Setiap tahun jutaan manusia menapaki padang Arafah. Berdiri dalam keheningan spiritual, tangan-tangan terangkat, bibir gemetar menyebut nama Tuhan dan air mata jatuh tanpa perlu diminta. Namun tak semua umat Islam berkesempatan hadir secara fisik di Padang Arafah. Lalu bagaimana dengan kita yang tak pergi ke Arafah? Apakah hari Arafah hanya bermakna bagi mereka yang hadir secara fisik? Ataukah sesungguhnya Arafah adalah panggilan bagi setiap jiwa di manapun ia berada?
Arafah bukan semata lokasi geografis, tetapi peristiwa spiritual atau dimensi batiniah yang dapat diakses siapa pun yang bersedia. Mari bergeser sejenak maknanya secara etimologis. Kata “Arafah” berasal dari akar kata عرف – يعرف yang berarti “mengenal” atau “menyadari”. Maka pada hakikatnya adalah momen pengenalan, baik terhadap Tuhan, terhadap diri sendiri, maupun terhadap makna hidup yang lebih dalam.
Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثًا غُبْرًا
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore hari Arafah dengan (keadaan) orang-orang yang berada di Arafah. Dia berkata: ‘Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.’”
(HR. Ahmad 2:224)
Manifestasi kecintaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya sebagaimana dari hadits tersebut tidak terbatas bagi mereka yang hadir secara fisik di tanah Arafah dalam kerendahan hati. Ia adalah undangan batin bagi siapa pun yang ingin mendekat, mengenal dan menyadari keberadaannya di hadapan Sang Pencipta.
Pada level yang lebih personal, Arafah bisa saja datang dalam bentuk lain di relung kehidupan seperti kegagalan, kehilangan, kekecewaan atau krisis identitas. Semua itu adalah titik-titik “berhenti” dalam hidup yang memaksa manusia untuk merefleksi ulang perjalanan spiritual dan orientasi eksistensialnya. Disadur dari Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA dalam sebuah tulisan mengenai teosofi haji, bukankah wukuf pada dasarnya berarti berhenti? Maka saat kita terhenti oleh kehidupan, barangkali itu adalah bentuk lain dari wukuf dan barangkali itulah Arafah kita.
Alih-alih bertanya “kapan aku bisa ke Arafah?”, kita bisa mulai bertanya: “Apakah aku sudah menyiapkan ruang dalam diri agar Arafah bisa datang kepadaku?”. Arafah bukan hanya titik koordinat tapi juga keadaan batin. Dan mungkin, dalam kesungguhan kita merenung di hari Arafah meski tanpa ihram dan tanpa tenda, kita sedang melakukan perjalanan spiritual yang tak kalah agung.
Dengan demikian pengalaman spiritual Arafah tidak terbatas pada keberadaan jasmani di tanah suci, namun dapat tercermin dalam momen kontemplatif yang mendalam di mana pun seseorang berada. Arafah bisa hadir dalam ruang-ruang sunyi kehidupan sehari-hari. Di balik dinding kamar yang sepi, di sela kesibukan kota, bahkan dalam diam panjang seseorang.



