Apa Salah dan Dosa Santri Putri, hingga Kungapusi Mbah Kiai

Sebelum Tahun 1985 Ponpes Krapyak adalah Pesantren khusus laki-laki, kecuali Komplek Nurussalam yang diasuh oleh Mbah KH. Dalhar Munawwir.

Saat itu kemanapun anda memandang, yang nampak di sudut Pesantren hanyalah Makhluk ‘Pecisan’ dan ‘Sarungan’, yang kadang-kadang ‘ora celonoan’ atau tidak pakai celana. Bahkan kalau ada makhluk berkerudung masuk Pesantren. Tanpa dikomando akan terdengar suara; Suit…Suiiit… Paket… Pakeeeet… Suara itu saling bersautan dengan sangat nyaring.

Waktu itu sempat aku berfikir, “Kenapa kok tidak menerima Santri Putri ya?. Terutama Madrasah Tsanawiyah dan Aliyahnya yang menurutku, kecuali telah tersohor, juga mempunyai SDM yang lebih dari cukup. Pengasuhnya pun ‘alim-‘allamah. Ustadz dan Gurunya sama halnya, sama-sama ‘alim-‘allamah (kecuali yang nulis ini, dari dulu ilmunya cuma segitu).

Akan tetapi bila bicara tentang Pendidikan Anak, bukankah kelak seorang Ibulah yang akan menjadi “Madrosatul Ula” , tempat belajar pertama bagi Anak!.

Secara diam-diam, gagasan ide untuk menerima “Santri Putri” itu aku lontarkan kepada beberapa teman Ustadz. Tapi tidak ada yang berani merespon. Nihil.

Akupun memakluminya, karena masalah itu adalah kewenangan dari pemegang otoritas Pesantren yaitu Kiai dan Ahlen. Lagi pula, pada saat itu, sudah ada Pondok Putri tapi belum ada Madrasah Tsanawiyahnya.

Dalam diri, aku memegang pegangan atau motto hidup, gagasan yang positif harus bisa direalisasikan dengan usaha yang maksimal , dengan catatan kecuali Allah Swt menghendaki lain.

Akhirnya, kuberanikan diri untuk sowan menghadap ke Mbah Ali Maksum (Allahu Yarham). Menyampaikan wacana tersebut. Dengan harapan beliau menyambut dengan baik. Tapi apa jawab beliau? Ya, Beliau hanya menjawab :“Terserah kamu.

Lantas saja, jawaban itu aku anggap sebagai Green Light. Sesegera mungkin aku buat Spanduk dengan uang hasil honorku mengajar. Sengataj aku pasang di area jalan depan Pesantren (seingatku yang bantu pasang Pak Tamam Hasyim Cs). Berharap seluruh elemen pesantren membacanya, terutama Mbah Kiai Dalhar Munawwir, Allahu Yarham.
Bunyi spanduk itu demikian;  “Madrasah Tsanawiyah Krapyak siap menerima Santri Putri.”

Selain spanduk, Ikhtiar lain yang aku lakukan adalah; aku setengah mengancam kepada Pak Suhaimi Gresik (Cak Kemi) untuk mencari calon santri dari daerahnya. Dan Alhamdulillah, berkat perjuangan Cak Kemi Beliau mendapatkan 6 calon santri putri (Fadhilah, Nurlaila dkk).

Sementara itu belum ada kamar santri putri. Sehingga mereka aku titipkan di Ndalem Bu Nyai Badri (Ibunya Pak Muhtarom Busyro).

Ketika hari pertama mau masuk sekolah aku galau karena jumlah santri putri yang cuma sedikit. Ditambah lagi dengan tempatnya yang agak terpencil, yakni memakai komplek Diniyah. Serasa mereka sangat terkucilkan. Aku khawatir dengan enam santri putri itu, bila mereka nggak kerasan, merasa menjadi “Kelinci Percobaan”. Mengantisipasi kekhawatiran tersebut, aku berinisiatif; sementara untuk ruang belajar, mau saya gabung dengan santri putra.

Wacana penggabungan antara santri putra dengan putri ini, kepada semua yang kumintai pendapat, malah angkat tangan. Dengan alasan yang hampir sama; tidak berani ambil resiko, terutama tanggung jawab moral kepada para Kiai Sepuh. Sebab kemungkinan akan dianggap tabu, haram dan lain sebagainya.

Akhirnya karena didesak waktu dan harus ada keputusan. Aku nekat sowan lagi ke Mbah Ali Maksum untuk meminta pendapat tentang permasalahan tersebut.

Begitu sowan menghadap Beliau, belum sempat matur aku ditanya duluan:” Santrimu cewek dapat berapa?” Langsung kujawab :”Enam Kyai.”.

Tanpa kuduga beliau langsung ngendiko :”Kasihan itu kalau dijadikan sekelas. Gabung, campur saja dengan santri putra untuk sementara. Haadza.. Qod yubaaghu lilkhaajah (ini asli kalimat Beliau) ini diperbolehkan karena hajat kebutuhan.”

Allohu Akbar… hatiku bergetar, bibirku ndak bisa ngomong seolah-olah Mbah Ali sudah ma’rifat pada problemku. Langsung pamit kucium tangan Beliau yang harum.

Hari pertama masuk, Alhamdulillah santri putra dan putri dalam satu kelas terasa gayeng dan ada tanda-tanda kehidupan. Proses belajar mengajar berjalan dengan lancar.

Tapi ceritanya jadi berbeda, ketika hendak Akhirussanah; tutup tahun. Secara diam-diam enam santri putri PIONIR itu dilatih Samroh Qosidahan oleh Cak Muiz (KH Abdul Muiz Haidar, Pengasuh Ponpes Sukamiskin Bandung), dan dijanjikan akan tampil di Panggung Akhirussanah yang bertempat di depan Ndalem Mbah Kiai Zaenal, yang sangat kuhormati. Beliau juga begitu hati-hati dalam permasalahan Fiqih.

Ributlah para Guru dengan komentarnya masing-masing. Ntah itu tabulah. Haram Mugholladhoh. Karena hanya satu faktor, yakni belum pernah ada di halaman Pesantren yang sakral itu perempuan bermain Qosidah terus dilihat lawan jenisnya, bahkan nanti akan dirawuhi para Kiai.

Berita “Penolakan” ini, tak disangka, sampai ke telinga enam Santri yang semangat mau Tampil itu. Langsung mereka bereaksi; MOGOK mau BOYONG pulang ke kampungnya dan tidak akan kembali ke Pesantren. Sempat aku tengok kamar mereka, ternyata benar, masing-masing sudah pada mengemasi barang ke dalam koper.

Melihat peristiwa itu, aku ketularan bingung bin mumet. Dalam kebingungan itu, tetiba ada info bahwa Mbah Zainal akan memberikan izin. Alhasil, Enam Cewek: Manja Group dari Gresik bisa tampil.

Kemudian aku beranikan diri sowan Mbah Zaenal. Aku , maaf, “Ngapusi” Beliau dalam rangka meminta izin bila nanti pas waktu akhirussanah ada santri putri yang mau naik panggung untuk menerima hadiah “dan lain-lain”. Yang kumaksud dengan “dan lain-lain” adalah Qosidahan Cewek.

Beliaupun mengangguk sambil memandang panggung yang ada di depan Ndalem Beliau.
:”Yah… Nggak masalah, cuma nanti di panggung dikasih Pot Bunga atau apa gitu'”. Pesan Beliau.
Aku langsung nyauti: “Nggih bila perlu nanti pas santri putri naik panggung, lampu saya matikan!”.
Mbah Zaenal menimpal :”Ya jangan gitu. Yang penting tidak menyolok!”

Terasa legah. Langsung aku pamit kucium dalam-dalam asto Mbah Zaenal.

Kabar itu, langsung aku sampaikan kepada enam santri cewek itu. Mereka girang bukan kepalang. Konon kabar mereka malam hari itu tampil luar biasa (aku tidak nonton, pergi dari rumah karena nggak tega melihat apa yang terjadi). Sebab belum pernah ada tontonan seperti itu dalam sejarah Pesantren Krapyak.

Makanya semenjak itu sampai saat menulis ini. Kalau ada undangan Akhirussanah Putri aku tidak pernah datang. Sebab trauma.

Setahun kemudian aku sowan Mbah Zaenal, Syawalan di Ndalem untuk minta Do’a dan maaf lahir batin. Aku cengar cengir ketika Beliau ngendiko : “Yoo tak maafkan dosa salahmu termasuk ketika kamu menipu aku tentang santri putri Qosidahan dulu!” 

Allohummaghfir lahu… Warkhamhu….

Tanbiihun/Peringatan : Jika enam cewek; Manja Grup termasuk Cak Kemi dan Pak Muhtarom Busyro membaca tulisan ini. Segera hubungi aku. Kalianlah Pionir adanya Santri Putri di MTS dan MA Ali Maksum Krapyak. Semuanya akan aku kasih hadiah Sepeda, tapi aku tak minta dulu sama Pak Jokowi.


Krapyak 12 Agustus 2017.

(Tulisan dari Pak Kiai Henry Sutopo. Copas dari group SKP – Santri Krapyak Peduli)

Editor : Afrizal

Silaturrahmi Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad, Mangkoso, Sulawesi Selatan

almunawwir.com (Krapyak) – Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta berkesempatan menjadi tuan rumah dalam acara silaturrahmi dan kunjungan atau study tour rombongan santri Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI),  Mangkoso, Sulawesi Selatan, yang beranggotakan sekitar 30 santri dan beberapa ustadz-ustadzah pendamping.

Tujuan kedatangan dari rombongan ini adalah untuk study banding tentang pegelolaan Pesantren. Setibanya di Al Munawwir, para rombongan ini disambut hangat oleh Ustad Abdul Jalil dan Pengurus pusat, sekitar pukul 08.00 WIB di Gedung Aula G, Ahad (08/10/17)  serangakian kegiatan audiensi dimulai dengan suasana yang penuh hangat dan kekeluargaan.

Dalam agenda silaturrahmi ini, salah satu pembina Pondok Pesantren DDI Mangkoso, sekaligus kepala Madrasah I’dadiyah Ust. Muhammad Agus menyampaikan bahwa Pondok Pesantren DDI Mangkoso adalah pusat pendidikan yang masih tetap mempertahankan nilai-nilai kemurnian ilmu kepesantrenan dengan mempertahankan kitab kuning dan juga masih tetap eksis sampai sekarang. Selain dikenal sebagai pondok pesantren DDI merupakan organisasi masyarakat yang membina sekitar 800 lebih lembaga pendidikan.

Beliau juga menambahkan, bahwa sudah sejak lama ingin mengunjungi krapyak, karena nama Al-Munawwir sudah sangat terkenal disana. Itu dikarenakan Kamusnya Al-Munawwir merupakan kamus utama yang digunakan di pondok  pesantren DDI.

Dalam kesempatan study banding kali ini, Ust. Agus menanyakan diantaranya tentang manajemen keuangan, kegiatan-kegiatan Takhasus tahfidz dan takhasus salafiyah di Pesantren Al-munawwir. Juga mengenai kurikulum dan proses belajar mengajar, serta sistem jam kerja di pesantren Al-Munawwir dalam manajemen waktu kerja santri yang diharapkan dapat diterapkan di Pesantren DDI. Pertanyaan demi pertanyaan beliau lontarkan kepada bapak H. Abdul Jalil, S.Th.I.,M.S.I.   kemudian dijawab dengan serius dan sesekali diselingi dengan canda tawa.

Disisi lain, Ustadz Wahid Luthfi selaku pengurus pusat Pondok Pesantren Al Munawwir. Beliau menyampaikan bahwasannya, pihaknya menyambut baik kedatangan Pondok pesantren DDI Mangkoso. Beliau juga memaparkan mengenai program-program yang ada di Al-Munawwir.

Acara ini diakhiri dengan pembacaan do’a oleh bapak H. Abdul Jalil, S.Th.I.,M.S.I. kemudian diteruskan dengan pemberian cinderamata, dilanjutkan dengan pembagian kelompok untuk meninjau langsung situasi kelas madrasah salafiyah yang ada di pondok pesantren krapyak ini. [Siti Sa’adah]

Melihat Wajah Islam Moderat Indonesia

 

“Apakah kalian juga menyanyi?” Tanya Laura kepada kami selepas menyaksikan mahallul qiyam Maulid Diba’ di aula komplek Ribathul Qur’an wal Qiraah.

“Ya, kami juga menyanyikannya setiap Kamis malam. Ini semacam syair Islam.”

That’s beautiful.” Ujar perempuan Spanyol itu.

Malam itu Kamis (27/7), Laura dan rombongannya diajak berkeliling melihat suasana dan bangunan-bangunan komplek di PP. Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Sejumlah santri, termasuk saya dan seorang kawan santri putri, berkesempatan menyambut para tamu tersebut. Laura datang bersama tujuh orang lainnya sebagai delegasi dari Parlemen Eropa (European Parliament). Dalam kunjungannya selama sepuluh hari di Indonesia, mereka bertandang ke empat kota: Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Bali. Lawatan yang diprakarsai oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI ini merupakan bagian dari program Indonesian Interfaith Scholarship 2017. Para peserta yang berasal dari berbagai negara Uni-Eropa seperti Estonia, Polandia, Spanyol, Hungaria, Inggris dan Irlandia itu diajak mengenal kehidupan keberagamaan di Indonesia.

Nasib Kebergama(a)n di Indonesia

Usai berkeliling pesantren, para tamu disilakan menikmati jamuan makan malam yang dilanjutkan dengan dialog. Menjadi pemandu dalam dialog tersebut anggota dewan pengasuh PP. Al-Munawwir Krapyak, Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A. dan alumni sekaligus Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Dr. Phil. Sahiron Syamsudin. Acara yang dihelat di Aula PP. Al-Munawwir Krapyak itu dihadiri pula oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenag DIY, staf Kemenag RI, serta staf Kedutaan Besar Brussel.

Di mata dunia, Indonesia dikenal sebagai negara multikultur dengan toleransi yang tinggi. Namun belakangan, beragam isu intoleransi mengguncang Indonesia sehingga menimbulkan pertanyaan global, benarkah telah terjadi pergeseran di Indonesia? Kegelisahan tersebut menjadi pembuka dialog yang dilontarkan oleh para delegasi European Parliament.

Menjawab pertanyaan tersebut Dr. Phil. Sahiron Syamsudin menegaskan bahwa warga Indonesia hidup bersama secara damai di bawah Pancasila yang pluralistik. Secara legal-formal Indonesia mengakui enam agama. Di samping itu, ada pula kepercayaan-kepercayaan lokal yang dianut oleh sebagian masyarakat. Ada konflik-konflik yang terjadi, namun lebih banyak didorong oleh faktor ekonomi dan politik.

“Pancasila menyerupai Madinah Charter,” lanjut Sahiron. Di era Nabi Muhammad Saw, Madinah Charter dibuat sebagai pemersatu antara bermacam suku dan agama di Yastrib. Begitu pula dengan Pancasila, ada asas ketuhanan yang tunggal dan mewadahi beragam kepercayaan. Perbedaan tidak hanya eksis pada tataran agama, namun juga kelompok-kelompok dalam agama. “Dalam Islam, agama yang dianut mayoritas warga negara Indonesia, juga terdapat banyak organisasi,” ujar Sahiron. Ia menjelaskan, dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menerima asas Pancasila sebagai ideologi negara.

Gerakan terorisme yang kerap diasosiasikan dengan kelompok Islam juga menjadi pertanyaan para delegasi. Mungkinkah suatu saat kecamuk perang dan serangan teroris akan melanda Indonesia sebagaimana di Timur Tengah? Sahiron mengatakan, terorisme dan radikalisme dikecam di Indonesia. Tidak dipungkiri bahwa sebagian kecil kelompok  garis keras menggunakan Islam untuk melakukan aksi teror dan tindakan intoleran. Namun, terorisme bukanlah Islam.

Islam Indonesia adalah Islam yang moderat. Penghormatan terhadap umat kepercayaan lain dirawat melalui kultur yang saling melebur. Sahiron memberi contoh, praktik sosial-keagamaan di Indonesia di antaranya adalah adalah bersama-sama mendoakan orang yang sudah meninggal atau mendoakan kandungan bayi berusia tujuh bulan. Dalam budaya pesantren, ada peringatan kematian tokoh agama secara tahunan yang disebut dengan haul. Peringatan ini diselenggarakan secara akbar dan inklusif, tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang dengan agama yang berbeda untuk turut serta. Kultur-kultur ini merupakan kekhasan Islam moderat Indonesia yang tidak ditemui di negara-negara dengan penganut Islam lainnya.

Poin penting dari ciri Islam Indonesia adalah akulturasi budaya yang berhasil. “Ini lantaran kejeniusan ulama-ulama terdahulu,” tandas Sahiron. Para ulama yang menjadi pembawa ajaran Islam di Indonesia mendidik murid-muridnya dengan perantara budaya lokal. Kontekstualisasi ajaran dilakukan dengan mengambil budaya lokal yang relevan sebagai sumber hukum lokal, sesuai dengan kaidah al ‘adatu muhakkamah. Upaya ini tak pelak membuat Islam bersemi secara damai di Indonesia, tanpa perlu bersitegang dengan agama dan keyakinan lainnya.

Islam Moderat ala Pesantren

Di bawah NU, bernaung 30.000 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. PP. Al-Munawwir Krapyak merupakan salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia. Sejak pendiriannya di tahun 1911 hingga sekarang, telah banyak perkembangan dialami oleh pesantren yang memiliki konsen pada bidang tahfidzul qur’an ini.

“Di antaranya adalah penggabungan antara kurikulum madrasah dengan kurikulum nasional,” jelas Hilmy. Dengan kombinasi tersebut, tak hanya belajar ilmu agama dari kitab-kitab kuning, santri juga mendapat pelajaran seputar Pendidikan Kewarganegaraan dan Kewiraan. Oleh karenanya, nasionalisme dan multikulturalisme bukan merupakan barang asing lagi di pesantren.

“Bagi kami, Pancasila adalah ideologi yang sudah final,” terang Hilmy. Ia melanjutkan, sejarah perjuangan nasional Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran ulama-ulama terdahulu. Semangat bela negara itu pun masih terus diwariskan hingga kini. Antara lain dengan menjaga agar kehidupan keberagamaan berlangsung damai. “Maka tak heran jika guru-guru di pesantren memiliki pandangan moderat terhadap Islam,” lanjut Kepala Madrasah Aliyah Ali Maksum tersebut.

Moderatisme tersebut diaplikasikan secara nyata di  pesantren. Meskipun tidak ada pelajaran khusus mengenai agama-agama lain dikarenakan padatnya kegiatan, santri tidak dilarang untuk mengenal ragam agama dan keyakinan yang ada di sekitarnya.

Hilmy menjelaskan, tidak ada larangan bagi santri untuk pergi ke candi atau ke gereja. Sebagian santri yang sudah lulus sekolah menengah diberi ruang untuk mempelajarinya di kampus. Kesempatan untuk belajar di luar lingkup pesantren ini diakui menjadi upaya mencetak santri-santri yang berpikiran luas, mengakui serta menghormati eksistensi agama dan keyakinan lain.

Dalam interaksi kehidupan sehari-hari, tidak ada konflik keagamaan yang terjadi antara pesantren dengan masyarakat beragama lain di sekitarnya. Pesantren tidak memaksa warga sekitar yang beragama lain untuk menjadi muslim. “Kecuali jika ada yang menginginkan, bisa dididik,” ujar Hilmy.

Secara umum, hubungan keduanya berjalan baik dan seringkali pesantren dan masyarakat umum terlibat dalam kegiatan bersama. Menurut Hilmy, keberadaan pesantren justru memberi ‘berkah’ tersendiri bagi warga di sekitarnya. Hal ini di antaranya tampak dari  munculnya potensi-potensi ekonomi akibat keberadaan santri yang mencapai jumlah ribuan. [Khalimatu Nisa]

Tawa itu Luka dan Betapa Khilafnya Kita

Oleh : Afrizal Qosim


“Jo kakean ngguyu! ndak apalanmu ilang! Dasar santri jaman now!”, gertak Lek Jo– senior pondok yang berusaha menuturi sekumpulan santri yang bercanda, tertawa terpingkal-pingkal hingga seantero komplek terdengar. Kebribiken.


Sebelumnya Lek Jo lagi serius nderes di aula, menyiapkan setorannya tuk nanti malam, sampai bangkit lantas mencari dan mendekati sumber kegaduhan.

Lek Jo yang masyhur suka melabrak santri baru/“tjah nyar”, mengakali dengan memplokoto menyuruh ini dan itu, mendidik dengan mem-bully prasangka yang bermakna ganda, berujung pada status “seng dituakno” oleh santri sepondok kepadanya.

Lek Jo berkecak pinggang selagi menuturi mereka. Sedang Karim, Jarwo, Pantoso dan Fredi kaguk, bibir tak sanggup berkomentar. Genting. Nampak hanya delapan pasang mata yang memanggul ketakutan. “Maneh-maneh lek guyon jo kebacut, kang! Iling lek lagi njogo apalan”. Imbuh Lek Jo masih bernada gertakan. Keempat cah nyar itu masih kaguk dan gugup mengangguk. Jarwo apalagi, gelas yang masih berisi separuh kopi, tanpa sadar ia pakai untuk asbak puntung rokoknya yang telah memanjang. Cah kenthir.

Baru tatkala Lek Jo pergi, Karim mencoba memberanikan diri. Dia berdiri, berjalan mengikuti Lek Jo. Belum sampai mendekati Lek Jo, dia belok kiri, masuk ke Wc.

Dalam bayang-bayang itu, bertiga mereka tertawa (lagi). Tapi dengan gelagat ngempet.

Setelah itu Pantoso berkomentar, meski tipis-tipis karena takut terkena semprot lagi, “aku sik ra paham lur, menurutku loh, sebenarnya belumlah akut phobia tawa bagi para pencari ilmu dan penghafal al-Qur’an. Perasaan kanjeng nabi juga ga kaku-kaku banget deh. Bila ingin tertawa, ya yang sederhana saja, misal yang dianjurkan Nabi saw; gigi terlihat sedikit dan bunyi nyaring seperti cekikikan kuda. Haa..mosok ngguyu ngono ae wes dilabrak. Kan pye”.

Sebenarnya mereka sedang menikmati jam selo di pondok. Duduk di pelataran, menunaikan ibadah ngopi, sedang nggosip tipis-tipis, mulai dari talaqqi tadi pagi, mbok yem. setoran pagi di pak kiai, jamaah dhuhur hingga lagu-lagu Nella Kharisma dan Via Vallen. Ya “ditinggal rabi”.

“Iyo Pan, koe bener. Aku dewe yo bingung. Mosok  wes diharamno (neh) ngguyu iku? Koyok jamane Mbah Harto kae. Meh nglarang pentas Warkop DKI, Ludhruk, Kethoprak, dll. Lagian ngguyune awak dewe ga perkoro sik aneh-aneh kan yo”. Jarwo menanggapi dengan agak sedikit politis.

“Nah kui Wo, kalau saja tertawa kita nggak semeriah itu–menggema sejagad komplek, mungkin suara burung Emprit di pohon Sawo itu lebih menarik perhatian. Perasaan ngguyuku yo biasa ae sih. Ra seru-seru banget”. Seru Pantoso dengan lumayan nyemestani sambil menyeruput kopi bercampur puntung rokok Jarwo tadi.

Jarwo dan Fredi masing-masing dahinya mengerut, mencoba mencerna omongan si Pantoso yang kebetulan keterima  kuliah dan menjadi mahasiswa di Kampus G jurusan Kriminologi. Selagi keduanya “memeng”, Karim datang dengan senyum tipis-tipis sembari tangannya menyincing sarung yang sedikit basah musabab kecipratan air.

“Lah emang yang paling keras tawanya ini siapa sih?” Fredi bertanya-tanya.

Mendadak semua pasang mata tertuju ke satu arah; Karim.

“Ngopo toh, kok do ngeti aku?! Wong yo lagi teko padahal”. Sergah Karim dengan nada tidak terima. Ia menolak menjadi kambing hitam.

“Sebab koe sik paling banter ngguyu je”. Tegas Pantoso, dia menuding Karim dengan telunjuk tangan kanannya.

“Lah po koe koe ki  yo ra banter? Rumangsaku yo banter kabeh leh e gemuyu, ning po do ra dueni wates geguyon? Dadine lali marang guyune dewe. Jan jane yo bener omongane Lek Jo iku, men atine ra atos, leh ngguyu raoleh banter2, ndak atos atine, lek wes atos ki gampang cuklek atine. Nek wes cuklek ki angel sekabehane, angel ngapalno, angel peka, angel dituturi, ra due pitungan marang keapikan, haa wes pokok e akeh angele lah. Lah nek wes atine cuklek kepiye Jal?”

“Ya disambung tho yo Rim, nggo lem G.” Jawab Jarwo singkat, sembari ngempet ngguyu.

“Disambung ndhasmu, mbok pikir ati ki kocomoto po pye? Padakke.”, timpal Karim separuh menggertak.

Sontak semua tak bisa menahan tawa (lagi).

“Lah koe-koe ki ratau nggatekke pas ngaji at-tibyan fi adabi hamalatil qur’an po?”, Karim nyelethuk.

“Gaero Rim, pye pye pye?” jawab ketiga orang itu saling sahut menyahut.

“Dadi ceritane ngene, permisalan orang yang menghafal al Qur’an kui, podo ro pemilik Unta yang ditambatkan. Coro kui Unto mbok taleni terus ditinggal, iku apik. Lah yen koe angger tawakkal tok, Untoe ra pok taleni, yo modiarroo. Mesti blayu tho yoo”. Terang Karim harap-harap cemas. Takut salah kecap.

“Haa semisal Untoe pincang lak gampang ngejare Rim?”, celoteh Jarwo ngempet ngguyu.

“Kui ki Hadis kang, Lisane Kanjeng Nabi, Jo wani-wani mlinthir”. Tukas Karim.

“Ampun Jendral Karim. Siaap”, Jarwo memohon ketakutan.

Diskusi klub Lek Jo masih berlangsung dengan cair, timpal menimpal bakasan dan guyonan tetap mewarnainya, sementara Syaikh Mahmud Al-Qusyairi telah bertarhim menggunakan speaker masjid. Tanda manjing waktu magrib. Tiba-tiba Pantoso berdehem tiga kali, “ehm..ehm..ehm!, nganu cah, sebenere Lek Jo iku ncen penggaweane ngono, nglabrak i cah sik gemuyuan tok na pondok. Sebab enek waqilah yen Lek Jo iku sering dituturi ro Pak Kiai: “Langge Jo, santri saiki ki nek ngapalne Qur’an ki lamun pengen golek cepete. Gek bar iku leyeh-leyeh, gek lali neh. Ra gelem rekoso khidmah lan perjuangan e. Njaluk e sik instan-instan ae yo Kang?”, Pantoso ngomong sembari mencoba menirukan gaya berbicara pak kiai. Tapi gagal.

“Po kerono kui Lek Jo sering murang-muringi awak dewe yo Pan?”, Karim bertanya dengan penuh kegelisahan.

“Yo cetoh Rim. Makane meskipun Lek Jo wes rampung apalane, ning belio sik kober khidmah na pondok, yo ngeramut awak-awakan sek ra becus iki. Podo bae kale pak yai, meskipun lalarane belio wes rampung pas ngaos ten abah e, ning belio ki sik getol lan sregep ngaji ten kiai Arwani. Pye perasaanmu?.” menggebu-nggebu Pantoso menjabarkan, sampai ludah nyemplung ke kopi yang tinggal setetes terakhir. Istirahat sejenak sekedar nelen ludah, Pantoso melanjutkan, “Titeni yo cah, neh-neh atine ditoto, men ra pecah rasah kokean guyu. Niate diiling2. Jo kebacut nyepeleke omongane guru-gurumu, wani-wani po neh.”

“Amin..amin..aminn”, bertiga mereka macak ngamini.

“Ooo..cah edan!.”

Hehehe

baca juga :

Share Blood, Share Life; “Donor Darah dalam Rangka Harlah Komplek Q ke-28”

 

Road to Hari Santri : “Santri dan Permasalahan Masa Kini”

Oleh : Hafidzoh*

Dua pekan lagi. Santri se-Indonesia akan menikmati euforia hari Santri. Sejenak menikmati euforia sembari mengenang perjuangan santri dan kyai dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri. Tapi saya sarankan jangan terlalu menikmati kesenangan. Negara ini tidak dibangun dengan canda tawa saja. Nyawa dan darah sudah menjadi hal biasa ditemukan di sekitar. Bisa jadi tanah yang kita injak, kita duduki, dan kita tiduri sekarang adalah bekas para pendahulu kita yang mati-matian mengusir penjajah.

Memasuki era milenium (kata yang lagi ngehitz saat ini), meneruskan perjuangan memang bukan lagi melalui perang senjata. Tetapi perang dengan otak. kenapa saya menyebutkan jangan terlalu senang dengan euforia hari santri? Karena masih banyak hal yang belum terselesaikan dan menjadi PR kita bersama sebagai santri. Dari pendidikan, kemiskinan, kesehatan, dan satu lagi adalah masalah konflik antar kelompok baik antar agama maupun sesama Islam.

Krapyak adalah pesantren yang terletak di kota besar dan mayoritas santrinya nyambi kuliah di beberapa universitas. Jangan berkecil hati, karena begitu istimewanya kita, Yaa Mondok, Yaa Kuliah. Bila ditanya mana yang didahulukan, maka akan sulit ketemu jawabannya. Mau bilang mondok dulu, kadang malas ngaji, mau bilang kuliah dulu, ngerjain tugas juga malas. Oleh karena itu saya lebih suka menggunakan Yaa Mondok Yaa Kuliah, Yaa Kuliah Yaa Mondok.

Mondok itu penting. Agar kita tidak jadi generasi bermicin (pengen masak enak gak mau pakai rempah berkualitas, pakai micin sebungkus saja dianggap cukup ). Agar kita tidak menjadi generasi yang instan dalam memepelajari ilmu agama. Dengan mondok kita tahu rasanya jatuh bangun mencari bekal hidup dan wafat kelak.

Kuliah. Jangan berpikir kuliah itu tidak penting. Kuliah dengan ragam jurusannya memiliki manfaat masing-masing. Santri yang kuliah sambil mondok itu keren. Kenapa begitu? Di zaman now diversifikasi profesi santri sangat dibutuhkan. Untuk menghadapi arus globalisasi yang begitu pesat, santri berperan dalam membendung dan sebagai filter dalam masyarakat. Arus yang masuk dengan pesat membuat kita semakin haus akan hal-hal baru hingga lupa batasan. Menembus batas memang bagus, tapi bila keblabasan? Waallahu’alam. Santri harus think globaly act localy. Bertindak lokal dengan wawasan dunia.

Ragam permasalahan kita

Kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi adalah basic problem pada setiap negara. Sri Mulyani berkata kunci dari kemajuan suatu negara adalah membangun permasalahan dasar tersebut. Kenapa negara Afrika masih tertinggal dari negara Eropa? Karena permasalahan dasar mereka belum terselesaikan, meskipun Afrika adalah negara dengan sumber daya alam melimpah. Meminjam perkataan Anies Baswedan, sumber daya manusia lebih penting dari sumber daya alam melimpah. Mengapa demikian? Mari kita lihat bagiamana negara kita memiliki kekayaan alam yang melimpah tapi tidak bisa memberi makan seluruh penduduknya. Jepang dengan lahan pertanian sedikit memiliki angka kemiskinan yang lebih kecil. Istilahnya Cak Lontong : Mikir !!

Dalam Al Qur’an salah satu ayat yang menjelaskan permasalahan dasar tersebut ada pada surat Al Balad ayat 12-16 : “ Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? “ Ayat-ayat selanjutnya menjawab : “ yaitu melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadinya kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir…” kemudian Al Qur’an menyebut golongan-golongan seperti ini sebagai golongan orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar, dan berpesan untuk saling kasih sayang (Al Balad : 17).

Jadi kemiskinan maupun permasalahan ekonomi bukan lah permasalah yang memang mudah dituntaskan. Butuh ikhtiyar panjang untuk menyelesaikannya. Menjelang peringatan hari santri ini, setidaknya kita mengingat akan banyaknya pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Di mananpun berada kelak, santri harus lah mengabdi kepada masyarakat. Dalam pesantren, guru saya mengibaratkan santri dan kyai adalah hubungan antara listrik dan lampu. Listrik adalah ilmu yang dialirkan oleh kyai kepada lampu alias santri. Bila lampu itu terang maka lampu akan membawa kemanfaatan bagi banyak orang, tetapi apabila lampu itu padam, maka kegelapan akan menyebabkan banyak kerusakan. Bisa dibayangkan apabila bumi ini geap, akan memudahkan orang melakukan kejahatan. Apabila padam, orang akan saling bertabrakan. Sama seperti apabila satri itu tanpa ilmu apapun, maka kegelapan lah yang akan menyelimuti dirinya. Semoga kita bisa menjadi santri yang cerdas manfaat bukan cerdas blablas.


*Santriwati komplek Q

ARCULE : “SMK Al Munawwir Luncurkan Pupuk Organik Cair”

almunawwir.com (Balai Pamungkas) – SMK Ma’arif Al Munawwir berkesempatan mengikuti pameran sains di Balai Pamungkas Yogyakarta, Selasa (10/10) hingga Rabu (11/10).

Dalam ajang pameran ini, SMK Ma’arif Al Munawwir menampilkan kreatifitasnya dalam bidang sains, yaitu pembuatan pupuk organik cair yang terbuat dari air cucian lele, dengan mark brandingnya “ARCULE” (Air Cucian Lele).

Setelah berhasil lulus uji analisis di Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan kini berkesempatan mengikuti ajang pameran sains SMK se-DIY. Munawwarotul Fauziyah, selaku guru pembimbing SMK Ma’arif Al Munawwir menuturkan bahwa Arcule merupakan pupuk organik cair ini.

Arcule memiliki beragam manfaat bagi tanaman, sayur-sayuran, maupun tumbuh-tumuhan hijau. Bermanfaat juga untuk meningkatkan kesuburan tanaman, mempercepat pertumbuhan tanaman, meningkatkan unsur hara dan vitamin, meningkatkan kapasitas serap air tanah dan menyuburkan buah.

Dalam ajang pameran sains ini, SMK Ma’arif Al Munawwir berharap kepada masyarakat untuk tidak membuang limbah air cucian lele dengan sia-sia. Selain itu mengajak masyarakat untuk menggunakan air limbah lele sebagai salah satu pupuk organik. Supaya menyuburkan dan meningkatkan kualitas tanaman. [Red]

Dramatikal Fiqih : “Ajang Membangun Kreatifitas & Melatih Mental Santri”

almunawwir.com (Krapyak) – Muharroman dan Komplek Meeting 1439 H Pondok Pesantren Krapyak masih terasa syahdu dan bersatu hingga malam pentas seni drama.

Hal tersebut merupakan kebahagiaan dan keceriaan para santri krapyak di bulan Muharrom, dan menjadi malam ke-15 Muharrom sekaligus malam agenda perlombaan dramatikal fiqih yang diikuti oleh santri krapyak dari seluruh komplek pada malam jum’at  di Aula AB (5/10).

Dengan mengusung tema “dari santri untuk negeri” yang merupakan jargon muharroman tahun 1439 H ini, sebagai upaya untuk menjalin ukhuwah islamiyah antar santri.

Sedari usai jama’ah sholat isya’, sekitar pukul 20.00 waktu setempat (5/10), santri-santri telah memadati Aula AB, pertanda mereka siap menanti-nanti salah satu agenda yang penting dan menjadi moment yang ditunggu-tunggu.
Beberapa cabang perlombaan dan cabang olahraga (CCP, kaligrafi, tarik tambang, MHQ dan MSQ) diselenggarakan dan telah terlaksana pada hari sebelumnya.

Malam keseruan selanjutnya adalah Dramatikal Fiqih, yang merupakan salah satu ajang kreatifitas santri dan pengolah mental mereka dengan penampilan semaksimal mungkin dalam aplikasi drama yang tetap membawakan identitas pondok dengan ilmu fiqh.

Dalam agenda malam tadi, para santri (komplek) yang tampil diberikan batas waktu selama sepuluh menit untuk menampilkan kajian fiqh dalam bingkisan drama.

Alhasil, berbagai macam kreatifnya para santri menjadi media kocok perut serta penyampaian ilmu bagi santri lain yang menyaksikan.
Salah satu panitia mengatakan bahwa dengan adanya perlombaan semacam ini, santri yang biasanya di elu-elukan selalu bergelut dengan dunia kitab mampulah memangkas tanggapan negatif mengenai santri,

“Tentu saja saya sangat mendukung salah satu ajang kreatifitas Santri Krapyak yang mana nantinya mampu menjadi jalan metamorfosa para santri namun tetap pada koridor hakikat seorang santri,” ungkap Ana, salah satu panitia muharroman disela-sela acara tersebut.

Sedangkan Muharroman dan Komplek Meeting 1439 H kali ini di selenggarakan selama satu bulan penuh, yang mana masih ada banyak perlombaan lainnya guna menyemarakkan bulan Muharrom kali ini. [Aninda]