Bernas: Gus Ghofur menyampaikan materi jaringan ulama tradisional Jawa. Foto:@yayasanalimaksum
Almunawwir.com – Haul kali ini tampak berbeda. Pandemi yang belum surut mengharuskan pelaksanaan Haul Kiai Ali Maksum ke-32 dilakukan secara virtual dengan tetap mematuhi protokol yang ada. Meskipun begitu, antusias pengasuh, santri dan alumni masih sama.
Tercatat, ada setidaknya 12.000 lebih santri dan alumni yang mengikuti haul secara virtual via Live Youtube di channel Krapyak Official. Sedangkan santri yang berada di pesantren mengikuti serangkaian Haul di komplek masing-masing dengan dipasangkan sebuah proyektor.
“Saya merasa terhormat meskipun dalam masa pandemi, masih dapat melakukan penghormatan terhadap Kiai Ali Maksum”, tutur Kiai Abdul Ghofur Maimoen saat mengawali sambutan pada Haul Virtual KH Ali Maksum ke-32 (Sabtu, 23/12/20).
Beliau mengatakan bahwa mengenang Kiai Ali Maksum sama halnya dengan mengenang alim ‘ulama. Menurut beliau hubungan antara guru dan murid pada zaman dahulu bisa terjalin dengan begitu erat. Hal ini dilihat dari hubungan yang masih terjalin lewat silaturahmi, ziarah dan pernikahan.
Jaringan ulama tradisional Jawa kita dahulu sangat kuat. Satu sama lain punya hubungan keilmuan dan kekerabatan yang istimewa. Hubungan keilmuan dibuktikan dengan jalinan ikatan sanad—yang semakin lekat tatkala menimba di satu pesantren ke pesantren lain. Sebagaimana kekerabatan dibuktikan dengan tradisi sowan dan ikatan pernikahan yang terus tersambung sampai sekarang.
“Hubungan satu kiai dengan kiai lain, meski tidak terhubung tapi punya ikatan satu sama lain. Guru dan murid zaman dahulu, meskipun bukan handphone yang menghubungkan tapi rohaniahnya terhubung dengan kuat”, tukas menantu KH Jirjiz Ali tersebut.
KH Miftachul Akhyar dalam mengenang sosok KH Ali Maksum. Sumber Foto:Krapyak TV
Almunawwir.com – Kita semua kehilangan sosok yang sangat berpengaruh dengan ilmu yang menyegarkan bagi siapa saja yang meneguknya. Tak lain yang beliau maksud adalah al-Maghfurlah KH Ali Maksum. Demikian disampaikan oleh Rais ‘Am PBNU sekaligus Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar (Pengasuh PP. Miftachus Sunnah, Surabaya) melalui vitual Zoom.
Kesan dan pesan dalam kehidupan al-Maghfurlah, sejenak membangkitkan ingatannya akan sosok figur kharismatik yang sanggup mengayomi semua golongan.
“Kita dari kalangan PBNU sangat kehilangan sekali sosok kharismatik, dan berharap bisa memunculkan generasi idaman, yang bisa sedikit mengganjal atau menghentikan sejenak daripada situasi yang disebut dengan era disrupsi”, tukas Kiai asal Surabaya tersebut.
Selanjutnya Rois ‘Am mengatakan bahwa saat ini kita semua dihadapkan dengan suatu fenomena dimana kebenaran dianggap sebagai kesalahan dan kesalahan dianggap sebagai kebenaran. Oleh karena itu, Amrullah wa Dinuh (Keputusan Allah dan Agama) adalah—yang insyaallah—satu-satunya sebagai obat daripada musibah yang kita rasakan.
Kemudian beliau teringat tentang kisah sesosok ulama yang bernama Az-Zuhri disaat menghadap kepada Amirul Mukminin, Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Dari kedua tokoh ini terjadilah sebuah dialog yang mengesankan untuk kita renungi bersama:
Amirul Mukminin bertanya: “Dari mana engkau datang, wahai Zuhri?”
Az-Zuhri menjawab: “Saya datang dari Makkah.”
Amirul Mukminin bertanya kembali: “Lalu siapa yang engkau wakilkan atau jadikan pengganti di kota Makkah yang menuntun serta memberikan pendidikan kepada penduduk Makkah.”
“Imam Atha’ bin Abi Rabbah”
“Apakah ia dari orang Arab asli atau keturunan orang-orang mulia?”
“Dari keturunan orang-orang mulia”
“Dengan kemampuan apa ia memimpin?”
“Dengan kemampuan ketakwaan yang ia miliki dan kemampuan mengaktualisasikan ajaran Agama serta memanifestasikan jalan kehidupan.”
“Lantas siapa yang menjadi wakil atau pemimpin di Yaman?”
“Thawus bin Kaisan”
“Apakah ia dari orang Arab asli atau keturunan orang-orang mulia?”
“Dari keturunan orang-orang mulia”
“Dengan kemampuan apa ia memimpin?”
“Dengan kemampuan seperti yang dimiliki oleh Imam Atha’ bin Rabbah”
“Celakalah engkau wahai Zuhri. Kalau demikian, nanti yang menguasai dunia ini adalah orang-orang mulia, sedangkan meraka yang keturunan Arab asli hanya sabagai pendengar.” Tegas khalifah.
Lalu Imam Zuhri menjawab: “Wahai Amiral Mukminin, Innahu Dinullah wa Amruh (Itulah agama Allah dan keputusan Allah). Man Hafizha Sada, wa Man Taraka Saqata (Barangsiapa yang menjaga/melestarikan ilmu yang di dalamnya memiliki kemampuan dan dipenuhi ketakwaan, maka dialah yang akan memimpin dunia.)”
“Namun diakhir zaman ini, sudah jauh berbeda dari apa yang telah diwariskan oleh al-Marhum al-Maghfurlah (KH Ali Maksum). Di dunia ini ada dua perselingkuhan; perselingkuhan ilmu dan perselingkuhan harta kekayaan, yang di dalamnya terdapat kekuasaan.” Lanjut beliau.
Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa sekarang ilmu sudah lepas kontrol dari sang empunya, artinya orang-orang sudah tidak menghiraukan lagi mana itu kebenaran dan kesalahan.
“Saat ini kita membutuhkan orang yang benar bukan hanya sekedar pintar. Saat ini kita butuh sosok yang seperti beliau al-Maghfurlah yang di dalamnya lengkap dengan sifat Uswah Hasanah (suri tauladan yang baik) juga Mauidzah Hasanah (motivator yang handal).” Tegasnya.
Oleh karena itu, mudah-mudahan dengan memperingati Haul KH Ali Maksum yang ke-32 ini, semoga lahirlah generasi-generasi idaman, terutama dari dzuriyah-dzuriyah al-Marhum dan siapapun itu baik dari kalangan santri atau para muhibbin. Kita harapkan bisa melanjutkan daripada apa yang telah diletakkan dasar-dasar oleh al-Marhum al-Maghfurlah KH Ali Maksum.
Sebagai penutup beliau memohon doa kepada semua hadirin agar senantiasa dirinya diberikan istiqamah dalam menjalankan amanat baru ini, yakni sebagai ketua Lembaga Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Semoga saya al-Faqir diberikan istiqamah dalam menjalankan amanat besar ini.” Amiin. (Irfan Fauzi/Komplek L)
Cinta Ilmu: Gus Baha selalu mengingatkan untuk mencintai ilmu. Sumber Foto: @yayasanalimaksum
Almunawwir.com – “Saya berkali-kali bilang di mana-mana status orang tua dan mbah itu tergantung anak-cucunya, bukan terserah mbahnya,” terangnya. Pesan kiai yang juga merupakan santri kinasih KH Maimoen Zubair.
Dalam penyampainannya di Haul KH Ali Maksum, Gu Baha sangat menekankan pentingnya menjaga tradisi sanad keilmuan. Beliau menceritakan dan mengingatkan kepada hadirin betapa pentingnya sanad keilmuan gurunya, KH Maimoen Zubair ketika nyantri kepada sejumlah ulama semasanya.
Beliau juga mendasarkan argumen terkait pentingnya menjaga sanad pada pengalamannya ketika ziarah Nabi Ya’qub dan Nabi Dawud, dimana makam keduanya diselimuti bendera Bani Israel. Demikian pula makam Nabi Ibrahim yang diklaim oleh Israel sebagai Yahudi. Oleh karena itu, menurutnya sanad keilmuan itu harus diulang-ulang, sehingga tidak akan muncul penafsiran yang salah terhadap kedudukan sanad mulia ulama-ulama terdahulu baik secara genetik maupun asbab.“makanya sanad keilmuan yang diceritakan Gus Ghafur itu harus diulang-ulang, kalau nggak diulang-ulang maka kita akan berpikir sendiri untuk menafsirkan masyaikhanal kiram,” imbuhnya.
Selain menukil cerita yang disampaikan oleh KH Maimoen Zubair, beliau menceritakan perihal kecintaan KH Munawwir terhadap ilmu-ilmu yang berhubungan denga kitab kuning (kitab ulama’ salaf). Dimana KH Munawwir mendatangakan alumni Pesantren Lirboyo untuk mengaji Kitab Fathul Mu’in di Krapyak. Hal itu dimaksudkan untuk mengajari santri bahwa, ketika menghafal al-Qur’an tidak hanya menghafal saja, namun juga paham.
“Kalau ada alumni Lirboyo, alim, disuruh baca Mu’in di sini (Krapyak) itu Mbah Munawwir ikut, saking ingin tasyji’nya ingin ngajari santri bahwa mengahfal al-Qur’an itu jangan menghafal saja tapi juga paham,” ceritanya.
Puncak kecintaan KH Munawwir terhadap ilmu adalah ketika mempunyai menantu yang ‘alim dan ‘alamah, KH Ali Maksum Lasem. Sehingga Krapyak ma’ruf bil ilmi, terutama ilmu Sharaf. “Ketika Mbah Munawwir mempunyai menantu alim, allamah, namanya Mbah Ali Maksum, menikah dengan Nyai Hasyimah. Sehingga Pondok Krapyak ma’ruf bil ilmi, terutama ilmu Sharaf,” terangnya.
Atas dasar pentingya menjaga sanad, Kiai yang juga merupakan ketua Tim Lajnah Mushaf UII Yogyakarta ini mengutip penggalan ayat dalam surat Zukhruf ayat 28 tentang pentingnya menjaga sanad atau dzuriyyah. Menurutnya dzuriyyah nantinya yang akan menstatuskan leluhurnya.
“Dzuriyyah ini penting, sehingga para nabi selau berdoa dzuriyyatan thayyibah, wajalaha kalimatan baqiyatan fi ‘aqibih,” pungkasnya.
Rileks: Gus Baha memberikan pengajian di Haul-32 KH Ali Maksum. Sumber Foto:@yayasanalimaksum
Almunawwir.com – Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta meyelenggarakan peringatan Haul ke-32 KH Ali Maksum pada Rabu (23/12). Di puncak haul ini menghadirkan tiga kiai kondang KH Abdul Ghafur Maimoen pengasuh Pesantren Al-Anwar III Sarang, KH Agus Maftuh Abegebriel Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi dan KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Rembang. Ikut hadir secara virtual KH Miftachul Akhyar pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, yang memberikan sambutan atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Acara yang hanya diikuti oleh keluarga dan santri-santri mukim Krapyak ini berlangsung khidmat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Pengajian haul juga disiarkan secara virtual melalui akun resmi Krapyak TV.
Di kesempatan haul ini KH Baha’uddin Nursalim yang akrab disapa Gus Baha menyampaikan kekagumannya terhadap sosok KH Ali Maksum lewat karya monumental Hujjah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Menurutnya, Mbah Ali adalah kiai yang fair ataupun moderat, dalam arti tidak apriori terhadap pendapat ulama tertentu, bahkan terhadap Ibn Taimiyyah. Mbah Ali misalnya memuji Ibn Taimiyyah dalam soal qiro’atul qur’an tanfa’ul mayyit. Sementara mengkritiknya dalam bab ziarah kubur. “Saya nggak akan bosen-bosen belajar kitabnya Mbah Ali (Hujjah Ahlussunnah Wal Jama’ah). Memang benar-benar belajar, artinya menikmati. Diantara yang saya kagumi, ketika orang lain apriori dengan Ibn Taimiyyah, Mbah Ali itu ya kadang muji Ibn Taimiyyah tapi ya kadang ngritik,” terangnya.
Beliau membuka kajian dengan cerita tentang tradisi hujjah ulama-ulama zaman dahulu yang membuka wawasan perihal bagaimana ulama dulu itu pengagum ilmu, bukan pengagum perbedaan. Gus Baha mengambil tamsil dari riwayat cerita KH Hasyim Asy’ari dan KH Faqih Maskumambang.
Dimana kedua ulama tersebut sempat beradu argumen tentang halal-haram kentongan. KH Hasyim Asy’ari dengan karangan kitabnya Al Jasus Antahrimin Naqus (Al Jasus fi Bayani Hukm Naqus) yang mengaharamkan kentongan. Sementara itu, bertolak belakang terhadap argumen tersebut, KH Faqih Maskumambang justru mengarang kitab Hazzur Ru’us Antahrimin Naqus (Ru’us fi Radd Jasus ‘an Tahrim Naqus).
Kedua ulama yang berposisi sebagai Rais Akbar (KH Hasyim Asy’ari) dan Wakil Rais Akbar (KH Faqih Maskumambang) Nahdlatul Ulama tersebut beda argumen mengenai hukum kentongan, namun keduanya melakukan kritik argumen tersebut secara ilmiah dengan berdasar ilmu, yakni dengan mengarang kitab.“Dulu ulama itu kelihatan sederhana, tetapi ketika berargumen itu hebat. Sehingga tradisi keilmuan itu harus dijaga dengan hujjah dan pembukuan,”jelasnya.
“KH Ali Maksum adalah Kiai yang ensiklopedis,Kiai yang komplit, juga luas keilmuannya tukas Agus Maftuh Abegebriel. Selain itu, “Al Maghfurlah Simbah KH Ali Maksum adalah seorang al mausu’i, al munsif, al mutasamih, al murabbi. Pendidik yang sangat dekat dengan santri.
Perkataan itu disampaikan oleh Bapak Dr. Agus Maftuh Abegebriel pada sambutan yang beliau sampaikan dalam rangka memperingati Haul Virtual Almaghfurlah KH Ali Maksum ke-32 pada Sabtu, 23/12/2020.
Pada permulaan sambutannya, beliau memberikan judul istimewa yang dikhususkan untuk mengenang kehidupan Almaghfurlah KH Ali Maksum .“ As syekh Ali Maksum Ma’limu hayatihi wa dzikroyatuhu alyauma”. yang menjelaskan manaqib, nasab hingga sisi kehidupan beliau yang dapat dijadikan suri tauladan dimasa kini.
Terakhir, dalam sambutannya Dubes RI untuk Arab Saudi itu menyampaikan bahwa Mbah Ali bukan hanya seorang seorang al ‘alim, seorang guru dengan ilmu epistemologi tetapi beliau juga seorang al murobbi. Sosok guru yang sangat dekat dengan para santri-santrinya. Beliau merangkul santrinya, foto bersama para santrinya.
Takzim : Seorang santri mencium tangan KH Ali Maksum. Foto Arsip : Almunawwir.com
Almunawwir.com – Sudah setengah tahun lebih bencana nasional Covid-19 menimpa dunia tak terkecuali masyarakat di Indonesia. Berbagai kegiatan yang mengundang kerumunan orang banyak dilarang oleh pemerintah termasuk didalamnya adalah kegiatan sosial keagamaan. Sebagai solusinya keluarga besar Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta akan mengadakan perhelatan Haul ke-32 KH Ali Maksum pada Rabu, 23 Desember 2020 secara virtual. Hal ini sebagai upaya mentaati amanat ulama dan umara dalam memutus penyebaran virus sekaligus agar acara tahunan Pondok Pesantren tetap bergulir.
Acara pengajian dapat disaksikan melalui Live Streaming Krapyak TV pukul 19.30-23.30. Haul virtual itu rencananya akan diisi tausiyah oleh KH. Agus Maftuh Abigabriel (Duta Besar RI untuk Arab Saudi), KH. Abdul Ghofur Maemun, dan KH. Baha’uddin Nursalim (Gus Baha). Kita berharap dengan diadakannya haul ini dapat menyegarkan kembali kenangan, pemikiran dan meneladani sosok KH Ali Maksum (selanjutnya ditulis Kiai Ali) sebagai soko guru bangsa yang dicintai dan mencintai banyak orang itu.
Menurut Prof. Mukti Ali, Kiai Ali mempunyai cita-cita besar, ingin melahirkan duplikat Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali, al-Ghazali, Nawawi, Suyuti, Asqalani, Miskawaih, Farabi, Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Thufail, Jabir bin Hayyan, Khawarizmi, Battani, Ibnu Khaldun, Thantawi Jauhari, Ibnu Batutah, Muntanabbi, Ma’ari, Firdausi, Rumi, Abu Nawas, Abdul Qadir Jailani, Ibrahim Adam, Rabi’ah Adawiyah, Bistami, Junaidi Baghdadi, Syibli dan sebagainya. (Badrun Alaina & Humaidy Abdussami, “KH. Ali Maksum Tokoh Modernis NU”, hlm. 114-115.)
Dari tangannya telah lahir ulama dan cendekiawan dalam model pemikiran aneka ragam. Sebut saja umpamanya Mukti Ali yang modernis-normatif, Syukran Makmun yang tekstualis-konservatif, Gus Dur yang liberalis-demokratis, Fahmi Saifudin yang managerial-administratif, Slamet Effendi Yusuf yang realis-pragmatis dan Masdar Farid Mas’ud yang transformatif-kontekstualis (Ibid,. hlm. 117.) dan lain-lain.
Dengan pemikiran dan sikap modernnya, Kiai Ali telah membuat NU bangkit dari masa kemundurannya dan sekaligus secara perlahan-lahan menambah menuju kemajuan. Dalam NU telah bermunculan tokoh nasional ulama handal yang berpikiran maju, seperti KH. Ali Yafie, KH. Sahal Mahfudh, KH. Tolchah Hasan, KH. Ma’ruf Amin, KH. Cholil Bisri, KH. Mustofa Bisri, KH. Wahid Zaini, KH. Muhith Muzadi, KH. Hasyim Muzadi, A. Malik Madany, dan sebagainya. Juga cendekiawan Dr. Mastuhu, dr. Fahmi Saifudin, Agil Munawwar, Sayid Agil, Ghafar Rahman, MM. Billah, Abdullah Syarwani, Fajrul Falaakh, Arif Mudasir, Enceng Sobirin, Andi Muarly dan sebagainya. (Ibid,. hlm. 138). Hal ini tentu tidak lepas dari spirit beliau sebagai pemikir dan pendidik berhasil mewariskan sikap dan ilmu-ilmunya.
Dalam pidatonya beliau Kiai Ali mengatakan betapa penting ilmu pengetahuan, maka mari kita tingkatkan pengembangan ilmu pengetahuan di dalam jaringan NU, baik ilmu-ilmu syariah maupun ilmu-ilmu umum. Mengembangkan ilmu syariah terutama di Pesantren dan ilmu umum dikembangkan lewat sekolah-sekolah (madrasah-madrasah) yang disediakan oleh lembaga Ma’arif. (KH. Ali Maksum, Ajakan Suci,(Yogyakarta: Lajnah Ta’lif wa Nasyr-NU DIY, 1995), cet. ke-2 hlm. 92).
Pernyataan tersebut menunjukan adanya benang merah antara pesantren, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang visi di dalamnya menyelenggarakan segala aktifitas pendidikan guna mengembangkan ilmu pengetahuan. Keutamaan ilmu sendiri secara aqli maupun naqli sudah menjadi sebuah idealitas dan realitas bagi manusia secara khusus.
Kiai Ali menyatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan ilmu pengetahuan. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam rangka mencetak insan yang berpengetahuan tinggi, ilmiah dan mempunyai pandangan serta wawasan yang luas.
Pada Muker pertama Ma’arif NU se Indonesia di Jakarta tanggal 9 April 1983 yang diprakarsai oleh pimpinan pusat Ma’arif NU, Kiai Ali menyampaikan pidatonya, perihal harapan dengan adanya muker Nasional itu menjadi perangsang kepada bagian-bagian lain NU untuk segera mengadakan aktifitasnya kembali. Beliau mengatakan adanya muker itu sebagai bagian dari respon setelah pelaksanaan ketetapan MPR 1983 khususnya menyangkut pendidikan Nasional dan lebih khusus pendidikan Islam sebagai salah satu bagian penting dalam menciptakan mental manusia pembangun yang dapat diandalkan. (Anas, “KH. Ali Maksum “Bernegara Dengan Panduan Ilmu Pesantren”, Bangkit: Majalah NU-DIY, edisi no. 36/TH. IV/ Sya’ban 1403/Mei 1983, hlm. 8).
Kiai Ali mengatakan, dalam pendidikan merupakan kegiatan pokok dalam segala sepak terjang NU, baik sebelum menjadi partai NU, selama menjadi partai, maupun setelah kembali lagi menjadi jam’iyah. NU dilahirkan dari bumi pendidikan pesantren dan kegiatan NU pertama pun adalah pendidikan Islam”. (Ibid., hlm. 8).
“Kurikulum yang ada di antara pesantren-pesantren boleh berbeda-beda namun tetap bertumpu pada satu tujuan menjadikan alumni-alumni orang NU yang betul-betul baik.”
Selanjutnya beliau mengutip ucapan Imam syafi’i tentang bagaimana agar tercapainya dunia dan akhirat dengan menguasai ilmu agama (Syariah) dan ilmu umum yaitu “Barangsiapa menginginkan dunia maka ilmu bekalnya; barang siapa menginginkan akhirat, juga ilmu bekalnya dan barang siapa ingin kedua-duanya maka juga ilmu bekalnya”.
Berkaitan dengan masalah dikotomi ilmu, Kiai Ali merespon dengan tidak menganggap bahwa ulama itu hanya sebatas orang yang ahli agama, seperti orang yang pandai dibidang fikih atau syari’ah. Akan tetapi ulama adalah orang-orang yang ahli diberbagai bidang ilmu baik fikih, syariah maupun bidang-bidang keilmuan lain. Jadi, Kiai Ali memposisikan dan memaknai istilah ulama secara luas, tidak hanya ahli ilmu-ilmu agama saja, tetapi lintas ilmu-ilmu pengetahuan. Hal itu bisa dilihat dari cara berfikir Kiai Ali yang sangat progresif. (Aly As’ad, “Pak Ali itu, Pembaca Tiada Henti”, Bangkit: Majalah PWNU DIY, Edisi 03, TH. III. Mei 2014, hlm. 11).
Konkritnya, seperti ketika menafsiri teks Al-Qur’an, beliau mempunyai cara baru dalam mengkaji dan memahami kitabullah. Tidak terpaku pada telaah yang bersumber pada kitab kitab kuning, tetapi juga mengelaborasi dengan sumber pengetahuan lainnya sebelum Islam. Beliau berhasil memadukan ilmu pengetahuan baik berasal dari kitab kuning maupun pengetahuan umum dengan serasi. Walhasil, beliau menafsiri Al-Qur’an secara tekstual dan kontekstual. (Ibid, hlm. 12).
Beliau bersifat inklusif terhadap kitab-kitab modern maupun karya dari para ilmuan terkini. Bahkan kitab-kitab modern berBahasa Arab salah satunya majalah rabithatul Alam dijadikan sorogan untuk para santrinya.
Menurut Kiai Ali, semua ilmu pengetahuan pada dasarnya milik Allah. Tidak benar jika ada yang memisahkan, memilih-milih antara agama dan ilmu umum. Semua ilmu adalah ilmu agama (Islam), berasal dari sumber yang sama yaitu Allah Swt. sehingga tidak perlu dibeda-bedakan antara. Namun beliau mengklasifikasi ilmu secara epistemologi, membagi ilmu menjadi dua yaitu ilmu religius (syari’at) dan ilmu intelek (umum).
Dengan paradigma ini menurut As’ad Aly, Kiai Ali mempunyai obsesi besar untuk menghilangkan dan menghapus paham dikotomi yang mengkotak-kotakkan ilmu pengetahuan manusia berupa istilah ilmu agama dan ilmu umum, seperti yang sampai hari ini masih berkembang di masyarakat. (Ibid., hlm. 11).
Kiai Ali berpendapat bahwa antara ilmu umum dan ilmu agama tidak dapat dipisahkan secara mutlak. Beliau mengakui menuntut ilmu agama dipandang dari sudut fikih termasuk fardlu ain, namun sebatas sampai pada level al-ilm al-hāl (ilmu dasar dan pokok tentang agama), lebih dari itu sifatnya relatif, tergantung sejauh mana sumbangsihnya terhadap kehidupan beragama. (Arief Subhan, Transformasi Otoritas Keagamaan: KH. Ali Maksum Ulama NU berjiwa Modernis, (Jakarta: Gramedia, 2003), hlm. 85).
Ada kesamaan pembagian ilmu namun Kiai Ali tidak mendikotomikan antara keduanya. Beliau berpandangan bahwa semua ilmu penting dan harus dipelajari baik ilmu syariah maupun umum. Fardlu ain tidak secara mutlak menyeluruh untuk ilmu agama namun sebatas pokok-pokok agama saja. Jadi menuntut ilmu agama dan umum harus ditekankan bukan memilih salah satu dari keduanya. Karena bagi Kiai Ali kemuliaan ilmu itu terletak pada kadar kemanfaatan bagi kehidupan manusia beragama.
Dalam memahami ilmu ditinjau dari segi hukum fardlu ‘ain pada batas tertentu memang ilmu agama menjadi lebih mulia. Yang fardlu ain ialah mempelajari sampai dalam batas ilmu al-hāl, yaitu ilmu-ilmu dasar pokok tentang beragama. Tetapi dalam dalam hal yang lebih jauh dari itu sesungguhnya adalah relatif. Suatu ilmu lebih mulia, jika ternyata buahnya lebih terasa bermanfaat bagi kehidupan agama. (KH. Ali Maksum, “Pidato Ro’is ‘Amm PBNU dalam Harlah NU ke 59”, Bangkit: Majalah PWNU DIY, No. 37/ Th IV 1983, hlm. 10-11).
Kiai Ali menyatakan secara keseluruhan tentang pentingnya ilmu. Dalam menanggapi pertanyaan masyarakat tentang hierarki ilmu, beliau memahami mempelajari ilmu agama atau ilmu syariat hukumnya fardlu ‘ain sebatas ilmu-ilmu dasar agama. Lebih dari itu tidak ada fardlu ain bagi setiap muslim. Bagaimana menanggapi pertanyaan lebih mulia mana ilmu umum dengan ilmu agama yang tidak fardlu ain? Beliau menilai kemuliaan ilmu dari segi kemanfaatannya yaitu kemanfaatan ilmu yang kembalinya terhadap kehidupan manusia beragama. Semakin ilmu bermanfaat bagi kehidupan beragama semakin mulia pula tingkat kemuliaanya ilmu tersebut.
Secara aksiologi, Kiai Ali mengklasifikasikan ilmu secara hukum fiqih menjadi dua yaitu ilmu fardlu ain, ilmu religius fardlu kifayah. Ilmu fardlu ain yaitu ilmu yang wajib dipelajari bagi setiap individu muslim. Ilmu religius ini berupa ilm al-hal atau ilmu-ilmu dasar pokok beragama Islam. Ilmu ini jelas mulia untuk dipelajarinya guna mencapai hubungan manusia dengan Allah Swt. secara ritual-vertikal. Kemudian ilmu fardlu kifayah dibagi menjadi dua yaitu ilmu religius fardlu kifayah dan ilmu umum. Maksud ilmu fardlu kifayah adalah apabila sebagian warga suatu masyarakat telah mempelajari ilmu tersebut, maka gugur kewajiban mempelajarinya bagi warga lain. Mempelajari ilmu ini tidak wajib bagi setiap individu secara mutlak akan tetapi menjadi mulia apabila secara kolektif banyak yang menguasainya. Kemuliaan di antara keduanya bergantung pada kemanfaatan dari kedua ilmu tersebut terhadap kehidupan manusia secara sosial-horisontal.
Kiai Ali menyatakan secara keseluruhan tentang pentingnya ilmu. Meski begitu, bukan berarti beliau berambisi menjadi generalis. Beliau menentukan kecenderungannya pada bidang ilmu Tafsir dan ilmu Bahasa Arab. Baginya kedua ilmu inilah yang dapat menjadi modal dasar untuk lahirnya mujtahid dan memahami Islam secara mendasar dan progresif. Dan kecenderungan terhadap suatu ilmu tidak membuat Kiai Ali apriori terhadap ilmu lain. (Badrun Alaina & Humaidy Abdussami, “KH. Ali Maksum …, hlm. 115).
Kiai Ali dapat digolongkan sebagai ulama yang mempunyai aliran Pragmatis-Instrumental (al-Dzara’iy). Aliran pragmatis dilihat dari sudut pandang tujuan pendidikannya lebih bersifat pragmatis dan berorientasi aplikatif-praktis. Kiai Ali mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasarkan tujuan fungsional atau kemanfaatannya, tidak berdasarkan subtansinya semata.
Dalam pandangan Kiai Ali, pencarian ilmu itu dengan harus dengan belajar (al-‘ilmu bi al-ta’allum) bukan dengan mengandalkan semangat “laduni” tanpa usaha. (A. Zuhdi Mukhdlor, KH. Ali Maksum …, hlm. 84)
Kiai Ali menganjurkan agar pesantren membekali santri-santrinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai berikut:
Pertama, Ilmu-ilmu syari’ah. Misalnya, ulum Al-Qur’an, tafsir, hadits, fikih, tajwid, dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan, Termasuk Bahasa Arab.
Kedua, Ilmu-ilmu yang bersifat empiris, antara lain tarikh Islam, sejarah umum, sejarah pembinaan hukum Islam, ilmu kemasyarakatan dan ilmu kenegaraan.
Ketiga, Ilmu-ilmu yang membuat berpikir kritis dan berwawasan luas. Antara lain mantiq, ushul fiqh, qawaid al-fiqh, dan lain-lain.
Keempat, Ilmu-ilmu pembinaan budi pekerti dan karakter keislaman. Antara lain ilmu akhlak, ilmu tasawuf, tarekat dan lain-lain.
Kelima, Latihan kemasyarakatan, termasuk latihan berbicara dimuka umum, latihan menyelesaikan problem, personal approach/hubunga kepribadian, latihan diskusi, latihan berorganisasi, latihan kepemimpinan dan lain-lain.
Keenam, Penggemblengan mental dan karakter. Di saini santri perlu dilatih mujahadah, istighasah dan amalan-amalan lain. (KH. Ali Maksum, Ajakan Suci …, hlm. 110-111).
Sikap pemikiran yang dilakukan Kiai Ali tersebut di atas mengindikasikan konsep bahwa mengadopsi ilmu pengetahuan modern dengan mempelajari karya-karya pembaharu muslim sangat diperlukan pada saat ini. Sebab pada gilirannya upaya ini akan mewariskan sikap inklusif umat Islam terhadap dikotomi keilmuan yang menolak sama sekali sains modern dan pemikiran tokoh-tokohnya, karena pengaruh dari sikap ekslusif kebanyakan orang-orang pesantren di masa itu. Hal ini diharapkan lahirnya out-put santri sebagai tampilan egaliter, inklusif, multitalenta dan demokratis.
*Bahrun Ulum, penulis buku ”KH. Ali Maksum dan Pembaruan Pendidikan Pesantren” dan Novelet ”Kisah Kasih Kian”. Alumni Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Yogyakarta.
Almunawwir.com – Bulan Syawal merupakan bulan yang senantiasa didambakan oleh santri-santri baru untuk pertama kalinya menghirup nuansa pondok pesantren. Namun pada tahun ini, disebagian pondok pesantren tidak memberlakukan kedatangan santri pada bulan tersebut. Para santri baru dengan rela menunda penyambutan kedatangan dirinya demi mematuhi peraturan pemerintah terkait penyebaran Covid-19. Penundaan kedatangan santri baru juga dialami oleh Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek R2.
Atmosfer santri baru yang seharusnya sudah dirasakan di bulan Syawal dulu, kini baru bisa merasakan aromanya di pertengahan tahun pelajaran kalender Islam. Pasalnya pandemi yang menimpa di seluruh negara, berlangsung secara masif, termasuk pula negara Indonesia. Hal ini menyebabkan penerimaan santri baru dipelbagai pondok pesantren, khususnya di Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek R2 dilakukan secara online.
Secara administratif, Komplek R2 tetap melaksanakan penerimaan santri baru sejak awal bulan Syawal yang dilakukan secara online. Kedatangan santri baru pun dibuat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang dilakukan secara bertahap atau bergelombang dengan menerapkan prosedur karantina selama 14 hari di ruangan khusus yang masih berada di lingkungan pondok pesantren. Hal inilah yang membuat program orientasi santri baru (osaba) sedikit terlambat.
Setelah seluruh santri baru datang, tradisi di Komplek R2 adalah mengadakan osaba sebagai orientasi atau pengenalan antar sesama, komplek, ahlein dan segala hal yang bersifat ke-Al-Munawwir-an. Di tengah pandemi ini, osaba dilakukan secara online. Osaba kali ini mengangkat tema Regenerasi Semangat Santri di Era Pandemi. Kegiatan ini dilakukan selama dua hari sejak kemarin (5-6/12). Rangkaian acara pun terlaksana dengan teratur dan penuh khidmat.
Di hari pertama, kegiatan osaba dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara virtual. Pelantunan lagu kebangsaan ini dilakukan secara khidmat oleh seluruh peserta osaba, terlihat dari para peserta yang serentak berdiri ketika diputarkan lagu Indonesia Raya. Di sesi sambutan, Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal banyak memberi nasihat dan petuah yang bermanfaat bagi seluruh santri osaba. Salah satu pesan beliau adalah bahwa santri harus senantiasa semangat untuk belajar, mengaji, semangat dalam menjalani kehidupan agar ketika pulang nanti bisa membawa ilmu yang bermanfaat dan barokah fid-dini wad–dunya wal–akhiroh. Selanjutnya beliau juga memberi nasihat agar kita sebagai santri senantiasa sabar dan tetap menjaga akhlak dalam menghadapi pandemi ini.
Sosialisasi kepengurusan, kegiatan komplek, peraturan pesantren dan pengenalan komplek juga dilakukan di hari pertama ini. Di akhir acara, materi ke-Almunawwiran disampaikan oleh Gus Faik Muhammad sebagai pemateri sekaligus ahlein Al-Munawwir. Dalam materi ini, Gus Faik menyampaikan pesannya dengan sangat jelas sehingga mudah diterima oleh seluruh peserta. Tak lupa, Gus Faik juga menyampaikan petuah, Jadilah seperti air, yang dibutuhkan banyak orang. Jangan menjadi seperti kalajengking, yang orang lain takut melihatnya. Kalau tidak bisa, maka jadilah seperti batu, yang diam tapi tidak merugikan.
Hari kedua berlangsung dengan tak kalah meriah. Di awal sesi, materi keaswajaan disampaikan oleh Ustadzah Puput Lestari. Di acara puncak, yakni sesi motivasi disampaikan oleh Ustadz Muhammad Abdullah Faqih. Dalam sesi motivasi ini, salah satu pesan yang disampaikan oleh Ustadz Faqih adalah bahwa seorang santri dalam mencari ilmu di pondok pesantren harus memegang tiga pondasi, yaitu DIY: Dipaksakan ketika malas, Istiqomah, dan Yakin. Sesi yang terakhir di hari kedua ini adalah pengumuman pemenang lomba sekaligus penutupan.
Banyak hikmah yang dipetik dari program osaba tahun ini. Meskipun dilakukan secara online seraya menatap kilauan layar masing-masing, program osaba kali ini tidak sedikitpun kehilangan esensinya dan semoga ilmu yang telah dilimpahkan oleh para pemateri bisa bermanfaat bagi santri-santri semua. Doa kami dipenghujung kalam, semoga pandemi segera berakhir dan kegiatan normal seperti dahulu kala. Aamiin.