Nilai Kemerdekaan dalam Muharram

Nilai Kemerdekaan dalam Muharram
Foto: langit7.id
Foto: langit7.id

Tahun baru hijriyah telah berjalan memasuki fase-fase awal, bulan hijriyah sendiri merupakan salah satu bulan dalam kalender islam serta satu bulan haram (mulia) di antara 3 bulan lainnya, yaitu: Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Seperti yang dikutip dalam hadis di kitab Shahih Bukhari no. 3197:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَيَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ ابْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Yahya bin Habib Al Haristi sedangkan lafadznya saling berdekatan, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab At Tsaqafi dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Ibnu Abu Bakrah dari Abu Bakrah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya zaman itu terus berputar sama seperti saat Allah menciptakan langit dan bumi, setahun ada dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan-bulan haram, dan tiga di antaranya adalah bulan-bulan yang berurutan yaitu; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Sedangkan bulan Rajab adalah bulan Mudhar, yaitu bulan yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.”

Maka dalam beberapa bulan tersebut banyak orang muslim melakukan beberapa kesunnahan yang dianjurkan baik sunnah fi’liyah maupun bathiniyah.

Pada tahun ini 1 muharram 1444 H jatuh pada tanggal 30 juli 2022, dan hari sisanya bertepatan berada di bulan Agustus. Tentu sebagai warga negara Indonesia bulan Agustus tepatnya tanggal 17 diartikan sebagai bulan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena pada bulan ini Ir. Soekarno dengan tegas mewakili atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan diri sebagai negara yang merdeka, negara yang mandiri, negara yang bebas dari belenggu penjajahan kolonial belanda pada saat itu.

Seperti pada awal tahun hijriyah yang dimulai penetapan saat zaman Khalifah Umar bin Khattab dengan mengacu pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari kota Makkah menuju kota Madinah. Dalam perayaannya tentu bukan sekedar momentum pergantian tahun saja, melainkan suatu sikap tahadduts bin ni’mah dengan menjalankan segala kesunnahan. 17 agustus seharusnya juga dapat dijadikan sarana bagi muslim Indonesia untuk ikut memeriahkan hari kemerdakaan tersebut dengan mengisi berbagai kebaikan, agar integritas sebagai umat muslim tidak hilang.

Terlebih berdasarkan data dari Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri) jumlah penduduk muslim di Indonesia mencapai 237,53 juta jiwa per 31 Desember 2021. Angka tersebut merupakan 11,92% dari seluruh umat muslim di dunia, menyusul negara pakistan dengan 212,3 juta umat muslim (10,95%), disusul negara lainya seperti india, bangladesh dan lainya.

Makna pembaharuan dalam tahun hijriah yang didasari oleh hijrah Nabi pada zaman itu, atas perintah Allah agar Nabi berhijrah untuk penyebaran dakwah Islam yang merata serta karena tidak mendukungnya situasi kota Makkah saat itu. Meminjam dawuh KH. Anwar Zahid dalam suatu ceramahnya hijrah dimaknai sebagai proses perpindahan sifat bathiniyah dari yang buruk menjadi lebih baik, seperti pada potongan surat Al-Baqarah: 257,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ…..الأية

Artinya: “Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya….”

Korelasinya bagaimana? Makna hijrah dalam Islam dapat kita temukan dalam proses kemerdakaan Negara Republik Indonesia, negara yang telah dibelenggu dari kolonialisme dan imperialisme selama berabad-abad oleh bangsa luar. Sudah menjadi kesepakatan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan, hal tersebutlah yang tertera dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945.

Apakah saat itu Nabi berhijrah dengan mudah? Tentu tidak, Nabi sebelum berhijrah sudah dikepung oleh pasukan Quraisy yang siap membunuhnya, tetapi berkat pertolongan Allah, Rasulullah dapat melangkah keluar dengan tenang tanpa sedikit pun ada ketakutan. Tidak sampai disitu setelah sampai di kota Madinah yang saat itu bernama Yatsrib, Nabi dalam proses penyebaran Islam mengalami berbagai kendala serta gangguan.

Seperti halnya proses kemerdekaan tentu banyak mengorbankan nyawa dan harta dari rakyat, tidak dapat dipungkiri bagaimana perjuangan para penduhulu untuk ingin berhijrah dari bangsa yang tertindas menjadi bangsa merdeka, nyaman, dan beradab.

Jika ditanya apakah Indonesia saat ini sudah merdeka? Sudah, tetapi tidak sepenuhnya merdeka, Indonesia masih dijajah oleh kebodohan, kemiskinan, dan kemalasan. Setiap hari kita masih disibukkan dengan saling lempar isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) tanpa memedulikan solusi problematika pokok yang dihadapi di depan mata.

Sebagai warga negara serta umat muslim Indonesia yang beriman tentu tanpa diminta sudah menjadi keharusan bagi kita dalam mensyukuri nikmat tuhan yang besar ini. Dengan cara saling bahu membahu untuk menjaga keutuhan keragaman banga Indonesia ini, seperti yang dicontohkan Rasulullah dalam membuat piagam Madinah sebagai dasar negara pertama dalam Islam yang merupakan konstitusi utama untuk mempersatukan semua golongan warga Madinah yang di dalamnya berisi kewajiban warga negara terhadap bela negara.

Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai dasar negara, UUD sebagai konstitusi hukum tertinggi negara, serta tak kalah penting Indonesia memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya meskipun beranekaragam tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semua hal tersebutlah yang sepatutnya dijaga oleh bangsa Indonesia.

Maka meminjam pemikiran Buya Syafi’i Ma’rif dalam bukunya “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”, islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan harus ditempatkan dalam satu tarikan nafas sehingga Islam di Indonesia dapat terlahir keramahan, terbuka, inklusif, dan solutif. Semoga dalam bulan kemerdakaan yang bertepatan dengan bulan awal tahun hijriah menjadi wasilah bagi kemajuan Negara tercinta Kesatuan Republik Indonesia ini, Amiin. Wallahu A’lam bis-Shawab.

 

Oleh: Ahmada Wildan Afifi (Santri Komplek T)

Editor: Irfan Fauzi

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel