Ada yang Unik dan Khas dari Ngaji bersama Kiai Najib

KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir. Ilustrasi by @vckyyhr

Oleh: Ayus Mahrus EL-Mawa*

Almunawwir.com – Sedikit cerita, tahun 1988 merupakan awal mula saya sowan Gus Najib, demikian kami, para santri memanggilnya dengan hormat.

Saat itu, Mbah Kiai Ali Ma’shum, Mbah Kiai Zainal, Mbah Kiai Warson, Kiai Zaini, Kiai Hasbullah, dan Kiai Masyhuri masih menggelar pengajian kitab kuning. Saya mondok di Komplek I, asuhan Kiai Masyhuri, kakak ipar Gus Najib.

Gus Najib, putra Kiai Abdul Qadir, cucu Mbah Kiai Munawwir ini khusus ngaji al-Qur’an. Saat itu, saya masih ngaji di ndalem beliau, sebelah Komplek J. Pesantren tahfidh Gus Najib waktu itu masih proses pembangunan, sebab pada tahun kedua, ngajinya sudah pindah ke pesantren tahfidh.

Lazimnya, ngaji al-Qur’an, kita mengantri menunggu giliran sambil duduk bersila jika ingin menyetorkan hafalan.

Sebelum mengaji al-Qur’an binadhri, membaca secara tartil langsung di hadapan kiai, kita diajari membaca hafalan at-tahiyyat, jika sudah benar, baru beranjak ke surah al-Fatihah. Jika sudah dianggap benar al-Fatihahnya baru hafalan Juz ‘Amma. Gus Najib memulai mengaji, biasanya habis Maghrib, hingga bakda Isya atau santri sudah habis, rerata jam 20.00-an.

Ada yang unik dan khas ngaji bersama Gus Najib ini.

Ada beberapa santri untuk mentashihkan makhorijul huruf (tempat keluarnya huruf) bacaan at-tahiyyat saja kadang sampai seminggu, baru boleh pindah ke Surah al-Fatihah.

Nah, biasanya jika kasusnya seperti itu, al-Fatihahnya butuh waktu dua minggu hingga boleh pindah ke Juz Amma dengan hafalan. Jadi, para santri dipastikan makhorijul huruf itu harus benar-benar fasih sesuai ilmu tajwid.

Baca Juga: Kiai Najib dan Dua Mazhab Shalat Tarawih

Pengalaman saya sendiri, ternyata spesial, sebab 3 kiai ngaji Quran saya ternyata sanadnya sama, sejak di kampung Losari Lor Cirebon, Salafiyah Pemalang hingga Gus Najib, menyambung dengan Mbah Kiai Arwani Kudus.

Selain ngaji, saya juga sering ikut berjamaah Sholat Tarawih yang imamnya Gus Najib. Jamaah Tarawih Gus Najib ini berbeda dengan Tarawih surah Juz ‘Amma.

Nah, saat itu dalam satu masjid di Pondok Krapyak ada 2 jamaah Tarawih, hanya dibedakan oleh pintu masjid yang memisahkan jamaah dalam dan luar masjid. Walaupun masih dalam satu bangunan masjid.

Sering pula disebut jamaah Tarawih Gus Najib itu “Tarawih Tahfidh”, karena semalam Tarawih kurang lebih 1.5 juz, sehingga hari ke-10 Ramadan sudah khatam al-Quran.

Tahun 2015 dan 2016, saya sowan kembali ke Gus Najib dan pengasuh Krapyak bersama para mahasiswa Akidah Filsafat dan Tafsir Hadits IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Saat itu mahasiswa saya ajak, selain mauhibah ke pesantren juga ke penyimpanan naskah kuno di Kraton Yogyakarta untuk mata kuliah filologi. Kuliah lapangan seperti itu ternyata jauh lebih mengena dibanding hanya disampaikan di kelas.

Sekali lagi mari kita doakan dan mohon ikhlasnya membaca al-Fatihah untuk Kiai Najib. Lahul fatihah.

 

*Filolog; Pengurus MANASSA (Masyarakat Pernaskahan Nusantara); Kasi Penelitian dan Pengelolaan HAKI Kemenag RI.

Ampunan yang Bermula dari Belas Kasih terhadap Anjing yang Kehausan

Gus Yunan. ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Almunawwir.com – Kisah ini menceritakan dua sosok hamba Allah, yakni seorang laki-laki dan perempuan. “hanya” karena kesediaan memberi minum kepada anjing yang sedang kehausan, maka keduanya diampuni oleh Allah SWT atas dosanya, meskipun berupa dosa besar.

Mengapa demikian? “Belas kasih” kepada anjing yang menjadi penyebabnya. Kisah ini ditunjukkan oleh dua hadis berikut:

Hadis pertama :

عَنْ أبي هريرة أنَّ رَسُول اللَّه قَالَ: بَيْنمَا رَجُلٌ يَمْشِي بطَريقٍ اشْتَدَّ علَيْهِ الْعَطشُ، فَوجد بِئراً فَنزَلَ فِيهَا فَشَربَ، ثُمَّ خَرَجَ فإِذا كلْبٌ يلهثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ العطشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَملأَ خُفَّه مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَه بِفيهِ، حتَّى رقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَه فَغَفَرَ لَه. قَالُوا: يَا رسولَ اللَّه إِنَّ لَنَا في الْبَهَائِم أَجْراً؟ فَقَالَ: “في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبةٍ أَجْرٌ ) متفقٌ عليه(

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ketika itu ada seorang laki-laki sedang berjalan di suatu jalan umum dan dia merasa sangat kehausan, kemudian dia turun ke dalam sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya untuk menjilati tanah yang basah karena saking hausnya. Si lelaki itu lalu berkata, “Anjing ini kehausan seperti diriku.” Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah sang Rabbul Izzah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”

Dari hadis di atas dapat kita ambil beberapa pelajaran, pertama, Allah telah memberikan manusia keistimewaan yang tidak dimiliki oleh binatang, antara lain kemampuan manusia untuk mengambil air dari sumur dengan timba atau turun ke dalam sumur. Adapun seekor anjing tidak bisa melakukannya.

Kedua, melihat anjing yang sedang kehausan, laki-laki itu ingat keadaan dirinya sebelum minum. Disitulah perlunya kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.

Ketiga, belas kasih laki-laki itu ditunjukkan dengan kesediaan dirinya untuk turun kembali ke dalam sumur (karena ketiadaan timba), kesediaan dirinya untuk melepas sepatu, mengisinya dengan air, membawa sepatu yang berisi air dengan mulutnya, dan menyuguhkan air tersebut kepada si anjing.

Keempat, belas kasih yang kuat menjadi sebab Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosanya, dan memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.

Baca Juga: Bila Cetakan Tak Mengaji? Koreksi Harakat dalam Cetakan Kitab Barzanji

Hadis kedua:

غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosa-dosanya. (sebabnya) Dia melewati seekor anjing yang sedang yang sedang menjulurkan lidahnya di bibir sumur. Nabi bersabda, Anjing itu hampir mati karena kehausan. Kemudian wanita itu melepas sepatunya, mengikat sepatu dengan kerudungnya, lalu menimba air dengan memakai sepatu untuk anjing itu. Oleh karena tindakannya, dia diampuni.”

Dari hadis di atas dapat pula kita ambil beberapa pelajaran, pertama, menurut beberapa literatur, wanita itu adalah seorang pekerja seks komersial yang berasal dari Bani Israil.

Kedua, wanita ini memiliki dosa yang lebih besar daripada seorang laki-laki yang disebutkan oleh hadis pertama.

Ketiga, sebelum memberi minum kepada anjing, wanita itu tidak merasakan haus seperti yang dirasakan oleh laki-laki sebagaimana disebutkan oleh hadis pertama. Sehingga dorongan untuk menolong si anjing dan tingkat belas kasih wanita pezina tersebut lebih kuat bila dibandingkan dengan laki-laki diatas. Mengapa demikian? karena si wanita pezina belum mengalami sendiri kondisi kehausan ketika dia ingin menolong anjing, tidak seperti si laki-laki yang kehausan terlebih dahulu.

Keempat, di sisi lain, tingkat kepayahan laki-laki tersebut lebih kuat daripada wanita pezina. Wanita itu mengambil air dengan menggunakan sepatunya yang diikat dengan kerudungnya, sedangkan laki-laki itu mengambil air dengan usaha yang berlipat, yakni turun kedalam sumur yang dalam, dan mengambil air dengan memakai sepatu yang dibawa oleh mulutnya.

Baca Juga: Jangan Sampai Memelihara Hewan Dengan Lupa Tidak Memberinya Makan Dan Minum

Pelajaran lain yang bisa kita ambil dari kedua hadis di atas antara lain, pertama, betapa “maha kasihnya” Allah sang Rabbul ‘Izzah terhadap seluruh ciptaan-Nya. Jika ampunan ini diberikan lantaran hanya memberi minum seekor anjing, lalu bagaimana dengan orang yang memberi minum manusia yang haus, memberi makan manusia yang lapar, dan memberi pertolongan kepada manusia yang minim derajat kesejahteraannya?

Kedua, seorang muslim pelaku dosa besar tidak boleh divonis kafir. Mengapa? Allah dapat dengan sangat mudah mengampuni dosa besar yang dilakukan oleh hambanya dengan “tanpa taubat” karena kebaikan yang dilakukannya.

Ketiga, pada akhirnya, surga dan neraka hanya milik Allah semata. Hanya kepadaNya kita perlu berserah diri dan berharap mendapat rahmat dan ampunan-Nya yang begitu besar.

Kok jadi baper?

 

Kiai Najib dan Dua Mazhab Shalat Tarawih

KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir. Ilustrasi by @vckyyhr

Oleh: M Kholid Syeirazi*

Almunawwir.com – Saya sangat berduka dengan kabar berpulangnya Kiai Najib Alhafiz.

Saking terkejutnya, kalimat pertama yang keluar spontan dari mulut saya bukan istirja’, tetapi ucapan ‘Ya Allah Ya Allah..’

Kontan terbayang wajah sejuk dan aura ikhlas Kiai Najib, sang penjaga Alqur’an yang mustaqim. Rasanya, pada diri beliau, tidak ada bekas tanda-tanda kecintaan kepada dunia.

Kiai Najib, saya ingin mengenangnya dengan cara sederhana sebagai santri Krapyak.

Beliau adalah simbol dari aliran tarawih. Setiap Ramadan tiba, santri Krapyak terbelah dalam dua aliran. Setelah salat isya’ yang dipimpin Simbah Zainal Abidin (Allah yarham), aliran pertama geser ke samping masjid. Mengambil tempat di aula, shalat Tarawih dilakukan pendek, 20 rakaat plus 3, selesai paling lama setengah jam. Imamnya, seingat saya, guru Aliyah. Peserta aliran ini santri umum, termasuk–dan kebanyakan–penganut mazhab Jum’atan (Shalat Jum’at) di bawah pohon sawo.

Baca Juga: Obituari KH R M Najib Abdul Qodir: Kembalinya Pembawa Al-Qur’an kepada Sang Maha Pencipta

Aliran kedua shalat Tarawih 1 juz tiap malam. Selesai jam 9 malam. Imamnya Kiai Najib. Peserta intinya santri Madrasah Huffadh, plus tambahan yang lain.

Di pekan pertama Ramadan, shafnya bisa sampai belakang. Pekan-pekan berikutnya, ‘pemain’ tambahan, seperti saya, geser ke samping. Tinggal peserta inti yang bertahan sebagai makmum Kiai Najib. Mereka shalat Tarawih, sekaligus ‘nglalar‘ hafalan melalui bacaan Kiai Najib.

Beliau telah menelorkan para penjaga Alqur’an di seantero nusantara. InsyaAllah, dengan keikhlasan beliau, amal ini adalah lentera yang menerangi jalan beliau kembali ke haribaan-Nya.

 

*Alumni Pondok Pesantren Krapyak dan Sekretaris Jenderal PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (2012-2017) dan Sekretaris Umum PP ISNU (2018-2023). Penulis buku Wasathiyah Islam (2020)

Jangan Sampai Memelihara Hewan Dengan Lupa Tidak Memberinya Makan Dan Minum

Gus Yunan. ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Almunawwir.com – Hakikatnya, kita diperbolehkan untuk memelihara berbagai macam binatang piaraan (yang tidak dilarang oleh pemerintah), seperti kucing, burung, ayam, kura-kura, ikan, dan lain sebagainya. Syaratnya, kita harus disiplin memberinya makan dan minum. Jika kita tidak mampu atau disiplin melakukannya,  hendaknya kita bersedia melepaskan hewan tersebut dan membiarkannya pergi di bumi Allah yang luas untuk mencari rizkinya sendiri. Kasihan bila sampai hewan piaraan kita terkurung dengan menahan rasa haus dan lapar.

Dikisahkan, ada seorang wanita yang pernah diceritakan oleh Rasulullah SAW. Dengan tanpa perasaan, dia tega mengurung seekor kucing sampai mati kelaparan dan kehausan. Berlatar belakang perbuatannya, Allah dengan kuasaNya memasukkan wanita tersebut ke dalam Neraka.

Dalam riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda :

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ في هِرَّةٍ سَجَنَتْها حتَّى ماتَتْ فَدَخَلَتْ فيها النَّارَ، لا هي أطْعَمَتْها وسَقَتْها، إذْ حَبَسَتْها، ولا هي تَرَكَتْها تَأْكُلُ مِن خَشاشِ الأرْضِ.

“Seorang wanita disiksa (dalam neraka) karena dia mengurung seekor kucing sampai mati. Dia masuk Neraka karenanya. Dia tidak memberinya makan, dan minum sewaktu mengurungnya. Dia tidak pula membiarkannya makan hewan di bumi.”

Baca Juga: “Ayahku Sayang”: Kisah Gadis Kecil yang Ditinggal Mati Ayahnya

Dalam riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda :

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – رأى تلك المرأة في صلاة الكسوف حيث قال : (.. ودنت مني النار ، فإذا امرأة تخدشها هرّة ، قلت : ما شأن هذه ؟ ، قالوا : حبستها حتى ماتت جوعا ، لا أطعمتها ، ولا أرسلتها تأكل ) .

Nabi Muhammad SAW telah melihat wanita yang mengikat kucing ini berada di Neraka manakala beliau melihat Surga dan Neraka pada shalat gerhana. Rasulullah bersabda, “Lalu Neraka mendekat kepadaku. Aku menyangka wanita itu diserang oleh seekor kucing. Aku bertanya, ‘Bagaimana ceritanya?’ Mereka berkata, ‘Dia menahannya sampai mati kelaparan. Dia tidak memberinya makan dan tidak pula membiarkannya mencari makan.”

Kisah ini menceritakan seorang wanita Himyariyah/Israiliyah yang mengurung seekor kucing, namun dia tidak memberinya makan dan minum hingga kucing tersebut mati kelaparan. Kejadian ini menunjukkan buruknya sifat wanita ini dan tidak adanya rasa belas kasih di dalam hatinya.

Wanita itu mengurung kucing sepanjang siang dan malam, hingga kucing itu merasa haus dan lapar sembari memelas mohon bantuan (meong, meong). Sebuah suara kucing dengan ciri khasnya yang sedang kelaparan. Namun, hati wanita ini tidak terketuk dengan rintihan kucing itu. Lama-kelamaan suara itu semakin lemah, memudar, lalu menghilang. Kucing itu mati. Sebelum mati, kucing itu mengeluh kepada Tuhannya tentang kedzaliman manusia yang begitu keras hatinya.

Baca Juga: Kisah Seorang Hamba Yang Telah Beribadah Selama 500 Tahun

Di sisi lain, jika wanita ini ingin memelihara kucing di rumah, sebaiknya dia memberinya makanan dan minuman untuk bertahan hidup. Nabi Muhammad SAW telah memberi tahu kita bahwa setiap manusia akan diberi pahala karena kepeduliannya kepada hewan. Jika wanita itu enggan untuk memberinya makanan yang membuatnya tidak bisa hidup, maka dia harus melepaskannya dan membiarkan dia bebas di bumi Tuhan yang luas. Hewan itu pasti akan mendapatkan makanan yang bisa menopang hidupnya. Terlebih lagi, Allah sendiri telah menetapkan rezeki bagi semua hambaNya, baik manusia, hewan, jin, maupun tumbuhan.

Nabi Muhammad SAW melihat kucing itu terus memburu wanita yang menahannya di Neraka. Terlihat jelas oleh Nabi, adanya bekas-bekas cakaran kucing yang tergores di wajah dan tubuh wanita itu. Nabi Muhammad SAW melihat itu manakala Surga dan Neraka diperlihatkan kepadanya pada saat beliau mengerjakan shalat gerhana. Siksaan yang diterima wanita ini menunjukkan betapa besarnya dosa orang-orang yang menyiksa binatang dan menyakitinya.

Obituari KH. Atabik Ali: Pak Bik dan Kamus Al-Ashry

KH. Atabik Ali berjabat tangan dengan Menag RI Lukman Hakim Saifuddin. Dok: Istimewa

Oleh: KH. Muhammad Habib A. Syakur*

Almunawwir.com – Awal tahun 1990an hampir setiap malam saya berada di ndalem KH. Atabik Ali, atau yang saat itu kami para santri Krapyak memanggil al-Maghfurlahu dengan sebutan “Pak Bik”.

Saya dipilih dan diperintahkan oleh beliau untuk mengetik kamus yang sedang beliau tulis. Saya diperintah tanpa diberitahu apakah akan dibayar sebagai upah jerih payah saya mengetik kamus itu atau tidak, yang penting saya melaksanakan perintah dan bangga melaksanakannya.

Kenapa saya bangga? Karena saya satu-satunya santri yang dianggap “ahli” mengetik Arab maupun Latin. Kata orang, kalau saya mengetik itu dengan “merem” (memejamkan mata).

Di samping itu, saya bisa menggunakan mesin ketik modern pada saat itu, yaitu mesin ketik elektrik yang hasil ketikannya sangat tajam. Selama ini kalau saya mengetik di Kantor Pondok Krapyak maupun di Kantor Madrasah hanya dengan mesin ketik manual yang jika salah harus dihapus dengan tipe-x.

Tidak hanya itu, ternyata menggunakan mesin ketik elektrik hanya berjalan sangat singkat, mungkin kira-kira 1 bulan. Ternyata Pak Bik membeli Komputer super canggih saat itu, yaitu Komputer Macintos, yang bisa dipakai untuk menulis Arab.

Ba’da shalat Isya’ adalah waktu “ngantor” saya di ndalem Pak Bik. Biasanya sampai jam 10 atau 11 malam saya memasukkan data calon “Kamus Al-Ashry” itu.

Semalam saya bisa menulis calon kamus itu kira-kira 10 lembar tulisan tangan. Kosakata yang dimasukkan dalam calon kamus itu banyak kosakata yang tidak biasa saya baca, karena ada kosakata khusus kedokteran, arsitektur, ekonomi dll. Dan baru saat itu saya melihat Kamus Arab-Inggris, antara lain adalah Kamus Al-Mawrid.

Baca Juga: NU DIY Siapkan Relawan Santri untuk Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Urutan Kamus Al-Ashry yang ditulis oleh Pak Bik abjadnya sama dengan dengan kamus-kamus yang beredar saat itu, yaitu dimulai dengan huruf alif dan diakhiri huruf ya’.

Akan tetapi kamus ini berbeda dengan kamus-kamus yang lain, yaitu tidak menggunakan pokok kata yang diikuti derivasinya, atau mudahnya tidak menggunakan isytiqaq sharfi (pecahan kata sesuai kaidah sharaf) tapi huruf apa pun permulaan kata yang dipakai sebagai acuan urutan.

Sehingga siapa pun bisa menggunakannya tanpa harus mengetahui tashrifan yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, terutama orang-orang pesantren.

Jika ada kata متعلم misalnya, orang langsung cari di bab mim yang diikuti ta’ dst. Orang tidak perlu susah-susah mencari akar katanya, yaitu علم.

Kamus ini sangat cocok bagi siapa pun yang biasa membaca Arab walaupun belum mengetahui teori sharaf. Dan ternyata, saat saya di Mesir pada tahun 2005-2006, beberapa kawan di Mesir menyatakan bahwa mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir senang menggunakan Kamus Al-Ashry ini, karena mudah mencari terjemah kata tertentu dengan tanpa harus tahu ilmu sharaf.

Oh iya. Ternyata Bu Nyai Hj. Maryati (istri al-Maghfurlahu) pada saat-saat tertentu sering ngasih amplop kepada saya yang isinya tidak perlu diketahui oleh khalayak.

Kamus Al-Ashry adalah jariyah al-Marhum al-Maghfurlahu KH. Atabik Ali yang dipakai oleh berbagai kalangan. Beliau menulisnya biasanya di sepertiga malam terakhir, di saat kebanyakan orang tertidur lelap dengan mimpi-mimpinya.

اللهم أعل درجته في جنتك. آمين

 

*Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul Yogyakarta

Obituari KH R M Najib Abdul Qodir: Kembalinya Pembawa Al-Qur’an kepada Sang Maha Pencipta

 

KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir. Ilustrasi by @vckyyhr

Oleh: KH. Muhammad Habib A. Syakur*

Almunawwir.com – Saya mengenal beliau sejak tahun 1973, ketika itu saya kelas 3 Madrasah Ibtida’iyah di Klaten, ikut kakak saya KH Drs. Ja’far A. Syakur (Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Srimpi Karangmojo Gunungkidul) mondok “pasanan” di Krapyak. Mas Ja’far waktu itu kelas 3 MTs Krapyak.

Saya mondok “pasanan” hanya betah 11 hari, tetapi saya sudah merasa mencicipi ilmu membaca al-Qur’an dari Mas Najib (panggilan al-Maghfurlahu KH R. M. Najib Abdul Qadir) saat itu. Saya lupa, apakah saya lulus bacaan Surah al-Fatihah atau tidak. Tetapi nama Mas Najib sangat membekas di dalam benak saya.

Baru pada tahun 1976 saya benar-benar menjadi santri Krapyak. Saya tidak mengaji al-Qur’an kepada Mas Najib, tetapi kepada al-Maghfurlahu KH. Ahmad Munawwir di Komplek L. Ketika itu Mas Najib, kalau tidak salah, masih mondok di Kudus untuk mengkhatamkan Qira’ah Sab’ah kepada al-Maghfurlahu KH. Arwani Amin Kudus. Setelah Mas Najib boyong dari Kudus, baru saya mengaji al-Qur’an kepada beliau.

Perlu diketahui, pada saat itu panggilan “Gus” untuk putra-putra Kiai Krapyak belum populer. Akan tetapi setahu saya, setelah al-Maghfurlahu boyong dari Kudus, panggilan “Gus” baru disematkan kepada beliau, dan beliaulah satu-satunya putra Kiai Krapyak yang saya panggil dengan sebutan “Gus”.

Ketika mengaji al-Qur’an kepada beliau, saya betul-betul memperhatikan cara membaca beliau. Bagaimana menepatkan makharij al-huruf, shifat al-huruf, ahkam tanwin wa nun taskun ‘ind al-hija’ (hukum tanwin dan sukun ketika bertemu huruf hija’iyah), ahkam al-mim al-sakinah (hukum mim sukun), madd, fawatih al-suwar, ghara’ib al-qira’ah dan lain-lain.

Saya sangat terkesan dan mencoba membaca sebagaimana ketika beliau membaca huruf “jim”, “shad”, “syin” dll yang tidak sama dengan bacaan kebanyakan orang. Begitu juga bacaan huruf-huruf qalqalah ketika sukun.

Baca Juga: Katib ‘Am PBNU: Barokah dan Atsar KHR. M Najib Abdul Qodir, sebagai Pijakan Menghidupi Wadhifah-Wadhifah dan Menghidupkan Ilmu

Bahkan yang sangat menarik adalah ketika beliau membaca “isymam” pada ungkapan “La ta’manna” di Surah Yusuf, saya merasa hati saya bergetar, karena bacaan “isymam” beliau sangat menusuk hati dan terasa sangat sesuai dengan alur ceritanya. Saya membayangkan kakak-kakaknya Nabi Yusuf AS ketika berbicara kepada Nabi Ya’qub AS dengan intonasi dan nada suara sebagaimana yang beliau baca.

Metode Pengajaran

Metode pengajaran al-Qur’an yang dilakukan al-Maghfurlahu KH. R. M. Najib A. Qodir memang tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh Guru beliau al-Maghfur lahu KH. Ahmad Munawwir, yaitu dengan metode sorogan.

Metode sorogan adalah metode yang mana santri membaca al-Qur’an, baik bi al-hifzh (hafalan) maupun bi al-nazhr (membaca dengan melihat mushaf al-Qur’an), di hadapan guru, sedangkan guru mendengarkan atau menyimak bacaan santri itu. Jika terjadi kesalahan bacaan/hafalan guru membetulkannya.

Metode sorogan ini di dalam ‘Ulum al-Hadits biasa disebut dengan al-Qira’ah ‘ala al-Syaikh. Namun, ada hal yang istimewa yang dilakukan oleh al-Maghfur lahu KH. R. M. Najib Abdul Qodir, yaitu beliau mempercayakan kepada santri-santri tertentu yang menurut beliau sudah memiliki kompetensi yang cukup dalam bacaan/hafalan al-Qur’an untuk menyimak bacaan santri lain yang masih pemula. Istilah kerennya beliau memilih beberapa santri untuk menjadi asisten beliau dalam mengajar al-Qur’an.

Dengan demikian, santri terpilih itu sudah mulai belajar untuk menjadi pengganti beliau atau paling tidak sudah memiliki pengalaman mengajar al-Qur’an sebagaimana yang beliau lakukan. Jadi santri itu dipersiapkan untuk menjadi pengajar al-Qur’an pada masa yang akan datang.

Santri beliau yang menjadi asisten tidak berhenti pada proses pembelajaran di Pondok Pesantren dengan metode sorogan saja, akan tetapi juga berlanjut pada acara-acara semaan al-Qur’an, baik yang rutin maupun temporer.

Misalnya pada pengajian rutin Ngad Pahingan (Ahad Pahing) NU Bantul. Pada pengajian rutin yang sudah berjalan lebih dari 60 tahun itu, beliau mendapat jatah semaan al-Qur’an sebagai pembuka pengajian rutin lapanan (setiap 35 hari sekali) tersebut. Untuk hal ini biasanya asisten beliau adalah para santri yang sudah khatam al-Qur’an 30 Juz bi al-hifzh.

Baca Juga: 40 Hari Wafat KHR. M. Najib Abdul Qodir, KH Said Asrori: Lisanuhul Qur’an, wa Qalbuhul Qur’an

Mengikuti MHQ Internasional

Kira-kira tahun 1980an awal, Departemen Agama RI pertama kali memasukkan cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) di dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

MTQ Nasional waktu itu digelar di Propinsi Aceh. Cabang MHQ 30 Juz Krapyak betul-betul berkibar, karena Juara I dan Juara II dari Krapyak. Juara I Kang Umar (asisten al-Maghfur lahu KH. Ahmad Munawwir) dan Juara II Gus Najib (panggilan akrab beliau saat itu).

Kang Umar, kalau tidak keliru, santri komplek L dari Indramayu yang setiap shalat Tarawih di bulan Ramadhan selalu di samping imam Tarawih waktu itu, al-Maghfur lahu KH. Ahmad Munawwir, untuk menyimak bacaan al-Qur’an imam.

Gus Najib yang Juara II Nasional diajukan untuk mengikuti MHQ Internasional di Syria, dan seingat saya Gus Najib masuk dalam 5 besar dunia, dan MHQ Internasional ini adalah MHQ yang pertama kali diikuti oleh peserta dari Indonesia.

Cerita ini saya tulis, karena waktu itu saya sangat bangga dengan capaian yang diperoleh oleh al-marhum al-maghfurlahu, yaitu 5 besar dunia. Berarti Pondok Pesantren Krapyak memang berkelas dunia.

Berita tentang hal ini, waktu itu, saya tulis di Majalah berbahasa Arab yang diberi nama ‘Ukazh hasil karya santri-santri MA Krapyak di bawah bimbingan al-marhum KH. Zainuddin Maftuhin, Lc, dan penulis menjadi salah satu Dewan Redaksi.

 

*Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul Yogyakarta

 

Bila Cetakan Tak Mengaji? Koreksi Harakat dalam Cetakan Kitab Barzanji

Santri Krapyak bersholawat. Dok: Almunawwir.com

Almunawwir.com – Adakah yang tidak mengetahui tokoh dibalik kitab Barzanji? Mungkin di kalangan pesantren tokoh tersebut tak asing lagi didengar, apalagi mereka yang senang melantunkan bergaya puisi itu tentu paham betul sosok pengarangnya.

Baik, dalam dunia pesantren kitab ini lebih populer dengan istilah “maulid al-barzanji” (histori kelahiran Nabi ala Barzanji). Sebenarnya nama lengkap kitab ini adalah ‘iqd al-jawhar maulid an-nabi al-azhar (kalung permata kelahiran Nabi Muhammad Saw).

Karya natsar (prosa liris) yang memiliki nilai sastra tinggi ini dikarang oleh seorang ulama sufi terkemuka, beliau adalah Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim bin Muhammad bin ar-Rasul Al-Barzanji, nisbat di belakang namanya menunjukkan bahwa beliau berasal dari Barzanj, Irak (An-Nawawi, Madarij Al-Shu’ud).

Sayyid Ja’far bin Hasan merupakan ulama bermazhab Syafi’i yang lahir pada tahun 1690 M/1103 H dan wafat pada tahun 1766 M/1180 H. Beliau merupakan seorang imam, guru besar dan mufti di Masjid Nabawi, Madinah. Jumlah karyanya pun tak sedikit, mengindikasikan bahwa beliau termasuk ulama yang sangat produktif.

Dari sekian banyak kitab yang beliau susun, karya Maulid al-Barzanji ternyata telah berhasil membius umat muslim seantero dunia, termasuk juga sebagian besar muslim di Indonesia.

Seputar Maulid Barzanji

Sudah menjadi tradisi namun bukan selebrasi, lantunan Maulid al-Barzanji senantiasa diminati oleh sebagian orang dari kalangan anak-anak, dewasa, bahkan orang tua. Rutinitas Maulid al-Barzanji kerap juga dibaca dan dirangkap dalam berbagai acara, seperti setiap malam Jum’at, kelahiran bayi, empat bulanan, walimatul ursy, majelis-majelis dzikir/shalawat, dan sebagainya.

Terlebih rutinan maulid memasuki bulan Rabi’ul Awal, tentu acara demi acara mulai memadati agenda harian masyarakat. Di Indonesia, terutama kalangan pesantren, berbagai kajian maulid (pembacaan kitab maulid) beraneka ragam, seperti ada Qashidah Burdah, Maulid ad-Diba’i, Syarif al-Anam, Simth ad-Durar, dan Maulid al-Barzanji.

Umumnya kumpulan kajian maulid tersebut telah dikodifikasi dalam satu cetakan yang diberi nama majmu’at mawalid wa ad’iyyah (kumpulan maulid Nabi dan doa-doa). Kumpulan ini mencakup berbagai karya tulis, seperti Maulid ad-Diba’i, Maulid al-Barzanji, Syarif al-Anam, Maulid al-‘Azab, qashidah-qashidah, doa serta shalawat lainnya.

Dalam kitab Majmu’at tersebut, perlu diketahui bahwa karya tulis Maulid al-Barzanji ada dua jenis, 1). Maulid al-Barzanji Natsar (نثراً) dalam bentuk prosa liris; 2). Maulid al-Barzanji Nadzam (نظماً) dalam bentuk puisi.

Bagi kitab Simth ad-Durar sendiri, biasanya dikhususkan dalam cetakan tertentu yang diperkaya dengan kumpulan shalawat yang menyertainya.

Baca Juga: Cinta itu Butuh Bukti, Tak Terkecuali kepada Baginda Nabi

Cetakan yang Tak Mengaji?

Di pesantren, santri (pembaca) dituntut untuk kritis dalam menilai redaksi atau harakat percetakan yang dirasa tidak sesuai dengan pedoman kaidah Nahwu-Sharaf. Demikian pula dalam membaca kitab Maulid al-Barzanji, sebab tidak menutup kemungkinan adanya typo (salah ketik) dalam redaksi tertentu.

Salah satu contoh typo dalam terbitan tertentu terdapat pada permulaan prolog al-Barzanji, dalam bunyi:

اَلْجَنَّةُ وَنَعِيْمُهَا سَعْدٌ لِمَنْ يُصَلِّيْ وَيُسَلِّمْ وَيُبَارِكْ عَلَيْهِ

“Surga dan kenikmatannya merupakan kebahagiaan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang mengucapkan shalawat, keselamatan dan keberkahan kepada Nabi Muhammad Saw.”

Bilamana pembaca menjumpai cetakan kitab yang sesuai dengan redaksi di atas, maka kiranya kita perlu berhenti sejenak guna mengkajinya dari aspek Sintaksis-Morfologi.

Pertama, ada tiga lafal yang berupa kata kerja (fi’il mudhari’) yang perlu kita soroti, yaitu lafal يُصَلِّيْ, يُسَلِّمْ, dan يُبَارِكْ. Kedua, apakah kedudukan ketiga lafal tersebut sama? Apa penyebab ketiga lafal ini dibaca sukun?

Pertama, apakah kedudukan ketiga lafal tersebut sama? Ya sama, kedudukan ketiga lafal tersebut sama, sama-sama menjadi shifat dari maushuf مَنْ, bisa juga berupa shilah dari maushul مَنْ, ‘aid-nya (dhamir yang kembali pada maushul) berupa dhamir mustatir jawaz yaitu هو yang kembali pada مَنْ (maushul). Konsekuensi dari pernyataan ini tentu tidak berpengaruh pada perubahan bentuk atau harakat lafal.

Kedua, apakah benar lafal يُصَلِّيْ dibaca sukun? Benar, karena ia telah mengalami perubahan dari bentuk asalnya, yaitu يُصَلِّيُ sama halnya dengan يُرَمِّيُ dengan dhamah pada ya’. Ya’ disukunkan sebab orang Arab merasa sulit mengucapkan dhamah pada ya’ (لاستقال الضمة عليها), sehingga berubah menjadi يُصَلِّيْ.

Lalu apakah benar lafalيُسَلِّمْ  dan يُبَارِكْ di-jazm-kan? Salah, karena kedua lafal tersebut tidak terkena hukum jazm (dengan sukun), melihat sebelumnya tidak ada amil jawazim juga kedua lafal tersebut berupa isim mufrad yang tidak bertemu dengan syai’ (seperti bertemu alif tasniyah, wawu jama’, dsb). Sehingga hukum kedua lafal tersebut tetap dalam keadaan normal, yakni hukum asal fiil mudhari’ (tajarrud) yaitu rafa’ dengan dhamah.

Baca Juga: Santri dan Musik I: Menilik Kedekatan Santri dengan Musik

Alhasil redaksi yang tepat dalam prolog al-Barzanji adalah:

اَلْجَنَّةُ وَنَعِيْمُهَا سَعْدٌ لِمَنْ يُصَلِّيْ وَيُسَلِّمُ وَيُبَارِكُ عَلَيْهِ

Contoh typo lainnya berkenaan pada redaksi mahalul-qiyam, tepatnya pada redaksi:

وَاْلغَمَامَةْ قَدْ اَظَلَّتْ * وَاْلمَلَا صَلُّوْا عَلَيْكَ

“Awan tebal telah menauingimu (Nabi Muhammad), serta sekumpulan orang bershalawat kepadamu wahai Baginda Nabi”

Dari redaksi di atas, sekilas tidak ada yang keliru, namun bila kita perhatikan kembali secara saksama, terdapat hal yang perlu dijadikan sorotan dari aspek Morfologi (Sharaf) pada lafal صَلُّوْا (dengan dhamah lam-nya), sebab dalam beberapa cetakan kerap tertulis demikian. Lantas bagaimana aspek Sharaf tersebut?

Menurut Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Fath as-Shamad al-‘Alim syarah kitab Syaraful-Anam, beliau mengatakan lafal صَلُّوْا itu بِفَتْحِ اللَّامِ لِأَنَّهُ فِعْلٌ مَاضٍ dengan fathah lam (yakni صَلَّوْا),­ karena bentuk kata kerja (fi’il madhi). Berupa plural (jama’) dari single (mufrad) lafal صَلَّى. Lafal صَلَّى juga sama dengan mauzun lafal رَمَّى dari bab فَرَّحَ. Tashrif lughawi-nya adalah: صَلَّى صَلَّيَا صَلَّوْا demikian juga lafal رَمَّى رَمَّيَا رَمَّوْا.

Lalu bagaimana bila pembaca tetap membaca صَلُّوْا? Konsekuensinya adalah pembaca telah mengubah bentuk lafal fi’il madhi menjadi fi’il ‘amr. Mari kita tashrif lafal صَلَّى secara ishthilahi: صَلَّىيُصَلِّىصَلِّ sama juga dengan رَمَّىيُرَمِّىرَمِّ. Lafal صَلِّ dan رَمّ adalah bentuk fi’il amr yang menunjukkan makna perintah, lafal صَلِّ bila kita tashrif secara lughawi adalah صَلِّصَلِّيَاصَلُّوْا. Baru dari sini kita jumpai lafal  صَلُّوْاpada pentashrifan lughawi jama’ fi’il ‘amr.

Sehingga implikasinya bila pembaca melafalkan صَلُّوْا, maka kandungan makna daripada redaksi mahalul qiyam tadi, menimbulkan makna yang ambigu. Yaitu, terdapat kalimat nominal (jumlah ismiyyah) yang belum sempurna tiba-tiba dirangkap dengan kalimat imperatif (perintah). Lebih jelasnya maknanya akan seperti ini: “serta sekumpulan orang bershawalatlah! kepadamu (Nabi Muhammad)”.

Alhasil redaksi yang tepat dalam mahalul-qiyam tersebut adalah:

وَاْلغَمَامَةْ قَدْ اَظَلَّتْ * وَاْلمَلَا صَلَّوْا عَلَيْكَ

“Awan tebal telah menauingimu (Nabi Muhammad), serta sekumpulan orang bershalawat kepadamu (Nabi Muhammad)”

Dari ulasan di atas, penulis sama sekali bukan menggiring pembaca untuk menyalahkan percetakan tertentu, sebab alat percetakan itu tak pernah mengaji. Penulis hanya sekedar mengingatkan kepada para pembaca, untuk senantiasa waspada dan kritis dalam membaca redaksi suatu kitab, karena sekali lagi bahwa percetakan merupakan karya buah manusia yang tidak lepas dari keluputan, sehingga besar-kecil kemungkinan, kesalahan cetak atau typo pada suatu redaksi tertentu bisa saja terjadi.

Oleh karenanya, tugas kita sebagai thalibul ilmi (pencari ilmu) adalah membenarkan (mengkoreksi) redaksi yang dirasa ganjil dari segi kaidah Nahwu-Sharaf. Tujuannya, agar kajian kedua ilmu ini senantiasa lestari dan dipraktikan di ranah lapangan, bukan sekedar tersimpan dalam tumpukan kitab kuning belaka. Wallahu a’lam.

 

Referensi:

Madarij ash-Shu’ud Ila Iktisa’ al-Burud Syarah al-Barzanji, karya Imam Nawawi al-Jawi (Semarang: Thaha Putra, tt)

Fath as-Shamad al-‘Alim Syarah Syaraf al-Anam, karya Imam Nawawi al-Jawi, Terj. Zainal Arifin Yahya (Jakarta: Pustaka Mampir, 2007)

“Ayahku Sayang”: Kisah Gadis Kecil yang Ditinggal Mati Ayahnya

Gus Yunan. ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Almunawwir.com – Cerita ini berkaitan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudriy, RA.

Suatu ketika, Rasulullah SAW masuk ke dalam tempat shalatnya. Kemudian beliau melihat orang-orang tengah banyak bicara (ngobrol). Beliau langsung berkata : “Ingatlah!! Seandainya kalian banyak mengingat kematian, niscaya kalian tidak akan banyak berbicara.

Oleh karena itu, perbanyaklah mengingat kematian, karena sesungguhnya tiada hari yang dilewati di dalam kuburan kecuali kuburan itu akan mengatakan 6 kalimat, yaitu (1) aku adalah tempat pengasingan, (2) aku adalah tempat kesendirian, (3) aku adalah tempat kegelisahan, (4) aku adalah tempat kegelapan, (5) aku adalah tempat dari tanah, dan (6) aku adalah tempat belatung.”

Ketika seorang hamba mukmin telah dikubur, maka kuburan itu akan berkata kepadanya, “semoga kelapangan untukmu! Aku menganggapmu sebagai keluargaku sendiri! Semoga kemudahan telah ditetapkan untukmu! Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling aku cintai yang berjalan di atasku. Ketika aku berkuasa atasmu hari ini dan kamu berada di dalamku, maka kamu akan melihat perlakuanku terhadapmu.”

Kemudian kuburan itu meluas, seluas pandangan mata dan dibukakan baginya pintu surga, (sehingga dia bisa melihatnya).

Ketika hamba kafir telah dikubur, maka kuburan itu berkata kepadanya, “Semoga kelapangan tidak untukmu! Aku tidak menganggapmu sebagai keluargaku sendiri! Semoga kemudahan tidak ditetapkan untukmu! Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling aku benci yang berjalan di atasku. Ketika aku berkuasa atasmu hari ini dan kamu berada di dalamku, maka kamu akan melihat perlakuanku terhadapmu.”

Kemudian kuburan itu menjepit hingga tulang-tulang rusuknya hancur (sambil Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan memasukkan jari-jari tangan satunya ke jari-jari tangan lainnya).

Kemudian Allah mempersiapkan untuknya 70 ular besar, andai satu ular saja dari mereka menyembur di muka bumi, maka bumi tidak bisa menumbuhkan tanaman apapun selama dunia ada. Kemudian ular-ular itu menggigit, menyobek-nyobeknya sampai datangnya masa perhitungan amal.

Rasulullah SAW bersabda, “kuburan itu bisa jadi taman dari taman-taman surga atau sebuah lubang dari lubang-lubang neraka.”

 

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم مصلاه فرأى أناسا يكثرون الكلام فقال أما انكم لو أكثرتم ذكرها ذم اللذات لشغلكم عما أرى فأكثر واذكرها ذم اللذات يعني الموت فإنه لم يأت على القبور يوم إلا وتتكلم بست كلمات فتقول أنا بيت الغربة وأنا بيت الوحدة وأنا بيت الوحشة وأنا بيت الظلمة وأنا بيت التراب وأنا بيت الدود فإذا دفن العبد المؤمن قال له القبر مرحبا وأهلا وسهلا أما إنك كنت لاحب من يمشي على ظهري إلي فإذا أوليتك اليوم وصرت إلي فستري صنعي بك فيوسع له القبر مد بصره ويفتح له باب الجنة وإذا دفن العبد الكافر قال له القبر لا مرحبا ولا أهلا ولاسهلا أما أنك كنت لا بغض من يمشي على ظهري إلي فإذا أوليتك اليوم وصرت إلي فستري صنعي بك فيلتئم القبر عليه حتى تختلف أضلاعه قال فأشار النبي عليه الصلاوة والسلام بأصابعه فادخل بعضها في بعض ثم قال فيقبض الله سبعين تنينا لو أن واحدا منها نفخ في الأرض ما أنبتت شيئا ما بقيت الدنيا فينهشه ويخدشه حتى يفضى به إلى الحساب قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم إنما القبر روضة من رياض الجنة أو حفرة من حفر النيران

 

Dikisahkan dari Imam Al-Hasan Al-Bashriy, bahwasanya beliau sedang duduk di depan pintu rumahnya, tiba-tiba lewatlah iringan jenazah seorang laki-laki dan di belakangnya para manusia ikut mengiring. Sementara di bawah jenazah itu terdapat seorang gadis kecil tengah berjalan cepat dengan membiarkan rambutnya terurai sambil menangis.

Baca Juga: Cerdasnya Sang Penipu Ketika Menghadapi Kematian: Pentingnya Memuji Kebaikan Orang Yang Sudah Meninggal

Kemudian Hasan Al-Bashriy berdiri dan mengikuti iringan jenazah.

Gadis kecil itu berkata: “Ayahku sayang, seumur hidupku, belum pernah menjumpaiku hari sebagaimana hariku ini.”

Kemudian Imam Hasan Al-Bashriy menimpali gadis itu: “Ayahmu Juga belum pernah menjumpai hari sebagaimana hari ini.”

Kemudian Hasan Al-Bashriy menshalati janazah lalu beranjak pulang.

Keesokan harinya, saat Hasan Al-Bashriy usai melaksanakan shalat di pagi hari dan matahari telah terbit, beliau duduk di depan pintu rumahnya. Tiba-tiba beliau melihat gadis kecil itu lagi. Ia sedang menangis pergi menuju makam ayahnya untuk menziarahinya.

Hasan Al-Bashriy berkata: “Gadis kecil ini sangat bijak. Aku akan mengikutinya. Barangkali nanti ia mengucapkan kalimat-kalimat yang bisa bermanfaat untukku”

Beliau akhirnya mengikutinya. Setelah gadis itu sampai di kuburan ayahnya, beliau bersembunyi di bawah rerimbunan dari pandangan sang gadis.

Gadis itu lalu memeluk kuburan ayahnya dan meletakkan pipinya di atas debu kuburan seraya berucap:

“Ayahku sayang, Bagaimana kau bermalam dalam gelapnya kubur seorang diri? Tanpa lampu penerang juga tanpa adanya orang yang menghiburmu.”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih menyalakan lampu untukmu, lalu siapa yang menyalakan lampu untukmu tadi malam?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih menyiapkan permadani untukmu, lalu siapa yang menyiapkan permadani untukmu tadi malam?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih memijit kedua tangan dan kakimu, lalu siapa yang memijitmu tadi malam?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih mengambilkanmu minum, lalu siapa yang mengambilkanmu minum tadi malam?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih membalikkan badanmu dari satu sisi ke sisi yang lain, lalu siapa yang membalikkan badanmu tadi malam?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih menutupi anggota-anggota tubuhmu yang terbuka, lalu siapa yang menutupimu tadi malam?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih memperhatikan wajahmu, lalu siapa yang memperhatikan wajahmu tadi malam?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, kau masih memanggil kami, maka kami pun segera menjawabmu, lalu siapa yang kau panggil tadi malam? dan siapa yang menjawabmu.?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih menyuapimu makan ketika kau ingin makan,

lalu apakah tadi malam kau ingin makan? dan siapa yang menyuapimu makan tadi malam?”

“Ayahku sayang, malam kemarin, aku masih memasak bermacam-macam hidangan untukmu, lalu siapa yang memasak untukmu tadi malam?”

Melihat kejadian itu, Hasan Al-Bashri pun menangis. Beliau lalu menampakkan dirinya dan perlahan mendekati gadis itu.

Baca Juga: Pelajaran di Balik Kisah Wafatnya Nabi Adam ‘Alaihi aS-Salam

Beliau berkata padanya: “Wahai gadis kecil, jangan ucapkan hal-hal seperti ini. Akan tetapi ucapkanlah:

“Ayahku sayang, kami telah menghadapkanmu ke arah kiblat, apakah kau masih dalam posisi seperti itu ataukah berpindah menghadap arah yang lain?

“Ayahku sayang, kami telah mengkafanimu dengan sebaik-baik kain kafan, apakah kau masih seperti itu atau kain itu telah tercopot darimu?

“Ayahku sayang, kami telah meletakkanmu dalam kubur dalam keadaan masih utuh jasadmu, apakah kau masih seperti itu ataukah ulat-ulat telah memakanmu?”

Ucapkanlah juga kepada ayahmu:

“Ayahku sayang, sesungguhnya para ulama mengatakan bahwa hamba-hamba akan ditanyai tentang keimanan. Sebagian dari mereka ada yang bisa menjawab, dan sebagian lagi tidak bisa menjawab. Apakah engkau bisa menjawab tentang keimanan ataukah tidak bisa menjawab?”

“Ayahku sayang, sesungguhnya para ulama mengatakan bahwa kubur akan dilapangkan bagi sebagian dari mereka, dan disempitkan bagi sebagian yang lain. Apakah kubur itu disempitkan bagimu ataukah dilapangkan?”

“Ayahku sayang, sesungguhnya para ulama mengatakan bahwa sebagian dari mereka ada yang diganti dengan kafan-kafan dari surga, dan sebagian yang lain dengan kafan-kafan dari neraka. Apakah untukmu digantikan dengan kafan dari neraka ataukah dari surga?”

“Ayahku sayang, sesungguhnya para ulama mengatakan; kubur adalah taman dari taman-taman surga atau jurang dari jurang-jurang neraka.”

“Ayahku sayang, sesungguhnya para ulama mengatakan bahwa kubur merangkul sebagian dari mereka sebagaimana seorang ibu yang penuh kasih sayang, atau murka dan menghimpit hingga tulang-tulang rusuk mereka hancur bercampur-baur. Apakah kubur merangkulmu dengan penuh kasih sayang ataukah memurkaimu?”

“Ayahku sayang, sesungguhnya para ulama mengatakan bahwa setiap orang yang diletakkan dalam kubur akan menyesal, ada yang menemukan bahwasanya belumlah banyak kebaikan-kebaikan yang ia perbuat, dan sang pendosa akan menyesal mengapa aku melakukan hal-hal buruk? Maka apakah kau menyesali keburukan-keburukanmu ataukah masih sedikitnya kebaikan-kebaikanmu?”

Baca Juga: 40 Hari Wafat KHR. M. Najib Abdul Qodir, KH Said Asrori: Lisanuhul Qur’an, wa Qalbuhul Qur’an

“Ayahku sayang, ketika kau memanggilku aku selalu menjawabmu, sedari tadi aku memanggil-manggilmu di atas kuburmu, mengapa aku tak mendengar suaramu?”

“Ayahku sayang, kini kau telah menghilang. Menghilang takkan menemuiku lagi sampai hari kiamat kelak.”

“Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami untuk bertemu dengannya di hari kiamat kelak.”

Kemudian gadis kecil itu berkata:

“Wahai Imam Al Hasan Al-Bashriy, alangkah indahnya apa yang kau keluh-kesahkan pada ayahku, dan alangkah indahnya apa yang kau tuturkan padaku, dan kau bangunkan aku dari tidurnya orang-orang yang lalai.”

Kemudian gadis kecil itu beranjak pulang bersama Imam Al Hasan Al-Bashriy sambil menangis.

 

NU DIY Siapkan Relawan Santri untuk Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Gus Hilmy dan Narasumber Pelatihan Pemulasaran Jenazah Covid-19. Dok: Almunawwir

Almunawwir.com – Berbagai kasus pemulasaraan jenazah Covid-19 oleh tenaga medis di rumah sakit membuat masyarakat resah. Hal ini terlihat dari meningkatnya masyarakat yang ingin membawa pulang jenazah Covid-19.

Bukan karena masyarakat tidak mematuhi protokol, tetapi pemulasaraan jenzah Covid-19 selama ini hanya dipandang dari perspektif kesehatan. Sementara masyarakat kita adalah masyarakat yang relijius. Oleh sebab itu, perlu dipadukan antara perspektif kesehatan dengan perspektif keagamaan dalam mengurus jenazah.

Hal ini disampaikan oleh Senator asal Yogyakarta Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. dalam Pelatihan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta pada Selasa (16/02/2021) siang.

Pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut menyontohkan, ada kasus meninggal karena Covid-19, ketika ditanyakan kepada pihak rumah sakit bagaimana proses pemulasaraannya, dijelaskan bahwa pada tahapan pemandian jenazah tidak seperti pada umumnya, melainkan dilakukan dengan memakai tisu basah. Hal tersebut tentu menjadi keprihatinan sendiri.

“Bagi yang paham, pasti menginginkan jenazah keluarganya untuk diurus sendiri. Sementara ada hal-hal dikhawatirkan oleh pihak medis. Ada yang berhasil membawa jenazah pulang meski dengan sedikit ketegangan. Bagaimana dengan masyarakat yang tidak bisa membawanya pulang? Ini bisa terjadi pada siapa saja, karena kita hanya menerima jenazah sudah dalam keadaan dibungkus rapi di dalam peti. Pelatihan ini mempertemukan persepktif kesehatan, keagamaan, juga budaya,” ujar wakil Rois Syuriah tersebut.

Baca Juga: Patuhi Protokol Pencegahan Covid-19 Sama Nilainya dengan Ibadah

Menurut Anggota Komite III DPD RI yang membawahi urusan kesehatan ini, korban yang banyak membuat tenaga medis kewalahan sehingga melonggarkan protokol pemulasaraan jenazah Covid-19 yang sesuai ajaran agama. Melalui celah ini, masyarakat harus berinisiatif membantu pemerintah.

Peserta yang hadir dalam acara tersebut merupakan perwakilan pondok pesantren se-DIY. Keterwakilan peserta ini diharapkan dapat dalam menjadi agen di wilayah masing-masing. Rata-rata usia peserta antara 20-an tahun dan dibatasi hingga 35 tahun. Nantinya, para peserta diharapkan bersedia menjadi relawan pemulasaraan jenazah Covid-19. Akan tetapi, mereka akan divaksin terlebih dahulu sebelum bekerja. Sebagian peserta juga merupakan penyintas Covid-19. Peserta dibekali dengan pengalaman mengurus jenazah dan bersertifikat.

“Pelatihan dan tim ini nanti akan kita komunikasikan dengan pihak-pihak terkait seperti Dinas Kesehatan, Asosiasi Rumah Sakit, Satgas Covid-19, RMI NU, LazizNu, LKNU, dan lain sebagainya. Ini baru agenda awal, nanti akan kita lanjutkan dengan FGD bersama stakeholder tersebut,” lanjut salah satu pengasuh Pesantren Krapyak tersebut.

Hadir dalam kesempatan tersebut pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak sekaligus perwakilan PW RMI NU DIY K.H. Fairuzi Afiq Dalhar, Ketua PW LKNU DIY dr. H. Ali Mahfudz, dan praktisi pemulasaraan jenazah Ust. Ahmad Fauzan, S.Th.I., M.S.I.

Baca Juga: The Khidmah Society, Meneguhkan Moralitas yang Menyantuni

Kiai Fairuzi menyambut baik pelatihan ini. Melihat data, kasus Covid-19 terus bertambah, sementara tenaga medis terus berkurang. Jangan sampai ada kelonggaran penanganan jenazah.
“Ini merupakan upaya yang luar biasa. KIta bisa maklum karena penambahan korban tidak sebanding lurus dengan penambahan fasilitas dan tenaga medis. Maka kita dari pesantren, harus siap berkontribusi,” kata ketua Rabithoh Ma’ahid Islamiyah (RMI) DIY tersebut.

Kiai Fairuzi juga berpesan agar para peserta yang seluruhnya santri tersebut bersedia menjadi relawan dan tidak takut, baik kepada jenazah maupun Covid-19. Jika ada masyarakat yang membutuhkan pemulasaraan jenazah sesuai ajaran Islam, santri harus siap.

Pelatihan pemulasaraan jenazah dipraktikkan secara langsung dengan dipandu oleh dua pemateri. Materi yang disampaikan mulai dari memandikan, mengafani, menyalati dan menguburkan jenazah.

 

Pewarta: Fairuz

40 Hari Wafat KHR. M. Najib Abdul Qodir, KH Said Asrori: Lisanuhul Qur’an, wa Qalbuhul Qur’an

KH Said Asrori di 40 Hari Wafat KH R M Najib AQ. Dok: @almunawwir.

Almunawwir.com – Genap 40 hari sudah KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir berpulang ke haribaan Allah SWT. Pondok Pesantren Al-Munawwir menggelar acara haul internal bagi keluarga dan santri mukim Krapyak pada Kamis (11/02).

“Udzkuru Mahasina Mautakum” terang KH. Said Asrori mengawali mauidhoh hasanahnya. Ungkapan tersebut didasarkan atas sabda Nabi Muhammad  SAW, bilamana salah seorang muslim yang meninggal, terlebih orang yang berakhlak mulia, untuk dikenang (dituturkan) kebaikan-kebaikan semasa hidupnya.

Pada kesempatan tersebut, kiai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thullab, Wonosari, Tempuran, Magelang itu menyampaikan bahwa almarhum Kiai Najib adalah orang yang luar biasa.

lisanuhul qur’an, lisanipun Kiai Najib niku Qur’an. Insyaallah wa qalbuhu qur’an, manahipun ugi manah qur’an. (lisanuhul qur’an, perkataan Kiai Najib yang selalu disibukkan dengan bacaan al-Qur’an. Insyaallah wa qalbuhu qur’an, hatinya juga hati yang mencerminkan kemuliaan al-Qur’an),” ucapnya.

Kiai Said menjelaskan bahwasanya bacaan-bacaan kalimat thayyibah (tahlil) yang dihadiahkan kepada mayit, maka pahalanya akan sampai kepada mayit tersebut. Hal ini didasarkan pada hujjah (argumen) Allahuyarham KH. Ali Maksum dalam kitabnya hujjah ahlussunnah wal jama’ah yang mengutip sebuah hadis, bahwasannya manfaat atau pahala bacaan al-Qur’an, tahlil, bacaan kalimat thayyibah, dan sadaqah akan sampai kepada yang dituju (mayit).

“tsawaba qira’atil qur’an wa tahlil wa tasybih wa tahmid wa salawat wa sadaqah yashilu ilal mayyit” lanjutnya.

“Panjenengane (Kiai Najib) ahli silaturahmi, enteng sanget menawi rawuh dateng santri-santri, dateng masyarakat. Cintanipun dateng santri-santri luar biasa, anggenipun tarbiyyah wa ta’lim (beliau Kiai Najib, adalah seorang yang ahli silaturahmi, ringan mengunjungi santri-santrinya, juga kepada masyarakat. Cintanya kepada santri-santri luar biasa, terutama dalam hal pendidikan dan pengajaran),” kenang kiai alumnus Lirboyo tersebut.

Gambaran kecintaan Kiai Najib kepada santri-santrinya, katanya “kulo wongsal-wangsul sowan mriki, sumerep piyambak. Sedinten-sedintenipun namung nenggani santri. sekali menawi majeng menika sederek enem, santri enem. Anggenipun ikramu ad-dhuyuf, mulyaaaken dateng tamu (saya sering berkunjung ke sini (Krapyak) menyaksikan sendiri. Dalam kesehariannya hanya menunggui santri. Sekali maju setoran, ada enam santri”.

Atas dasar kesaksiannya, Kiai Said menukil salah sebuah ayat 88 dalam surat al-Waqiah,  dengan berprasangka baik bahwa almarhum Kiai Najib termasuk dalam golongan minal muqarrabiin (orang-orang yang didekatkan kepada Allah SWT). Dalam kitab tafsir, makna dari ayat minal muqarrabin ialah para nabi dan rasul Allah, ulama, dan syuhada’.

“Kula husnudzan, simbah Kiai Najib Abdul Qodir, mlebet wonten golongan muqarrabuun (saya berprasangka, simbah Kiai Najib Abdul Qodir, termasuk golongan yang muqarrabuun-dekat dengan Allah,” tegas ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ (PCNU) Magelang itu.

Wa ammaa inkaana min ashaabil yamin, fasalamun laka min ashabil yamin. Paling mboten kito berupaya keras nyuwun dateng gusti Allah, termasuk ashabul yamiin, tiang-tiang ingkang ngleresaken dateng Rasulullah, dateng sahabat ashabul rasul, dateng tabi’in, dateng poro alim, dateng poro kiai (Wa ammaa inkaana min ashaabil yamin, fasalamun laka min ashabil yamin. Paling tidak kita berupaya keras berdoa kepada Allah SWT, agar termasuk ashabul yamiin, orang- orang yang meyakini Rasulullah, sahabat nabi, pengikut nabi, para alim ulama dan para kiai),” lanjutnya mengajak hadirin.

Putra ulama’ kharismatik Magelang (KH. Asrori Ahmad) itu mengajak untuk meneladani sosok KHR. Muhammad Najib yang semasa hidupnya mewiridkan dan berhidmah kepada al-Qur’an, terlebih dalam hal mendidik anak untuk mencintai nabi, keluarga nabi dan al-Qur’an (addibu auladakum bi tsalasi khisolin).

Menyitir syair Imam Syafi’i, Uhibbu sholihina wa lastu minhum, La’alli an anala bihim syafa’ah. Wa ukrihu an tijaarotil ma’ashi wa laukuntu Sawaa’an fil bidho’ah, Kiai Said juga mengajak untuk selalu menanamkan rasa cinta kepada orang-orang shalih.

Di akhir mauidhoh hasanahnya, adik sepupu Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) ini mendo’akan agar nantinya (di akhirat) semua hadirin dikumpulkan bersama KHR. Muhammad Najib, guru-gurunya, ulama’, syuhada’dan sholihin.

Turut hadir dalam acara tersebut kiai asal Rembang, KH. Yahya Cholil Staquf, Katib ‘am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).