aktifitas mengaji Kitab Kuning untuk para santri). Saya teringat saat beliau sempat pulih dari gerah panjangnya. Ketika saya sowan dan bertanya kepada beliau:

“Pak Abib sampun mulai ngaji malih?”

“Iyo”, jawab beliau dengan senyum memenuhi wajahnya.

Saat itu saya dapat mengerti, “madep dampar” adalah kebahagian beliau. Ketika kecil, dalam kenangan saya, beliau adalah salah satu dzurriyyah Lirboyo yang kuat dalam mbalah kitab. Beliau memiliki kebiasaan ngaji posonan sejak pertengahan bulan Rojab hingga pertengahan bulan Ramadlan, dengan mengkhatamkan satu kitab besar. Di saat sehatnya, jadwal ngaji posonan beliau adalah pagi hingga Dzuhur. Ba’da dzuhur hingga ba’da Ashar. Kemudian Ba’da Tarawih hingga menjelang tengah malam. Dan suara beliau tetap ajeg tiap kali membacakan kitab-kitab tsb untuk para santri.

Entahlah.. airmata saya selalu bercucuran setiapkali mengingat beliau. Banyak kenangan semasa kecil hingga saya dewasa yang memenuhi benak saya. Setelah bapak saya wafat, beliau adalah orang tua saya. Beliau juga yang menjadi salah satu kangenè ati, tiapkali saya pulang kampung ke Lirboyo.

Banyak uswah dari akhlak mulia beliau yang menjadikan beliau pribadi istimewa. Baik bagi saya pribadi maupun insya Alloh bagi santri-santri Lirboyo.
Alfatihah…

Kajen, 10 Februari 2020

*Ibu Nyai Hj Tutik Nurul Janah binti KH Thoha Zaini.

Mengenal Mushaf Pojok: Sejarah, Perkembangan dan Karakteristik  

Qur’an Pojok: merupakan perbendaharaan khazanah Mushaf dalam negeri yang sangat vokal bagi para penghafal al-Qur’an. Doc: Istimewa.

Almunawwir.com – Apabila Anda berkelana ke pesantren al-Qur’an di Indonesia, Anda akan familiar dengan penyebutan Qur’an Pojok/Mushaf Pojok.  Mushaf yang telah menempuh sejarah panjang itu menjadi mushaf favorit para penghafal al-Qur’an. Meski perkembangan bentuk mushaf sudah sangat beragam, Qur’an Pojok ini tetap mempunyai kesan dan makna tersendiri bagi para huffadh.

Mushaf Pojok, Pojok merupakan Bahasa Jawa yang berarti sudut. Istilah Mushaf Pojok gholab digunakan oleh para santri penghafal al-Qur’an. Untuk menyebut mushaf al-Qur’an yang di setiap sudut/pojok lembarnya berupa akhir ayat tertentu, dan di lembar selanjutnya dilanjutkan dengan ayat setelahnya di sudut atas lembaran mushaf.

Model mushaf pojok pada mulanya dikenal dengan sebutan Mushaf Bahriyah, disebabkan model seperti itu yang banyak beredar di Indonesia adalah mushaf al-Qur’an Bahriyah diterbitkan oleh Penerbit Bahriyah Istanbul Turki.

Mushaf ini mempunyai sisi sejarah dalam proses perjalanannya hingga akhirnya sukses dicetak dan disebarluaskan pada tahun 1974. Bahwa  Mushaf Pojok Menara Kudus adalah reproduksi dari mushaf terbitan Turki kepunyaan KH M Arwani Amin (santri kinasih KH M Munawwir bin Abdullah Rosyad) yang diperoleh beliau ketika melaksanakan ibadah Haji pada tahun 1969/1970.

Jenis mushaf terbitan Turki itu merupakan jenis Mushaf Bahriyyah yang diterbitkan oleh Percetakaan Usman Bik di Turki berkolofon Jumadil Ula 1370 H (Februari/Maret 1951 M) yang ditulis oleh kaligrafer berkebangsaan Turki Mustafa Nazif yang mashur pada masa itu.

Mushaf tersebut diserahkan kepada pihak Percetakan Menara Kudus yang secara khusus mencetak al-Qur’an pojok dalam negeri sejak lebih dari separuh abad untuk disebarluaskan karena dianggap dapat membantu para huffadh dalam menghafal al-Qur’an. Ketika menyerahkan mushaf, Simbah KH M Arwani Amin berpesan supaya tidak mengubah apapun, kalau ada yang tidak paham silakan bertanya langsung.

Setelah proses percetakan usai pada 1974, mushaf (setengah jadi) ini terlebih dahulu dikoreksi oleh KH M Arwani Amin, KH Hisyam Hayat dan KH Sya’roni Ahmadi. Pada 29 Mei 1974, Mushaf Pojok Menara Kudus mendapat izin beredar dari Lembaga Lektur Keagamaan. Ditashih lagi oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI pada 16 Mei 1974 M yang saat itu diketuai oleh Hamdani Ali MA M.Ed dan Drs Sujono sebagai sekretaris.

Mushaf itu hingga kini jumlah cetak ulang setiap tahunnya melejit antara 40.000 sampai 50.000 eksemplar. Namun yang sangat disayangkan adalah, terdapat musibah di sekitar tahun 2000-an bentuk orisinil mushaf tersebut ikut terbakar saat terjadi kebakaran yang menimpa PT Menara Kudus.

Baca Juga: Khataman Al-Qur’an XV: 65 Khatimin dan Khatimat Wisuda Al-Qur’an

Karakteristik, Tanda Baca dan Waqaf

Dalam bentuknya, Mushaf Pojok ini disetiap juznya berjumlah 10 lembar atau 20 halaman. Kecuali pada juz 1 yang berjumlah 21 halaman dan juz 30 yang berjumlah 23 halaman. Setiap halamn dalam mushaf ini berisi 15 baris—termasuk dekorasi dan basmalah, jika ada. Sekalipun di dalam halaman tersebut terdapat beberapa surah pendek seperti dalam juz 30. Kecuali pada 2 halaman permulaan juz 1 yang hanya berjumlah tujuh baris dan akhir juz 30 yang hanya berjumlah 11 baris sampai akhir Surah an-Nas, atau 14 baris jika menyertakan kalimat-kalimat penutup sebagai imbuhan.

Berkaitan dengan jenis dan karakteristik mushaf, pada kisaran tahun 1974-1983, usai  Musyawarah Kerja Ulama al-Qur’an, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia menerbitkan tiga model mushaf, yaitu Mushaf Standar Usmani, Mushaf Standar Bahriyah dan Mushaf Standar Braille. Sementara itu, Mushaf Pojok mempunyai beberapa perbedaan dengan Mushaf Madinah maupun Mushaf Standar Indonesia dalam hal penggunaan tanda baca dan harakat yang terkesan inkonsisten

Menurut KH M Ulil Albab Arwani, mushaf ini dalam masalah waqf mengikuti mazhab Imam al-Sijawandi (w. 560) dalam kitab ‘Ilal Wuquf. Mazhab ini banyak digunakan di mushaf-mushaf yang diterbitkan di kawasan Timur, meliputi Turki, India, Pakistan dan Mesir. (Musa’id al-Tayyar, Wuquf Al-Qur’an wa Atharuha fi al-Tafsir). Meskipun al-Sijawandi membagi waqf menjadi 5 tingkatan, tetapi ia menegaskan ada 6 tanda yang ia gunakan. Seperti yang terdapat dalam table berikut.

No. Simbol Nama Cara Baca
1 م الوقف اللّازم Wajib berhenti. Bahkan dikhawatirkan kufur jika tidak waqf pada kasus tertentu, yang dapat merusak makna jika dilanjutkan[i]
2 ط الوقف المطلق Berhenti lebih baik daripada melanjutkan, kecuali terdapat sebab ittis}a>l[1]
3 ج الوقف الجائز Boleh berhenti atau melanjutkan[ii]
4 ز الوقف المجوّز لوجه Boleh berhenti atau melanjutkan, tetapi melanjutkan lebih baik[iii]
5 ص الوقف المرخّص لضرورة Boleh berhenti jika nafas tidak kuat, tetapi lebih baik melanjutkan jika nafas masih kuat[iv]
6 لا لاوقف عليه (الوقف الممنوع) Tidak ada waqf pada kalimat tersebut. Melanjutkan lebih utama sedangkan berhenti dianggap buruk (qabi>h})[v]

 

Selain itu, Mushaf Pojok ini memiliki perbadaan dengan Mushaf Madinah dalam penentuan status Makkiy/Madaniy sebuah surah pada Surah al-Ra’d, al-Rahman dan al-Nas.

Penetapan status Makkiy atau Madaniy sebuah ayat/surah, ulama mempunyai 3 definisi berbeda. Pertama, Makkiy adalah setiap ayat/surah yang diturunkan di Mekah, meskipun ia diturunkan pasca hijrah Nabi. Sebaliknya, Madaniy adalah setiap ayat/surah yang turun di Madinah. Pengelompokkan ini mengacu pada aspek tempat penurunan surah, dan dipandang tidak dapat mencakup beberapa ayat yang diturunkan di luar Mekah dan Madinah.

Kedua, setiap ayat/surah yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad saw hijrah tergolong Makkiy, sedangkan Madaniy adalah setiap yang diturunkan Pasca Hijrah Nabi Muhammad saw. Ketiga, status Makkiy disematkan kepada ayat/surah yang berbicara kepada penduduk Mekah, dan Madaniy konteks pembicaraan yang disampaikan kepada penduduk Madinah.

Dari tiga definisi itu, definisi kedua yang menitikberatkan pada aspek waktu penurunan yang mengacu pada masa Hijrah Nabi sebagai titik pemisah, adalah pendapat paling populer dan disetujui banyak ulama klasik maupun kontemporer. Dalam Mushaf Pojok ditemukan perbedaan dengan Mushaf Madinah dalam penentuan status makkiy/madaniy sebuah surah pada Surah al-Ra’d, al-Rahman dan al-Nas.

Semoga tetap bisa istiqomah mengaji al-Qur’an. Amin.

[i] Muh}ammad al-Sadiq al-Hindi, Kunuz Altaf al-Burhan fi Rumuz Awqaf Al-Qur’an, (Kairo: Maktabah al-Azhariyah, 1290 H), 18.

[ii] Muhammad al-Sadiq al-Hindi, Kunuz Altaf al-Burhan…,  19.

[iii] Muhammad al-Sadiq al-Hindi, Kunuz Altaf al-Burhan…, 19.

[iv] Muhammad al-Sadiq al-Hindi, Kunuz Altaf al-Burhan…, 20.

[v] Muh}ammad al-Sadiq al-Hindi, Kunuz Altaf al-Burhan…,  20.

 

*Artikel ini disarikan dari artikel di Jurnal Nun. (Afqo)

Majlis Haul Komplek L, KH Muslim Nawawi Bocorkan Resep Hidup Mulia

KH Muslim Nawawi Abdul Aziz menyampaikan Mauidhoh Hasanah dalam Haul KH M Munawwir di Komplek L. Doc: Komplek L (Istimewa)

Almunawwir.com – Semarak peringatan Haul Akbar KH  Muhammad Moenawwir ke-81 begitu terasa di bumi Krapyak Yogyakarta. Terhitung sejak seminggu sebelum puncak acara haul, lantunan ayat suci Al-Qur’an sudah menggema di langit Krapyak. Agenda muqoddaman dan sima’an al-Qur’an dilaksanakan di beberapa tempat di sekitaran bumi Krapyak.

Peringatan haul almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir merupakan sebuah momentum besar sebagai wujud rasa ta’dzim dan khidmah seorang murid kepada sang Muassisul-Ma’had (Pendiri Pondok Pesantren). Oleh karena itu, beberapa komplek di Pondok Pesantren Al Munawwir ikut menggelar serangkaian agenda haul di kompleknya masing-masing, seperti halnya komplek “L”.

Komplek yang diasuh oleh KH Muhammad Munawwar Ahmad ini memulai rangkaian acara haul  dengan Muqoddaman Al-Qur’an setiap selesai shalat Maghrib sejak hari Jum’at (31/01/2020) sampai hari Minggu (2/2). Kemudian, pada Minggu pagi semua santri melaksanakan Roan Akbar dan dilanjut dengan Majelis Sima’an Al-Qur’an sampai hari Senin sore (3/2). Majelis Sima’an sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yakni sima’an kasepuhan, sima’an alumni, dan sima’an santri El-Hufadz.

Adapun doa khataman Al-Qur’an dilakukan pada hari Selasa (4/2) sesudah shalat Maghrib di halaman mushala komplek “L” sekaligus dilanjut dengan  Majelis Haul dan Temu Alumni.

Acara Majelis Haul ini dihadiri oleh para Kiai dan Habaib. Di antara yang hadir adalah Habib Shaleh al Haddad, Habib Umar bin Qutban, Habib Taufiq Ilham al Kaff,  KH Muslim Nawawi (Pengasuh PP An-Nur Ngrukem Bantul), dan KH Chafidz Tanwir (Pengasuh PP Almunawwir Ndlajo Klaten). Selain itu acara tersebut juga dihadiri oleh wali santri, alumni dan santri-santri Komplek “L” sendiri. Dalam rangkaiannya para jamaah yang hadir begitu khidmat mendengarkan mauidzah hasanah yang disampaikan oleh KH Muslim Nawawi.

Membahas kisah Simbah Munawwir tidak terlepas dari disiplin dan totalitas beliau terhadap Al-Qur’an yang begitu agung. Selain beliau termasuk ulama Ahlul Qur’an nusantara, beliau juga paham dengan kitab-kitab klasik pada umumnya. Karena sebelum simbah Munawwir menimba ilmu di Makkah dan Madinah, beliau sempat berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan dan berbagai pondok pesantren lainnya. Pernyataan ini dituturkan oleh KH Muslim Nawawi selaku pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem Bantul dalam puncak acara Majelis Haul, pada hari Selasa malam (4/2) bertempat di halaman Mushola Pondok Pesantren Almunawwir Komplek L.

Setiap manusia baik muda atau tua, pejabat atau karyawan, atau apapun statusnya sudah barang tentu ia menghendaki hidup yang mulia. Di sini ada resep supaya seseorang mendapatkan kemulian. Hal ini telah dibuktikan langsung oleh simbah Munawwir dan para ahli quran lainnya. Apa resepnya? Yaitu kalau kita ingin mulia harus berhubungan dan berinteraksi dengan hal-hal yang mulia, dengan pelantara demikian insyaAllah kita dikehendaki menjadi orang yang mulia.

Kira-kira di dunia ini yang jelas-jelas mulia dan mudah ditemukan disekeliling kita, bahkan bila kita meragukannya dianggap kafir. Apakah itu? Yaitu Al-Qur’an. Lanjut Pengasuh An-Nur Ngrukem dalam ceramahnya.

Dengan mendekatkan diri dengan Al-Qur’an, artinya membaca dan memahami kandungan maknanya. Seseorang akan mendapatkan kemulian Al-Qur’an, sebagaimana seorang yang selalu bersama dengan orang yang menjual minyak wangi, tidak membelinya pun ia akan tetap mendapatkan keharuman dari minyak wangi tersebut.

Selanjutnya Kiai Muslim menjelaskan bahwa kemulian Al-Qur’an tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi benda mati pun mendapatkan kemulian karenanya. Seperti halnya kertas putih, sebelumnya ia tidak memiliki nilai kesakralan tetapi setelah kertas putih itu dituliskan ayat-ayat Al-Qur’an bahkan menjadi mushaf, yang dulunya kertas putih tidak ada nilainya sekarang menjadi suci.

Bulan Ramadhan sebelumnya merupakan bulan yang biasa-biasa saja, tetapi karena berhubungan dengan diturunkannya Al-Qur’an (nuzululqur’an), bulan Ramadhan menjadi bulan yang paling mulia (sayyidus-syuhur). Termasuk juga malam yang paling mulia adalah malam lailatul qadar, kenapa? Karena malam lailatul qadar merupakan malam yang dipilih Al-Qur’an.

Berkaitan dengan kemulian-kemulian Al-Qur’an, putra dari KH Nawawi Abdul Aziz ini mengisahkan sejarah yang berhubungan dengan Ny Khadijah binti Hasbullah, yakni istri kelima sekaligus terakhir Kiai Munawwir. Hasbullah, nama terakhir setelah Ny Khadijah merupakan santri dari Kiai Munawwir sendiri. Walaupun Mbah Hasbullah sudah menjadi kiai di desanya, tetapi beliau masih turut mengaji dan mengabdi kepada gurunya.

Baca Juga: Gus Ali Sebut Mbah Munawwir Ulama yang Konsisten dengan Perkataan dan Perbuatan 

Dikisahkan tatkala Mbah Hasbullah khatam mengaji sambil membawa beras dan sebagainya termasuk juga Ny Khadijah turut diajak matur kepada gurunya. Ketika sedang matur, Kiai Munawwir bertanya kepada Mbah Hasbullah, Kiai Munawwir berkata,

“Kiai Hasbullah, niku sinten?” (Kiai Hasbullah, itu siapa?)

Lalu Mbah Hasbullah menjawab, “niki putri ndalem romo yai, nggih monggo saestu dikersake” (ini putri saya pak yai, silahkan dikehendaki).

Begitu ta’dzimnya seorang murid kepada guru, tanpa pikir panjang putri Mbah Hasbullah dinikahkan dengan sang guru. Sehingga beliau merupakan murid sekaligus mertua dari Kiai Munawwir. Padahal sebelumnya Ny Khadijah pernah dilamar oleh seorang yang alim, yaitu Mbah Marzuki. Namun jodoh berkata lain, Ny Khadijah belum siap menerimanya. Oleh sebab itu, dari pernikahan Kiai Munawwir dan Ny Khadijah menurunkan putra-putri yang alim dan shaleh-shalehah, yaitu Ny Walidah Munawwir (istri KH Nawawi Abdul Aziz, PP An-Nur, Ngerukem), KH Ahmad Munawwir (Pendiri PP Almunawwir Komplek L, Krapyak), dan Ny Zuhriyyah Munawwir (istri KH Mubassyir Mundzir, PP. Maunah Sari, Kediri).

Ketiga putra-putri dari pasangan Kiai Munawwir dan Ny. Khadijah semuanya min ahlil qur’an. Jadi ketiganya telah dididik dengan Al-Qur’an sejak usia dini. Jelas Kiai Muslim Nawawi.

Lalu beliau mengisahkan sosok ibundanya yaitu Ny. Walidah yang ditinggal oleh Kiai Munawwir pada usia sekitar 5/6 tahun. Namun demikian, sang Ibu dapat melanjutkan hafalan Al-Qur’an atas berkat bimbingan KHR Abdul Qadir Munawwir. Begitu pula dengan Kiai Ahmad Munawwir, semenjak usia kecil beliau sudah bisa menghafal sekitar 5 juz, padahal ketika itu beliau masih belum pandai membaca. Bahkan ketika beliau mengaji lalu tidak ada yang mengajar, beliau menangis.

Kiai Muslim Nawawi mengkisahkan bahwa Ny Zuhriyyah sebelum menikah, pernah riyadhah setiap hari mengkhatamkan Al-Qur’an selama 3 tahun. Hal ini beliau barengi dengan berpuasa setiap harinya. Disamping beliau tetap memenuhi kewajiban anak terhadap orang tuanya.

Terkadang Ny Zuhriyyah dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 35 juz dalam sehari. Artinya beliau khatamkan 30 juz Al-Qur’an, lalu 5 juz sisanya beliau lantunkan sambil melakukan aktivitas rumah tangga seperti memasak, menyapu, dsb. Hal ini beliau lakukan sambil menunggu adzan Maghrib dikumandangkan.

Sebagai penutup beliau berpesan “saya hanya dapat menceritakan apa yang saya ketahui, semoga apa yang dikisahkan, bisa dijadikan sebagai spirit kita semua dalam mengabdi kepada Al-Qur’an dan semoga mendapatkan barakah serta kemuliaan Al-Qur’an”. Tentunya semoga kita semua dapat mengambil ibrah dalam meneladani sosok simbah Munawwir dan para dzuriyahnya dalam berkhidmat demi menegakkan pilar-pilar agama.

Peringatan haul ini dipandu oleh pembawa acara yakni saudara Achmad Soib dan saudara Chamdan. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz M Itsnaini. Lalu dilanjutkan dengan acara pembacaan tahlil dan doa yang dipimpin oleh KH Chafidz Tanwir. Kemudian mauidzah yang disampaikan oleh KH Muslim Nawawi. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan hamdalah oleh para hadirin yang menandakan akhir dari rangkaian acara haul Pondok Pesantren Almunawwir Komplek L.

Oleh: Irfan Fauzi

Editor: Ajie Prasetya

Gus Ali Sebut Mbah Munawwir Ulama yang Konsisten dengan Perkataan dan Perbuatan

KH Agoes Ali Masyhuri saat memberikan mauidhoh hasanah dalam acara haul almaghfurlah KH Muhammad Munawwir ke-81 di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Selasa malam Rabu (04/02/2020)

Almunawwir.com – “Subtansi haul adalah dzikrul maut sedangkan subtansi shalat adalah dzikrullah”. Kalimat tersebut terucap dari KH Agoes Ali Masyhuri atau yang akrab disapa Gus Ali saat membuka tausiah dalam acara haul almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir, di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Selasa (04/02/2020).

“Apabila ada muballigh atau kiai ketika diundang menghadiri acara haul, kok keterangan yang disampaikan macam-macam tidak menerangkan tentang mati, tanpa mengurangi rasa hormat muballigh haul itu kurang cerdas” imbuh beliau.

Kiai asal Tulangan Sidoarjo itu kemudian menjelaskan bahwa umur manusia bukan miliknya, tetapi umur manusia yang sebenarnya adalah umur yang digunakan untuk hidup bersama Allah. Banyak orang yang memiliki umur panjang tetapi sedikit manfaatnya, namun banyak orang yang memiliki umur singkat tetapi banyak manfaatnya.

Gus Ali mengatakan bahwa makna umur panjang bukanlah seberapa lama ia hidup di dunia, melainkan seberapa banyak prestasi dan amal saleh yang dikerjakan, “sebagaimana almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir yang mampu meninggalkan nama baik, prestasi dan prasasti, dimana muridnya yang tersebar mampu mengembangkan Al-Qur’an di Republik tercinta ini” tutur beliau.

Sebagaimana yang diketahui, almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir memang sosok Guru Besar Al-Qur’an dan juga penggagas pesantren Al-Qur’an pertama di Indonesia. Jika ditelusuri, hampir semua mata rantai sanad Al-Qur’an di Indonesia akan tersambung kepada Kiai Moenawwir. Beliau banyak melahirkan murid yang juga menjdi ulama penghafal Al-Qur’an di Indonesia, diantaranya yang masyhur adalah almaghfurlah KH Arwani Amin (Pendiri Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus).

Dalam acara haul ini, Gus ali menyampaikan kekagumannya kepada almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir. Beliau mengatakan bahwa Kiai Moenawwir merupakan ulama’ besar di zamannya, yang bukan hanya sekedar hafal Al-Qur’an, tetapi mampu tampil menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Gus Ali juga kagum dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir, meskipun di tengah keramaian kota Yogyakarta, Pondok Pesantren Al-Munawwir mampu berdiri dan masih eksis sampai saat ini.

Di akhir tausiahnya, Gus Ali berpesan jika umat Islam ingin menguasai dunia, maka kedudukan dan keberadaan pondok pesantren harus dipertahankan, diperkuat dan ditingkatkan agar mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan dan tantangan zaman. Hal ini karena pondok pesantren merupakan pertahanan dan benteng terakhir Islam di dunia ini.

Selanjutnya, Gus Ali mengajak semua yang hadir untuk belajar ikhlas dalam segala hal, karena ikhlas meruapakan salah satu ruh Pesantren. “Ikhlas bagaikan mata air jernih yang menyuburkan, orang yang berhati ikhlas bagaikan tanah yang subur, sekecil apapun benih kebaikan akan mudah tumbuh dan berkembang” tutup beliau.

 

Pewarta: Alans Marzuq

Tahniah Ahlul Bait, KH Fairuzi Afiq Doakan Khatimin agar Istiqomah Menjaga Al-Qur’an

Almunawwir.com – Sejumlah ulama dan tokoh nasional menghadiri haul almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir bin Abdullah Rosyad ke-81, di halaman pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Selasa (04/02/2020).

Diantaranya hadir KH Ahmad Masduqi Abdurrahman (Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotu Tahfidzil Qur’an Perak Jombang), KH Agoes Ali Masyhuri (Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat Sidoarjo), KH Mas’ud Masduqi (Rais Syuriyah PWNU Yogyakarta), DR (HC) H Muhaimin Iskandar (Gus Ami, Wakil Ketua DPR RI), DRS Edi Gunawan Msi (Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Yogyakarta) dan dipadati ribuan jamaah lainnya.

Serangkaian puncak acara haul yang diawali dengan majlis khataman Al-Qur’an ke-XV ini dimulai setelah shalat Magrib, pukul 18.30 WIB. Acara tersebut dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Herfan Sa’id dan pembacaan shalawat oleh Ustaz Sholeh Ilham, Ustaz Ashfal Maula, dan Ustaz M Samsyud Dluha.

KH Fairuzi Afiq Dalhar dalam sambutannya mewakili keluarga besar KH Muhammad Moenawwir menceritakan bahwa Pondok Pesantren Al Munawwir sejak awal telah menitikberatkan pengajarannya dalam hal ilmu al-Qu’ran dan menghafal al-Qur’an. Menurut beliau, hal tersebut dilatarbelakangi karena KH Muhammad Moenawwir merupakan seorang penghafal al-Qur’an yang telah menimba ilmu di Makah dan Madinah selama 21 tahun.

Baca Juga: Khataman Al-Qur’an XV: 65 Khatimin dan Khatimat Wisuda Al-Qur’an

Kemudian, beliau menceritakan biografi KH Muhammad Moenawwir, mulai dari perjalanan menghafal al-Qur’an yang bisa dikhatamkan selama 40 hari di Makkah dan beberapa riyadhoh/usaha yang dilakukan oleh KH Muhammad Moenawwir untuk menjaga al-Qur’an dan sebagai wujud kecintaannya terhadap al-Qur’an, seperti mengkhatamkan al-Qur’an satu minggu sekali selama tiga tahun, mengkhatamkan al-Qur’an tiga hari sekali selama tiga tahun, mengkhatamkan al-Qur’an sehari sekali selama tiga tahun, dan kemudian beliau istiqomah membaca Al-Qur’a setiap waktu (tidak ada watu atau tidak ada hari tanpa membaca al-Qur’an).

Selanjutnya, KH Fairuzi memohon doa restu kepada semua yang hadir supaya dzuriyyah KH Moenawwir yang sudah tersebar di mana-mana bisa diberi kemampuan dan keistiqomahan dalam mendidik santri-santrinya. Beliau juga memohonkan doa restu bagi para khatimin dan khatimat yang telah diwisuda supaya diberi keistiqomahan dalam menjaga al-Qur’an dan bisa bermanfaat bagi dirinya, keluarga, tetangga, nusa dan bangsa.

Sebagai penutup, beliau memohon maaf kepada semua yang hadir apabila ada sesuatu yang kurang berkenan dalam acara haul tersebut dan beliau mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah membantu pelaksanaan haul.

Temu Alumni dan Sarasehan IKAPPAM (Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al Munawwir)

Doc: Almunawwir

Almunawwir.com – Temu Alumni dan Sarasehan IKAPPAM (Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al Munawwir) rutin dilaksanakan sekali dalam setahun yang bertepatan dengan Haul Almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir bin Abdullah Rosyad. Pada haul yang ke-81 ini, temu alumni dan sarasehan IKAPPAM diselenggarakan pada tanggal 4 Februari 2020 yang bertempat di Aula AB PP Al Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Acara temu alumni sekaligus temu kangen para santri dimeriahkan oleh hadirnya dua pembicara yang kompeten di bidang Al-Qur’an dan Tafsir, yakni KH Ahmad Bahaudin Nur Salim yang masyhur dengan nama Gus Baha’ dan Prof Dr H Abdul Mustaqim, Guru Besar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dimulai pukul 09.30 WIB, acara tersebut kian ramai dihadiri oleh alumni-alumni PP Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Sambutan tuan rumah disampaikan oleh KH Muhtarom Busyro mewakili segenap keluarga besar PP Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Sambil menunggu rawuhnya Gus Baha’ para hadirin saling bercengkrama dan menikmati hindangan.

Setelah Gus Baha’ hadir, sarasehan pun dimulai. Adapun KH Ikhsanuddin bertindak sebagai moderator, Prof Dr H Abdul Mustaqim menjadi pembicara pertama dalam memberikan pandangannya terhadap tema sarasehan dari sudut pandang akademisi. Selanjutnya, penyampaian dari Gus Baha’ yang sangat cakap, berwawasan, sekaligus humoris menjadikan acara tersebut semakin menyenangkan para hadirin.

Acara dilanjutkan dengan diskusi tanya-jawab peserta dan pembicara. Begitu waktu dzuhur tiba, hadirin melakukan shalat berjamaah di Masjid Jami’ Al Munawwir. Kemudian dilanjutkan oleh acara makan kembul (makan bersama dengan satu wadah) oleh para hadirin sehingga mereka bernostalgia bersama tentang mondok pada zamannya.

Kenapa tema seperti ini? Karena beberapa alumni merasa kajian-kajian kitab pesantren mengalami penurunan. Ada kesenjangan antara kitab yang dipelajari di pesantren dan tantangan di era sekarang (4.0).

Baca Juga: 65 Wisudawan dan Wisudawati Khatamkan Al-Qur’an

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khataman Al-Qur’an XV: 65 Khatimin dan Khatimat Wisuda Al-Qur’an

Khidmah: Para Khatimin berpose bersama Romo KHR M Najib Abdul Qodir dalam Khotmil Qur’an XV Krapyak. Doc: Almunawwir (Istimewa)

Almunawwir.com – “Khidmat dan menyejukkan” begitulah suasana Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak di mata santri, lebih-lebih selama sepekan ini. Pasalnya, Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak mempunyai gawe besar di awal tahun 2020.

Pada Selasa malam, 04 Februari 2020 Pondok Krapyak menggelar perhelatan akbar dalam rangka memperingati haul guru besar Al-Qur’an nusantara yaitu KH M Moenawwir Al-Muqri’ ke-81, KHR Abdul Qodir Moenawwir ke-61 serta para Masayikh dan Dzuriyyah. KH M Moenawwir tidak lain adalah pendiri dan cikal bakal berdirinya pesantren tua di Yogyakarta ini.

Pondok Pesantren yang berdiri lebih dari se-Abad ini (1911) tercatat dan masyhur diakui telah melahirkan para ulama’ ahli Qur’an di seantero nusantara seperti Kiai Arwani Amin, Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan, Kiai Muntaha Asy’ari, dan lain-lain.

Setelah rangkaian acara demi acara haul dilalui seperti 81 majlis muqaddaman, pembacaan Burdah, majlis sima’an Al-Qur’an, Temu Alumni dan Sarasehan (IKAPPAM dan HIMMAH AL-MUNA) serta maqbaroh, maka tibalah pada acara puncak yaitu Khataman Al-Qur’an XV dan majlis haul ke-81. Sebagai basis pondok Qur’an, Pondok Krapyak selalu menyelenggarakan wisuda Khataman Al-Qur’an sebagai bentuk tasyakuran atas santri-santri yang telah menyelesaikan hafalan Qur’an-nya.

Khataman XV ini diikuti oleh 185 santri yang terdiri 120 khatimin Juz ‘Amma dan 49 khatimin – 16 khatimat 30 Juz Bil Ghoib. Satu di antara khatimin-khatimat yang diwisuda tahun ini juga telah berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an ala Qira’at Sab’ah (tujuh bacaan Al-Qur’an), yaitu H M Abdullah Faqih. Santri asal Semarang yang merupakan Juara MHQ Internasional di Masjidil Haram, Arab Saudi tahun 2017 silam ini telah menyelesaikan setoran Al-Qur’an secara langsung kepada KHR M Najib Abdul Qodir, pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak.

Baca Juga: Madrasah Tahfidh Putri Anak Mewisuda 28 Khatimat

Animo masyarakat menyambut haul tahun ini terihat dan terasa sedari pagi di sepanjang jalan KH Ali Maksum yang mulai berduyun-duyun memadati Pesantren Krapyak. Hadir dalam majlis khataman dan haul, KH Ahmad Masduqi Abdurrahman, dari Perak, Jombang, Wakil ketua DPR RI Dr H A Muhaimin Iskandar M.Si. (Cak Imin), dan juga KH Agus Ali Masyhuri, Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo, yang nantinya akan memberikan mauidoh hasanah dalam majlis haul, serta para masayikh dan para pejabat pemerintahan.

Prosesi wisuda khataman Qur’an ini dimulai tepat seusai shalat Maghrib di halaman Masjid Jami’ Al-Munawwir. Prosesi wisuda khataman ini dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama yaitu prosesi wisuda Juz-‘Amma yang selesai tepat saat adzan Isya’ dikumandangkan. Kemudian dilanjutkan sesi kedua, prosesi wisuda khatimin-khatimat 30 Juz Bil Ghoib.

Pembacaan maqro’ langgam Krapyak dilantunkan oleh khatimin-khatimat selama kurang lebih satu jam kemudian ditutup do’a khotmil Qur’an oleh KHR M Najib AQM.  Sebagai akhir dari prosesi wisuda Khataman XV ini yaitu pengalungan samir khatimin-khatimat dan musafahah yang dilakukan langsung oleh KHR M Najib AQM untuk para khatimin, sedangkan untuk khatimat dilakukan oleh Hj Ida Fatimah Zainal dan Hj Musta’anah Saniyah.

Dengan adanya khataman ini, santri-santri akan mendapatkan semangat baru dalam menata kembali niat dan tujuan dari rumah, untuk jihad di pesantren Krapyak khususnya menghafal dan mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an. Selain itu juga sebagai bentuk ungkapan ta’dim kepada guru-guru terdahulu (baca:perintis) yang telah berjuang li i’la kalimatillah.

Madrasah Tahfidh Putri Anak Mewisuda 28 Santri

Rapi: Wisudawati Madrasah Tahfidh Putri Anak berpose dengan Keluarga Besar Komplek Q. Doc: Almunawwir (Istimewa)

Almunawwir.com – Dibarengi dengan hujan yang turun membasuhi bumi Krapyak, PP Al Munawwir Komplek Q punya gawe besar berupa Haflah Khotmil Qur’an Madrasah Tahfidh Continue reading “Madrasah Tahfidh Putri Anak Mewisuda 28 Santri”

Gus Muwafiq: ‘Orang Baru’ itu Suka Lupa dengan ‘Orang Lawas’

Podium: Gus Muwafiq Sang Singa Podium menyampaikan Mauidhoh Hasanah di Haul KH A Warson Munawwir. Doc: Almunawwir (Istimewa)

Almunawwir.com – Adanya peringatan haul sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw, adanya para wali, kemudian turun-temurun hingga saat ini sampai generasi para ulama. Seperti peringatan Haul Mbah Warson sekarang ini. Pernyataan itu disampaikan oleh KH Ahmad Muwafiq dalam acara peringatan Haul KH Ahmad Warson Munawwir, Ahad malam (2/2) bertempat di halaman Pondok Pesantren Almunawwir Komplek Q.

Haul tahun ini merupakan haul ke-7 KH Ahmad Warson Munawwir. Selain Majlis Haul terdapat juga serangkaian acara di antaranya, Mubes dan Temu Alumni Halqimuna, Semaan  Al-Qur’an, Ziarah Makbarah dan Haflah Salafiyah dan MTPA yang akan digelar pada Senin malam (3/02).

KH A Warson Munawwir merupakan penyusun kamus legendaris “Kamus Almunawwir.” Beliau wafat pada Kamis pagi, 18 April 2013 meninggalkan jejak hidup dan warisan keilmuan yang luar biasa untuk memperkaya khazanah keilmuan pesantren.

Kamus Almunawwir, Kamus Bahasa Arab-Indonesia yang disusun atas bimbingan KH Ali Maksum yang mempunyai ketebalan 1634 halaman itu menjadi warisan luhur Mbah Warson. Dalam perjalanannya kamus itu masih dijadikan rujukan utama para santri di berbagai daerah digunakan sebagai acuan untuk bendahara kosakata kitab kuning dan ataupun belajar Bahasa Arab.

Para jamaah yang hadir di majlis merupakan undangan dari beberapa elemen, seperti kiai, keluarga, santri dan masyarakat sekitar. Sembari menikmati hidangan dari panitia, para jamaah khidmah mengikuti jalannya acara dan mendengarkan ceramah agama yang disampaikan oleh Gus Muwafiq.

Baca Juga: Haul Guru Besar Al-Qur’an Nusantara, KH M Moenawwir 81

Akhir-akhir ini banyak manusia yang lupa dengan masa lalu, kasus ini yang kemudian dikomentari oleh Kiai asal Lamongan Jawa Timur itu. Beliau berpesan supaya kita menghargai sejarah.

Banyak manusia tidak memahami bahwa ada pelajaran dari perjalanan yang panjang yaitu sejarah. Pergantian generasi baru ke generasi yang lain. Seperti ini sudah hilang, apa yang terjadi di masa lalu juga sudah hilang. Yang terjadi di peringatan hilang, sejarah yang akan dilewati juga hilang. Tanpa menghargai sejarah, semua itu tak membekas.

Berkaitan dengan sejarah, Gus Muwafiq lalu mengaitkannya dengan tradisi peringatan haul yang lazim dipelihara oleh orang-orang pesantren. Beliau menyampaikan dengan menyebut penamsilan antara ‘orang baru’ dan ‘orang lawas’.

Gus Muwafiq menyebut bahwa orang baru itu biasanya lupa dengan orang lawas. Kalau sudah lupa, biasanya lupa dengan jasa mereka. Zaman sekarang, hal ini sudah lazim, sehingga apa yang dianggap peringatan haul seperti ini tidak ada pengaruhnya. Pada akhirnya, tidak ada ikatan antara orang-orang masa lalu dengan masa kini.

Sebagai penutup beliau berpesan “santri sudah ditembus oleh kiai-kiainya dengan berbagai frekuensi, batinnya jangan sampai terlepas dengan guru-gurunya, ya salah satunya dengan nyadong berkah haul ini. Itulah yang akan membawa keberkahan bagi kita semua.”

Peringatan haul ini dituntun oleh pembawa acara Ustaz H M Ihsanuddin. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an oleh saudara Alfin Fauzi. Kemudian dilanjutkan sambutan atas nama Pengasuh Komplek Q yang disampaikan oleh KH Muhtarom Busyro. Sebelum ditutup dengan pembacaan Yasin oleh KH.Fairuzi Afiq Dalhar, tahlil dan doa yang dibawakan oleh KHR M Najib Abdul Qodir.

 

Pewarta: Nidia Albarida

Editor: Afqo