Santri Milenial

Santri Milenial

Oleh : Muhammad Izzat Firdausi*

Pesantren merupakan wujud perlawanan Indonesia terhadap gempuran globalisasi, dan garda depan negara di era kolonialisme. Konsep pesantren merupakan modifikasi dari konsep pengajaran Hindu-Budha di nusantara pra kemerdekaan. Tidak ada sumber akurat yang menyatakan kapan pertama kali pola pendidikan macam pesantren dimulai. Namun fungsi pesantren sebagai basis dakwah dan pengkaderan sudah ada semanjak era Walisongo, yakni sekitar abad 15.

Pesantren Era Kolonial

Pada abad ke 18-19 era kolonialisme (penjajahan) Indonesia, Belanda rajin mengeluarkan peraturan yang membatasi ruang gerak pendidikan islam. Sampai-sampai Belanda membentuk suatu badan khusus bernama Priesterraden yang bertugas mengawasi kehidupan keberagaman dan pendidikan islam, khususnya pesantren. Belanda melakukannya dengan dasar pertimbangan kolonialisasi, misionarisasi Kristen, dan ketakutan terhadap islam (Slamet, 2013).

Kebijakan ini kemudian mendesak para kiai untuk memindahkan pesantren ke daerah-daerah pelosok desa. Pada periode ini, pesantren cenderung defensif namun tetap anti koloniaslisme.

Pada tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren Tebuireng. Hal yang menarik dari pendirian pesantren ini adalah letaknya yang tidak jauh dari pabrik gula Cukir, Diwek, Jombang. Menurut Dhofier (2015) gula pasir adalah penghasil devisa terbesar bagi pemerintah kolonial Belanda dan pada waktu itu merupakan simbol kemajuan teknologi bangsa Eropa. Hal ini mengindikasikan bahwa pesantren Tebuireng sejak didirikannya telah dikonfrontasikan dengan pihak kolonial. Pada periode inilah pesantren mulai muncul ke permukaan menyuarakan anti kolonialisme.

Pada periode defensif, kiai sebagai tokoh utama ingin melindungi santri dari kekejaman kolonial dan budaya-budaya yang dibawanya. Demikian halnya pada periode perlawanan, pesantren sangat intensif melakukan koreksi-perlawanan terhadap budaya-budaya yang dikhawatirkan dapat merongrong ideologi yang mereka yakini.

Kolonialisme dan Neokolonialisme

Portugis menjajah Indonesia semenjak tahun 1500an, kemudian dilanjutkan VOC (Vereenigd Oostindische Compagnie) tahun 1602 hingga tahun 1800 (tahun kebangkrutan berujung pembubaran VOC), setelah itu penjajahan dilanjutkan kerajaan Belanda.

Bisa kita cermati, selama 200 tahun, Indonesia dijajah oleh perusahaan! Puluhan bahkan ratus kerajan (jika kita memakai corak pemerintahan saat itu) kalah melawan satu perusahaan (VOC)! Luar biasa sekali bukan? Kita bisa bertanya, sehebat apakah VOC atau sebobrok apa nusantara waktu itu. Kesaktian tiada banding para punggawa kerajaan yang digambarkan dalam legenda nusantara, kalah dengan bedil-bedil milik VOC yang merupakan kongsi dagang asal Belanda.

Perjuangan mengusir penjajah melibatkan semua elemen masyarakat tak terkecuali pesantren. Pada zaman dahulu, gelora perjuangan bela nusantara menjadi sebuah trending nasional dengan satu musuh, yakni kumpeni. Siapa-apa itu kumpeni? Kata kumpeni merupakan kosa kata Inggris-bisa juga Belanda, kata aslinya adalah company (Inggris) atau compagnie (Belanda). Kumpeni yang dimaksud tidak lain adalah VOC, sebuah perusahaan-kongsi dagang.

Perjuangan pesantren dalam mengusir kumpeni tidak terbatas pada perjuangan angkat senjata, dalam ranah intelektual, pesantren menyumbang gagasan-gagasan melalui santri-santrinya, contohlah KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, HOS Cokroaminoto, KH Wahid Hasyim, Agus Salim, Hamka. Banyaknya kontribusi pesantren dalam menegakkan sang saka merah putih di bumi pertiwi tidak dapat didiskreditkan begitu saja.

Bung Karno menjelaskan bahwa hakekat kolonialisme yang sebenarnya adalah kegiatan yang bermotif ekonomi, dalam Harian Suluh Indonesia Muda (1928) beliau menjelaskan:

“soal jajahan adalah soal rugi atau untung; soal ini bukanlah soal kesopanan atau soal kewajiban; soal ini ialah soal mencari hidup, soal business. Semua teori-teori tentang soal jajahan, baik yang mengatakan bahwa penjajahan itu terjadinya ialah oleh karena rakyat yang menjajah itu ingin melihat negeri asing, maupun yang mengatakan bahwa rakyat pertuanan itu hanya ingin mendapat kemasyhuran sahaja, ….. semua teori-teori itu tak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan bahwa soal jajahan ialah soal rejeki, soal yang berdasar ekonomi, soal mencari kehidupan,” (dalam Soekarno, 1964).

Mungkin saat ini sangat jarang, sebuah pesantren menceritakan sejarah perjuangan santri melawan kolonialisme. Padahal kisah-kisah tersebut dapat kita teladani untuk memunculkan rasa cinta tanah air (Nasionalisme) dan memperdalam semangat mempelajari agama (Jihad).

Pesantren yang mengajarkan hidup sederhana; zuhud, qonaah, ikhlas, secara eksplisit sebenarnya mengajarkan kehidupan anti kolonial-yang dari sananya mengusung paham materialistik-kapitalis. Oleh karena itu, tahu dan tempe yang saban hari menjadi lauk santap santri tidak bisa dipandang dengan sebelah mata, jauh di sana terkandung filosofi dan sejarah yang demikian dalam.

Nusantara, dimulai era Sriwijaya terkenal dengan bangsa maritim, namun armada laut yang demikian gagah nan perkasa itu dihancur leburkan VOC dan Portugis. Setelah bangsa maritim ditumpas, kita pun dipaksa bercocok tanam (cultuurstelsel) yang hasilnya diperdagangkan dalam ranah internasional oleh kumpeni dan sebagian lagi dipergunakan untuk logistik peperangan. Para era kumpeni (bahkan jauh sebelumnya), nusantara mengenal transaksi internasional (bukan diawali ketika Masyarakat Ekonomi Asean) dan mengukuhkan diri sebagai negara agraris.

Pasca kemerdekaan 1945, kolonialisme masih berlanjut dan berganti baju. Bedanya, jika zaman dahulu kumpeni itu diusir mati-matian oleh leluhur, sekarang kumpeni justeru mati-matian diundang masuk ke dalam negeri melalui investasi asing atau utang luar negeri. Bahkan legitimasi kekuasaan kumpeni tersebut disahkan melalui UU PMA (Penanaman Modal Asing) dan Anggaran defisit APBN, inilah bentuk kolonialisme baru, atau biasa disebut neokolonialisme (Santosa, 2010). Pada akhirnya bentuk negara agraris berproses menuju negara industrialis. яндекс

Demikian urgensinya pesantren membuka wacana perjuangan santri melawan kolonialisme. Akan sangat memprihatinkan jika santri malah gandrung dengan produk-produk kumpeni ini, contohnya santri yang memuja prestige, lebih gemar membelanjakan uang di waralaba (franchise) multinasional dibanding produk nasional. Sadar atau tidak, gaya hidup sepeti ini dapat mengangkat ekonomi negara lain (asal franchise tersebut) dan menurunkan geliat ekonomi rakyat, lebih senang ekonomi kapitalistik dibanding ekonomi kerakyatan.

Sekedar mencoba sih tidak apa-apa, yang celaka adalah ketika ketagihan hingga menjadikannya trend, tepatnya trend keblinger. Memangnya gaya hidup seperti itu salah? Bukanlah yang demikian itu hak asasi dan dijamin konstitusi? Benar sekali konstitusi tidak mengatur gaya hidup, tetapi dalam konstitusi terdapat aturan susunan ekonomi nasional dan otomatis hal itu berpengaruh terhadap gaya hidup.

Tetapi, Jika santri tetap berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak, maka sah-sah saja mereka hidup dengan trah kapitalistik seperti itu, dengan catatatan mereka haqqul yaqin tidak menciderai resolusi jihad gagasan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Kolonialisme yang dilakukan VOC dan Kerajaan Belanda selama 3,5 abad meningalkan trauma dan pelajaran berharga bagi nusantara. Anti kolonialisme atau anti kapitalisme bukan berarti anti asing secara mutlak, akan sangat ambigu ketika kita tidak bisa membedakan Belanda sebagai bangsa atau Belanda sebagai kolonialis (penjajah). Hal yang ditolak oleh leluhur kita bukan bangsa/negara, melainkan sebuah sistem yang merugikan dan memperbudak. Salah satu warisan kolonialisme yang berharga adalah sistem pendidikan formal yang kemudian diadopsi pesantren menjadi madrasah.

Pesantren dan Santri Milenial

Seandainya kemerdekaan Indonesia tidak mengalami fase kolonialisme, sangat dimungkinkan pertumbuhan sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur pesantren salaf. Sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak berupa UI, ITB, IPB, UGM, ataupun yang lain, tetapi  mungkin namanya “universitas” Tremas, Krapyak, Tebuireng, Lasem, dan seterusnya. Seperti halnya Universitas Harvard di Amerika Serikat yang dulunya merupakan “pesantren” yang didirikan oleh pendeta Harvard di dekat Boston (Madjid, 1997).

Santri pada masa ini, sebutlah santri milenial, seharusnya tidak melupakan sejarah (Jasmera-jargon Soekarno), mereka melek informasi dan literasi, sehingga mempunyai nalar dan mampu menentukan sikap. Bukan santri yang bangga dengan ribuan like, subscribe, ataupun follower di sosial media. Banyak yang bilang kalau dunia nyata itu fana, apalagi dunia maya? Hal ini juga berlaku bagi pesantren.

Keunikan sistem dan kesederhanaan pesantren yang diimbangi nalar kritis bukanlah aktivitas anti modernisme ataupun anti kemapanan, melainkan kebanggaan terhadap pilihan sikap, juga karena orisinalitas. Terlebih jika banyak orang dapat memandang pesantren dari nilai sejarah dan filosofinya (bukan memandang dari kulit luarnya) maka branding pesantren sebagai institusi ketinggalan zaman adalah sebuah kesalahan besar.

Oleh karena itu, sangat gagal-paham jika ada orang yang memandang pesantren hanya dari kulit luarnya, atau mungkin kita sebagai santri, yang malah memandang dengan cara seperti itu? Hingga tidak percaya diri dengan status santri, sementara sudah menahun hafal kaidah al muhafadzotu ‘alal qodimi as-sholih wal akhdu bil jadid al-ashlah (?)

*Penulis adalah santri komplek Taman Santri, aktif di Kodama dan Kopontren Al Munawwir.  Esai ini merupakan JuaraKetiga dalam rangka Kompetisi Esai Haul 78 Al Maghfurlah KH. Munawwir bin Abdullah Rosyad dengan tema “Revitalisasi Tradisi Pesantren”

 

Daftar Bacaan

Buku

Baswir, Revrisond. 2010. Manifesto Ekonomi Kerakyatan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Dhofier, Zamakhsyari. 2015. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Edisi revisi. LP3ES, Jakarta.

Madjid, Nurcholish. 1997. Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Paramadina, Jakarta.

Santosa, Awan dkk. 2010. Ekonomi Kerakyatan: Urgensi, Konsep, dan Aplikasi; Sebuah Mimpi dan Peta Perjalanan Bagi Kemandirian Bangsa. Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan Sekra, Yogyakarta.

Umar, Nasaruddin. 2014. Rethinking Pesantren. PT. Elex Media Komputindo, Kompas-Gramedia, Jakarta.

Jurnal

Slamet Untung, Moh. 2013. Kebijakan Penguasa Kolonial Belanda Terhadap Pendidikan Pesantren. Forum Tarbiyah Vol. 11, No. 1 Juni 2013. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Pekalongan.

Internet

https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia diakses 22 Februari 2017

 

Redaksi

Redaksi

admin

497

Artikel