Kisah Juang : Prioritas Banyak, Kenapa Tidak?

Kisah Juang : Prioritas Banyak, Kenapa Tidak?

Almunawwir.com – Faiqotul Khosyiah merupakan salah satu Khotimat 2022 yang memegang tanggungjawab lebih dari satu saat dalam proses menghafal Al-Qur’an. Selain menghafal Al-Qur’an, disaat yang bersamaan mbak Faiq juga menempuh pendidikan di Ma’had Aly al-Munawwir Krapyak dan UIN Sunan Kalijaga. Namun hal tersebut tidaklah menjadi penghalang bagi mbak Faiq untuk terus mengembangkan ketiganya hingga selesai.

Berlatar belakang lulusan pondok kitab membuat mbak Faiq berkeinginan untuk menghafal Al-Qur’an. Menurutnya hanya dengan mempelajari kitab kuning saja belum tentu menjamin ia untuk dekat dengan Allah. Berbeda dengan Al-Qur’an yang memiliki kewajiban untuk selalu di deres.

Lahir di Jombang, mbak Faiq memutuskan untuk memulai hafalan Qur’an nya di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak pada tahun 2017. Keinginannya bermula saat ia menempuh pendidikan Aliyah di Madrasah Muaalimin Muaalimat Tambakberas Jombang. Lantas mbak Faiq memutuskan untuk sowan kepada Kiainya. Alih-alih memberi jawaban, sang Kiai justru bertanya balik, apakah kitabnya sudah dimaknai (diterjemahkan dengan bahasa Jawa) dengan penuh?

Dereng (belum), kiai”, jawab mbak Faiq.

Keinginannya untuk menghafal ia pendam ketika sang Kiai belum memberinya izin. Beberapa tahun pun berlalu. Setelah setahun mbak Faiq masuk kuliah (2016), keinginannnya untuk menghafal semakin kuat. Akhirnya ia mengutarakan keinginannya tersebut kepada orang tuanya. Setelah berdiskusi dan mendapatkan ridho, ia memantapkan hatinya untuk memulai menghafal Al-Qur’an di Krapyak.

Tantangan pun telah mbak Faiq rasakan bahkan sebelum ia memulai menghafal. Dulunya ia berkeinginan untuk menjadi mbak ndalem. Pasalnya mbak ndalem ini memiliki peran pengabdian yang besar kepada para pengasuh. Namun takdir berkata lain, mbak Faiq pun tetap berkesempatan untuk mengabdi lewat jalur pengurus pondok hingga menjadi Lurah.

Saat proses menghafal, tantangan yang ia rasakan adalah menentukan prioritas antara kuliah, ma’had aly, dan menghafal. Ketiganya sama-sama menuntut untuk terus dilakukan secara kontinu. Keadaan tersebut sempat membuat mbak Faiq berada pada titik terendah dengan keadaan tidak memiliki target dan motivasi.

Namun ia selalu teringat dengan niat awal. Menuju Hamilul Qur’an memang tak mudah. Menurut mbak Faiq proses menuju Qur’an itu cuma satu yakni istiqomah. Mau ditarget bagaimanapun dengan fokus atau memiliki kesibukan lain kuncinya hanya itu.

“Kamu harus menemukan tujuan menghafal Al-Qur’an, dengan hal itu kamu akan terus terpacu. Dan jangan mematok orang lain sebagai tujuan, sebab orang lain memilik proses dan cobaannya masing-masing. Jangan minder sama orang yang sudah lancar disima’ dan jangan pernah malu untuk disima’, sebab sima’an itu menunjukkan adanya niat dalam diri untuk memperbaiki hafalan”. Pesan mbak Faiq.

Khansa' Syaridah

Khansa' Syaridah

Khansa' Syaridah

Santri Komplek R2, Mahasantri Ma'had Aly Krapyak dan Pegiat Sastra

14

Artikel