Belum Manunggaling Marang Kawulane Gusti, Kok Sudah Berani Membahas Manunggaling Kawula Gusti?

Belum Manunggaling Marang Kawulane Gusti, Kok Sudah Berani Membahas Manunggaling Kawula Gusti?
Sumber Gambar: www.jagranjosh.com

Bisakah kita meraih tuhan tanpa berbakti pada alam? Bisakah kita manunggaling kawula gusti tanpa manunggaling marang kawulane gusti?

Bukan bermaksud menghakimi, saya hanya bertanya-tanya. Tepatnya kepada orang-orang yang langganan masjid, tapi tetangganya kelaparan; orang-orang yang fasih mengaji, tapi tidak menyayangi alam; orang-orang yang merasa surga bisa diraih sendirian tanpa berbakti pada kawulane gusti lainnya.

Sedang ketika melihat orang lain melakukan baktinya kepada alam, mereka berteriak: “Kafir!”, “Bid’ah!”, “Bukan golongan kami!” dan caci maki yang bersifat mengeksklusifkan diri lainnya. Mereka hanya mengetahui jalan vertikal menuju tuhan, tanpa mempertimbangkan kehorizontalannya sebagai hamba.

Maka daripada sibuk membahas tentang ke-manunggal-an manusia dengan tuhan yang sifatnya sangat pribadi, mari sedikit berkonsentrasi terhadap bagaimana cara kita me-manunggal-kan diri dengan makhluk tuhan yang lain. Sederhananya, bagaimana cara kita berbakti terhadap makhluk lain? Adapun fokus pembahasan saya di sini adalah terhadap tumbuhan.

Jika kita sebagai makhluk tuhan membandingkan diri dengan tumbuhan, besar kemungkinan kita malu. Di teks-teks agama kita pasti pernah mendengar bahwa sesungguhnya hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan selalu berzikir pada tuhan. Di sisi lain, fakta menunjukkan hampir di sepanjang hidupnya, tumbuhan selalu memberikan manfaat untuk makhluk lain. Vertikal dapat, horizontal juga dapat.

Tradisi leluhur terkait penyakralan tumbuhan, seperti memberi kemenyan di sekitarnya, memakaikan sarung di badan beberapa pohon, dan masih banyak lagi, sebenarnya memiliki manfaat yang cukup besar. Karena dengan begitu, kita secara nyata memperlakukan tumbuhan seperti makhluk hidup, bukan menganggapnya sebagai alat penghasil oksigen saja.

Di sisi lain, kelestarian, budidaya dan perkembangannya, menjadi lebih terjamin. Selama tidak berlebihan dan tidak ada unsur penyekutuan terhadap keesaan tuhan, maka boleh-boleh saja, yang menjadi masalah adalah ketika kita menelan mentah-mentah tradisi dari leluhur tanpa mengetahui maksud, latar belakang, serta tujuannya. Ibarat permen, jika kita menelannya langsung bersama bungkus-bungkusnya, maka akan berbahaya bagi tubuh. Sebaliknya, jika kita mengupasnya terlebih dahulu, dan menikmatinya perlahan-lahan, maka manisnya akan lebih terasa.

Baca juga: Ketika Gusdur Menulis KH Ali Maksum

Berbanding terbalik dengan masa kini, kesakralan terhadap alam secara besar-besaran dihapuskan. Akhirnya, lahan pohon yang awalnya berhektar-hektar hanya akan menjadi pabrik-pabrik milik oligarki. Akar-akar tumbuhan yang jelas-jelas bermanfaat terutama bagi manusia, secara tragis diganti dengan akar-akar investor, cukong, oligarki, yang sangat-sangat jelas mengantar kita pada kiamat.

Kita tidak akan pernah tahu apakah tumbuhan sekarang tengah menangis, tapi yang pasti, saya yakin, di tengah bobroknya zaman, mereka tetap teguh berzikir. Sedang manusia yang diberi kelebihan akal untuk berpikir, justru menjadi penyebab utama punahnya tumbuhan.

Siapkah kita ketika esok diadili atas kebijakan-kebijakan (yang tidak bijak) selama menjabat menjadi khalifah di muka bumi ini? Banyak sekali teks-teks agama yang berseru agar manusia menjaga bumi atau alam. Tuhan juga berkali-kali mengingatkan kepada kita agar menggunakan akal kita untuk berpikir. Maka mari kita menafsirkannya sedikit lebih luas. Saat kita menanam cabai, padi, menyemai bibit pohon, menyirami tanaman, dan kegiatan lain, adalah cara kita menyembah tuhan dengan berbakti pada alam.

Misi kita di atas muka bumi ini bersifat “bersama”. Di surga pun, wahai para pendamba surga, kita tidak sendirian. Maka selain kita beribadah menuju tuhan, mari diimbangi dengan berbakti pada makhluk lain. Sebaliknya, selain bermanfaat bagi makhluk lain, jangan sampai melupakan penghambaan kita terhadap tuhan. Kita harus menjadi antitesis terhadap pernyataan malaikat yang mengatakan bahwa manusia hanya bisa berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah, karena tuhan sudah berfirman: “Sungguh Aku lebih mengetahui terhadap apa-apa yang tidak kalian (malaikat) ketahui”.

Beragama jangan sampai menyendiri. Kita sedang menyembah tuhan atau nafsu?

Editor: AN Balqis

Penulis: Abdillah Danny Darmawan

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel