Kenalkan Lingkungan Pesantren, Komplek R2 adakan Orientasi Santri Baru (OSABA)

 

Tahun ajaran baru telah dimulai. Setelah proses penerimaan santri baru, komplek R2 Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak melakukan kegiatan sejenis ospek yang disebut dengan OSABA (Orientasi Santri Baru).

OSABA adalah masa orientasi bagi para santri baru yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini, OSABA Komplek R2 diselenggarakan pada tanggal 27-28 Juli 2019 yang bertempat di aula G PP Almunawwir Krapyak.

Serangkaian acara OSABA yang telah disusun oleh panitia terlaksana dengan baik. Dimulai dengan beberapa sambutan dari ketua panitia, lurah komplek kemudian pengasuh komplek R2 Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah ZA, M.SI.

Dalam sambutannya, Ibu Nyai Ida berpesan bahwasannya “santri yang mondok itu ya berjihad. Jihad adalah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Man jadda wa jada. Ora keno ora”. Begitulah dawuh bu Nyai untuk menguatkan tekad para santri dalam menimba ilmu di pesantren.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan beberapa materi seperti ke Almunawwiran, ke-Aswajaan, dan ke-Kopontrenan yang diisi langsung oleh ahlain-ahlain Krapyak dan ustazah komplek R2.

Pada hari kedua, Ahad, 28 Juli 2019, acara dilanjutkan dengan pelaksanaan beberapa lomba seperti MSQ (Musabaqoh Syarhil Quran), MQK (Musabaqoh Qiroatul Kutub), Drama Hikmah dan beberapa lomba lainnya.

Perlombaan ini ditujukan unuk mencari bakat-bakat yang dimiliki oleh para santri baru. Acara tersebut berjalan lancar, meskipun notabene mereka adalah santriwati baru, para juri dan panitia berhasil dibuat takjub dengan bakat yang dimiliki oleh beberapa peserta Osaba.

Sebagai acara penutup, semua peserta dan panitia berkumpul di aula G untuk mengikuti penutupan OSABA 2019.  Dalam acara penutupan, panitia menayangkan video “pengurus komplek” hasil karya peserta OSABA.

Selepas itu, dilanjutkan dengan pengumuman juara perlombaan serta pembagian hadiah kepada para pemenang lomba. Acara tersebut diakhiri dengan Halal Bi Halal antara panitia dan peserta OSABA 2019. Harapannya, semoga OSABA tahun berikutnya bisa lebih baik lagi. (Balqis)

Kunjungi Almunawwir, Mahasiswa UNISSULA Belajar Kurikulum Tahfiz Pesantren Krapyak

KRAPYAK – Pondok Pesantren Almunawwir kembali menjadi destinasi dalam rihlah kepesantrenan Alquran. Tamu yang berkunjung berasal dari berbagai kalangan, baik instansi negara, pesantren, perguruan tinggi peneliti hingga artis.

Ketertarikan terhadap Pesantren Almunawwir rata-rata berdasar pada pengalaman mencari Pesantren Qur’an dari aspek sejarah, kurikullum ataupun metode menghafal. “Pondok Pesantren Almunawwir menjadi salah satu rujukan Pondok Qur’an di Jawa, bahkan Nusantara,” ungkap Ustaz Abdul Wachid Luthfi selaku Wakil Lurah Almunawwir.

Faktor ini membuat kami terus berbenah. Membenahi beberapa informasi pesantren telah diperbarui di jejaring media sosial Almunawwir. Hal ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk mengakses dan mengamati kegiatan yang terselenggara di pesantren Almunawwir.

“Sebab itu dalam beberapa bulan ke depan, tamu yang hendak mengunjungi Almunawwir—telah mengirimi surat pemberitahuan—sementara ini masi kami tampung,” imbuh Ustaz Wachid.

Seperti di bulan Juli ini, sejumlah tamu berdatangan mulai dari seorang Peneliti Jepang yang tertarik dengan pengalaman hidup santri di pesantren,  keluarga besar Pondok Pesantren Sunni Darussalam, dan Qur’an Learning Centre (QLC) Lembaga Kajian dan Penerapan Nilai-Nilai Islam (LKPI) Universitas Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.

Perihal kurikulum Pesantren Almunawwir juga disampaikan oleh Ustaz Abdul Jalil Muhammad, sejarah awal diberi nama Almunawwir, yang dulunya Pesantren Krapyak. Tata krama di Krapyak dan nuansa lingkungan krapyak yang nyaman untuk dibuat menghafal santri yang sebelumnya mengambil paket non-tahfidh , “Nuansa lingkungan Krapyak memancing para santri untuk menghafal Alquran,” tutur Ustaz yang sudah mengabdi di Pesantren Almunawwir sejak 2003 silam itu.

Ustaz Jalil juga mengatakan sembari mengutip ungkapan KH. R. Najib Abdul Qodir bahwa bagi para penghafal Alquran yang kebetulan juga mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, maka niatnya harus dimantepkan, ingat tujuan dari rumah dan diniati menghafal sambil kuliah.

Kunjungan lalu diakhiri dengan doa dan sesi foto bersama para ustaz, pengurus pondok dan 45 mahasiswa beserta dosen UNISSULA. (af)

Cara Niat Ibadah Haji

Photo: aljazeera.com
Niat menduduki posisi penting dalam setiap ibadah, baik shalat, puasa, maupun haji. Niat menjadi pembeda antara satu ibadah dan ibadah lain. Shalat zuhur misalnya, dari sisi pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan shalat ashar, yaitu empat raka’at dan bacaannya juga sama. Selain waktu pelaksanaan, shalat dzuhur dan ashar dibedakan berdasarkan niat.

Sebab itu, calon jamaah haji penting mengetahui niat haji sebagai rukun pertama dalam ibadah haji. Niat haji sering diistilahkan dengan ihram. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab mengatakan,

فالإحرام هو النية بالقلب وهي قصد الدخول في الحج أو العمرة

Artinya, “Ihram ialah niat dalam hati, yaitu niat untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah.”

Menurut Imam An-Nawawi, niat haji harus dimantapkan di dalam hati, dilafalkan, dan diiringi dengan lafal talbiyah. Ia menjelaskan,

ينبغي لمريد الاحرام أن ينويه بقلبه ويتلفظ بذلك بلسانه فَيَقُولُ بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْت بِهِ لِلَّهِ تَعَالَى لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ إلى آخر التلبية فهذا أكمل ما ينبغي له

Artinya, “Orang yang ingin ihram harus berniat dalam hati, melafalkan niat, dan bertalbiyah. Hendaklah ia mengatakan dalam hatinya sembari dilafalkan, ‘nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi ta’ala, labbaik allahumma labbaik, aku niat haji dan berihram karena Allah SWT, aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah’, hingga akhir lafal talbiyah. Ini termasuk niat yang paling sempurna.”

Perlu diingat bahwa niat mesti dimantapkan dalam hati terlebih dahulu sembari dilafalkan. Niat tidak sempurna bila hanya dilafalkan tanpa dibatinkan dalam hati. Menurut Imam An-Nawawi, orang yang hanya melafalkan niat haji tanpa mengucapkan dalam hati, ihramnya tidak sah.

Sebaliknya, orang yang tidak melafalkan niat, tetapi mengucapkannya dalam hati, ihramnya tetap sah, karena pada hakikatnya niat itu dalam hati.

Adapun pelafalan niat untuk memantapkan apa yang sudah tertanam di dalam hati. Sebab itu, melafalkan niat dalam ibadah disunahkan. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sumber:https://www.nu.or.id/post/read/80386/cara-niat-ibadah-haji

Lamanya Antri Berhaji, Apakah Umroh Lebih Utama?


Di masa sekarang, orang pergi ke Baitullah bisa dengan berbagai cara. Umroh menjadi alternatif yang cukup diminati banyak orang. Selain antrian yang tidak selama antrian haji, biaya yang lebih sedikit dan waktu yang cukup singkat, umroh dipilih sebagian orang untuk segera pergi ke Baitullah. Lantas apakah umroh menjadi lebih utama? Apa perbedaan umroh dan haji?

Haji adalah rukun islam yang kelima, berkaitan dengan kesempurnaan muslim. Sedangkan umroh, digemari lebih kepada pahalanya. Orang yang sudah umroh, pahala umroh berikutnya dapat menghapus dosa-dosa sebelumnya. Orang pergi umroh, pertama dikarenakan ada banyak tempat-tempat mustajab untuk berdoa. Kedua, ingin berziarah ke makan Nabi.

“Haji lebih utama sebab haji merupakan bagian dari rukun islam. Umroh hanya alternatif lain untuk datang ke rumah Allah”, ujar Ustaz Tajul.

Banyak ikhtiar-ikhtiar “pintar” yang dilakukan orang-orang untuk berhaji. Misalnya, orang-orang memilih umroh di musim terakhir. Lalu mereka menghilang dari rombongan. Kalau sudah seperti itu, pihak yang dirugikan adalah travel agen. Mereka kena suspend dari Kerajaan dan membayar beberapa Real atau dolar. Contoh lain, ketika sedang studi di luar negeri lalu orang itu berangkat haji dari Negara itu, bukan dari Indonesia.

Berangkat ke baitullah bukan perkara uang, tetapi pergi ke sana adalah jawaban ruhaniah ketika Nabi Ibrahim memanggil. Ustaz Tajul menjelaskan bahwa setelah Nabi Ibrahim selesai membangun Ka’bah, Allah memerintahkan untuk memanggil seluruh umat manusia untuk mendatanginya, tetapi, kata Ibrahim suaranya tidak akan sampai. Maka Allah yang akan menyampaikan.

“Di situlah, ada ruh-ruh kita yang bahkan belum dapat jasadnya akan menjawab. Siapa yang menjawab saat itu maka mereka akan berangkat”, jelas Ustaz Tajul.

Umroh pun bukan perkara uang. Bisa saja tiba-tiba dipilih untuk berangkat. Bukan masalah rencana. Tapi paling tidak ditanamkan dalam hati manusia minimal memiliki niat untuk berangkat haji.

Umroh semakin marak dan bahkan sebagai tren, ia tidak dapat diingkari. “Tidak perlu kita suudzon, bisa jadi niatnya memang beribadah walaupun kenyataannya lebih banyak belanjanya daripada beribadah”, kata Ustaz Tajul.

Dalam menyikapi fenomena tersebut, seharusnya hal itu dikembalikan lagi ke diri masing-masing bahwa hal tersebut merupakan urusan pribadi dengan Allah. Apapun jalan dan caranya, orang itu sudah sampai ke Baitullah. Tiap-tiap orang memiliki konsekuensi dari perilakunya.

“Barang kali saat di sana, mereka yang mengikuti tren tersebut memiliki niat yang lebih baik daripada orang yang dari awal memang berniat untuk beribadah,” terang beliau.

Berangkat haji memang perlu biaya yang tidak sedikit. Tapi, dengan haji regular bisa dicicil. Sambil menunggu antrian, bisa kita berangkat umroh dahulu. membahas haji berbeda dengan membahas umroh. “Sudah bab yang lain, ketentuan yang lain. Pahalanya juga lain, biayanya juga. Orang yang haji atas daya tariknya sendiri itu sudah luar biasa”, imbuh Ustaz yang mengasuh Majelis Al Intifa tersebut.

Sebagai santri, yang dapat kita lakukan adalah menabung. Paling tidak, menabung niat terlebih dahulu. Wasilah untuk berangkat itu bermacam-macam dan seringkali tidak terduga. Yang perlu kita lakukan adalah tetap ikhtiar dan berdoa supaya bisa sampai ke Baitullah. Amin.

Sumber: http://almunawwirkomplekq.com/lamanya-antri-berhaji-apakah-umroh-lebih-utama/

Kisah Pengamal Shalawat yang Dimudahkan Naik Haji

Pict: aljazeera.com
Ada keinginan yang sangat kuat untuk menunaikan ibadah haji pada pasangan Yazid, salah seorang warga Todipan, Solo, Jawa Tengah. Untuk meraih mimpinya ini, Yazid berusaha menjual tanah yang ia miliki sebagai sarana untuk membayar ongkos naik haji (ONH).

Berbagai macam usaha telah ia tempuh, namun belum kunjung berhasil. Tanah yang ia tawarkan kesana kemari belum kunjung laku. Sehingga timbul inisiatif, ia berniat ingin menawarkan tanahnya kepada KH Abdul Muid Ahmad, Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo.

Sebetulnya, tanah yang ditawarkan Yazid tidak begitu mahal. Ia hanya butuh uang 70 juta. Sejumlah uang yang sekira cukup untuk membayar ONH dirinya sendiri bersama istri tercinta.

Meski hanya ditawarkan di angka 70 juta, karena Kiai Muid waktu itu sedang banyak kebutuhan, termasuk di antaranya juga ingin membayarkan biaya haji anaknya sendiri, Kiai Muid tidak bisa mengabulkan penawaran Yazid.

Karena keinginan Yazid yang tampak kuat untuk menunaikan ibadah haji, Kiai Muid kemudian memberikan amalan supaya Yazid dan istri mengamalkan bacaan shalawat yang telah diterima sanadnya dari KH Ahmad Baedlowie Syamsuri, Brabo, Grobogan, dengan syarat shalawat ini dibaca satu kali setiap habis shalat Isya’ dan dibaca 40 kali setiap malam Jum’at.

Shalawat itu sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَزِيَارَةَ حَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلاَمِ، فِي صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

Sepulang Yazid dari Kiai Muid, ia lalu ditanya oleh sang Ibunda, “Dari mana tadi, Zid?”

“Ini Bu, dari sowan Mbah Muid, mau jual tanah tapi beliau nggak bisa bantu. Aku dikasih amalan shalawat haji,” begitu kira-kira sahut Yazid.

“Oh…. , lha apa coba aku ikut mengamalkan, barangkali bisa ikut membantu kamu?”

Yazid kemudia turut memberikan. Hingga, ijazah shalawat tersebut diamalkan oleh Yazid, istrinya beserta Sang Ibunda. Justru ibunya yang tidak langsung mendapat ijazah dari Kiai Muid langsung ini, malah yang paling rajin mengamalkan dari pada Yazid sendiri yang tak begitu rajin.

Tidak sampai jeda waktu yang lama, setelah mereka mengamalkan shalawat, Yazid ditakdirkan Allah bertemu dengan kakaknya yang berprofesi sebagai makelar tanah atau bisnis properti.

Ia meminta tolong kakaknya ini untuk dijualkan tanah dengan sebuah ikat janji bahwa yang dibutuhkan Yazid hanya uang 70 juta saja. Selebihnya ia tak mau tahu, silakan kalau mau ambil untung. Untung berapa pun di atas 70 juta, ia serahkan menjadi hak milik sang adik.

Tanah, yang semula ia tawarkan ke berbagai macam orang dengan patokan harga 70 juta tidak kunjung terjual itu sekarang berubah justru laku pada kisaran angka 100 juta melalui tangan kakaknya.

Sesuai dengan janji yang telah ia sampaikan, Yazid tidak berkenan menerima kelebihan dari harga yang ia butuhkan. Bagaimanapun pula, ia sudah mengikat janji. Begitu pula kakaknya, sebagai saudara, ia ikhlas tak menginginkan balasan apapun dalam hal ini. Ia hanya ingin membantu kelancaran cita-cita sang adik yaitu menunaikan rukun Islam ke-5 berupa ibadah haji.

Akhirnya uang sisa dari 70 juta yang ditolak masing-masing kedua belah pihak, oleh sang kakak mengusulkan bagaimana kalau kelebihan uang 30 juta ini dibuat membiayai sang ibunda menunaikan ibadah haji sekalian. Sehingga akhirnya mereka telah mencapai kata sepakat.

Jadi, karena keberkahan shalawat itu setelah dibaca oleh orang tiga, ketiga orang itu pula dipanggil oleh Allah Ta’ala untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Semoga mereka mabrur, kita mendapatkan barakahnya, amin. Wallahu a’lam. (Ahmad Mundzir)

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/80851/kisah-pengamal-shalawat-yang-dimudahkan-naik-haji

Dukung Silatnas Bu Nyai Nusantara I, Pondok Krapyak Adakan Sosialisasi Silatnas

Photo: @Pondok_Krapyak

Krapyak – Hari Jumat lalu (5/07/2019) diadakan Sosialisasi Silaturahmi Nasional (Silatnas) Bu Nyai Nusantara 2019 di Yayasan Ali Maksum Yogyakarta. Di antara beberapa penyelenggara yang hadir antara lain Ibu Ny. Hj. Maslachatul Ammah dari Pondok Tambak Beras Jombang, Ibu Ny. Hj. Maria Ulfa dari Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem, serta Ibu Ny. Hj. Nur Azizah dari Pondok Jampes Kediri.

Acara sosialisasi ini dimaksudkan sebagai ajang silaturahim penyelenggara sekaligus memperkenalkan acara tersebut ke pondok-pondok pesantren.

Nyai Hj. Maya Fitria, dalam sambutan singkatnya mewakili pengasuh Pondok Krapyak menyampaikan,“Pondok Krapyak menyambut baik Silatnas Bu Nyai ini. Sosialisasi di Krapyak ini, diantaranya agar acara silatnas yang akan berlangsung seminggu lagi (13-14 Juli 2019) dapat tersosialisasikan dengan baik. Karenanya, kami dengan sengaja mengundang santriwan-santriwati yang mengelola akun medsos, seperti krapyak.org, almunawwir.com, ala santri, jejaring AIS Nusantara maupun medsos-medsos di semua asrama pondok Krapyak”.

“Acara ini diadakan sebagai ajang silaturahmi sekaligus mengukuhkan jalinan ukhuwah islamiyah, wathoniyah dan mahabbah di kalangan dzuriyyah pesantren di Indonesia, terutama untuk para Ibu Nyai Nusantara,” ujar Ibu Ny. Hj. Maslachatul Ammah selaku Ketua Silatnas Ibu Nyai Nusantara 2019.

Beliau juga mengatakan, rencana awal acara ini akan diadakan di wilayah Jawa Timur saja sebagai program kerja RMI Jawa Timur, namun pada akhirnya diperluas hingga lingkup nasional berdasarkan gagasan dari para pengurus PWNU Jawa Timur, mengingat belum pernah ada acara serupa di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Acara ini juga diadakan sebagai bentuk keprihatinan sesepuh NU akan isu keagamaan dan kebangsaan di Indonesia. Para sesepuh terus berharap agar ajaran para Ibu Nyai dan pendahulu pesantren tetap berada di hati semua orang, terutama dzuriyyah yang berperan penting dalam perkembangan pendidikan Islam dan pergerakan perempuan di Indonesia.

Karena itu, selain menjadi wadah jalinan silaturahim antar Ibu Nyai dari berbagai pesantren, acara Silatnas Ibu Nyai Nusantara 2019 ini juga diisi dengan diskusi kebangsaan bertajuk “Bu Nyai & Reaktualisasi Islam Kebangsaan”, serta berbagai panel forum group discussion dengan topik-topik yang terkini seputar isu perempuan, agama, dan kebangsaan, yaitu, Respon pesantren terhadap fenomena Hijrah Style, Pemberdayaan Ekonomi Pesantren, Gerakan Ayo Ngaji & Santri Mengajar, dan Deradikalisasi dalam keluarga, serta deklarasi gerakan Ayo Ngaji Kitab.

Acara ini akan dilaksanakan di Hotel Fairfield by Marriott, Surabaya tanggal 13-14 Juli 2019. Untuk mendaftar, peserta dapat mengakses tautan bit.ly/silatnas-bunyainusantara atau mengontak narahubung melalui Whatsapp ke nomor 085815912010 (Ibu. Ny. Maslachatul Ammah) atau ke nomor 081296784788 (Ning Mas Ucik Fatimatuzzahra).

Sumber: https://krapyak.org/2019/07/06/dukung-penyelenggaraan-silatnas-bu-nyai-nusantara-pondok-krapyak-adakan-sosialisasi-silatnas/(dewirosfaliantitabligh)

Menyikapi Pemilu sebagai Sarana Konsolidasi Bangsa

Photo: bangkitmedia.com

Jamaah Jum’at Rohimakumullah
Mari kita haturkan ungkapan syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah Ta’ala yang telah memberi nikmat dan anugerah yang tak terhingga banyaknya. Mari ungkapan itu kita upayakan melalui penguatan takwa kita, dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah
Pemilu telah usai, dan (MK) Mahkamah Konstitusi juga telah memutuskan. Adalah tidak tepat apabila kemudian kita masih bekengkengan, menolak dan tidak menerima ketetapan Allah, qadar Allah Ta’ala. Menerima apapun hasil pemilu adalah niscaya. Meskipun barangkali tidak memuaskan dan kita melihat ada banyak kekurangan.

Sebagai pertitahan bisa kita lihat: pertama, iman kepada Allah (Qadar Allah Ta’ala) berarti menerima kenyataan sebagaimana adanya. Iman inilah yang menjadi dasar kita bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Dan sebaliknya, bersabar atas ketentuan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Iman pula yang kemudian mengharuskan kita optimis menyongsong hari baru sekaligus melarang kita pesimis menghadapinya.

Kedua, berdemokrasi menghendaki kita menghormati pilihan sesama warga bangsa yang kebetulan memberikan dukungan lebih kepada yang lain, yang berbeda dengan pilihan kita. Pilihan itu merupakan simbol kehendak rakyat, daulat rakyat, people power, yang secara sah dan konstitusional telah kita sepakati sejak awal kita sebagai bangsa, sejak awal pemilu, dari mulai pendaftaran, kampanye, pencoblosan, hingga penyelesaian sengketa.

Maka tidak fair apabila kita mau mengikuti prosedur di awal, tetapi menolak hasil akhirnya. Bahwa di sana sini ada kekurangan, maka ke depan harus kita perbaiki dan bersama-sama kita sempurnakan.

Ketiga, mari kita sekali lagi melihat pemilu sebagai sarana, bukan tujuan. Dan tujuan kita yang utama adalah membangun bangsa. Dan hal ini tidak mungkin dicapai tanpa melalui persatuan Indonesia. Jadi pemilu sekali lagi adalah sarana konsolidasi bangsa yang dari sini kita berharap ada upaya perbaikan nasib dan kondisi bangsa.

Persatuan bukan berarti menjadikan sama sesuatu yang berbeda-beda. Persatuan berarti mengumpulkan yang berbeda-beda, baik asalnya, warnanya, jenisnya, bentuknya, kurangnya, menjadi satu kesatuan yang sinergis dan harmonis. Jadi yang utama adalah kebersamaan atau keinginan untuk hidup berdampingan bersama-sama.

Maka kalau hanya bersatu tapi tidak bersama-sama, sesungguhnya tidak ada benar. Orang Arab bilang musyarokah atau dalam istilah yang di Jawa-kan ‘masyarakat’. Intinya adalah kemauan untuk bergotong-royong. Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengumpamakan persatuan bangsa laksana satu tubuh yang semuanya berdampingan dan saling bekerjasama. Ada mata, ada telinga, ada tangan dan sebagainya. Sebagaimana kita semua sebagai sebuah bangsa. Harus bisa bersatu dan saling bergotong-royong berusaha dan bergerak bersama-sama untuk meraih cita-cita.

Jamaah Jum’at rohimakumullah
Demikian khutbah ini disampaikan. Semoga dapat dipahami dengan baik dan semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah dalam upaya kita melaksanakan semua aturan agama ini dengan sebaik-baiknya.

Amiin ya Rabbal ‘Alamin

*Tulisan ini disadur dari rekaman Khotbah yang dibacakan oleh Dr.KH.Hilmy Muhammad,MA. Jum’at 5 Juli 2019. (Naya/NSpi)

Pasca Wisuda, Tidak Ada Kata Boyong untuk Santri

Doc @almunawwir_com

Sudah selayaknya seorang santri mengetahui adab-adab mencari ilmu. Kitab Ta’limul Muta’allim menjelaskan beberapa prinsip menjadi seorang santri. Salah satunya adalah membenarkan niat mencari ilmu.

Kepergian kita dari tanah kelahiran ke pesantren perlu dievaluasi kembali apakah sudah benar-benar lillahi ta’ala atau masih sebatas pelarian dari tanggung jawab di rumah, atau mondok hanya dijadikan sebagai sampingan karena butuh tempat tinggal untuk bersekolah di universitas.

Niat menentukan kuatnya jiwa santri dalam menghadapi segala ujian dalam belajar. Kesederhanaan yang melekat pada identitas seorang santri seyogyanya dapat dijadikan sebagai sarana tirakat untuk kehidupan yang bahagia baik di dunia setelah nantinya kembali ke daerah masing-masing bahkan sampai ke akhirat kelak.

Hal ini dapat dicontoh dari gaya hidup para kiai dan ulama terdahulu, termasuk para ulama di Krapyak. Beliau-beliau yang memiliki segudang ilmu hidup dalam tawadlu’, tidak sombong akan keislamannya.
Mencontoh para ulama menjadi salah satu wujud santri dalam menjaga ilmu yang diperoleh para guru. Merekalah generasi yang diharapkan dapat menjadi penerus para ulama, santri mulazamah, yaitu para santri yang mengajinya bukan hanya empat tahun lima tahun kemudian boyong. Santri mulazamah adalah santri dengan identitas santri yang sesungguhnya. Santri yang mengaji terus menerus meskipun sudah kembali ke tanah kelahiran.

Kembali ke tanah kelahiran bukan berarti boyong, karena boyong berarti sudah tidak memiliki ikatan dengan para guru. Tidak ada istilah boyong untuk santri. Setelah kembali ke rumah dan mengabdikan diri kepada masyarakat santri tetap terus memiliki ikatan ruh dengan gurunya yaitu dengan selalu mendoakan para guru dan melakukan silaturahmi kepada gurunya.

Selain untuk mempererat tali silaturahmi, sowan kepada guru upaya santri agar ilmu yang telah didapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat. Karena salah satu yang menjadi ciri ilmu bermanfaat adalah adanya hubungan baik yang langgeng antara murid dengan guru. (Isnarr)

*diambil dari pangandikan Ustadz Faiq Muhammad, M.Hum. dalam mau’idzah khasanah yang disampaikan pada acara Wisuda Madrasah Salafiyah V 1439/1440 H.

Wisuda dan Penerimaan Rapor Madrasah Salafiyah V : Wujud Apresiasi kepada Santri

Doc @almunawwir_com

KRAPYAK – 17 santriwati Madrasah Salafiyah V PP. Al-Munawwir diwisuda pada Jum’at, 5 Juli 2019, semalam. Kegiatan yang menjadi program tahunan pengurus Madrasah Salafiyah V ini sebagai wujud apresiasi atas ilmu yang telah didapatkan dari asatidz dan para kiai.

Adanya pembagian rapor juga menjadi media evaluasi santri dalam belajar agar mereka dapat menentukan target sehingga setiap tahunnya mengalami progres yang semakin baik.

Ustadz Abdul Jalil, M.Si. mewakili Dr. Phil. Sahiron Syamsudin, M.A. yang berhalangan hadir dalam sambutannya selaku Penasehat Madrasah Salafiyah V menyampaikan bahwa santri yang sudah diwisuda memiliki tanggung jawab lanjutan yaitu berkhidmah kepada para guru. Salah satunya adalah dengan menjadi tim pengajar di Madrasah Salafiyah V sebagai penyambung ilmu dari pada guru kepada para santri lainnya.

Pengasuh Madrasah Salafiyah V, Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah Zainal, M.Si. menambahkan bahwa santri pasca wisuda akan lebih baik jika dibekali dengan ilmu komunikasi sebelum kembali ke daerah masing-masing.

Hal ini bertujuan agar para santri bukan hanya dapat menyerap ilmu selama di pesantren tapi juga dapat menyampaikan dan menyebarkan ilmunya di masyarakat.
Di hadapan para dewan asatidz-astadzah, para undangan serta santri Madrasah Salafiyah V, Lia Luthfiana Thifani maju ke panggung menerima plakat penghargaan wisudawati terbaik tahun ini. Tidak hanya wisudawati terbaik, santri terbaik setiap kelas juga diapresiasi.

Penghargaan santri terbaik kelas 3 diraih oleh Farihah Naili Faizah. Sedangkan Jihan Inayah keluar sebagai peraih gelar santri terbaik kelas 2. Selain itu Hananing Rizki dan Siti Aisyah meraih penghargaan santri terbaik kelas 1 dan kelas I’dad. Semoga dengan adanya apresiasi ini dapat meningkatkan semangat belajar dan fastabiqul khoirot para santri. (Isnarr)