Santri dan Pesantren dalam Bingkai Kemerdekaan

Santri dan Pesantren dalam Bingkai Kemerdekaan
Ilustrasi: jatimpos.id

Sebagai warga negara Indonesia sudah sepatutnya tahu bahwa hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada 17 Agustus 1945. Hendaknya kita harus merayakan atmosfer kebahagiaan dan semangat antusiasme dalam menyambut hari kemerdekaan. Namun di balik gelora semangat kebahagiaan tersebut, tentunya kita juga harus menyadari bahwa terdapat para pejuang kemerdekaan yang mengerahkan segala perjuangannya demi terwujudnya kemerdekaan negara republik Indonesia.

Secara historis, para pejuang kemerdekaan adalah mereka yang terdiri dari berbagai elemen kemasyarakatan, baik dari kalangan jenderal maupun rakyat jelata. Kyai santri yang berada dalam ruang lingkup pesantren juga tak kalah saing ikut menjadi aktor pejuang kemerdekaan. Santri dan pesantren telah banyak mendokumentasikan berbagai peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Salah satu peran penting santri dan pesantren dalam kontribusinya terhadap kemerdekaan adalah ketika tentara Jepang memobilisasi tentara Pembela Tanah Air (PETA) untuk melawan tentara Belanda sedangkan para kyai dan santri menciptakan tentara Hizbullah dengan bersenjatakan bambu runcing atas inisiatif Kyai Subki atau lebih masyhur dikenal dengan Mbah Subki.

Tidak henti-hentinya kalangan kiai dan santri memperjuangkan Indonesia agar terbebas dari para penjajah. Meskipun Indonesia telah diproklamirkan sebagai negara merdeka, akan tetapi masih terdapat masalah yang belum selesai yakni, sebagian negara termasuk Belanda tidak mengakui kedaulatan negara Indonesia akibatnya Indonesia mulai diserang kembali Belanda dan sekutunya. Oleh karena itu para kyai se-Jawa dan Madura merencanakan pertemuan yang dipimpin langsung oleh Kyai Hasyim Asy’ari.

Baca juga: melanjutkan-perjuangan-ulama-refleksi-hari-kemerdekaan

Hasil pertemuan antara para kyai tersebut menghasilkan mufakat untuk mendeklarasikan “jihad fisabilillah” atau lebih dikenal sebagai resolusi jihad. Fatwa jihad itu kemudian digaungkan oleh Bung Tomo disertai kalimat takbir “Allahu Akbar” sebagai tonggak kesemangatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dari sini kita sebagai santri hendaknya selalu mengenang akan jasa pahlawan kemerdekaan Indonesia, khususnya para kyai dan santri yang telah ikut berjuang. Puji syukur peran santri, pesantren dan kyai dalam bingkai kemerdekaan juga telah dijadikan sebuah film legendaris dengan judul “Sang Kiai”. Kita berharap santri dan pesantren dapat mengambil peran kembali dalam memajukani bangsa di masa mendatang.

____

Oleh: Ahmah Fatih Syarofuzzaman (Santri Komplek K2)

Editor: Abdillah Amiril Adawy

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel