(Cara Mudah Menghafal: Sebuah Refleksi Perjalanan 9 Tahun)
Dan sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
(QS. Al-Qamar: 17)
Apapun triknya, kunci utamanya tetap satu. Konsisten. Dan untuk menjadi konsisten, tidak harus memiliki keahlian khusus. Maka? Semua orang bisa hafal Al-Qur’an.
Sembilan tahun perjalanan menghafal, penulis telah mencoba berbagai metode. Mulai dari metode menghafal dengan memahami arti ayat. Meskipun metode ini cukup efektif, penulis juga mengalami kendala karena keterbatasan kosakata bahasa Arab. Sehingga tetap kesulitan untuk menerapkannya. Lalu beralih ke metode yang katanya menghafal tanpa perlu dihafal “dibaca saja berulang-ulang, nanti juga hafal sendiri.” Memang benar, terbukti dapat menghasilkan hafalan. Namun prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga kurang efisien. Metode lain dengan menggunakan mushaf berwarna juga ada, dengan maksud membagi satu halaman menjadi lima blok warna berbeda. Sayangnya, penggunaan terlalu banyak warna dan aksen justru membuat penulis kesulitan menentukan fokus dalam proses menghafal, karena halaman mushaf terlihat terlalu ramai.
Pada akhirnya, di tahun kedua penulis menemukan satu metode yang dirasa paling sesuai dan masih digunakan hingga saat ini. Yaitu membagi setiap halaman menjadi 3 cluster dan menghafalkannya dari belakang.

Apa maksud membagi halaman menjadi tiga cluster?
Dalam mushaf pojok yang umum digunakan oleh para huffaz, biasanya satu juz terdiri dari 20 halaman dan setiap halaman berisi 15 baris. Pembagian halaman menjadi tiga bagian ini bersifat fleksibel, tidak harus kaku lima baris per bagian. Akan tetapi, pada baris ke-5 dan ke-10 atau yang mendekati memang biasanya terdapat akhir ayat, sehingga penanda tersebut bisa dijadikan sebagai batas cluster hafalan.
Cara ini memudahkan karena otak kita tidak langsung “terbebani” untuk menghafal satu halaman penuh dalam sekali waktu. Jika lima baris per bagian terasa terlalu ringan, halaman juga bisa dibagi hanya menjadi dua bagian saja, sesuai kemampuan masing-masing.
Lalu, bagaimana dengan menghafal dari belakang?
Istilah “dari belakang” di sini bukan berarti memulai hafalan dari Juz 30, 29, 28, dan seterusnya mundur hingga ke Juz 1, Yang dimaksud adalah menghafal satu halaman mushaf dimulai dari baris ayat paling bawah, kemudian perlahan naik ke atas.
Mengapa cara ini terasa lebih mudah?
Bayangkan begini: saat kita menghafal ayat pertama, kemudian lanjut ke ayat kedua, ayat kedua yang baru saja dihafalkan biasanya masih lemah dan rentan lupa. Ketika mencoba menyambungkan dengan ayat pertama, sering kali muncul jeda atau distraksi karena kita harus mengingat kembali ayat sebelumnya. Dalam jeda itulah, ayat yang masih rapuh bisa lebih mudah hilang.
Karena itu, penulis mencoba membalik urutannya dengan memulai hafalan dari ayat terakhir. Dengan cara ini, hafalan yang masih lemah justru akan langsung diletakkan di awal saat proses penggabungan. Artinya, bagian tersebut akan lebih sering diulang dan menjadi lebih kuat sejak awal. Tidak terganggu oleh jeda, tidak terdistraksi oleh ingatan ayat sebelumnya.
Inilah yang kemudian menjadi pola bagi penulis dalam menghafal setiap cluster. Dari tiga bagian dalam satu halaman, penulis memulai dari bagian ketiga (paling bawah), lalu naik ke bagian kedua (tengah), dan terakhir bagian pertama (atas). Setelah ketiganya dikuasai, baru digabungkan menjadi satu halaman penuh.
Baca Juga:
- Tersesat di Tanah Rantau: Gengsi, Kesenjangan, dan Realita Mahasiswa
- World Blood Donor Day 2025 : “Give blood, give hope: together we save lives”
Diterapkan juga saat nyeperapat dan nyetengah
Demikian juga, metode ini penulis terapkan ketika menghafal satu perempat atau setengah juz. Misalnya saat nyeperapat, penulis akan mulai dari halaman kelima terlebih dahulu, lalu mundur ke halaman keempat, ketiga, dan seterusnya.
Kenapa begitu?
Karena ketika hafalan satu halaman baru saja disempurnakan, kita bisa langsung menyambungnya ke halaman sebelumnya yang sedang dalam proses hafalan, tanpa perlu mengulang halaman yang sudah kuat.
Contohnya begini: setelah menyempurnakan hafalan halaman kelima, penulis melanjutkan ke halaman keempat dan menyambungkannya dengan halaman kelima. Setelah itu, beralih ke halaman ketiga dan kembali disambungkan ke halaman setelahnya, dan begitu seterusnya secara bertahap hingga membentuk satu seperempat juz yang utuh.
Prinsip utamanya tetap sama: Hafalan yang masih lemah diletakkan di bagian awal saat digabungkan, agar lebih sering diulang dan mudah melekat.
Bukan yang terbaik, apalagi yang paling benar
Penulis tidak sedang ingin mengajari, apalagi menggurui. Hanya berbagi sedikit trik, siapa tahu bisa membuat konsistenmu terasa lebih ringan. Karena, bagi penulis sendiri, masa-masa paling sulit justru ada di awal. Mungkin tiga juz pertama akan terasa berat, tapi setelah itu, kamu akan mulai akrab dengan Al-Qur’an.
Dan satu hal yang sering kita luput: kalau sudah hafal, jangan berhenti di murojaah yaa. Hafalan itu penting, iya. Tapi pemahaman adalah ruhnya. Pelan-pelan, mari kita mulai menyelami makna ayat demi ayat. Tak apa jika belum langsung paham semuanya. Yang penting, kita tidak berhenti berjalan. Karena menjadi Hamilul Qur’an bukan sekadar mampu mengulang-ulang ayat dengan lancar, tapi menjadikan Al-Qur’an hidup di dalam hati, membimbing cara berpikir, membentuk akhlak, dan hadir dalam setiap langkah hidup
Closing Statement: jangan percaya trik marketing hafal 30 juz dalam sebulan, ya. Hehe. Itu bukan hamilul Qur’an, cuma pernah hafal.
Toh, mau selesai dalam dua tahun, tiga tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun sekalipun, kita tetap akan terus mengabdi untuk menjaga Al-Qur’an sepanjang hidup, bukan? Karena memang, bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling konsisten.
Oleh: Malia Anisa Fitri



