Balada Ayam Bakar Wong Bantul

Balada Ayam Bakar Wong Bantul

Oleh: KH Hilmy Muhammad

[Kisah nyata ini diceritakan kepada saya langsung oleh salah seorang pelakunya. Nama-nama yang terlibat terpaksa disamarkan, karena mereka semua sekarang sudah menjadi kiai-kiai muda, yang juga pemangku pesantren]

Sudah merupakan kebiasaan KH. Mabarrun, ketika beliau memiliki jam mengajar di Pondok Krapyak, beliau akan menyempatkan sowan kepada guru beliau KH. Ali Maksum rahimahullah. Ketika sowan, KH. Mabarrun seringkali membawa bingkisan kepada gurunya itu.

Suatu pagi KH. Mabarrun sowan dan memberi seekor ayam kepada Kiai Ali Maksum. Selain dikenal sebagai kiai dan da’i masyhur di Bantul, KH. Mabarrun juga seorang peternak ayam.

baca juga : Dari Lasem ke Krapyak : Membaca Riwayat Transisi Mbah Ali Maksum

“Yo, Run, tak tompo. Wis kono pitike dideleh neng garasi”, begitu kata Mbah Ali sesudah menerima pemberian tersebut.

Nggih…”, jawab KH. Mabarrun.

*********

Singkat cerita, ayam tersebut diikat di tiang garasi. Saudi, sebut saja begitu, seorang santri ndalem, mengetahui jika KH. Mabarrun membawa ayam tersebut. Dia langsung kepikiran untuk berpesta “ayam bakar wong Bantul”.

Dia kemudian mengajak santri lain yang juga masih kerabat Kiai Ali, sebut saja Muiz. Keberadaan Muiz, selain sebagai perisai kalo nanti ketahuan Kiai, juga demi alasan logistik. Karena hanya dia yang menjamin ketersediaan kelengkapan bumbu masak, mengingat aksesnya yang dekat dengan Ibu Nyai.

Singkatnya, kedua santri ini kemudian rembugan bagaimana eksekusi itu dilakukan.

“Gus, niki saenipun njenengan ngajak Mamik”, kata Saudi kepada Muiz, menyebut putra KH. Mabarrun yang juga mondok di Krapyak.

“Tapi njenengan ampun sanjang nek ayam niku saking bapake…”

“Yo wis, manut aku”, jawab Muiz, sambil pergi ke kamarnya Mamik.

Ayam itu kemudian dimasak dan dinikmati oleh santri yang dikomandani oleh ketiganya.

Besoknya, Mbah Ali mencari ayam tersebut. Dan sesudah dicari ke sana ke mari gak ketemu, lewat pengeras suara kemudian Mbah Ali mengumumkan, “Sopo yo njupuk pitikku sing seko Barun? Hayo sopo?!

baca juga : Gus Kelik, Gus Dur, dan Ponidi

Mamik yang mendengar itu, langsung sadar dan bergegas konfirmasi ke Muiz dan Saudi.

“D******k! Dadi sampeyan ngajak aku iku….”, marah-marah sambil tangan kanannya siap melempar sandal. Muiz dan Saudi tentu lari tunggang-langgang.

Sorenya Mamik terpaksa pulang ke Bantul, mengambil ayam.

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel