Menurut kalian, hujan itu kebahagiaan atau kegelisahan sih?
Bagi sebagian orang yang sedang dalam perjalanan atau mereka yang tinggal di dekat sungai menganggap hujan sebagai bentuk kegelisahan. Tapi bagi sebagian lagi menganggap hujan adalah bentuk ketenangan, karena bisa menikmati setiap tetes air yang jatuh di kaca jendela dan melamun mengingat kenangan dengan ditemani segelas minuman hangat. Namun kalau kita memperhatikan lebih dalam, ternyata hujan adalah bagian dari rasa cinta yang Allah kirimkan untuk kita. Setiap tetes hujan yang turun mengajarkan kita untuk senantiasa menjadi sesuatu yang berguna baik bagi sesama manusia, kepada tumbuhan yang membutuhkan siraman, atau mungkin kepada anak – anak yang main hujan dengan kegirangan. Selain itu, hujan juga termasuk dari waktu mustajab untuk berdoa, tidak ada penghalang antara doa yang kita panjatkan dan pintu langit yang terbuka lebar.
Rasulullah juga mengajarkan kita untuk menyambut hujan dengan suka cita, bukan dengan keluhan, yaitu dengan membaca doa saat hujan “Allahumma shoyyiban nafi’an” (اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعَا) yang berarti “Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat” dengan harapan agar setiap tetes hujan yang turun memberikan manfaat untuk keberlangsungan hidup. Hujan juga menjadi pengingat kita tentang hari kebangkitan yang diumpamakan oleh tumbuhan yang kering lalu tumbuh subur setelah tersiram hujan. Jika Allah mampu menghidupkan tanah yang mati, maka dengan mudah Allah mampu menghidupkan kembali makhluk-Nya setelah kematian. Kita diajarkan untuk memohon agar diberi hujan yang bermanfaat karena tidak semua hujan memberikan keamanan, mungkin juga hujan ekstrim yang mengakibatkan hujan badai dan banjir. Bisa juga polusi yang berlebihan dapat menyebabkan hujan menjadi korosif (ph rendah) yang merusak bangunan dan tanaman, fenomena ini biasa disebut hujan asam. Di balik rintik hujan, ada skenario fisika sangat presisi yang dipelajari dalam sains, sekaligus ada pesan-pesan “cinta” dari Sang Maha Pencipta yang tertulis rapi dalam Al-Qur’an.
Menariknya, apa yang ditemukan ilmuwan tentang proses terjadinya hujan mengikuti siklus hidrologi, yaitu dimulai dari evaporasi (penguapan air laut/sungai karena panas matahari menjadi uap air), diikuti kondensasi (uap air naik, mendingin, dan membentuk awan dari partikel kecil), lalu presipitasi (awan jenuh jatuh sebagai hujan saat butiran air/es menjadi berat), dan diakhiri infiltrasi (air meresap ke tanah) atau kembali ke sumber air, terus berulang. Hal itu sudah dituliskan dalam wahyu Allah sejak belasan abad yang lalu, yakni dalam surah Ar-Rum ayat 48 yang berbunyi:
اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ ٤٨
“Allahlah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakkan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira.”
Aroma tanah saat hujan yang menenangkan terbukti menurunkan stres dan merelaksasi otak manusia. Kondisi yang tenang saat hujan termasuk waktu yang ideal untuk berkomunika dengan Sang Pencipta. Pada akhirnya, dari fenomena hujan ini, kita dapat mengetahui bahwa sains juga termasuk dari ilmu agama yang sudah tertuliskan dalam Al-Qur’an. Sains sebagai penjelas dari pertanyaan “bagaimana” dan agama memberi jawaban atas “siapa” dan mengapa hal itu terjadi. Hujan bukanlah sekadar air yang turun dari langit, melainkan sebuah pesan yang ditulis dengan tinta rahmat agar manusia mau berpikir dan bersyukur.
Firda Aulia Ali
Firda Aulia Ali
Nama: Firda Aulia Ali. Asal: Ponorogo Jawa Timur. Santri dari Komplek Q yang sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
1
Artikel



