Qasidah Burdah hingga Do’a Perjuangan NU: Meneguhkan Cinta Rasul dan Istiqamah Santri pada Haul KH. Muhammad Munawwir Ke-87
Ribuan santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta kembali melantunkan Qasidah Burdah sebagai rangkaian agenda menuju puncak Haul Al-Maghfurlah KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad yang ke-87. Majelis Burdah ini digelar pada Sabtu (29/10/2025) mulai pukul 20.00 – 22.10 WIB di halaman Masjid Jami’ Al-Munawwir.
Tradisi ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan wujud nyata cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dalam Qasidah Burdahnya Imam Al-Bushiri:
وأَثْبَتَ الْوَجد خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنى مِثْل الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَم
Kerinduan menyisakan dua garis. Tangis di matamu dan kurus di tubuhmu, bagaikan mawar kuning dan merah yang melekat di kedua pipimu.
Penggalan Qosidah ini seakan menggambarkan bahwa para pecinta Nabi Muhammad SAW. yang merasakan kerinduan begitu dalam akan terpancar pada raut wajah dan tubuhnya.
Bait demi bait Burdah dilantunkan dengan saksama oleh santriwan dan santriwati diiringi tabuhan rebana, menghadirkan nuansa religius khas pesantren sekaligus suasana muhasabah. Pembacaan qasidah ini menjadi wasilah doa agar guru mulia mendapatkan kedudukan tinggi di sisi-Nya, serta sebagai bentuk pelestarian tradisi kepesantrenan.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Nadhom Asmaul Husna karya KH. Ali Maksum, dilanjutkan dengan pembacaan Qasidah Burdah. Setelah itu, acara diteruskan dengan tahlil yang dipimpin oleh KH. Fairuzi Afiq Dalhar dan doa yang dipanjatkan oleh Pengasuh PP. Al-Munawwir, KH. R. Abdul Hamid Abdul Qodir.
Selanjutnya adalah mauidhoh hasanah disampaikan oleh Dr. KH. Rifqi Muhammad Fatkhi, MA. Dalam ceramahnya, beliau mengupas kedalaman makna salah satu bait Burdah:
وَكُلُّـهُــمْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ مُلْتَمِسٌ غَرْفًا مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ
Semua para Nabi terdahulu memohon dari diri Rasulullah SAW., seciduk lautan ilmunya dan setetes hujan kesantunannya
Beliau menceritakan kisah yang didapat saat sowan kepada KH. Thoifur Purworejo. Dalam kisahnya, KH. Thoifur pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan membacakan bait tersebut. Rasulullah kemudian meminta beliau mengulanginya hingga tiga kali seraya tersenyum. Lebih jauh, KH. Rifqi Muhammad Fatkhi mengontekstualisasikan makna bait tersebut bagi para santri. Sebagaimana para Nabi mengambil “seciduk lautan” dan “setetes hujan” dari Rasulullah, santri pun dapat mengambil ilmu dari para masyayikh dengan metode serupa.
Metode “menyiduk air lautan” dimaknai sebagai sorogan (santri menghadap kyai), sedangkan “menerima tetesan hujan” dimaknai sebagai bandongan (kyai menyampaikan kepada santri). Beliau menegaskan sebuah prinsip penting: “Siapapun santri yang taat, maka ia akan dapat”. Semakin besar ketaatan seorang santri kepada gurunya, semakin luas pula kesempatan baginya meraih keberkahan ilmu.
Acara ditutup dengan pembacaan syair “Doa Perjuangan NU” secara bersama-sama, dengan harapan perjuangan para ulama dan pendiri Nahdlatul Ulama senantiasa dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Melalui majelis ini, diharapkan keberkahan haul semakin bertambah sekaligus memperkuat identitas pesantren sebagai pusat keilmuan dan tradisi budaya Islam.
Bagi masyarakat yang tidak sempat hadir, jalannya keseluruhan acara ini dapat disaksikan kembali melalui siaran ulang di kanal YouTube resmi PP. Al-Munawwir.
Penulis: Sanjara



![[PRESS RELEASE]SEMARAK ROAD TO HAUL KE-87 AL MAGHFURLAH KH. MUHAMMAD MUNAWWIR BIN ABDULLAH ROSYAD DAN KHOTMIL QUR’AN](https://cdn.almunawwir.com/2025/11/photo.jpg.webp)