Say Yes To Istiqomah

Say Yes To Istiqomah
Sumber Foto: moondoggiesmusic.com

Dalam kaidah tata bahasa Arab, berdasarkan ilmu shorof lafadz استقامة mengikuti wazan :اِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ – اِسْتِفْعَالاً yang berjenis fi’il tsulasi mazid dengan tambahan 3 huruf (hamzah, sin, dan ta’), jika dipadukan menjadi اِسْتَقَامَ – يَسْتَقِيْمُ – اِسْتِقَامَةً. Dalam kamus Al-Ma’any Arab – Indonesia lafadz istiqomah diartikan sebagai (يَسْتَقِيْمُ –  اِسْتَقَامَ : bersikap/berlaku tegak, lurus, seimbang).

Sedangkan secara terminologi seperti yang tersurat dalam QS. Al-Ahqof ayat 13-14:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ (١٣) اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ جَزَاۤءً ۢبِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (١٤)

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati {13}. Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan {14}.

Dalam dunia santri istiqomah jika dikaitkan dengan definisi di atas berarti menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, teguh dan gigih dalam belajar diiringi dengan patuh atas perintah guru dan menjauhi larangannya. Jadi, keberadaan kita dengan jalan istiqomah dapat memberikan sebuah predikat tersendiri bagi santri tersebut dimata Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kendati demikian istiqomah tidak akan terlepas dari kehendak Allah terhadap hambanya, kembali yang harus digaris bawahi ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan sebab utama untuk beristiqomah.

Bagi santri tentu sudah menjadi sebuah pengetahuan umum bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, orang tua di sini jika dijabarkan terdapat 3 kelompok, antara lain: Orang tua yang melahirkan yakni orang tua kandung, orang tua yang mengawinkan yakni orang tua mertua, dan orang tua yang mengajarkan yakni para guru.

Baca juga: pesan-mbah-maksum-lasem-untuk-santri-krapyak

Maka wajib bagi seorang santri dalam berusaha menitih jalan keistiqomahan dengan memberikan rasa keta’dhiman terhadap para Kyai dan Ustadz, sebagaimana menjauhi laranganya dan melaksanakan perintahnya, maka tidak salah jika ada ungkapan “ البركة بالحكمة و نفعه بالرضا” keberkahan didapatkan dengan berkhidmah, dan kemanfaatan didapatkan dengan ridha para guru.

Dalam realitasnya tentu para santri memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang ajaran Islam, tetapi belum tentu dalam mengimplikasikan serta istiqomah memegangnya pasti sangat sulit, seperti halnya ungkapan “  الإستقامة خير من الف كرامة “ yang berarti istiqomah lebih baik dari 1000 karomah, karena betapa sulitnya untuk istiqomah dalam setiap perkara baik.

Tetapi, seharusnya dengan lingkungan pesantren yang tentunya mendukung akan lebih mudah bagi santri dalam istiqomah, cukup hal-hal yang kecil saja tapi dilakukan secara terus menerus seperti melakukan sholat berjamaah.

Dibalik kenyataan beratnya istiqomah, para ulama terdahulu dalam berbagai kitabnya menjelaskan betapa besarnya fadilah dalam istqomah mulai dari menjauhkan diri dari maksiat, diberikan jalan yang lurus, dan juga orang yang istiqomah tidak akan takut karena hatinya sudah terkait dengan ketetapan Allah.

Firman Allah dalam QS. Al-Fushilat ayat 30 menjanjikan surga bagi hambanya yang istiqomah sebagaimana berbunyi :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Konsep istiqomah inilah oleh Syekh Az-Zarnuji dikorelasikan di kitab Ta’lim Muta’allim diartikan dengan seorang santri yang harus terus mengulangi setiap pelajaran dari guru secara terus menerus di awal malam (antara waktu Maghrib sampai Isya’) dan akhir malam (waktu Sahur), karena terdapat berkah pada kedua waktu tersebut.

Dibalik penuturan di atas, menjadi kelumrahan bahwa terdapat istilah al-imaan yaziid wa yanqush atau iman itu terkadang naik turun, sehingga mungkin ada saatnya iman kita tumbuh maka kita bersemangat untuk beristiqomah. Tetapi ketika iman menurun, semangat istiqomah melemah.

Lalu bagaimana caranya agar tetap konsisten? Para santri dapat memulai dengan niat yang teguh, serta seperti yang dibahas di atas dengan mencari ridha guru sebagai support system dalam beristiqomah. Lalu memulai dari hal yang terkecil seperti menjaga kebersihan, sholat berjama’ah, ngaji tepat waktu. Dilanjutkan dengan menghindari kebiasaan buruk dan selalu sering untuk berdzikir mengingat Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.

Baca juga: kh-ali-maksum-peletak-sistem-madrasi-pesantren

_____

Oleh: Ahmada Wildan Afifi (Santri Komplek T)

Editor: Irfan Fauzi

Ahmada Wildan Afifi

Ahmada Wildan Afifi

AhmadaAfifi

18

Artikel