Di lingkungan pesantren bagi seorang santri maupun mahasantri, literasi layaknya sebuah kapal yang akan menghantarkan kepada pemahaman, pengetahuan baru serta dapat menghidupkan sebuah ruang diskusi antar sesama warga pesantren. Literasi tidak hanya soal membaca buku tebal, membaca teks panjang lalu mengulas dan mendiskusikannya, literasi juga dapat di lihat dari hal sederhana membaca papan pengumuman, membaca keterangan peraturan yang tertera di atas tempat sampah, atau membaca petunjuk “pintu harap di tutup kembali” yang tertempel di balik pintu asrama.
Baca Juga: Peran Santri dan Pesantren dalam Gerakan Literasi Digital
Dewasa ini, literasi sedang mengalami krisis sebab adanya paparan teknologi. Beberapa individu tidak lagi menghiraukan urgensi dari literasi, segala informasi yang di lahap dari ruang digital tidak lagi mengalami proses penyaringan. Ketika itulah, membawa kita untuk kembali merenungi wahyu pertama yang telah di turunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW., yakni surat Al-A’laq ayat 1 yang artinya “Bacalah”. Dalam ayat ini Allah tidak hanya memerintahkan nabi Muhammad untuk membaca, menurut Quraisy Shihab ayat ini mengandung pesan yang mendalam, bahwasannya membaca yang dimaksud mencakup memahami, menelaah dan menyampaikan kembali apa yang telah di peroleh dari sebuah bacaan.
Berangkat dari ayat tersebut, seyogyanya dapat menumbuhkan ambisi untuk terus menanamkan nilai-nilai literasi. Meski zaman sudah berkembang pesat, teknologi semakin canggih, literasi tidak bisa di singkirkan begitu saja. Sebab melalui literasi, seseorang akan memiliki pola pikir yang tajam. Sebagai seorang santri maupun mahasantri yang tinggal di lingkungan pesantren, tidak hanya terus bergelut dengan teks-teks keagamaan, tetapi bagaimana sebuah ajaran keagamaan yang telah di pelajari dapat berdampak terhadap berbagai fenomena sosial. Jadi, akan amat di sayangkan, jika budaya literasi tidak terus di lestarikan sebagaimana mestinya.
Dengan berbagai tantangan yang hadir silih berganti, literasi tidak boleh mandeg. Membaca Al-Quran dengan memahami kandungannya, merupakan salah satu bentuk dari pelestarian budaya literasi, serta hal-hal kecil yang sudah di sebutkan sebelumnya. Di tengah hilirisasi informasi yang di tayangkan di berbagai macam media, atau banyaknya sumber di ruang digital yang membahas soal ajaran keagamaan, jangan pernah lengah untuk terus memilah dan memilihnya, tentunya dengan terus mengamalkan nilai-nilai dari literasi.



