Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus.
Dalam hidup, gundah seringkali menyapa menuntun hati pada gelisah yang terus bertahap. Di masa sekarang ini, kebahagian seringkali di ukur dari pencapaian materi, kenyamanan hidup, bahkan popularitas. Keadaan yang tidak sesuai dengan harapan atau kegagalan kerap kali dianggap sebagai sial. Kemudian muncul kalimat “Allah tidak adil, kenapa aku gagal ?”, padahal hatinya tak sedikitpun bergantung pada-Nya. Namun ternyata, Islam menawarkan kebahagian melalui cara yang amat sederhana, bukan pasal kemewahan, bukan pula kehidupan yang mulus tanpa adanya masalah namun, terletak pada sikap hati melalui sabar dan syukur.
Sabar adalah Obat
Sabar bukan berati pasrah, sabar bukan berati lemah. Dalam prakteknya orang yang memiliki sifat sabar justru dianggap sebagai figur yang lemah, mudah ditipu, bahkan dianggap orang sabar adalah orang yang mudah tertindas. Padahal, sabar justru merupakan ciri dari orang kuat, tahan banting, dan tak mudah mengeluh soal keadaan. Dalam kitab Nashoihul ‘Ibad dijelaskan bahwa “sabar adalah ibarat meminum obat yang pait tanpa mengrenyit”. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini menegaskan bahwa sabar menghadirkan kedekatan dengan Allah. Dengan sabar, seseorang belajar menerima proses, menguatkan iman, dan menjaga ketenangan di tengah kesulitan.
Sudahkah Bersyukur Hari Ini?
Sementara itu, syukur adalah sikap menyadari serta merasa cukup akan setiap nikmat yang diberikan Allah, baik dengan skala yang besar maupun dengan yang paling sederhana, contohnya nikmat sehat. Serumit apapun permasalahan hidup, selalu ada celah untuk tetap bersyukur namun seringkali nikmat diartikan sebagai materi yang sifatnya duniawi, sehingga ketika dalam keadaan terpuruk seseorang menganggap bahwa semua kenikmatannya dicabut oleh Allah.
Kita selalu tenggalam dalam angan-angan kebahagiaan yang kita rumuskan sedemikan rupa, lupa bahwa nikmat tak selalu tentang materi dan tak melulu soal popularitas. Bagaimana kebahagiaan dapat direngkuh ketika standar dari kebahagiaan itu sendiri diletakkan diatas harapan-harapan yang menjulang tinggi dan naasnya itu semua hanya soal duniawi, yang kepemilikannya bahkan hanya sementara. Padahal islam mengajarkan konsep sabar dan syukur untuk manggapai bahagia dengan cara yang amat sederhana.
Baca Juga: Resep Sabar Rasulullah
Sabar dan syukur, merupakan dua komponen yang saling melengkapi. Ketika Allah hadapkan dengan musibah, seorang yang mukmin diajarkan untuk bersabar dan senantiasa berikhtiar untuk melewatinya dengan hati yang lapang. Namun ketika kondisi sedang lapang dan tenang, seorang mukmin diperintahkan untuk bersyukur bahkan, dalam kondisi sulit sekalipun ketika sudah bersahabat dengan segala hal yang Allah takdirkan ‘selalu ada celah untuk tetap bersyukur’. Dari sinilah lahir kebahagiaan sejati, bukan hidup tanpa masalah, melainkan hati yang tenang dan dekat dengan allah. Ketika setiap langkah selalu menghadirkan Allah maka ketenangan akan menjadi bonus spesial untuk menemani menjemput kebahagiaan.
Penulis: Hajida Muthmainnah (Komplek Q)



