Histori & Filosofi Kopi, Hingga Eksis di Kalangan Santri dan Pesantren

Histori & Filosofi Kopi, Hingga Eksis di Kalangan Santri dan Pesantren
Sumber: https://twitter.com/kopisantri/status/959598360838651905?lang=eu

Kopi merupakan salah satu minuman favorit dari sederet minuman yang ada saat ini. Secangkir kopi dapat melarutkan kesedihan, kelesuhan, rasa lelah dan dapat menciptakan sebuah keceriaan. Sebagai pecinta kopi sejati, harusnya kita mengerti petualangan secangkir kopi yang kita nikmati saat ini.

Histori Kopi

Tanaman kopi pertama kali terletak di Ethiopia, secara lebih spesifik di daerah Abyssinia dataran Afrika pada abad ke-9 masehi. Penemuan kopi tidak diketahui secara pasti, tapi sejarah mencatat penemuan kopi tidak lepas dari kisah si Kaldi, seorang penggembala yang menemukan keanehan pada kambingnya setelah memakan sebuah tanaman.

Setelah diselidiki ternyata kambing itu makan sejenis buah Beri yang membuat ia lebih berenergi dan terjaga saat malam hari. Sejak saat itulah kopi dikenal dan dikembangkan sebagai minuman yang dapat mengusir rasa kantuk dan memberikan energi baru.

Kopi semakin populer di masa kekhalifahan Turki Utsmani dan mulai diperkenalkan di Konstantinopel. Di sana lahir kedai kopi pertama yang bernama Kiva Han pada tahun 1475 M. Pada masa itu, kopi menjadi bagian penting dalam kebudayaan dan lalu lintas kopi hanya diperdagangkan di tengah kota Pelabuhan bernama Mukha’ di Yaman. Saking pentingnya kota ini, orang-orang Eropa menyebut kopi dengan nama Mukha’.

Karena pasokan kopi tidak mencukupi permintaan pasar Eropa saat itu, membuat bangsa Eropa mulai membudidayakan tanaman kopi. Pada tahun 1616 M, Belanda menjadi salah satu negara yang berhasil membudidaya tamanan kopi di luar wilayah Arab. Dari sinilah petualangan kopi sampai di Indonesia.

Pada tahun 1690-an M, kopi mulai berlabuh di Indonesia yang di nahkodai oleh para pedagang dari Belanda. Sejak saat itu tanaman kopi mulai dibudidayakan dan dikembangakan secara besar-besaran. Sejarah kopi di Indonesia erat kaitannya dengan sistem tanam paksa yang dicetuskan oleh Belanda.

Tak heran, pada saat itu, Indonesia menjadi pemasok kopi terbesar di dunia. Budidaya dan pengembangan kopi terus berlanjut, kopi telah menjelajahi seluruh penjuru negeri dan menjadi minuman favorit semua kalangan.

Kopi dikenal sebagai minuman yang dapat meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan intuisi, petualangan kopi telah menjadi sebuah saksi perjalanan hidup bagi sebagian kalangan. Salah satunya adalah kalangan santri di pesantren. Hingga kini kopi masih eksis dan menjadi minuman favorit bagi kalangan santri.

Budaya ngopi telah melekat erat dalam diri seorang santri, hingga menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Sampai-sampai kopi masuk dalam empat nominasi penggerak utama pesantren yakni Kyai, Santri, Ngaji dan Ngopi.

Petualangan kopi sudah terlalu jauh dan masuk ke wilayah pesantren, hingga dijadikan bahan kajian. Sebagai majelis pengetahuan kopi telah menjadi bahasan para ulama. Seorang ulama Nusantara, Syekh Ihsan (Jampes) sampai mengarang sebuah kitab “Irsyadul lIkhwan libayani Syurbil Qahwah wa Dukhan” yang menjelaskan tentang petunjuk umum kopi dan rokok.

Dalam kitab tersebut disebutkan kopi adalah minuman para ulama karena dapat meningkatkan konsentrasi dan mempertajam intuisi. Selain itu diulas juga perdebatan fikih tentang menyeruput kopi. Kajian kopi yang luas juga memberikan makna (filosofi) dalam kehidupan.

Filosofi Secangkir Kopi

Banyak hal yang dapat kita petik dari secangkir kopi yang kita nikmati. Mulai dari proses awal pembuatan hingga rasa dan cara menikmati secangkir kopi.

Pertama, untuk mendapat secangkir kopi yang nikmat dibutuhkan proses yang panjang. Mulai dari pemilihan biji kopi terbaik, lalu dijemur kemudian digiling dan diseduh dengan air panas barulah tercipta secangkir kopi dengan wangi yang harum dan rasa yang nikmat. Sehingga orang yang meminumnya begitu menyukai dan jatuh cinta pada kenikmatan tersebut.

Secangkir kopi yang nikmat telah mengajarkan pada kita, jika ingin mewujudkan mimpi-mimpi yang indah harus kerahkan semua kemampuan, tenaga serta tekad yang kuat agar mimpi tersebut dapat terwujud dan menjadi kenyataan.

Kedua, perpaduan rasa pahit dan manisnya kopi akan membuat secangkir kopu semakin nikmat untuk disedap. Begitu juga dengan kehidupan, ada hal pahit yang terasa begitu getir dan rasa manis yang membuat hidup lebih berwarna dan indah.

Dalam hidup butuh sedikit rasa pahit agar kita tahu kalau hidup tak selalu indah, namun dibalik rasa pahit itu terselip hal baik yang terasa begitu manis. Jika disyukuri, perpaduan kedua rasa tersebut menjadi kombinasi terbaik yang membuat hidup lebih bermakna.

Ketiga, dalam menikmati secangkir kopi tak boleh terburu-buru, hirup aromanya dan teguk secara perlahan-lahan. Hal itu dapat memberikan rasa kopi mulai dari pahit hingga manisnya nikmat secangkir kopi. Begitu juga dalam menikmati sebuah kehidupan, nikmati setiap proses melalui alur yang benar.

Walaupun terkadang harus melalui rintangan yang berat, tapi menjalani dengan proses yang benar karena sejatinya menikmati setiap proses lebih penting daripada hanya menikmati hasil akhirnya.

Bagi seorang santri, sebagai pecinta kopi sejati harus belajar banyak hal dari secangkir kopi yang kita nikmati. Kehidupan santri di pesantren ibarat biji kopi yang sedang dijemur lalu kemudian digiling untuk menghasilkan bubuk kopi berkualitas.

Panasnya gemblengan kehidupan pesantren melahirkan mental yang kuat. Serta beratnya melawan rasa malas dalam belajar (ngaji) harus mampu diperangi oleh santri agar melahirkan  generasi yang berintelektual cerdas.

Tak hanya itu, kentalnya budaya ngopi di lingkungan pesantren menciptakan hubungan yang erat antara santri dan kopi. Dalam pergaulan santri, kedalam ilmu dan kebijaksanaan diri seorang santri sering digambarkan dengan secangkir kopi.

“Santri yang malas dan tidak produktif, dianggap kurang ngopi”.

“Santri yang emosional dan gampang dibohongi, pertanda ngopinya kurang pahit”.

“Santri yang kuper (kurang pergaulan) atau kudet (kurang update), berarti ngopinya kurang jauh”.

“Santri yang suka ngeyel dan menyalahkan orang lain, tandanya belum pernah menyeduh kopi”.

“Adapun santri yang lebih mementingkan diri sendiri, dianggap sukanya kopi gartisan”.

Para pembaca dan pecinta kopi sejati, melalui tulisan ini penulis bukan ingin ngajak ngopi tapi mengajak untuk memahami pelajaran dan filosofi dari secangkir kopi yang kita nikmati. Dalam menjalani hidup kita harus menikmati setiap proses, serta siap menghadapi manisnya harapan dan pahitnya kenyataan.

Oleh: Muhamad Fathul Romadoni (Santri Komplek Padang Jagad)

Editor: Irfan fauzi

Referensi: diolah dari berbagai sumber.

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel