Budaya Santri Milenial di Tengah Modernisasi

Budaya Santri Milenial di Tengah Modernisasi
Sumber foto: boolnet.tumblr.com

Salah satu upaya untuk menjadi manusia sejati adalah dengan menjadi santri. Dengannya seseorang akan mendapat bekal bakti kepada negeri dan washilah memperbaiki diri. Dawuh K.H. Mustofa Bisri, “Santri bukan hanya yang mondok saja, akan tetapi siapapun yang berakhlak seperti mereka, dialah santri”.

Sejak periode penjajahan sampai kemerdekaan hingga saat ini sejarah telah banyak merekam dedikasi santri untuk masyarakat dan bangsa. Melalui pengabdiannya, mereka mampu menciptakan berbagai dinamika dalam kehidupan berbangsa.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dinamika kehidupan berbangsa kini kian mengalami perubahan yang cukup ekstrem, salah satunya disebabkan oleh arus teknologi informasi yang sangat pesat dan adanya perubahan sistem sosial yang menciptakan berbagai macam media berbasis teknologi canggih nan modern.

Kenapa disebut dengan santri millenial? Sebab, istilah milenial ini diberikan kepada mereka yang berada di era digital di mana saat ini santri hidup di zaman yang serba instan, praktis, terjangkau dan dapat terhubung langsung dengan jaringan internet yang bisa tersebar luas.

Baca juga: ketidakadilan-gender-terhadap-hukum-waris-mitos-atau-fakta

Santri milenial disini merupakan seseorang yang sedang memperdalam ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi.  Menyikapi kondisi ini, sebagai santri milenial kita tidak boleh tergerus oleh zaman. Seorang santri harus selalu mengikuti arus perkembangan zaman yang semakin modern.

Menanggapi fenomena ini, para santri harus mampu memilah dan memilih budaya yang sesuai dengan akhlak dan identitasnya, karena bagaimanapun kita tidak akan pernah terlepas dari pengaruh media dan informasi yang otomatis membawa dampak positif dan negatif bagi kita, selain itu pandangan hidup dan pola pikir santri pun bisa ikut terpengaruh seperti sikap dan perilaku dalam berpakaian, menikmati musik, kisah asmara, dan berbagai budaya millenial lainnya.

Sebagai bagian dari era millenial, seorang santri harus melek digital, santri tidak boleh menutup mata terhadap realita zaman. Namun juga jangan hanya ingin yang serba cepat, apalagi sampai ikut-ikutan budaya kebarat-baratan yang tidak sesuai dengan budaya negeri ini, atau bahkan sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang santri.

Santri sejati harus mampu menggunakan teknologi dan menciptakan kemampuan diferensial dan distinctive untuk terus mengasah dan meningkatkan skill keterampilannya dalam menelaah dan menyeimbangkan diri dengan tuntutan zaman.

Lalu, pertanyaannya bagaimana langkah santri untuk bisa menjadi pelaku kemajuan peradaban dalam budaya millenial di tengah modernisasi negara ini?. Ya, seorang santri harus memiliki prinsip yang kuat dalam menjaga keutuhan negara NKRI. Santri harus terus berpikiran maju dan terbuka terhadap semua hal sebagai wujud adaptasi perkembangan zaman.

Sebagai santri harus berani melakukan jihad kekinian dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.  Banyaknya masalah di dunia maya yang terjadi saat ini seperti maraknya praktik politisasi online, penyalahgunaan dakwah, eksploitasi umat, hingga banyaknya hate speech, hoax, dan fitnah yang kini membanjiri wajah keberagaman bangsa ini.

Disinilah santri harus menjadi garda terdepan dalam membela kebenaran, dan sebagai promotor persatuan kesatuan dan perdamaian dunia. Inilah yang penting bagi seorang santri di tengah arus globalisasi modernisasi saat ini.

Dengan kecerdasan intelektual, spiritualitas dan akhlakul karimah yang dimilikinya, santri millenial diharapkan dapat meneruskan estafet perjuangan para pendahulu dan menjadi pelopor kemajuan peradaban bangsa di masa mendatang. Untuk itu, budaya santri milenial tidak akan terkikis oleh perkembangan zaman, justru menjadi penguat bagi keutuhan suatu bangsa di era modernisasi saat ini.

 ____

Oleh :Fuja Atin Ni’mah (Santri Komplek L Putri)

Editor : Abdillah Amiril Adawy

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel