Meriahkan Kirab Hari Santri Nasional; Nurussalam Krapyak Delegasikan 80 Peserta

Santri Nurussalam Krapyak sedang mengikuti Kirab [doc. Naya]

almunawwir.com (Malioboro) – Ahad  (29/10/17) Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren di Yogyakarta ikut memeriahkan acara Grebeg Santri dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional ke-3 yang berlokasi di sepanjang jalan Malioboro. Event ini merupakan puncak dari rangkaian acara HSN sejak 22 Oktober lalu. Selain diikuti oleh 26 pondok pesantren di Yogyakarta, acara ini juga dihadiri oleh polres DIY, K.H Najib Abdul Qodir, serta ratusan pengunjung yang memadati jalan Malioboro.

Grebek Santri yang baru kali ini digelar di Yogyakarta mengambil rute yakni start dari gedung DPRD Kota Yogyakarta dan berakhir di alun- alun utara. Beberapa pondok pesantren di yogyakarta menampilkan berbagai parade kirab santri mulai dari marching band, hadroh, paskibra, orasi, pencak silat, display kostum daerah dan wayang, serta masih banyak lagi kreasi santri yang tampil dalam acara tersebut.

Grebeg Santri dimulai sejak ba’da dzuhur di halaman gedung DRPD Yogyakarta. Diawali dengan penampilan Marching band, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Waton. kEMUDIAN dilanjutkan dengan pelepasan peserta kirab secara simbolik oleh Kombes pol Azriyawan Aji yang menandakan resminya acara Grebeg Santri dimulai. Tak sebatas jalan hingga ke alun- alun utara, peserta juga dipersilahkan unjuk kebolehan di kawasan nol kilometer yang tentunya dijaga ketat oleh banser.

Komplek Nurussalam Krapyak Yogyakarta tampil dengan mendelegasikan 80 santri putra dan putri yang mengangkat tema “Santri berbudaya, Indonesia sempurna”. Barisan kirab ini diawali dengan maskot Garuda serta pasukan baris berbaris di belakangnya. Kemudian disusul dengan barisan wayang dan dayang- dayang, serta pakaian adat, pahlawan dan punokawan.

Penampilan Komplek Nurussalam Krapyak Yogyakarta dimeriahkan pula dengan tarian kolaborasi serta orasi yang berisi tentang perang. Saat ini yang kita hadapi bukanlah perang fisik, melainkan perang melawan nafsu masing- masing. Oleh karena itu, pemuda dan santri di seluruh Indonesia hendaknya bersama- sama membulatkan tekad di bawah panji ulama. Dengan meyakini bahwa Santri mandiri, NKRI hebat. Santri Berjuang, NKRI gemilang. Santri berbudaya, NKRI sempurna.

Event tahunan ini, menurut Fatimah yang merupakan salah satu penonton dari acara Grebek Santri diharapkan bisa lebih baik lagi dari tahun ke tahun. Semoga kedepannya santri lebih diakui dan semakin ikut berperan penting bagi nusa dan bangsa.[Naya]

Selamat Hari Santri Nasional!

AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI NEGERI


…kunci utama pertahanan negara adalah adanya moralitas yang sangat tinggi di kalangan generasi mudanya.


Gus Haidar Muhaimin menyambut hangat kedatangan Kapolres Bantul [Doc. Almunawwir.com]

Oleh : Neng Fahma

Pengalaman saya kali ini adalah tentang hari santri sesuai janji Bapak Presiden ketika kampanye di salah satu Ponpes di daerah Malang. Salah satu pencapaian beliau selama masa kepemimpinan ini adalah ditetapkannya hari santri sebagai hari nasional tanpa bermaksud untuk memecah belah mana yang santri dan mana yang bukan santri.

Saya sebagai santri merasa sangat tersanjung dengan ketetapan Bapak Presiden ini. Ternyata saya dan seluruh santri di negeri ini di akui. Bukan tanpa sebab Bapak Presiden menetapkan hari santri ini sebagai hari nasional.

Sejarah mencatat serta Bapak Presiden pun sepakat bahwa perjuangan bangsa dan pembangunannya tidak terlepas dari peran santri. Betapa seluruh usaha perjuangan umat islam Indonesia sejak zaman pra kemerdekaan hingga berhasil merebut kemerdekaan selalu berdasarkan usaha dan doa. Tentunya peran ulama dan para kiai dalam menanamkan hubbul wathon dalam jiwa santri sangat besar pengaruhnya. Santri merasa memiliki tanah kelahiran. Pada dasarnya santri diajarkan bentuk perjuangan sesuai dengan latar belakangnya yakni sebagai ahli ilmu, ahli khoir untuk kemajuan Negara Indonesia. Semua itu tidak akan terlepas dari belajar kesungguhan dan keikhlasan yang terbingkai dalam sebuah ikhtiar.

            Ada beberapa poin yang menjadi sorotan saya tentang hari santri. Setidaknya saya mengambil 3 poin mengenai hari santri, yakni:

1. Peringatan hari santri bagi saya

Upacara peringatan hari santri untuk yang ketiga kalinya dimulai sekitar pukul 08.30 di pesantren Al Munawwir (22/10). Santri siap mengikuti upacara dengan khidmat. Tidak lupa dengan dresscode ala santri dimana yang putra mengenakan sarung, koko putih, dan songkok. Sedangkan yang putri mengenakan jas almamater sesuai dengan komplek dan memakai jilbab sesuai dengan kesepakatan tiap komplek. Upacara berjalan lancar yang saat itu Pembina upacaranya adalah Kapolres Bantul, Bapak Imam Kabut S, S.IK, M.M. Bapak Kapolres memberikan pidato singkat tentang resolusi jihad NU yang beliau kutip dari pidato Ketua Umum PBNU, KH. Aqil Siradj.

Resolusi jihad NU adalah salah satu bukti bahwa umat islam Indonesia selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan NKRI. Tanpa adanya resolusi jihad NU ini, mungkin kita masih terjajah oleh sekutu yang saat itu ingin menguasai Indonesia setelah sukses mengalahkan Jepang dalam perang dunia kedua. Pada tanggal 22 Oktober 1945, Rais Akbar Nahdlatul Ulama yakni Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad bagi seluruh umat islam yang berada di dekat kota Surabaya untuk mau ikut berperang melawan penjajah. Sehingga resolusi jihad ini, umat islam menjadi terbakar semangatnya untuk berperang karena selain tak ingin kembali terjajah oleh Belanda, mereka juga merindukan mati syahid yang sudah dijanjikan akan memperoleh jaminan masuk surga oleh Allah SWT.

Sedikit sejarah yang perlu diketahui bahwa sebenarnya santri memang mempunyai peranan yang sangat penting bagi Indonesia. Kunci utama pertahanan negara adalah adanya moralitas yang sangat tinggi di kalangan generasi mudanya. Kalau kita menengok bagaimana santri di didik perihal moralitas, tentu sudah sangat cukup. Karena setiap waktunya santri seperti berada dalam miniature kehidupan. Kehidupan yang majemuk di lingkungannya, meskipun beda suku, bahasa dan tradisinya, namun santri bisa merangkul menggandengnya menjadi sahabat bahkan teman hidup selama mencari ilmu. Bukan hanya belajar kepada kitab akhlak untuk membentuk  moralitas, tapi langsung diajarkan pada kehidupan nyata. Bagaimanapun juga moralitas lah yang menjadi kunci pokok menjaga jati diri bangsa yang ramah, damai, nyaman dengan semua apa yang diajarkan kehidupan mini dalam pesantren.

Pagar Nusa Santri Ali Maksum [Doc. Almunawwir.com]

2. Hari santri nasional sebagai wadah menjaga keutuhan NKRI

Begitu bangganya saya menjadi santri khusunya santri Indonesia, sudah menjadi kewajiban saya untuk mencintai tanah air saya. Nasionalisme yang diajarkan oleh para ulama menjadi suntikan yang sangat tajam bagi saya. Juga seluruh santri Indonesia, sebagai bentuk rasa terimakasih yang tidak akan pernah habis.

Para ulama mempertahankan Indonesia ini dengan cara menjaga paham agar tidak ternodai oleh paham lain. Jelasnya adalah bagaimana kita menjaga Alqur’an dan Sunnah agar tidak diselewengkan dan lebih mempelajarinya sesuai dengan apa yang diajarkan para pendahulu yang ilmunya luar biasa banyak dan lebih berhati-hati.

Ketika kita melihat sekarang ini muncul banyak isu mengenai Indonesia akan dijadikan khilafah, negara ini haram, negara ini tidak sesuai dengan bentuk khilafah, maka sesungguhnya disitulah muncul perpecahan dalam umat islam sendiri. Kita perlu mengingat lagi tentang hadits yang menjelaskan bahwa umat islam sendiri akan terpecah menjadi berbagai golongan. Dari sana kita tahu, sudah berapa banyak pecahan umat islam sendiri? Mengatasnamakan agama untuk kepentingan organisasi masyarakat.

Seharusnya dengan dijadikan hari santri ini tidak ada lagi perpecahan. Karena memang pada dasarnya musuh terbesar berada dalam golongan  sendiri yang memang mengkaji suatu ilmu secara tekstual. Hari santri ini bukan untuk mengkotak-kotakkan siapa yang santri siapa yang bukan. Toh yang namanya santri adalah istilah umum bagi mereka yang belajar di suatu tempat. Dengan adanya hari santri ini juga semoga akan semakin kuat rasa nasionalisme seorang santri. Terutama dalam mempertahankan negara Indonesia dari penjajah yang berupa budaya barat masuk ke dalam Indonesia. Ketika santri bersatu untuk melawan serangan dari dalam,  maka keutuhan  NKRI akan tetap terjaga.

3. Santri jangan hanya sebagai penikmat sosmed, tapi manfaatkanlah sosmed

Kata siapa santri itu kudet? Kata siapa santri itu gagap teknologi? Era sekarang ini santri memang harus dituntut untuk menguasai teknologi informasi yang semakin hari semakin berkembang. Kenapa? Karena zaman sekarang ini dakwah lebih intensif menggunakan media sosial.

Misal saja saya menyebut Instagram. Pengaruh dari Instagram ini sangat hebat dan luar biasa. Hal ini karena kebanyakan sekarang ini semua orang pasti memiliki akun sosial media. Maka, ketika santri berdakwah khususnya menggunakan sosial media, tingkat keberhasilannya bisa dibilang sangat signifikan.

Apabila sosial media menjadi konsumsi sehari-harinya masyarakat dari usia anak-anak hingga dewasa, maka memang benar peringkat gadget menjadi prioritas di era sekarang. Kita harus sadar bahwa media sosial memiliki bagian vital untuk menjadi sumber informasi yang dibutuhkan secara cepat. Alasan yang mulia untuk menjadikan sosial media sebagai salah satu media dakwah untuk menebar banyak manfaat kepada khalayak umum dengan banyak berita yang tentunya tidak provokatif. Menjadikan islam sebagi agama yang rahmatan lil alamin, menebar damai kepada sesama santri dan umat muslim khususnya di Indonesia.

Hasil survey APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia)  menunjukkan 5 rating tertinggi kegunaan media sosial, yakni 97,5% media sosial digunakan sebagai media informasi, 94,6% digunakan sebagai berdagang/bisnis, 90,4% digunakan untuk sosialisasi kebijakan pemerintah, 81,9% digunakan untuk berdakwah, dan 75,6% digunakan untuk berpolitik. Dakwah yang menempati urutan ke empat ini akan terus naik ratingnya jika setiap santri update quote para kiai. Sehari satu quote, jika semua santri menggalakkan gerakan ini, maka umat islam tidak akan haus nasihat-nasihat kehidupan.

baca juga : Santri Millenial: Oase di tengah “Sahara” Media Sosial

Ihwal Kebahasaan Tindak Tutur “Ngaji, Ngaji, Ngaji Sudah Siang”

[su_quote]…sebelum merasa hampa harimu tanpa nderes, bersemayamlah dalam sangkar “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang”[/su_quote]


Oktober di Indonesia, diperingati sebagai “Bulan Bahasa”. Entah, Anda ikut merayakannya atau tidak, saya kurang tau. Tapi, dalam tulisan ini, saya akan merayakannya dengan mengulas hal ihwal bahasa serta kebahasaan yang ada di pesantren. Kultur pesantren yang kaya, kultur pesantren yang unik sekaligus menarik.

Kebahasaan pesantren yang saya maksud itu adalah “Ngaji, ngaji, ngaji sudah siang”. Sebuah dawuh dari Mbah Kiai Najib Abdul Qodir Munawwir, yang ajeg dan nggak pernah lupa beliau sampaikan kepada para santri setiap ba’da talaqqi (menelateni qiro’ah kiai).

Kehilangan terbesar adalah luputnya kepercayaan. Akan tetapi ada kehilangan yang lebih agung, yaitu amaliah kehidupan yang sia-sa.

Kesia-siaan atau mubadzir, dalam kultur kita, barangkali sering kita pakai hanya pada konteks makanan belaka. Misal dalam ungkapan, ”Kang, madange entekno, ben ndak mubadzir!”, “Kang, Jajane kudu dientekno loh!”, ujaran-ujaran itu mengkonfirmasi perilaku agar tidak menyia-nyiakan, menuntaskan segala urusan, menghabiskan makanan. Padahal, tidak jarang, makanan itu, maaf, kurang layak untuk dimakan. Belum lagi ada tambahan demikian, “Kang, madang e entekno! Ndak Ayam e mati!”. Loh, makanan nggak dihabiskan saja bisa bikin Ayam mati! Keren nggak?. Lantas kalau makanan itu kita habiskan, apakah berarti kita telah menghidupkan Ayam? Nggg….. Hal itu juga menunjukkan, betapa ke-mubadzir-an adalah bencana. Dan dalam satu ayat, dijelaskan jika sikap kemubadziran itu lebih mendekatkan kita kepada setan.

Di luar konteks makanan, ke-mubadzir-an nyatanya dirasakan pula oleh mereka para penghafal Al-Qur’an. Bagaimana tidak, pasalnya berangkat dari kontinuitas mereka dalam membaca dan mendaras Al-Qur’an di setiap harinya (minimal tiga kali sehari), lalu dalam suatu kesempatan dihadapkan dengan kesibukan (yang sebenarnya tidak penting-penting amat), mereka akan merasa kehilangan. Entah itu waktu dan ke-ajeg-an. Mereka terpukul, merasa seolah-olah tanpa mengaji sehari. Harinya terasa hampa, sia-sia dan mubadzir.

Nah, sejalan dengan itu, tindak tutur “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang” telah mencorakkan maksud yang penulis paparkan di atas. Sudahkah jelas? Apa perlu penulis paparkan penjelasan lagi?

Baiklah, sedikit akan saya jelaskan lagi menurut asumsi saya. Dalam cara pandang teori pragmatik, ada empat hal yang menarik dari dawuh tersebut, yang kedua-duanya bersandar pada konteks zaman.

Pertama, dawuh Mbah Najib yang selalu diulang-ulang itu, dipaparkan tatkala pagi masih semenjana. Sekitar pukul 06.30 yang bagi ukuran kita, waktu tersebut dirasa masih pagi. Masih segar-segarnya udara pagi. Waktu pw untuk berleha-leha. Seperti orang selo macam saya. Tapi, lain dengan Mbah Najib, beliau melihat pagi dengan makna yang lebih jauh. Jauh yang dimaksud adalah konteks yang mengesankan masa yang akan datang. Misal demikian, “Siang” sebagai jengkal menuju “Malam” merupakan kekhawatiran yang jauh telah diperhitungkan oleh Mbah Najib. Dan malam itu akhir dari hari. Lantas kalau hari sudah berakhir, bagaimana nasib kita? Menunggu hari besok? Iya kalau hari itu masih ada bagi kita, kalau tidak?

Kedua, Selain “Siang” bermakna waktu, ia juga bermakna umur. Analoginya hampir sama yaitu siang tidak lagi sebagai waku untuk berleha-leha. Seperti umur, umur yang tidak lagi mengalami masa-masa leha-leha. Karena itu, ia harus terus dipacu, diasah dan digunakan sebaik-baiknya selagi zaman masih terus berjalan.

Dari sana, kita menemukan korelasi antara waktu dan kemubadziran. Waktu dan umur yang terkandung dalam dawuh “nagji, ngaji, ngaji sudah siang” menyiratkan ketidak-harusan kita untuk menyia-nyiakan dua entitas tersebut.

Ketiga, redaksi kalimat yang dipilih pun, sungguh menunjukkan keagungan ilmu, kerendahan hati dan kesantunan. Bisa saja ungkapan semacam “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang” itu memakai redaksi “ngaji, ngaji, sudah tua” atau “ngaji, ngaji bukan waktunya berleha-leha”. Tapi, sungguh lain dengan Mbah Najib, begitu santunnya beliau dawuh, meskipun itu kepada santrinya yang—dalam struktur sosial berada di bawah tingkatan kiai. Akan tetapi, logika demikian sama sekali tidak berlaku dan dipakai belaiu, bahwa semua sama dihadapanNya.

Keempat, terutama pragmatik lebih menekankan pada soal fungsionalisme, pengaruh atas dawuh itu, adalah melaksanakannya. Melaksanakan ‘perintah’ ngaji. Yang dalam frasa tersebut diulang sebanyak tiga kali. Jumlah tiga kali itu juga memiliki arti, ketegasan yang setegas-tegasnya. Bahkan, dalam beberapa kali kesempatan, sering sesama santri, terutama para pengurus menirukan dawuh Kiai untuk mengobrak ngaji. “ngaji, ngaji, ngaji kang, sudah siang.”

Kehilangan terbesar adalah luputnya kepercayaan. Akan tetapi ada kehilangan yang lebih agung, yaitu amaliah kehidupan yang sia-sa. Mawaslah, sebelum kehilangan itu membayang-bayangimu.

Ala kulli hal, sebelum merasa sia-sia amaliah kehidupnmu, sebelum merasa hampa harimu tanpa mendaras, bersemayamlah dalam sangkar “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang” tersebut. Semoga kita tidak menafikan mutiara-mutiara yang tersimpan dalam keagungan sajadah jannah yaitu Bumi Krapyak. Wallahu A’lam.

Selamat Berbulan Bahasa!

baca juga :  AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI NEGERI

Aku Terbangun di Sepertiga Malam

Ilustrasi: Sketsa Hijau

Oleh: ikhwan din*

Tulisan ini untuk diriku dan kalian—siapapun yang sedang berjuang di perantauan.

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.

Ya, tak seperti biasa santri santri lakukan di tengah malam yang bangun untuk menunaikan “tahajud”. Kali ini aku terbangun. Dengan wajah yang masih berantakan, aku duduk di atas alas tempat tidurku. Sambil menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit-langit kamar yang sengaja kugelapkan.

Bagaimana bisa aku tertidur lelap? sedang orangtuaku disana hanya mampu memejamkan mata barang satu jam-dua jam saja

Bagaimana aku bisa makan dengan lauk yang enak? sedang orangtuaku di rumah, hanya makan dengan lauk yang sangat sederhana.

Bapak mati-matian banting tulang, mencari uang halal, demi sebuah gelar “Sarjana” yang akan disandang oleh anaknya nanti.

Dan Ibu yang memikirkan bagaimana kuliahku, apakah kondisiku baik-baik saja, apakah aku telat makan, apakah aku dapat berteman dengan baik, apakah dosenku menyukaiku—

Dan masih banyak lagi.

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.

Aku menunduk. Memejamkan mataku, dan membiarkan air mata mengalir deras di baju yang aku kenakan.

Betapa dosanya aku jika saat menelepon orangtuaku dan hanya keluhan yang aku keluarkan,

“Bu, aku sakit.”

“Pak, uangku habis.”

Betapa dosanya aku jika saat orangtua meneleponku malah kuberi jawaban menyakitkan,

“Nanti lagi teleponnya, Bu. Tugasku masih banyak.”

Ibu ngapain telepon? Aku masih ngerjain tugas.”

Betapa dosanya aku, jika aku sampai lupa menanyakan kabar orangtuaku karena kesibukanku di dunia perkuliahan,

Betapa dosanya aku, jika tidak merasakan rindu kasih orangtua jika mereka tidak meneleponku selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, atau mungkin berbulan-bulan?

Segitu tidak peka kah aku kalau mereka sedang rindu?

Segitu tidak peka kah aku kalau mereka ingin mendengar suaraku?

Segitu tidak peka kah aku—

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.

Kubiarkan air mataku bercucuran membanjiri selimut tidurku,

Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman hanya menghabiskan waktu untuk tidur di kamar. Merasakan kembali hangatnya kasur sendiri, merasakan kembali tidur tenang selama seharian.

Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman hanya untuk bermain bersama teman lamaku, teman SMA, SMP, bahkan SD.

Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman, tidak membawa kabar baik untuk orangtua.

Aku salah, Bu, Pak. Jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman, tidak bersalaman dengan kalian, mencium pipi kalian, memeluk kalian, lalu mengobrol hangat, bertukar cerita dengan kalian.

Bu, Pak. Anakmu ini sedang berjuang. Aku mungkin tidak sepintar teman-temanku yang lain, aku juga tidak lebih rajin dari mereka, apalagi soal organisasi—aku masih sering bingung membagi waktuku untuk mengaji, kuliah, organisasi dan mengerjakan tugas kuliah.

Tapi…

Bu, Pak. Percayalah, anakmu ini akan selalu memberikan yang terbaik di setiap detik, menit, dan jam yang terlewati.

Aku tidak menjanjikan bahwa aku lulus dengan gelar mahasiswa terbaik. Aku tidak menjanjikan besarnya indeks prestasi kumulatif yang kudapat. Aku tidak menjanjikan sertifikat-sertifikat juara yang kuterima, atau sertifikat-sertifikat organisasi yang kuikuti. Aku hanya bisa menjanjikan aku akan memberikan yang terbaik. Hanya untuk kalian.

Kan kupersembahkan gelar Sarjanaku untuk kalian.

Dari aku yang hidup di perantauan.

*Santri Al Munawwir Komplek L

baca juga : Peluang Usaha Era Santri Milenial: “Santri Mandiri Prestasi Negeri”

Suka – Duka menjadi Muadzin Krapyak dan Pendengaran adalah Kunci

 


Kita susah menyadari bahwa telinga kita adalah organ pertama yang sanggup kita gunakan sejak pertama kali dilahirkan. Pendengaran akan merespon penglihatan serta mulut untuk bekerja. Akan sia-sia bila kita mencoba untuk menahan telinga kita untuk tidak mendengar, barang sekali pun. Meskipun kita sedang terkonsen pada satu hal, pasti hal lain disekitar kita akan terdengar pula. 


Oleh : AFQO*

Mencoba merasa dekat dengan Tuhan adalah impian semua orang beriman. Jangankan hanya ingin dekat, memanggil Tuhan dalam adzan pun, terkadang diidam-idamkan. Bahkan suatu persaingan.

Tapi ini bukan soal bersenandung enak di bawah lindungan payung Adzan. Sama sekali bukan. Ini persoalan penghargaan terhadap hak publik. Kalau soal ber-adzan saja, anak kecil juga bisa.

Ada perbedaan jelas ketika kita mencoba adzan sendiri dalam kamar misalnya, dengan mengumandangkan adzan di Masjid.

Sama-sama mengumandangkan adzan, tapi yang satu di ranah privat sedangkan satu yang lain di ranah publik. Otomatis pertimbangan-pertimbangan publiklah yang fardhu terlebih dahulu harus diselesaikan. Jadi sebelum Anda Adzan, mbok dikiro-kiro, apakah adzan Anda sudah enak dan pantas didengarkan khalayak. (Tidak seharusnya) Anda langsung nyelonong menyalakan mikropon dan lantas adzan. Kecuali, kalau tidak terpaksa juga, misal sudah menanti lama, tapi muadzin belum juga datang.

Kita susah menyadari bahwa telinga kita adalah organ pertama yang sanggup kita gunakan sejak pertama kali dilahirkan. Pendengaran akan merespon penglihatan serta mulut untuk bekerja. Akan sia-sia bila kita mencoba untuk menahan telinga kita untuk tidak mendengar, barang sekali pun.

Meskipun kita sedang terkonsen pada satu hal, pasti hal lain disekitar kita akan terdengar pula. Orang yang berbicara lebih dari lima meter, sedikit banyak akan kita dengar. Bahkan dalam kondisi tidur pun, telinga masih bisa berfungsi.

Seperti yang dialami oleh Srintil yang meskipun tubuhnya lemas, matanya  terlelap, dia tertidur di area Pasar Dawuan musabab hanyut mendengarkan Wirsiter yang sedang bersenandung Asmara Dahana. Pun ketika dia bangun, juga musabab telinganya sanggup menangkap suara dari Wirsiter tersebut (dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk).

Lain dengan mata dan mulut yang bisa ditahan dan atau dibatasi fungsinya dengan menutup. Karenanya kita diadzani di telinga sebelah kanan dan diiqomahi di sebelah kiri.

Pun tatkala kita sensitif lantas agresif dengan omongan orang, itu sebab kita mendengarkan. Pendengaran adalah kunci. Agresifitas kita itu bukan semata karena mereka yang berbicara. Melainkan kita yang benar-benar tidak bisa menahan telinga untuk tidak mendengar.

Sejalan dengan itu, di Krapyak ada hal yang sedemikian menarik, yang telah ada dan hampir pasti dilakukan, yaitu sikap ketidakseganan bila ada santri adzan di Masjid pusat atau di sekitaran komplek pesantren Krapyak yang kebetulan terdengar kurang nyaman di telinga.

Lantas adzan yang terdengar seketika itu pula banjir reaksi dengan berkoar-koar, “Mudun Kang! Mudun!”, “Suoromu Elek Kang!”, “Jo Baleni Maneh Kang!”, “Adzan nang Masjid liyo wae Kang!”, bahkan sindiran “Adzano maneh Kang! Adzanmu enak dewe!”. Kecaman ini mencuat sebab publik merasa haknya untuk mendengar keindahan telah dirampas. Sebenarnya saya dulu sempat shok dan gumun, “ini ada orang adzan kok malah dibalas kek gini. Mending dia, mau adzan meskipun ya kayak begitu suaranya. Daripada kalian yang hanya sanggup berkoar-koar”, geremangku dulu pas awal lihat kek gituan.

Jelas lain cerita jika adzannya bagus dan enak. Umpatan-umpatan “macam mencegah kedholiman” seperti itu, mustahil terdengar (Sebentar, ini bukan soal umpatannya. Tetapi soal reaksi mencegah kedhaliman). Berganti dengan suasana yang tenang, adem ayem toto rahardjo. Bahkan, sekarang ini tidak sedikit pula, santriwati-santriwati yang kagum, hingga menjadikan adzannya sebagai story di WA ataupun Instagram. Eh. Dan tidak jarang pula, adzan itu mengantarkannya pada tangga ketenaran dan fans yang melimpah ruah, seperti yang dialami teman sekamarku yang rempong ngurusi para fans-nya.

Pernah suatu ketika, dikala Mbah Zainal Abidin Munawwir masih sugeng, ada santri adzan di Masjid Krapyak, ketika adzan, ekspresi dia terlihat tenang, santai dan menjiwai. Di luar itu, para santri yang kebetulan kompleknya berada di sekeliling masjid, berkoar-koar kurang bersahabat. Kemudian, semua itu berubah ketika ada seorang santri yang menghampirinya tatkala ia selesai adzan, dan berbicara dengan lirih,

“Kang, sampean dipadosi Mbah Zainal. Ken rawuh ten ndalem. Sakniki.”.

Sontak dia kaget. Ekspresinya berubah antara bingung dan sumringah.

“Wah, tumben-tumben Mbah Zainal manggil saya. Jangan-jangan mau….”

Setelah menuruti apa kata santri itu, muadzin tadi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ndalem Mbah Zainal, yang tempatnya bersebelahan dengan Masjid. Tak disangka-sangka, sekembalinya dari ndalem, wajah muadzin itu sangat lusuh, pucat dan diam seribu bahasa.

Usut punya usut, ternyata Mbah Zainal tidak menghendaki dia untuk adzan di Masjid Krapyak lagi. Alasan Mbah Zainal kurang menghendaki adalah pertama, kurang sepaham dengan makhrojnya. Kedua, kualitas suaranya tidak untuk konsumsi umum. Ya bagaimana lagi, mafhum mukholafahnya demikian, adzan merupakan panggilan salat. Jika panggilan menyerukan sembahyang tersebut kurang menarik perhatian, jangan salahkan bila masyarakatnya pun enggan menerima panggilan tersebut. Masjid pun menjadi sepi. Nah, dari sini persoalan adzan pun, harus memafhumi publik.

Belajar dari peristiwa itu, istri Mbah Zainal yakni Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal melakukan semacam pen-taskhih-an bagi para muadzin-muadzin di Masjid Krapyak hingga saat ini. Semacam tes untuk bisa menjadi muadzin tetap di Krapyak. Diam-diam, musabab ini pula yang membuat saya menghindar untuk mengumandangkan Adzan di Masjid Krapyak lagi. Saya menyadari, ternyata ora gampang lur dadi muadzin Krapyak iku.


Telinga itu sendiri, menurut saya, adalah kristal literatur Islam yang membedakannya dengan keilmuan barat yang berdasar hanya dengan panca indera. Kita sering membaca riwayat hadis dengan redaksi “saya mendengarkan dari”, “saya mendengarkan begini”, dan semacam itu. Bahkan hampir keseluruhan hadis itu diriwayatkan dari hasil “mendengarkan”.

Al-Qur’an juga mendahulukan “pendengaran” daripada “penglihatan” (QS.2:07,20, QS.6:46, QS. 10:31, QS. 16:108, QS. 19:38, QS. 45:23). Mungkin, barangkali tradisi lisan sempat disepelekan oleh Barat, akan tetapi, faktanya tradisi lisan telah melahirkan peradaban yang unggul bagi masing-masing peralihan peradaban. Penonjolan atas kekuatan pendengaran dalam tradisi keilmuan Islam merupakan nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an.

*) Afrizal Qosim – Santri Al Munawwir Krapyak

baca juga : Apa salah dan dosa santri putri, hingga kungapusi Mbah Kiai

Teori Stephen R. Covey; “Menjadi Manusia Efektif dan Produktif”


Menuliskan tujuan dalam hidup sudah banyak dipahami sebagai salah satu upaya penting dan serius dalam menggapai impian. Namun sebenarnya semua pencapaian manusia memiliki dua fase penciptaan, yaitu ketika diciptakan di dalam mental serta ketika diciptakan secara nyata. Seperti sebuah blueprint, bentuk nyata dari sebuah pencapaian akan mengikuti bagaimana ia diciptakan dalam mental.


Belajar-mengajar dari Teori Stephen R. Covey untuk Menjadi Manusia Efektif dan Produktif

Oleh: Sa’adah*

Beberapa hari lalu, saya mengikuti pelatihan kader muda ekonomi yang bertema “Santri Mandiri Prestasi Negeri” yang diselenggarakan oleh Pengurus Departemen Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Dalam pelatihan ini, materi disampaikan oleh saudara Ahsan yang mencoba membahas pembahasan “The 7 Habits of Highly Effective People” menurut Stephen R. Covey.

Menurut Stephen R. Covey terdapat tujuh kebiasaan unggul untuk menjadi manusia efektif. Pertama, jadilah manusia proaktif (be proactive).

Ciri menjadi manusia proaktif yaitu mengambil tanggung jawab tentang kehidupan kita sendiri, tidak menyalahkan situasi maupun keadaan, serta lebih memusatkan perhatian pada hal-hal yang bisa kita perbaiki. Di sinilah seharusnya dipersepsikan bahwa proaktif adalah sikap reaktif yang produktif, fokus pada lingkaran kendali untuk mengubah hal-hal yang ingin kita ubah, bukan sekadar mengubah hal-hal yang bisa kita ubah.

Orang-orang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka melakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik (kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas). Menggunakan pendekatan dari dalam ke luar–bila meminjam istilah Peter L. Berger disebut sebagai “eksternalisasi”–untuk menciptakan perubahan. Salah satu kuncinya adalah bertekad kuat menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar yang bisa diambil setiap orang.

Kedua, mulailah sesuatu dengan gambaran akhirnya (begin with the end in mind). Mampu menggambarkan hasil akhir yang ingin dicapai secara jelas yang ditandai dengan menuliskan mimpi dan pernyataan misi.

Menuliskan tujuan dalam hidup sudah banyak dipahami sebagai salah satu upaya penting dan serius dalam menggapai impian. Namun sebenarnya semua pencapaian manusia memiliki dua fase penciptaan, yaitu ketika diciptakan di dalam mental serta ketika diciptakan secara nyata. Seperti sebuah blueprint, bentuk nyata dari sebuah pencapaian akan mengikuti bagaimana ia diciptakan dalam mental.

Ketiga, selalu dahulukan yang lebih utama (first things first). Artinya, fokus pada prioritas. Karena kita tidak akan bisa menyelesaikan semua hal yang hinggap di tangan kita secara bersamaan serta harus memastikan diutamakannya hal yang utama.

Ketiga kebiasaan efektif pertama berbicara tentang sukses pribadi, sementara ketiga kebiasaan efektif berikutnya fokus pada inderpendensi dengan orang lain. Kebiasaan efektif.

Keempat, berpikir menang – menang, bukan menang – kalah (think win – win). Berfikir menang – menang berarti selalu mengutamakan kerja sama, sifat kooperatif, dan menguntungkan kedua belah pihak. Faktanya, kita tidak bisa memuaskan semua orang, selalu ada pihak yang merasa tidak menang atau tidak diuntungkan. Sehingga jika win-win solution tidak mungkin dihasilkan, paradigma yang bisa dimunculkan adalah tidak boleh menzhalimi, tidak merugikan dan meminimalisir kemudhorotan. Akhirnya, tidak mendapat apa-apa atau bahkan menerima kekalahan dengan sikap positif bisa jadi merupakan sebuah kemenangan.

Kelima, Pahami orang lain terlebih dulu, baru mereka memahami Anda (seek first to understand, then to be understood). Jangan selalu ingin dimengerti berusahalah melihat dari sudut pandang dan pemahaman orang lain. Demikian dengan kebiasaan efektif.

Keenam yaitu sinergi (synergize). Selalu melakukan sinergi artinya, menggabungkan kekuatan kita dengan kekuatan orang lain untuk berkarya, bukan untuk bersaing atau menjatuhkan. Sinergi tidak melulu berbicara tentang perbedaan, tetapi justru kuat dengan berbagai kesamaan, sinergi juga tidak semata ada dalam ranah komunikasi namun banyak bermain dalam ranah aksi.

Adapun kebiasaan efektif Ketujuh adalah mengasah gergaji (sharpen the saw) yang bertujuan agar senantiasa tajam dan berfungsi. Selalu memelihara dan memperbaharui aset terbesar yang kita miliki: Diri kita sendiri.
Kesuksesan bersumber dari rangkaian kebiasaan yang efektif sebenarnya mudah dipahami, banyak kisah yang dapat menjadi contoh. Akan lebih baik lagi jika kesuksesan tersebut dihubungkan dengan visi jangka panjang dalam bingkai keimanan dan ketakwaan. Jika sukses pribadi adalah menjadi hamba Allah yang beribadah dan sukses bersama adalah menjadi khalifah yang memakmurkan bumi, maka mengasah gergaji adalah keistiqomahan dalam menjalankannya. Semoga kita bisa menjadi pribadi efektif yang sukses pribadi dan sukses bersama, yang sukses dunia dan akhirat. Aamiiin…

*) Siti Sa’adah – Santri Komplek R2, Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak

baca juga : Aku Terbangun di Sepertiga Malam

Kapolres Bantul; “Hari Santri Sebagai Revitalisasi Etos Moral Kesederhaan”

 


Selamat Hari Santri Nasional 2017. Santri kuat, NKRI hebat.


Kapolres Bantul POLDA DIY Beri Amanat pada Upacara Hari Santri 2017 di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

almunawwir.com (Krapyak) – Kapolres Bantul Imam Kabut Sariadi, S.IK., MM. Pada hari Minggu, 22 oktober 2017 menjadi pembina upacara dalam rangka memperingati hari santri nasional di halaman pusat Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Upacara ini dihadiri oleh sejumlah pengasuh dan Ahlen Pondok Pesantren Al Munawwir serta seluruh santri Al-Munawwir.

Upacara dimulai dengan pembacaan Pancasila, pembacaan ikrar santri, menyanyikan lagu “hubbul wathon minal iman”, Tanah Airku dan Indonesia Jaya kemudian dilanjutkan dengan  amanat pembina upacara serta ditutup dengan doa. Untuk pengibaran Bendera Merah Putih yang dilakukan oleh tiga santri putra, pembacaan teks Pancasila dibawakan oleh pembina upacara, sedangkan pembacaan ikrar santri  oleh  ustad As’ad Syamsul Arifin, S.H.I, MH.

Hari ini merupakan tahun ketiga keluarga besar Nahdlatul Ulama dan seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Setelah adanya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 yang merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

 Tak berbeda dari upacara tahun lalu, para petugas upacara menggunakan dresscode ala santri. Sarung, koko putih, songkok tidak terlepas dari identitas kesantriannya.

Dalam upacara ini, bapak  Imam selaku pembina upacara dalam amanatnya membacakan amanat Ketua Umum PBNU pada peringatan Hari Santri tanggal 22 Oktober 2017. Dengan sangat tegas beliau mengatakan bahwa momentum Hari Santri harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhaan, asketisme, dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri.

Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi dan narkoba yang mengancam masa depan bangsa. Korupsi dan narkoba adalah turunan dari materialisme dan hedonisme. Merupakan paham kebendaan yang mengagungkan uang dan kenikmatan semu. Singkatnya, santri harus siap mengemban amanah, yaitu amanah kalimatul haq.

Berani mengatakan “iya” terhadap kebenaran walaupun semua orang mengatakan “tidak”. Sanggup menyatakan “tidak” pada kebatilan walaupun semua orang mengatakan “iya”. Itulah karakter dasar santri yang bumi, langit dan gunung tidak berani memikulnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzaab ayat 72.

Selain itu beliau juga menyinggung bahwa santri sekarang ini hidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet mempunyai aspek manfaat dan mudharat yang sama-sama besar. Internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam. Tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks. Santri perlu memperalat teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama, jiwa, nalar, harta, keluarga, dan martabat seseorang.

Upacara ini kemudian ditutup dengan do’a oleh  bapak KH. Muhtarom Busyro. Kemudian dilanjutkan dengan sesi penyerahan tropy dan uang pembinaan juara KASAJI CUP dan lomba desain poster nasional. Serta sesi penampilan dari Hadroh Al-Masyhuriyah komplek IJ serta penampilan beladiri Pagar Nusa dari Ali Maksum. [Sa’adah]

Seminar Kebangsaan: “Mewujudkan Kedaulatan NKRI”

almunawwir.com (Krapyak) – Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak menjadi tuan rumah seminar kebangsaan yang di digelar oleh PWNU DIY, Sabtu (21/10/2017). Sebanyak kurang lebih 100 peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat menghadiri acara pembinaan santri tentang wawasan kebangsaan yang diadakan oleh PWNU DIY bertempat di Aula G Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak.

Mengusung tema Aktualisasi Resolusi Jihad di Era Reformasi acara kemarin menjadi salah satu agenda dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 oktober 2017.
Perwakilan Wakil Gubernur DIY, Biro Administrasi Kesra dan Kemasyarakatan DIY yang berkesempatan memberikan sambutan memaparkan mengenai jihad para santri dulu yang mewakafkan hidupnya demi kemerdekaan Indonesia. Selain itu beliau mengingatkan bahwa resolusi yang di kumandangkan K.H Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 adalah sebuah peristiwa yang menjadi mata rantai perlawanan terhadap kaum penjajah.

Selain itu acara pembinaan tersebut menghadirkan tiga tokoh pembicara diantaranya Kapolda DIY, Brigjen (Pol) Ahmad Dofiri, Kasiter Kolonel Arm Endro Respati, mewakili Danrem 072, dan Kepala Kanwil Kementrian Agama DIY, Drs H Muhammad Lutfi Hamid M. Ag
Acara di awali dengan penyampaian materi Brigjen (Pol) Ahmad Dofiri mengenai Radikalisme dan Ancaman Disintegrasi Bangsa. Dilanjutkan pemaparan dari Kasiter Kolonel Arm Endro Respati, mewakili Danrem 072 tentang Peran Masyarakat dalam Mewujudkan Kedaulatan NKRI. Dan disempurnakan oleh Kepala Kanwil Kementrian Agama DIY, Drs H Muhammad Lutfi Hamid M. Ag yang menyampaikan materi Mewujudkan Kedaulatan NKRI.

Para peserta pembinaan yang hadir begitu antusias mendengarkan materi yang disampaikan oleh ketiga pembicara. “Acara yang sangat bermanfaat, menambah wawasan tentang kebangsaan terutama bagi santri saat ini sebagai salah satu pondasi menghadapi era globalisasi,” ungkap Nufa salah satu peserta seminar.
Harapannya, setelah berakhirnya pembinaan, santri nantinya memiliki landasan moral yang lebih dari elemen lainnya guna mempertahankan keberlangsungan NKRI sesuai dengan tujuan Indonesia yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945. [Aninda]

Ketika Santri Menghapus Luka Negeri

Foto Dokumentasi Media Al Munawwir


… dalam bahasa beliau tersebut lima elemen, yakni sabar, menerima apa adanya, murah hati, tekun dan giat. Disinilah letak Revolusi Mental Santri.


Oleh: Afqo

Moralitas dibenturkan dengan zaman yang kian kaku (tidak manusiawi) sebab globalisasi dan modernisasi. Kelelahan kita dalam integrasi solidaritas umat nampak nyata terlihat. Menyerah sebelum bertanding, mental moralitas kita berhenti di sana, atau dengan kata lain masyarakat Indonesia dewasa ini menjadi masyarakat yang oleh Amin Abdullah (2016) disebut sebagai Masyarakat Krisis”, dalam bentuk apapun dan kondisi apapun.

Mengingat urgensi moralitas, pesantren sebagai institusi pendidikan, mengkader santri untuk bersikap terbuka, luwes, dan berpandangan luas. Moralitas, sangat dihargai di sana, bahkan jika ada yang melanggar, dikenai hukuman (ta’zir). Moralitas baru, sebagai awal konstruksi moral yang teguh dan kokoh akan perubahan zaman, telah tertanam sejak lama dalam institusi tersebut. Pesantren selektif dalam memilah hal ihwal baru. Mencoba bersifat terbuka dengan dialog antar budaya. Prinsip institusi itu, oleh Ron Lukens-Bull (1997) disebut sebagai institusi yang penuh dengan kedamaian.

Ahlusunnah/sunni yang menjadi ideologi keagamaan kaum pesantren, pada  umumnya bebas dari fundamentalisme dan terorisme. Abdurrahman Mas’ud (2007), menyebut ada lima ciri khas kaum pesantren. Pertama, tidak melawan penguasa atau pemerintah yang ada. Kedua, kekakuan atau rigriditas dalam menegakkan kesatuan vis-à-vis disintegrasi dan chaos. Ketiga, teguh dan kokoh menegakkan prinsip jama’ah, mayoritas. Keempat, bersikap tawassuth, tengah-tengah, moderat. Kelima, berwajah komunitas normatif, teguh dalam menegakkan prinsip kebebasan spiritual. Kelima unsur tersebut, mengkristal menjadi Budaya Damai dalam pesantren,   

Gus Mus dalam sebuah momen pernah berkata, “Siapapun bisa menjadi santri, meskipun sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan di Pesantren”. Sebab santri adalah entitas yang bernuansa akhlak, etika sosial. Santri bukanlah sebuah gelar bagi mereka yang pernah atau sedang belajar di Pesantren, melainkan mereka yang tidak lupa akan nilai, norma dan hukum yang berlaku dalam masyarakat pun agama dalam bentuk sikap di kesehariannya.

Nilai santri sebagai etika tidak bias lingkungan, malah orientasinya adalah lingkungan, konteks. Ruh pesantren—kurikulum, solidaritas sosial/gotong royong, sosial-budaya, moralitas keagamaan—menggelorakan spirit santri dalam menghadapi tantangan realitas zaman modern. Dalam melihat realitas, santri mampu tidak hanya berpikir duniawi (materialistis), melainkan pula ukhrawi (moralitas). Bukan hanya religion ways of knowing (syari’at), atau science ways of knowing  saja. Melainkan mereka mensinergikan keduanya—meminjam istilah Arthur J. D’adomo—menjadi religion be scientific, yaitu memilah, mempelajari dan memahami ilmu pengetahuan umum yang kemudian diakomodasikan dalam pemikiran keagamaan. Sehingga tidak ada lagi istilah konservatif, tradisional atau kolot bagi para “kaum sarungan”—seperti yang laten disebut oleh peneliti Barat. Santri telah menerima perubahan sosial zaman dengan filterisasi yang amat cermat dan teliti.

Selain itu, pesantren sebagai koridor pembentukan karakter santri telah mengupayakan segala praduga-praduga atas kehidupan modern yang dari hari ke hari makin kompleks. Sisi pesantren sebagai “subkultur” membentuk kaidah-kaidah perisai bingkai keragaman budaya, pun agama.

Dari beberapa faktor tersebut, apa dikata, mengamini diktum Gus Mus, pesantren secara pure melahirkan dua entitas yang disebut dengan Kesalehan Ritual (ibadah) dan Kesalehan Sosial (muamalah). Secara sederhana, kedua entitas tersebut terwakilkan oleh satu bentuk nilai yang akan dikenang sebagai etika sosial seorang santri.

Nilai etika yang dimaksud dan yang menjadi paling familiar itu berwujud sikap tawadhu’. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk, tawadhu’. Adalah implementasi dari sikap rendah hati, menghormati, sederhana dan merasa tidak lebih baik dari yang lain. Sebenarnya sikap tawadhu’ ini adalah sikap kita bersama, bangsa Indonesia. Dengan kata lain, sikap tawadhu’ kita sebut sebagai mentalitas bahari.

Mental yang terbuka, harmonis, kaya akan local wisdom hingga global wisdom. Mental inilah yang telah lama dirumuskan oleh Sunan Kalijaga, yang dalam bahasa beliau tersebut lima elemen, yakni sabar, menerima apa adanya, murah hati, tekun dan giat. Disinilah letak Revolusi Mental Santri.

Sebagai seorang santri dan orang yang berjiwa santri, ikhtiar tersebut fardhu diupayakan dengan sungguh. Agar umat santri semakin nyata wujud mengabdinya terhadap bangsa. Wallahu A’lam.

baca juga : 

Silaturrahmi Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad, Mangkoso, Sulawesi Selatan

Peluang Usaha Era Santri Milenial: “Santri Mandiri Prestasi Negeri”

almunawwir.com (Krapyak) – Departemen Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak gelar kegiatan berbasis santri entrepreneur sekaligus salah satu agenda Open Recruitment Anggotanya. Agendanya berupa Talkshow Bisnis bersama wanita tangguh “Pejuang Bisnis dari Nol”. Tujuannya menciptakan Santri Mandiri Prestasi Negeri”. Kamis (19/10).

Dalam agenda ini, Direktur departemen pemberdayaan ekonomi Pondok pesantren Al-Munawwir, Muhammad Kholis Habibi menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya acara ini yaitu : Pertama, untuk menjaring kader muda ekonomi khususnya santri Almunawwir. Nantinya mereka diberdayakan untuk bergabung di departemen pemberdayaan ekonomi.

Kedua, membuat jejaring atau koneksi antar santri yang memiliki atau sedang merintis usaha. Disamping kewajibannya untuk menuntut ilmu di pondok ini. Ketiga, menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada santri sehingga dapat lebih mandiri. Selain niat sebagai pondasi utama di luar modal material, para pebisnis pemula juga harus memahami beberapa aspek yang mempengaruhi bisnis. Hal-hal seperti passion diri, segmen pasar, produk, marketing, peluang dan bahkan ancaman harus di kuasai dengan baik guna kelangsungan bisnis tersebut.

Kegiatan ini bertempat di Aula G dan di mulai pukul 16:00 waktu setempat, dengan menggaet pembicara sekaligus pembisnis muda Muna Munawarsari, owner dari jogjakartour.com, Departemen Pemberdayaan Ekonimi berusaha memberikan pengertian, bahwa di era sekarang ini santri milenial harus mampu menciptakan inovasi baru dan terjun secara langsung di bidang kewirausahaan.

Dalam dialog ringan ini, Muna menyampaikan bahwa seorang santri saat ini tidak hanya bertugas mengaji namun juga harus mengembangkan diri pada dunia ekonomi, salah satunya menjadi seorang pembisnis muda.

Selain itu dalam dunia bisnis, ia juga mengingatkan bahwa uang bukanlah segalanya. Perempuan kelahiran Purbalingga menceritakan betapa ia banyak berjuang. Ia harus membangun bisnis dengan pondasi hutang yang tidak kecil. “From Minus tapi nggak ngenes,” ungkapnya. Sontak mengundang tawa peserta talkshow. Dengan adanya hutang tersebut ia akhirnya tetap teguh untuk melanjutkan bisnisnya.

Muna juga berpesan bahwa dalam berbisnis seseorang jangan lupa melibatkan peran Allah SWT dalam setiap langkahnya. Ia menyampaikan banyak kisahnya dalam melibatkan Yang Kuasa dalam setiap bisnisnya.

Selain talkshow bersama Muna Munawarsari, juga ada presentasi hasil usaha kelompok ekonomi. Kelompok telah di bentuk minggu lalu. Presentasi tersebut menjadi agenda pertama sekaligus ajang kompetisi yang diadakan Departemen Pemberdayaan Ekonomi.

Dalam presentasinya, masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk menyampaikan jumlah modal. Hasil dan laba mereka dari hasil penjualan produk selama empat hari dihitung dari hari minggu hingga kamis. Dari tujuh kelompok diambil satu kelompok yaitu kelompok tujuh sebagai pemenang dengan hasil laba sebesar 250.000. Pemenang mendapatkan paket hadiah dari departemen pemberdayaan ekonomi.

Adapun untuk ke ke-enam kelompok tersebut, kelompok satu mendapat laba sebesar 141.400. Kelompok dua, 110.000 Kelompok tiga sebesar 144.500. Kelompok empat 8.000. Kelompok lima 181.500 dan kelompok enam 223.400.

Dari serangkaian acara ini, diharapkan nantinya santri bisa mendapatkan banyak motivasi dalam dunia wirausaha sekalipun bukan pada bidang studinya. “Dengan terselenggaranya acara ini harapan kami nantinya akan semakin tumbuh dan berkembang santri-santri mandiri yang berjiwa entrepreneur.” ungkap Fakhtul Tsani Rohana.

Acara yang berdurasi kurang lebih dua jam tersebut memberikan banyak kesan dan pesan bagi peserta sekaligus Santri Krapyak. “Indonesia akan mengalami bonus demographic dan pasar bebas asean. Maka dengan adanya acara ini santri terlebih saya akan mengerti dan paham bahwa dunia bisnis harus kami tekuni untuk tetap bisa bertahan hidup di era modernisasi ini,” ucap salah satu peserta Talkshow.

“Program ini luar biasa sekali, sangat-sangat membantu, hingga mampu menggerakan fikiran teman-teman untuk terus kreatif, membantu santri-santri yang belum pernah bekerja hingga mengetahui bagaimana rasanya mencari uang, penggemlengan mental ada disana”. ungkap Rini, salah satu peserta kegiatan ini. Seusai kegiatan ini peserta disediakan satu angket formulir open recruitment dan diakhiri dengan sesi foto bersama. [Aninda/Sa’adah]