Ihwal Kebahasaan Tindak Tutur “Ngaji, Ngaji, Ngaji Sudah Siang”

Ihwal Kebahasaan Tindak Tutur “Ngaji, Ngaji, Ngaji Sudah Siang”

[su_quote]…sebelum merasa hampa harimu tanpa nderes, bersemayamlah dalam sangkar “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang”[/su_quote]


Oktober di Indonesia, diperingati sebagai “Bulan Bahasa”. Entah, Anda ikut merayakannya atau tidak, saya kurang tau. Tapi, dalam tulisan ini, saya akan merayakannya dengan mengulas hal ihwal bahasa serta kebahasaan yang ada di pesantren. Kultur pesantren yang kaya, kultur pesantren yang unik sekaligus menarik.

Kebahasaan pesantren yang saya maksud itu adalah “Ngaji, ngaji, ngaji sudah siang”. Sebuah dawuh dari Mbah Kiai Najib Abdul Qodir Munawwir, yang ajeg dan nggak pernah lupa beliau sampaikan kepada para santri setiap ba’da talaqqi (menelateni qiro’ah kiai).

Kehilangan terbesar adalah luputnya kepercayaan. Akan tetapi ada kehilangan yang lebih agung, yaitu amaliah kehidupan yang sia-sa.

Kesia-siaan atau mubadzir, dalam kultur kita, barangkali sering kita pakai hanya pada konteks makanan belaka. Misal dalam ungkapan, ”Kang, madange entekno, ben ndak mubadzir!”, “Kang, Jajane kudu dientekno loh!”, ujaran-ujaran itu mengkonfirmasi perilaku agar tidak menyia-nyiakan, menuntaskan segala urusan, menghabiskan makanan. Padahal, tidak jarang, makanan itu, maaf, kurang layak untuk dimakan. Belum lagi ada tambahan demikian, “Kang, madang e entekno! Ndak Ayam e mati!”. Loh, makanan nggak dihabiskan saja bisa bikin Ayam mati! Keren nggak?. Lantas kalau makanan itu kita habiskan, apakah berarti kita telah menghidupkan Ayam? Nggg….. Hal itu juga menunjukkan, betapa ke-mubadzir-an adalah bencana. Dan dalam satu ayat, dijelaskan jika sikap kemubadziran itu lebih mendekatkan kita kepada setan.

Di luar konteks makanan, ke-mubadzir-an nyatanya dirasakan pula oleh mereka para penghafal Al-Qur’an. Bagaimana tidak, pasalnya berangkat dari kontinuitas mereka dalam membaca dan mendaras Al-Qur’an di setiap harinya (minimal tiga kali sehari), lalu dalam suatu kesempatan dihadapkan dengan kesibukan (yang sebenarnya tidak penting-penting amat), mereka akan merasa kehilangan. Entah itu waktu dan ke-ajeg-an. Mereka terpukul, merasa seolah-olah tanpa mengaji sehari. Harinya terasa hampa, sia-sia dan mubadzir.

Nah, sejalan dengan itu, tindak tutur “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang” telah mencorakkan maksud yang penulis paparkan di atas. Sudahkah jelas? Apa perlu penulis paparkan penjelasan lagi?

Baiklah, sedikit akan saya jelaskan lagi menurut asumsi saya. Dalam cara pandang teori pragmatik, ada empat hal yang menarik dari dawuh tersebut, yang kedua-duanya bersandar pada konteks zaman.

Pertama, dawuh Mbah Najib yang selalu diulang-ulang itu, dipaparkan tatkala pagi masih semenjana. Sekitar pukul 06.30 yang bagi ukuran kita, waktu tersebut dirasa masih pagi. Masih segar-segarnya udara pagi. Waktu pw untuk berleha-leha. Seperti orang selo macam saya. Tapi, lain dengan Mbah Najib, beliau melihat pagi dengan makna yang lebih jauh. Jauh yang dimaksud adalah konteks yang mengesankan masa yang akan datang. Misal demikian, “Siang” sebagai jengkal menuju “Malam” merupakan kekhawatiran yang jauh telah diperhitungkan oleh Mbah Najib. Dan malam itu akhir dari hari. Lantas kalau hari sudah berakhir, bagaimana nasib kita? Menunggu hari besok? Iya kalau hari itu masih ada bagi kita, kalau tidak?

Kedua, Selain “Siang” bermakna waktu, ia juga bermakna umur. Analoginya hampir sama yaitu siang tidak lagi sebagai waku untuk berleha-leha. Seperti umur, umur yang tidak lagi mengalami masa-masa leha-leha. Karena itu, ia harus terus dipacu, diasah dan digunakan sebaik-baiknya selagi zaman masih terus berjalan.

Dari sana, kita menemukan korelasi antara waktu dan kemubadziran. Waktu dan umur yang terkandung dalam dawuh “nagji, ngaji, ngaji sudah siang” menyiratkan ketidak-harusan kita untuk menyia-nyiakan dua entitas tersebut.

Ketiga, redaksi kalimat yang dipilih pun, sungguh menunjukkan keagungan ilmu, kerendahan hati dan kesantunan. Bisa saja ungkapan semacam “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang” itu memakai redaksi “ngaji, ngaji, sudah tua” atau “ngaji, ngaji bukan waktunya berleha-leha”. Tapi, sungguh lain dengan Mbah Najib, begitu santunnya beliau dawuh, meskipun itu kepada santrinya yang—dalam struktur sosial berada di bawah tingkatan kiai. Akan tetapi, logika demikian sama sekali tidak berlaku dan dipakai belaiu, bahwa semua sama dihadapanNya.

Keempat, terutama pragmatik lebih menekankan pada soal fungsionalisme, pengaruh atas dawuh itu, adalah melaksanakannya. Melaksanakan ‘perintah’ ngaji. Yang dalam frasa tersebut diulang sebanyak tiga kali. Jumlah tiga kali itu juga memiliki arti, ketegasan yang setegas-tegasnya. Bahkan, dalam beberapa kali kesempatan, sering sesama santri, terutama para pengurus menirukan dawuh Kiai untuk mengobrak ngaji. “ngaji, ngaji, ngaji kang, sudah siang.”

Kehilangan terbesar adalah luputnya kepercayaan. Akan tetapi ada kehilangan yang lebih agung, yaitu amaliah kehidupan yang sia-sa. Mawaslah, sebelum kehilangan itu membayang-bayangimu.

Ala kulli hal, sebelum merasa sia-sia amaliah kehidupnmu, sebelum merasa hampa harimu tanpa mendaras, bersemayamlah dalam sangkar “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang” tersebut. Semoga kita tidak menafikan mutiara-mutiara yang tersimpan dalam keagungan sajadah jannah yaitu Bumi Krapyak. Wallahu A’lam.

Selamat Berbulan Bahasa!

baca juga :  AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI NEGERI

Afrizal Qosim

Afrizal Qosim

Afrizal Qosim

Pengaduk kopi di Kantor Pusat Almunawwir

23

Artikel