Media Sosial Lahirkan Paham Radikalisme: Tantangan dan Solusi

Media Sosial Lahirkan Paham Radikalisme: Tantangan dan Solusi

Almunawwir.com – Ruang lingkup media sosial (medsos) kini sudah merambat ke setiap lini kehidupan, mulai dari sektor pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, dan sejenisnya.

Sehingga kemampuan seseorang dalam mengaskes dunia medsos perlu diperhatikan, ia harus mampu beradaptasi dengan lajunya media online, agar tidak mengalami gagal paham dalam menerima informasi.

Pengguna medsos kini sudah saatnya memerlukan suatu pegangan yang dapat memfilter konten atau informasi yang negatif.

Radikalisme
Sumber Gambar: NBC New

Sebab banyak sekali oknum media yang secara sadar menyajikan konten atau informasi fiktif, provokatif atau doktrin-doktrin yang ekstremis. Pegangan yang dimaksud ialah literasi media.

Pahami Literasi Media

Literasi media adalah penekanan pada kemampuan seseorang untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan media sebagai penyedia dan pengelola informasi terpercaya (Simarmata, 2020).

Pada dasarnya literasi media merupakan aktivitas yang menekan aspek edukasi kepada masyarakat supaya mereka mengetahui bagaimana mencari sumber informasi yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan mereka sendiri.

Dalam mencari sumber informasi seseorang nyaris tidak terlepas dengan akses internet, ia akan mencari berbagai situs web yang berderet. Terkadang ia tidak mengetahui mana sumber informasi yang valid atau tidak, akhirnya ia sembrono mencomot informasi yang berpotensi fiktif.

Oleh karena itu, penulis rasa literasi media saat ini sangat diperlukan oleh semua elemen masyarakat. Kenapa masyarakat diperlukan untuk mengetahui literasi media?

Sebab di era industri 4.0 yang disebut juga big data, segala informasi dan komunikasi yang dulu hanya bisa diakses dengan bertemu langsung atau membaca buku, kini bisa diakses melalui media online terlepas positif atau negatifnya.

Oleh karenanya, kabar hoax, isu-isu provokatif, bullying, dan ujaran kebencian merupakan perihal yang patut diresahkan oleh warganet.

Baca juga:

Terutama semenjak pandemi usai, pengguna medsos kian meningkat pesat, data yang dilansir oleh databoks tercatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 204,7 juta jiwa di awal 2022 dari jumlah penduduk di Indonesia 277,7 juta jiwa/Januari. Artinya 73,7 persen dari penduduk di Indonesia menggunakan internet.

Karenanya, dengan masifnya pengguna medsos, warganet dituntut untuk memilah sumber informasi online yang kredibel. Kebijakan bermedsos dapat mengatasi dan memfilter sumber informasi yang mengandung unsur-unsur negatif.

Namun tidak sedikit pula, mereka yang ceroboh dan tak selektif, asal comot sumber informasi yang berpotensi mengandung unsur negatif, hal itulah yang mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman informasi.

Sebagaimana yang diresahkan oleh kita semua, pemahaman yang salah, lambat laun akan memengaruhi pola pikir seseorang. Bahayanya, bila orang tersebut ternyata terpengaruh oleh gerakan-gerakan ekstrem (paham Radikalisme). Pemahaman yang bersimpangan dengan nilai-nilai ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah.

Hal ini bukanlah kebohongan belaka. Informasi terkait pelajar yang terjerumus paham radikal terjadi di sebuah Universitas ternama di Depok, hingga saat ini sudah ada 3 mahasiswa yang pergi ke Syuriah untuk bergabung bersama ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria).

Baca juga:

Belakangan ini pula, isu radikalisme kian menjadi momok yang meresahkan bagi masyarakat. Dilansir oleh BNPT, badan nasional penanggulangan teroris ini telah menemukan lebih dari 600 situs/akun di berbagai platform media sosial bermuatan unsur radikal lalu menyebarkannya lebih dari 900 konten propaganda.

Kebanyakan alasannya adalah adanya “kesalahpahaman” dalam menguasai panggung media online. Tentu, isu seperti ini sangat krusial dan mengancam keselamatan generasi milenial dan Z dari serangan radikalisme.

Dari upaya literasi media di atas, ini menjadi langkah awal dalam meng-counter isu-isu radikalisme, namun penulis rasa langkah demikian masih belum cukup mengatasi ketegangan bahayanya radikalisme.

Oleh sebabnya, selanjutnya penulis tawarkan langkah kedua yaitu dengan mengenal konsep Deradikalisasi Agama.

Pahami Deradikalisasi Agama

Sebuah metode dan daya upaya memang telah dikerahkan oleh pihak pemerintah dalam melawan isu-isu radikalisme. Namun pada kali ini penulis hendak memberikan penjelasan apa yang disampaikan oleh Nasaruddin Umar.

Nasaruddin Umar (2014) memberikan tawaran terkait hal ini, beliau menyatakan salah satu upaya melawan radikalisme adalah Deradikalisasi Agama.

Menurutnya, Deradikalisasi Agama adalah upaya menghapuskan atau menanggulangi pemahaman yang radikal (keras) terhadap pemahaman teks-teks keagamaan; Al-Qur’an dan Hadis.

Mengapa isu radikalisme selalu inheren dengan isu keagamaan? Sebab bagaimana pun juga paham radikal merupakan hasil interpretasi atas pemahaman seseorang terhadap Al-Qur’an dan Hadis.

Karena itu pula, yang terjadi dalam isu-isu radikalisme adalah kerap mengatasnamakan agama sebagai landasan utamanya (Endang Turmudi, Riza Suhbudi, dkk, 2005).

Menurut pernyataan Fazlur Rahman (1997), adanya misunderstanding terhadap Al-Qur’an atau Hadis dikarenakan kedua sumber Islam tersebut masih mengandung pemahaman hukum yang masih umum terkait konsep jihadis, sehingga melahirkan multi-interpretasi terhadap makna kandungannya.

Namun, maksud dari Rahman sendiri hendak menegaskan bahwa di samping memahami hukum adalah hal yang penting, juga semangat dasar dari Al-Qur’an yaitu prinsip-prinsip dan seruan moral jauh lebih penting.

Baca juga:

Sederhananya Fazlur Rahman hendak mengatakan, bila seseorang memahami kandungan Al-Qur’an atau Hadis, maka lihatlah semangat kandungan Al-Qur’an itu sendiri, artinya bukan (hukum) perintah jihadnya, melainkan semangat dalam konteks sekarang mengapa Allah menjelaskan perintah jihad.

Selanjutnya Rahman menguraikan upaya memahami Al-Qur’an, yaitu:

Pertama, seseorang harus mengkaji Al-Qur’an dari sisi historis untuk menilai tema-tema dan gagasannya. Jika tidak, besar kemungkinan seseorang akan salah paham dalam memahami poin-poin dari ajarannya.

Kedua, seseorang harus mengkajinya dari latar belakang sosio-historisnya. Tanpa melihat latar belakang mikro dan makronya secara memadai, seseorang akan salah tangkap terhadap maksud Al-Qur’an serta tindakan Nabi baik di Makkah dan Madinah.

Nasaruddin Umar pun menegaskan bahwa Deradikalisasi Agama merupakan metode yang paling tepat dibandingkan metode lainnya dalam melawan isu-isu radikalisme.

Dengan menjadikan agama sebagai landasan, upaya deradikalisasi pemahaman Al-Qur’an terkait konsep jihad atau al-harb, diharapkan mampu memberi solusi atas ketegangan isu-isu radikalisme di tengah masyarakat.

Simpulan

Wacana di atas bila sampai sekarang tidak ada tindak lanjut, minimalnya peran kita sendiri, imbasnya kelak di masa mendatang akan terlahir suatu generasi muda yang cenderung ekslusif dan intoleran.

Bahkan bisa mengarah pada paham radikalisme. Terlebih saat ini, pembelajaran sudah sangat mudah didapatkan melalui media sosial. Artinya potensi radikalisme bisa semakin berkembang kapan pun dan di mana pun.

Jadi, upaya melawan paham radikalisme saat ini adalah dengan memahami konsep Literasi Media dan Deradikalisasi Agama.

Penulis jelaskan dalam beberaapa poin:

Pertama, literasi media di sini sebagai upaya seseorang untuk mampu mengakses medsos dengan bijaksana, dengan memilah dan memfilter sumber informasi yang mengandung unsur negatif, baik berupa hoax, provokatif, atau doktrin-doktrin yang menyesatkan.

Kedua, deradikalisasi agama sebagai benteng keimanan bagi setiap individu, sebab bila seseorang masih belum memahami dasar-dasar ajaran agama Islam, pada akhirnya, besar kemungkinan ia akan terjerumus juga pada doktrin-doktrin radikalisme yang lebih kuat.

Maka, upaya literasi media merupakan jihad saat ini dalam melawan radikalisme secara “Ofensif”. Sedang upaya deradikalisasi agama merupakan jihad secara “Defensif”.

Dengan menyinergikan kedua upaya ini, diharapkan kita semua dapat terselamatkan dari bahayanya radikalisme yang semakin gencar. Dengan begitu, sedikit banyak kita telah menyelamatkan bangsa ini dari rongrongan paham radikalisme.

Referensi:

Endang Turmudi, Riza Suhbudi, dkk (2005) Islam dan Radikalisme di Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
Rahman, F. (1997) Islam, terj. Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka.
Simarmata, dkk, J. (2020) Pendidikan Di Era Revolusi 4.0 Tuntutan, Kompetisi, dan Tantangan. Medan: Yayasan Kita Menulis.
Statistik Indonesia 2023 (2023). Badan Pusat Statistik.
Umar, N. (2014) Deradikalisasi Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis. Jakarta: PT Gramedia.

Oleh: Penulis Kopi (IF)

Baca juga:

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel