Dilarang Parkir Sembarangan, Ngeyel Gembosi!

Dilarang Parkir Sembarangan, Ngeyel Gembosi!

Almunawwir.com – Pendaftaran santri baru di Pondok Pesantren Almunawwir di sebagian besar komplek sudah banyak yang tutup, namun nyatanya kantor pusat masih sering didatangi tamu yang ingin memondokkan putra-putrinya. Ada yang menanyakan kapan lagi akan dibuka pendaftaran, ada yang bertanya tentang syahriah atau SPP,  ada yang bertanya jadwal kegiatannya, bahkan ada yang hanya bertanya boleh membawa motor atau tidak.

Pondok Pesantren Almunawwir selalu menjadi tempat yang sangat perlu untuk disurvei, pasalnya selain ada beberapa komplek takhasus baik kitab maupun tahfidh, Almunawwir juga memiliki santri mahasiswanya yang begitu banyak. “Santri mahasiswa”, status yang sangat elegan untuk menerima hak khusus dibolehkannya membawa motor.

Ketika seorang teman bertanya lewat chat tentang pendaftaran santri baru dan kegiatan pondok pesantren, Saya pernah menjawab, “Nanti kegiatan siang bisa untuk sekolah atau kuliah, bakda magrib langsung ikut kegiatan pesantren hingga pagi sehabis subuh”.

“Berarti di sana boleh bawa motor juga untuk kuliah kan?” dia tanya lagi. Saya langsung keluar memfoto jejeran motor di depan kantor pusat yang amburadul. “Ini semua milik santri, motormu juga di sini kalo besuk kamu sudah diterima disini” jawabku. “Siap, makasih wan” tutupnya.

Baca Juga:

Kata Gus Munadi (lurah pondok) 80 persen santri Almunawwir adalah mahasiswa dan santri yang kuliah sangat membutuhkan kendaraan untuk pergi ke kampus. Bayangkan saja, jika saja seminggu masuk kuliah lima kali, masa iya selalu nebeng temen. Iya, kalo ada teman yang  jadwal ke kampusnya sama,  kalau tidak?. Bisa naik ojol atau transjogja, tapi apakah merasa nyaman seperti itu terus?.

Faktanya sekarang barisan motor di depan kantor pusat sudah sesak sekali. Bisa disimpulkan hampir semua santri yang kuliah, dia mempunyai motor untuk mendukung proses kuliahnya. Malahan sekarang motornya sudah pada keren dan besar-besar. Mungkin prinsipnya bisa dibercandakan dengan kalimat “Santri milenial jangan sampai kalah gaya dengan fakboy, motornya harus jozz”.

Peningkatan jumlah santri di Almunawwir mempunyai trend yang positif, tapi peningkatan jumlah motor agaknya akan menjadi bom waktu dan hanya tinggal menunggu kapan itu akan meledak. Sarana tempat parkir yang ada di Ponpes Almunawwir terutama di komplek pusat sudah tidak ideal lagi untuk saat ini.

Hal itu diperparah dengan kurang sadarnya pengguna motor yang memarkir secara ngawur tanpa memperhatikan kerapian dan kerapatan space. Akhirnya motor yang datang akhir tidak mendapatkan tempat dan tambah ngawur karena sudah capek sehabis kegiatan seharian dari luar.

Baca Juga:

Berbicara tentang capek, saya rasa pengurus keamanan pondok juga sama capeknya dengan santri mahasiswa yang markir motornya sembarangan tersebut. Hampir setiap malam pengurus keamanan pusat melakukan aksi “noto motor” dan “nggembosi ban” motor yang diparkir ngawur.

Pengurus keamanan juga sudah beraksi dengan cara membuat banyak banner yang berisi edukasi tertib memarkir motor, melakukan sensus kepemilkan motor dan membuatkan stiker khusus untuk menandai mana mana motor yang milik santri. Tapi bagaimana keadaan di lapangan?

Seorang pengurus keamanan yang bernama Kang Kalam mengatakan, “masalah parkir di pondok kita (komplek pusat) lebih berat ditangani daripada masalah  pencurian”. Memang rumit sekali kan. Selain kedisiplinan dan rasa sadar santri yang minim untuk menata mandiri motornya, nyatanya memang sarana lahan parkir di pondok pusat itu terbatas.

Pengurus keamanan sudah sangat capek dengan masalah masalah motor yang dikunci stang, postep (pijakan kaki belakang) yang tidak ditekuk. Belum lagi jika motornya adalah PCX yang bobotnya melebihi berat badan pengurus kemanan.

Baca Juga:

Mari kembali ke hal yang mendasar. Santri itu mengaji, mahasiswa itu kuliah, sedangkan pengurus itu mengabdi. Tidak semua yang memiliki motor di pondok adalah mahasiswa. Itu hanya mayoritas. Tapi coba berpikirlah seperti seorang santri takhasus.

Barangkali sudah sangat wajar jika ada yang nyeletuk “pengurus paling ngenes iku santri takhasus seng dadi keamanan pusat, ora duwe motor tapi ngabdine natakne motore uwong seng padahal mondoke mung dadi sambinan”.

Penulis: Hafidz Hidayatulloh (Menulis Perkara Ringan, Anti yang ‘Dakik-Dakik’) Santri Komplek Ribatul Qur’an Wal Qiro’at

Editor: Redaksi Almunawwir

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel