Kisah Juang: Kang Faizun, Santri Brandal Pun Bisa Khatam

Kisah Juang: Kang Faizun, Santri Brandal Pun Bisa Khatam

Karjo, begitulah para santri memanggilnya. Berbadan kekar, tegap, tinggi sekitaran 1 meter lebih 60 senti, dan berkulit gelap. Outfit yang sering ia pakai pun dominan berwarna gelap, membuatnya terlihat seperti santri garang bagi siapapun yang melihatnya. Langkah kakinya lebar, seakan menyapu bersih jalan setapak yang dilewatinya, srakk.. srakk.. srakk.. Kalau sudah begini, bagaimana orang tidak merasa ngeri?

Muhammad Faizun mungkin sedikit berbeda dari para santri pada umumnya. Ia memiliki kisah masa lalu yang bisa dikatakan ‘nakal’ dalam taraf santri. Minggat dari pondok, tak pernah ngaji, membolos ke warnet sampai ketahuan pengawas pondok kemudian dicukur gundul. Tingkah nakal ini pernah ia lakukan ketika masih di masa-masa sekolahnya, PPTQ Al-Asy’ariyah, Kalibeber, Wonosobo, sampai-sampai kedua orang tuanya sering dipanggil ke pondok.

Tak hanya itu, ia mewarnai masa mudanya sebagai pegiat kancah hardcore, salah satu genre musik rock yang digandrungi anak-anak muda. Bisa dibilang sekujur tubuhnya telah merasakan sensasi adrenalin mosh-pit serta tendangan-tendangan brutal di tengah gelaran pentas musik tersebut. Beberapa konser musik pernah ia ikuti tanpa sepengetahuan pengurus pondok waktu itu. Malam-malam pun ia habiskan dengan menelusuri jalanan lalu nongkrong hingga pagi, masih dengan outfit crewneck, kaos metal, topi, celana jins, dan tak lupa sneaker converse.

Gaya hidupnya yang ‘brandal’, membuatnya tak krasan hidup di tengah atmosfer santri yang penuh kealiman agama. Perasaan ingin minggat dari lingkungan pondok belum bisa hilang ketika orang tuanya memutuskan untuk menyekolahkannya ke Kudus, PP. MUS-YQ, Kwanaran, Kajeksan, Kudus. Karjo bercerita bahwa dirinya ketika itu sulit beradaptasi dengan lingkungan baru yang lebih ketat. Ia dipaksa rajin bersekolah dan disiplin mengaji di sana daripada ketika ia mondok di Kalibeber. “Aku sempet nangis sendiri di pojokkan waktu itu gara-gara nggak krasan sama kondisi pondok yang super ketat. Beda banget sama Kalibeber”, ujarnya ketika ditemui di angkringan dekat PP Al-Munawwir.

Mengetahui kesulitan yang dialami Karjo, sang ibu berniat untuk memasukkan putra pertamanya ini ke universitas di daerah Jogja. Keputusan ini bukan tanpa dasar, sebab keluarga dari pihak ayah Karjo memiliki latar belakang lulusan sekolah-sekolah formal. Sebagai bentuk dukungan, kedua orang tuanya membelikan Honda CBR merah, dengan harapan agar Karjo lebih bersemangat lagi untuk menemukan cita-citanya sembari bersekolah di Jogja.

Karjo yang saat itu sedang mengakhiri tahun ketiga sekolahnya di Kudus dan telah membulatkan tekad untuk berkuliah, ternyata tidak mendapat restu dari pengasuh pondok. Salah satu alasannya adalah karena ia sengaja bolos mengaji untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Kedua orang tuanya pun meminta untuk memboyong Karjo tepat setelah kelulusan dari Kudus.

Bingung hendak bagaimana lagi melanjutkan titian kehidupan, sang ibu meminta Karjo untuk menghafalkan Al-Quran. Permintaan ini tak sekadar ucapan enteng semata. Beliau sampai menangis agar Karjo mau untuk menghafal Al-Quran. Bermodal keyakinan dan dukungan dari sang ibu, Karjo akhirnya mengiyakan permintaan tersebut dengan isak tangis pula.
Pria kelahiran Pekalongan, 29 Desember 2000 ini pun memulai kisah perjuangannya untuk menghafalkan Kitab Suci di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta pada pertengahan tahun 2018. Kesan pertama yang ia bayangkan adalah waktu dolan atau main yang bakal tiada habisnya, never ending jogja. Apalagi lokasi pondok yang tak begitu jauh dari pusat kota, membuatnya berencana pergi ke mana saja dengan motor CBR miliknya.

Foto 1 Berpose Bersama Motor Kesayangan

Akan tetapi, bayangan-bayangan serba menggebu tersebut batal ia jalankan. Kang Faizun bak mendapatkan sebuah keteduhan di bumi Krapyak melalui sosok K.H.R. Muhammad Najib. Sosok yang mengayomi, memberi teladan, dan menakjubkan bagi diri Kang Faizun. Bukan hanya mengenai mutqinnya hafalan Romo Yai Najib, bahkan melalui akhlak dan kharisma beliau yang sangat terhormat, namun sederhana, dan tersenyum kepada siapa saja. Beliau menjadi pengerem darah muda Kang Faizun untuk kembali mengulang kenakalannya.

Setiap dawuh ia usaha untuk diamalkan, begitu pula setiap perintah ia usahakan pula untuk dilaksanakan. Romo Yai Najib menjadi sosok idola Kang Faizun dalam segala tindakan. Setoran Al-Quran jarang sekali absen, sebab setoran menjadi satu-satunya momen bagi Kang Fauzi untuk bertemu secara langsung dengan Romo Yai. Ia relakkan setoran dalam waktu lama, mengulang setiap lembar yang ia hafalkan, sambil memijat tangan atau kaki beliau. “Jujur aku kangen banget sama Mbah Yai kalau pas inget masa-masa setoran. Malam-malam setoran sambil memijat Mbah Yai sampai beliau tertidur”, kenang Kang Faizun a.k.a Karjo sambil sedikit menguraikan air mata.

Perjuangan Kang Faizun tak pernah luput dari pengawasan orang tua, terutama sang ibu tercinta. Kang Faizun rutin memberi kabar setiap minggu sekali. Bertelepon manja, berkeluh kesah, dan meminta doa kepada sang ibu adalah agenda mingguan yang harus ia penuhi. Bahkan ketika ia kangen, ia rela meminta izin kepada Romo Yai Najib untuk sekedar bertemu sang ibu dengan alasan yang jujur, kangen.

“Bagiku, ibu adalah motivasi terbaik dalam hidupku.”, tegas Kang Faizun. Ketika ia ditanya mengenai alasan kuat menghafal Al-Quran, ia pun menjawab dengan mantap, karena ingin membahagiakan ibu.

Foto 2 Bersama Ibunda Tercinta

Kang Faizun bagi sebagian santri dikenal rajin. Setiap pagi, sore dan malam, ia berusaha hadir di majelis setoran aula komplek maupun ndalem Romo Yai. Ia pun memiliki spot-spot untuk nderes sendiri, seperti di serambi masjid, tangga, atau lantai 3, di aula Komplek Ribbathul Quran, lorong depan kamarnya, bahkan di jemuran komplek. Tak ketinggalan majelis simaan yang menjadi program komplek berusaha ia hadiri. Entah sebagai mustami‘ maupun qori‘.

Di tengah kesibukannya merangkai tiap ayat, surat, sampai juz Al-Quran, ia tetap berusaha untuk istirahat sejenak dari rutinitasnya. Ia menyempatkan bergaul bersama teman-teman satu gengnya dari Komplek Ribbathul Quran, entah untuk sekedar jajan di angkringan, menjajali warung-warung kopi ternama di Jogja, bahkan mengadakan agenda jalan-jalan ke sudut-sudut wisata di Jogja setiap Jumat pagi. Namun bukan sekedar refreshing apalagi membuang waktu, hal-hal tersebut ia lakukan sebagai reward apabila selesai menambah setoran hafalan di tiap minggunya.

Menjelang wisuda khataman Al-Quran yang ke-16, tepatnya di penghujung bulan November tahun lalu, Kang Faizun mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi dalam Ujian Simaan Calon Khotimin dan Khotimat 30 Juz bil Ghoib. Setoran hafalan yang telah lama ia rampungkan akhirnya diujikan agar dia pantas untuk naik ke panggung kehormatan.
Seperti kebanyakan santri penghafal, ia merasa rendah hati dan tak mampu untuk disimak 30 juz penuh. “Bayanganku cuma mampu 25 juz, Kang, karena pernah disimak hanya sampai segitu”, keluhnya. Ia pun mengaku jika juz 25 sampai 30 sebenarnya sudah terbayang untuk disimakkan, namun tak percaya diri.

Berkat dorongan salah satu ustadznya, ia pun mencoba mengkhatamkan 30 juz dalam ujian tersebut. “Koe kudu iso khatam!” Pungkas Kang Faizun menirukan kata-kata ustadznya. Alhamdulillah, ia berhasil menyelesaikan simaan 30 juz dalam waktu 24 jam. Dimulai setelah ashar sampai pukul 1 malam mendapatkan 18 juz, kemudian juz 19 dilanjut lagi ba’da shubuh sampai ashar.

Kang Faizun mencatat, dia berhasil mengkhatamkan hafalannya dalam waktu 3.5 tahun. Sebuah prestasi cemerlang bagi santri takhassus hafalan Al-Quran. Apalagi ia dikenal mantan santri brandal ditambah hidup di tengah hingar-bingar kota Jogja, tapi untungnya Kang Faizun memiliki prinsip kokoh untuk tetap di pondok pesantren, menjadi santri Mbah Munawwir.

Foto 3 Bersama Keluarga Pasca Diwisuda

Dia pun berhasil menyenangkan hati sang bunda. Menuntaskan hajat mulia yang telah lama diidamkan orang tua. Sebuah bukti nyata untuk berbakti, teladan bagi siapapun yang ingin menggapai ridho Ilahi. Selamat Kang Karjo! Doa ibunda senantiasa menyertai kehidupanmu. Semoga Allah memberi kekuatan untuk menjaga hafalanmu.

Penulis: A. Segaf

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel