Diam Bukan Berarti Marah

Diam Bukan Berarti Marah
sumber foto: medium.com

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa seseorang yang diam berarti ia sedang marah, atau bahkan dikatakan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Padahal adanya seseorang bersikap diam bisa dikarenakan beberapa hal seperti malas melakukan sesuatu, sedang memikirkan sesuatu, atau bahkan memang sedang ingin berdiam diri.

Marah adalah sikap emosi seseorang yang berasal dari naluri diri dan merupakan reaksi normal seseorang terhadap suatu kejadian.

Sama halnya dengan diam, marah bisa disebabkan oleh beberapa hal serta terdapat beberapa bentuk tipe marah sesuai ekspresi setiap orang.

Dalam kitab al-Arbain an-Nawawi hadis ke-16 diriwayatkan,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ! قَالَ : لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ صَلَّى اللَهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَغْضَبْ. رَوَاهُ الْبُخَارِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang berkata kepada Nabi SAW, “Berilah aku nasihat!” Dia pun mengulanginya beberapa kali, beliau bersabda, “Janganlah engkau marah!”. (HR. Al Bukhari).

Baca juga: Terlalu Banyak Menghafal, Melemahkan Daya Analisis?

Dijelaskan bahwa Rasulullah SAW melarang seseorang untuk tidak tersulut kemarahan. Kemarahan yang dimaksud adalah emosi dengan melampiaskan amarah kepada seseorang entah dengan ucapan yang tidak baik maupun dengan perbuatan yang tidak baik pula.

Hadis ini dikuatkan juga dalam hadis riwayat bukhari dan muslim yaitu

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرُعَة، وَلَكِنَّ الشَّدِيْدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang tangguh itu bukanlah orang yang senantiasa menang dalam pergulatan. Orang yang tangguh itu ialah orang yang mampu menahan dirinya saat ia sedang marah.

Yang dimaksud adalah bagaimana seseorang dapat mempertahankan dirinya dari segala hal yang menjadi penyebab dari timbulnya kemarahan.

Maka dari itu salah satu hal yang dapat dilakukan dalam mengontrol diri agar marah tidak terlampiaskan adalah dengan diam.

Ada keterkaitan antara sikap diam dengan marah yaitu karena sikap diam termasuk salah satu bentuk menyikapi marah.

Baca juga: Mbah Hasyim Berpesan Agar Tidak Fanatik terhadap NU

Jika memang diamnya seseorang adalah karena marah, itu kemungkinan bentuk diam sebagai sikap untuk dapat meredam emosi, mengontrol diri, dan menyadarkan diri. Ini merupakan sisi positif dari sikap diam.

Seseorang yang diam cenderung lebih mengerti kondisi walaupun dia sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Yang berdiam lebih mengerti kondisi daripada yang terdiam karena tak mengerti apapun.

Diam merupakan perbuatan mulia dan salah satu cara menjaga lisan dari segala ucapan-ucapan yang kurang baik sekaligus untuk mengantisipasi munculnya amarah dalam diri. Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدَكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Apabila seseorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Daripada marah sehingga sulit mengontrol diri dan cenderung bertindak tanpa berpikir, maka lebih baik diam. Diam untuk menenangkan diri serta menyadarkan diri atas sesuatu yang telah diperbuat apakah benar atau memang salah.

Sering mendengar pepatah “diam itu emas”? Diam membawa dampak-dampak positif dan menguntungkan dari segi apapun.

Tetapi dalam pandangan islam, tidak selalu diam itu dianggap benar. Adakalanya kita perlu diam untuk mengerti suatu keadaan dan adakalanya pula kita perlu bicara untuk memahaminya.

Keutamaan-Keutamaan Sikap Diam

Ibadah Yang Paling Ringan Tapi Tinggi

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Diam adalah bentuk ibadah paling tinggi.” (HR. Dailami, dari Abu Hurairah). Diam adalah kebijaksanaan, dan sedikit orang yang mampu melakukannya.

Mengapa demikian? Karena diam termasuk kebijaksanaan dan keteguhan dalam sikap menghargai dan mengerti akan keadaan yang sedang dialami bahkan dengan sesama manusia.

Jadi, belum tentu diamnya seseorang itu karena marah. Tetapi diam adalah salah satu sikap untuk dapat meredakan emosi dikala sedang marah.

Keberutungan di Akhirat

Barang siapa yang diam, pasti dia selamat” (HR. At-Tirmidzi). Alasan Rasulullah memerintahkan kita untuk menjaga lisan dengan berdiam adalah bahwa lidah lebih tajam daripada pedang.

Lidah yang tajam dapat melontarkan kata-kata yang kurang baik hingga dikhawatirkan akan menyakiti orang lain.

Diam dapat meminimalisir adanya sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi hanya karena suatu perkataan yang kurang baik.

Terhindar Dari Siksa Neraka

Kurangnya menjaga lisan dapat memberangus semua amal ibadah baik yang pernah dilakukan. Yang awalnya baik malah menjadi siksaan dan masuk dalam neraka.

Apalagi manusia, setiap harinya tidak terlepas dari aktifitas menggunjing, terutama bagi wanita yang sering mengghibah bahkan secara tidak sadar.

Mendapat Banyak Hikmah

Diam dapat membantu seseorang menghindari maksiat. Karena berbicara menjadi hal yang paling mudah bagi setan untuk menghasut setiap manusia untuk berbuat buruk.

Setelah menyadari atas kemarahan dan berdiam, hendakah mengingat kepada Allah.

Dengan beristighfar meminta ampunan Allah atas kekhilafan yang telah diperbuat, lantas berwudhu.

Mengambil air wudhu dapat membawa kesejukan sehingga amarah dapat teredamkan. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk dapat menyikapi antara marah dengan diam.

Tapi kembali lagi kepada diri sendiri mampukah kita sebagai manusia dengan sejuta kekhilafan dapat menahan itu semua? Tentu sangat bisa apabila kita yakin bahwa ada Allah yang selalu disisi kita utuk senantiasa mengawasi.

_______

Editor: Abdillah Amiril Adawy

Baca juga: Rahasia Kecerdasan Ali bin Abi Thalib (Kisah)
Zia Zahra

Zia Zahra

Zia Zahra

Santri Komplek Q Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Minat Kajian Opini, Kisah-Kisah Inspiratif, Sejarah dan Budaya Pesantren

3

Artikel