Pembukaan Kongres IPNU IPPNU – Gus Yahya: “Jangan Krasan Jadi IPNU IPPNU!”

Pembukaan Kongres IPNU IPPNU – Gus Yahya: “Jangan Krasan Jadi IPNU IPPNU!”

Forum tertinggi yaitu Kongres IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) ke-20 dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) ke-19 telah dibuka pada tanggal 12 Agustus 2022 di Gedung Asrama Haji Pondok Gede Jakarta oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), yaitu Prof. Dr. Muhammad Mahfud MD.

Dalam kesempatannya Prof. Mahfud menyampaikan bahwa IPNU dan IPPNU adalah anak kandung dari organisasi besar yaitu Nahdlatul Ulama atau NU. Selain itu beliau menyampaikan bahwa sebagai ujung tombak dari NU, IPNU dan IPPNU harus senantiasa berpegang teguh Pancasila sebagai Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak perlu menggagas simbol Islam saja.

KH. Yahya Cholil Staquf sebagai ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga memberikan sambutan dalam pembukaan Kongres IPNU ke-20 dan IPPNU ke-19 ini. Dalam sambutannya Gus Yahya menyampaikan terkait Kaderisasi internal NU yaitu mengenai vitalitas generasi yang juga berpengaruh pada vitalitas organisasi. Hal ini bertujuan agar IPNU dan IPPNU sadar akan pentingnya regenerasi serta persoalan usia.

“Yang ingin saya pesankan kepada kader IPNU IPPNU (adalah) jangan ikut-ikutan terlambat tua,” terang Gus Yahya dalam sambutannya.

“Umur kalian sekarang sudah banyak yang di atas 25 tahun. Jangan (sampai) Krasan jadi IPNU IPPNU,” lanjutnya.

Dalam hal ini Gus Yahya menjelaskan bahwa masih banyak capaian-capaian di depan yang dirasa lebih tinggi dan lebih besar yang bisa diraih oleh kader muda NU dalam hal ini IPNU IPPNU yang usianya sudah lebih dari 25 tahun.

Akan tetapi dalam sisi lain, Gus Yahya juga menjelaskan bahwa NU butuh sebuah strategi dalam upaya mengajak generasi IPNU IPPNU yang lebih muda agar lebih cepat terlibat dalam kegiatan aktivisme yang dirasa lebih terarah.

Karena beliau merasakan bahwa generasi muda NU yang dalam hal ini IPNU IPPNU memiliki kecenderungan positif yang begitu besar terhadap lingkungan.

“Nah, kalau kita tidak menangkap kecenderungan yang sangat positif ini ke dalam satu sistem gerakan bersama-sama dengan seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama, (maka) kita sama saja menyia-nyiakan peluang sejarah yang sangat berharga. Itulah sebabnya saya wanti-wanti kepada rekan-rekan IPNU dan IPPNU ini supaya lebih agresif di dalam memperluas jangkauan aktivisme IPNU IPPNU ini ke sekolah-sekolah,” jelas Gus Yahya.

“Idealnya, semestinya IPNU IPPNU itu sampai usia akhir SMP sampai dengan awal mahasiswa. Jadi kira-kira umur lima belas sampai, ya, dua puluh satu atau dua puluh dua tahun. Itu  idealnya,” tegas beliau.

“Supaya nanti umur dua puluh tiga kalian bisa masuk Ansor dan Fatayat. Lalu umur 30-an bisa menjadi pemimpin-pemimpin Nahdlatul Ulama. Supaya NU-nya meningkat vitalitasnya, sehingga lebih banyak yang bisa dilakukan karena energi yang lebih prima,” ujar KH. Yahya Cholil.

Pemaparan terakhir dari Gus Yahya dalam sambutannya yaitu mengenai para alumni IPNU IPPNU yang berhasil sukses mencapai prestasi tinggi. Namun hal tersebut disayangkan karena bukan didapatkan dari organisasi melainkan hasil dari keuletan individu masing-masing serta perjuangan pribadi kader tersebut.

Oleh karena itu beliau berharap ke depannya kader-kader Nahdlatul Ulama bisa mencapai prestasi karirnya dari hasil berjuang bersama.

“Saya ingin melihat ke depan kader-kader IPNU dan IPPNU mencapai prestasi-prestasi tinggi seperti mereka (para alumni) tapi secara rombongan, karena dunia semakin berat,” tutur beliau.

 

Oleh: Ihsan Saepul Anwar (Santri Komplek IJ)

Editor: Irfan Fauzi

 

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel