Sabtu pagi, 27 Mei 2006 merupakan hari kelam yang tidak akan terlupakan bagi masyarakat Jogja, tak terkecuali bagi para santri dan keluarga Pondok Krapyak. Gempa berkekuatan 5.9 SR yang mengguncang daerah Yogyakarta meluluhlantakkan banyak wilayah Kota Istimewa tersebut.
Pagi itu, Mbah Zaini (KH. Zaini Munawwir) – yang pada saat itu dalam kondisi gerah – masih dalam kondisi berbaring di kamar beliau. Ketika peristiwa terjadi, suasana panik seakan-akan tidak beliau rasakan. Goncangan yang dibarengi gemuruh suara bangunan tidak membuat beliau panik ataupun khawatir. Beliau tetap saja berbaring bahkan sare di tempat tidurnya.
Yang mengejutkan adalah, ketika tembok bagian depan ndalem Mbah Zaini roboh ke depan, sehingga atap dan usuk-usuknya jatuh ke bawah. Sedangkan kamar beliau berada di samping ruang tamu yang juga tertimpa atap tersebut. Melihat tembok depan ndalem yang rubuh, keluarga dan beberapa santri langsung bergegas mengevakuasi beliau.
Bi’aunillah, menurut kesaksian salah satu santri yang membantu Mbah Zaini keluar dari keadaan genting dalam artian pada saat gempa tersebut beliau sare di kamar dan tidak terkena robohan atap ataupun kayu-kayu. Bahkan, atap yang seharusnya merubuhi beliau tertahan oleh kayu-kayu usuk yang juga memudahkan beberapa santri untuk membopong beliau ke tempat yang lebih aman. Karena kondisi yang sudah sepuh, Mbah Zaini dievakuasi ke ndalem salah satu putrinya di Sleman selama beberapa minggu setelah kejadian gempa datang.
Hingga tiba waktu Mbah Zaini wafat beberapa bulan setelah gempa Jogja, tepatnya tanggal 25 Desember 2006 sekitar pukul 6 pagi, setelah ndalem beliau beserta keluarga selesai direnovasi.
له الفاتحة……
Penulis: Gus Akhmad Munadi
