Majelis Dzikir dan Tahlil 40 Hari KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir dilaksanakan Secara Virtual

Peringatan 40 Hari Wafat KH.R. M. Najib AQ digelar secara virtual. Dok: @almunawwir

Almunawwir.com – 40 hari wafatnya almghfurlah KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir, Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak gelar Majelis Dzikir dan Tahlil pada Kamis, 11 Februari 2021.

Dalam peringatan ini, Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak telah menghimbau agar masyarakat umum tidak mengikuti acara secara langsung, mengingat situasi dan kondisi pandemi Covid-19. Acara ini diselenggarakan secara internal khusus keluarga dan para santri yang berada di lingkungan pondok pesantren. Adapun masyarakat umum tetap dapat mengikuti Majelis Dzikir dan Tahlil secara virtual yang disiarkan langsung melalui channel Youtube Almunawwir Tv.

Acara ini sebelumnya telah dimulai pada Rabu, 10 Februari 2021 dengan menggelar acara Khotmil Quran yang dilakukan secara bil hifdzi maupun bin nadzri oleh santri dan alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Kemudian puncaknya dilaksanakan pada keesokan harinya ba’da Isya bertempat di Aula G.

Majelis dzikir dan tahlil 40 hari almaghfurlah KH. R Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir dihadiri oleh para keluarga berserta beberapa tamu undangan penting seperti KH. Said Asrori, KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Mas’ud Masduqi selaku Rais Syuriah Pengurus Nahdlatul Ulama Yogyakarta, KH. Mu’tashim Billah, KH. Yasin Nawawi, KH. Agus Masruri, KH. Habib Abdul Syakur, KH. Hasyim Nawawi.

Acara ini dibuka oleh Irfan Chalimi, S.Pdi selaku pemandu acara. Dilanjutkan pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh  Alfin Fauzi. Pada sambutan keluarga yang diwakili oleh Gus Anang Muqoddam, M. Pd.I,  beliau menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para tamu undangan sekaligus memohon maaf mewakili apabila terdapat suatu kekurangan dalam penyelenggaraan acara ini.

Kemudian berlanjut pada pembacaan yasin oleh Gus Kholaf Muhammad Abha dan tahlil yang dipimpin KH. R Abdul Hamid Abdul Qadir. Disusul acara Mauidhoh Hasanah oleh KH. Said Asrori. Beliau menyampaikan bahwa KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir memeliki perilaku yang luar biasa – lisannya selalu melafalkan ayat suci al-Qur’an (lisanuhul quran) sedangkan hatinya insyaallah juga mencerminkan al-Quran (qolbuhu quran). Beliau juga merupakan hamilul quran yang memegang al-Qur’an dengan baik.

Mugi sing kita waos niki sedoyo, insyaallah ugi dumugi dateng panjenenganipun (semoga apa yang kita semua baca – dzikir dan tahlil, insyaallah semoga sampai kepada beliau (amin)” ucap KH. Said Asrori.

Cerdasnya Sang Penipu Ketika Menghadapi Kematian: Pentingnya Memuji Kebaikan Orang Yang Sudah Meninggal

Gus Yunan. ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Almunawwir.com – Dalam Islam, membicarakan kebaikan orang-orang yang sudah meninggal serta tidak membicarakan kejelekannya, termasuk diantara adab yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW kepada umatnya.

Sebagai seorang Muslim yang baik, sudah sepatutnya bagi kita untuk teguh memegang dan melaksanakan ajaran tersebut. Banyak kutipan hadis yang menjelaskannya, antara lain:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَالِكٌ بِسُوءٍ فَقَالَ: لَا تَذْكُرُوا هَلْكَاكُمْ إِلَّا بخير

Dari Aisyah bahwa ada seseorang yang telah meninggal yang disebut keburukannya. Nabi bersabda: “Jangan kalian sebut orang-orang yang telah wafat di antara kalian kecuali dengan kebaikan” (H.R. Nasa’i)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اذْكُرُوا محاسن مَوْتَاكُمْ، وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِئِهِمْ

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebutlah kebaikan orang-orang yang telah wafat di antara kalian dan cegahlah untuk menyebut keburukan mereka” (H.R. Tirmidzi)

عن مُجاهدٍ قال: قالت عائشةُ: ما فَعَلَ يَزِيدُ بنُ قيسٍ عليهِ لَعْنَةُ اللَّـهِ؟ قالُوا: قَدْ مَاتَ، قالت: فأَسْتَغْفِرُ اللَّـهَ، فقالوا لَهَا: ما لَكِ لعَنْتِيه، ثم قلتِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّـهَ؟
قالتْ: إنَّ رسولَ اللَّـهِ قال: لا تَسُبُّوا الأمواتَ، فإنَّهم أَفْضَوْا إلى ما قَدَّمُوا

Dari Mujahid bahwa Aisyah berkata: “Apa yang dilakukan Yazid bin Qais -semoga Allah menjauhkan rahmat darinya- ?” Mereka berkata bahwa ia telah meninggal. Aisyah berkata: “Aku meminta ampunan kepada Allah”. Mereka bertanya: “Mengapa engkau melaknatnya kemudian meminta ampunan kepada Allah?” Aisyah berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencaci maki orang yang telah meninggal. Sebab mereka sudah selesai dengan amal mereka” (H.R. Ibnu Hibban).

Baca Juga: Pelajaran di Balik Kisah Wafatnya Nabi Adam ‘Alaihi aS-Salam

Dalam kitab ushfuriyyah, Syekh Abu Bakar menceritakan kisah seorang penipu (si thorror) yang cerdas. Saking terkenalnya, ia dikenal dengan julukan “Fulan sang penipu”. Modus penipuannya adalah dengan mengaku dekat dan pernah akrab terhadap calon korbannya. Terkadang ia mengaku sebagai teman lama yang terlupakan, pernah pula ia mengaku sebagai anak dari teman orangtua mereka.

Suatu ketika ia masuk ke dalam pasar dan mencari target korban penipuannya. Tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang laki-laki desa yang kelihatan lugu. Si penipu (thorror) pura-pura akrab dengan memberinya salam dan menjabat tangannya.

“Kamu adalah teman ayahku. Aku ingin mentraktirmu hari ini,” kata si penipu.

“Aku tidak mengenalmu dan juga tidak mengenal ayahmu, “ jawab si lelaki desa.

“Kamu itu sebenarnya teman ayahku. Barangkali kamu sudah lupa, tetapi aku tidak lupa. Oleh karena itu, aku ingin mentraktirmu hari ini, lillaahi Ta’ala, “ kata si penipu.

Dengan sok akrab ia mengajak korbannya makan di rumah makan, sembari memesan kepala kambing, roti, dan beberapa makanan lainnya. Kebiasaan di daerah itu adalah seorang pembeli akan membayar setelah selesai makan.

Setelah tinggal beberapa suapan, si penipu akan pergi dengan alasan buang air atau keperluan lainnya. Si penipu itu tak akan kembali lagi, dan bisa dipastikan sang korbanlah yang harus membayar makanan mereka berdua.

“Bayar dulu, jangan pergi!!,” kata pemilik warung makan.

“Saya ditraktir orang tadi, pak, “ jawab si lelaki desa.

“Aku tidak mau tahu siapa yang mentraktir dan siapa yang ditraktir. Pokoknya makanan yang kalian beli harus dibayar, “ kata pemilik warung makan.

Modus penipuan seperti ini sering ia lakukan berulang kali sepanjang hidup.

Baca Juga: Berharganya Nilai Sehelai “Uban” dan Adab kepada Orang yang Lebih Tua

Ketika si penipu jatuh sakit dan merasa ajalnya kian dekat, si penipu menyewa dua orang. Masing-masing diberi upah sebesar satu dinar. Kemudian ia berkata kepada mereka berdua, “Kalau nanti aku telah mati, kalian harus mengiringi jenazahku dan terus katakan kalau jenazah ini adalah orang yang sholih dan baik. Kalian harus terus-menerus katakan seperti itu sampai aku selesai dikuburkan.”

Ketika si penipu benar-benar telah meninggal, dua orang yang disewa itu mengiringi jenazahnya sambil terus berkata : “sebaik-baik orang adalah orang ini. Ia adalah orang yang shalih dan baik”. Kedua orang itu terus mengatakannya hingga orang-orang selesai mengubur jenazah si penipu.

Apa yang kemudian terjadi?

Tidak berselang lama, dua Malaikat (Munkar-Nakir) masuk ke dalam kuburan si penipu untuk memberi pertanyaan kubur.

Tiba-tiba terdengar seruan : “Hai dua Malaikat!! Tinggalkan hamba-Ku yang kalian datangi itu. Sesungguhnya hamba-Ku itu hidup dengan cara menipu dan matipun ia juga masih menipu!”

TERNYATA ALLAH MENGAMPUNI SI PENIPU KARENA KESAKSIAN DUA ORANG SEWAAN INI.

 

*Catatan :

  1. Dari sisi hadis memang hadisnya dlaif, namun hadis dlaif bisa diamalkan untuk amaliah non akidah.
  2. Kok enak banget ya? Jangan pernah sekali-kali mempertanyaan sifat “Maha Adil-Nya sang Khaliq”
  3. Pada akhirnya, memang surga dan neraka hanya milik Allah.
  4. Ayo temans, buka referensi, ada rahasia apa di balik kisah ini?
  5. Jangan lupa, tebarkan kisah kebaikan orang-orang yang sudah meninggal, tutup serapat mungkin kejelekannya.

 

Pelajaran di Balik Kisah Wafatnya Nabi Adam ‘Alaihi aS-Salam

Gus Yunan. ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Almunawwir.com – Cerita ini mendeskripsikan saat-saat terakhir kehidupan ayah seluruh umat manusia, Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam dan peristiwa yang terjadi setelah beliau wafat.

Setelah Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam meninggal, para malaikat memandikannya, memberinya wewangian, mengkafaninya, menggali kuburannya, mensholatinya, menguburnya dan menimbunnya dengan tanah. Para Malaikat melakukan hal itu semua untuk mengajari umat manusia tentang cara merawat janazah (tajhizul mayyit)

Cerita ini berawal dari hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad:

حدثنا عبد الله حدثنا هدبة بن خالد حدثنا حماد بن سلمة عن حميد عن الحسن عن عتي قال : رأيت شيخا بالمدينة يتكلم فسألت عنه فقالوا هذا أبي بن كعب فقال إن آدم عليه السلام لما حضره الموت قال لبنيه أي بني إني أشتهي من ثمار الجنة فذهبوا يطلبون له فاستقبلتهم الملائكة ومعهم أكفانه وحنوطه ومعهم الفؤوس والمساحي والمكاتل

فقالوا لهم يا بني آدم ما تريدون وما تطلبون أو ما تريدون وأين تذهبون قالوا أبونا مريض فاشتهى من ثمار الجنة قالوا لهم ارجعوا فقد قضي قضاء أبيكم فجاءوا فلما رأتهم حواء عرفتهم فلاذت بآدم فقال إليك إليك عني فإني إنما أوتيت من قبلك خلي بيني وبين ملائكة ربي تبارك وتعالى فقبضوه وغسلوه وكفنوه وحنطوه وحفروا له وألحدوا له وصلوا عليه ثم دخلوا قبره فوضعوه في قبره ووضعوا عليه اللبن ثم خرجوا من القبر ثم حثوا عليه التراب ثم قالوا يا بني آدم هذه سنتكم

Dari Uttiy bin Dhamurah As-Sa’di berkata, “Aku melihat seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya.” Mereka menjawab, “Itu adalah Ubay bin Ka’ab.” Ubay berkata, “Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah Surga.” Lalu anak-anaknya pergi mencari untuknya. Mereka disambut oleh para Malaikat yang telah membawa kafan Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul.

Baca Juga: Mampukah Kita Membaca Ayat ini dengan Sepenuh Hati?

Para Malaikat bertanya, “Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?” Mereka menjawab, “Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari Surga.” Para Malaikat menjawab, “Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba.” Lalu para Malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung kepada Adam. Adam berkata kepada Hawa, “Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala.”

Lalu para Malaikat mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya, menshalatinya.

Mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur, mereka menimbunnya dengan batu. Lalu mereka berkata, “Wahai Bani Adam, ini adalah sunah kalian.”

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari hadis tersebut di atas:

  1. Hadis ini berkategori hadis mauquf (sahabat Ubay bin Ka’ab), dan dapat masuk pula dalam kategori hadis marfu’ (marfu’ hukmiy)
  2. Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam selalu rindu kepada surga yang pernah ditinggalinya dan selalu ingin kembali kepadanya. Bagaimana dengan kita?
  3. Kerinduan Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam pada buah surga dan ingin segera memakannya merupakan tanda dekatnya ajal. Bagaimana dengan tanda kematian orang-orang di sekitar kita?
  4. Diperbolehkannya para Malaikat untuk menjelma menjadi manusia dan melakukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia (memandikan, memberi wewangian, mengkafani, menggali kuburan, mensholati, mengubur dan menimbun tanah). FYI: Malaikat hanya tidak bisa bermaksiat kepada sang Rabbul ‘Izzah.
  5. Manusia sudah mengenal beberapa material dan peralatan sejak zaman Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam, seperti kain kafan, wewangian, kapak, cangkul dan sekop. Berarti sudah ada peradaban manusia sejak dahulu kala.
  6. Kewajiban seorang anak untuk berbakti dan menyenangkan hati orang tuanya, seperti ditunjukkan oleh anak Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam yang mencarikan buah surga untuk ayahandanya. Bagaimana dengan kita?
  7. Ibunda umat manusia Sayyidatuna Hawwa bisa mengenal para Malaikat yang menjelma sebagai manusia. Hal itu juga bisa terjadi pada manusia lainnya.
  8. Sayyidatuna Hawwa membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para Rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara kehidupan dunia dan Akhirat). Bagaimana kalau kita diberi hak untuk memilih? Alhamdulillah, untungnya kita tidak diberi hak untuk memilih.
  9. Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam merasa sangat berdosa karena mengabulkan permintaan Sayyidatuna Hawwa untuk memakan buah K Diperlukan sikap waspada terhadap segala godaan (fitnah) yang muncul dari kaum hawa, anak, dan pihak eksternal. Bagaiamana dengan kita?
  10. Salah satu keutamaan Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam adalah Malaikat sendiri yang memandikannya, mengkafaninya, memberinya wangi-wangian, menggali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka menutupnya dengan batu bata. Masih banyak keutamaan lain yang dimiliki oleh Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam.
  11. Metode pengajaran kepada manusia dapat berupa ucapan (qouliy) dan perbuatan (fi’liy), sebagaimana ditunjukkan oleh para Malaikat. Metode tersebut sudah dikembangkan sejak dahulu dan tentunya diperlukan inovasi kedepan.
  12. Perawatan janazah merupakan syariat (ajaran) sejak zaman Nabiyullah Adam ‘alaihi as salam, berlangsung terus di era nabi-nabi setelahnya hingga hari akhir nanti. Bagaimana dengan perawatan janazah selain hal tersebut diatas, seperti dibakar, didandani, diletakkan dalam peti, mengubur janazah dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara dan perhiasan bersamanya?

 

Komplek L Gelar Pekan Ta’aruf: Belajarlah Sebelum Ditokohkan

Pekan Ta’aruf Santri Komplek L digelar secara taat protokol kesehatan. Foto by: @Komplek_L

Almunawwir.com – Sudah sekian lamanya, kehadiran santri-santri baru di PP. Al-Munawwir Komplek L akhirnya tiba juga. Bila melihat sebagian besar di beberapa pesantren, mereka telah menyambut kedatangan santri baru sejak bulan Syawal lalu.

Bukan berarti belum siap menyambut kedatangan mereka, pasalnya di samping pandemi sedang berlangsung, di Komplek L juga sedang dalam tahap pembangunan gedung baru dan beberapa renovasi pada titik tertentu, sehingga hal ini sedikit menghambat terhadap kedatangan santri baru, menimbang fasilitas untuk mereka belum siap digunakan.

Akhirnya pemberangkatan santri baru Komplek L dilakukan pada bulan Desember 2020 lalu dengan menerapkan protokol kesehatan, pemberangkatan tersebut dilakukan secara bergelombang kemudian diikuti dengan karantina di ruangan khusus yang telah disediakan.

Usai acara haul virtual KH. M. Moenawwir ke-82 (23/01), Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L baru bisa menggelar acara Pekan Ta’aruf pada tanggal 01-04 Februari 2021. Pekan Ta’aruf merupakan ajang orientasi studi dan pengenalan santri baru terhadap lingkungan ke-Al-Munawwir-an Komplek L.

Acara Pekan Ta’aruf ini dilaksanakan selama 4 hari berturut-turut. Pada hari pertama, santri-santri baru berkumpul di Mushola Al-Mubarok untuk memulai pembukaan acara secara resmi oleh panitia Pekan Ta’aruf yang turut dihadiri Ketua RT setempat. Selanjutnya disambung dengan sesi materi I tentang “Kepesantrenan dan Kebangsaan” yang dibawakan oleh Bapak Achmad Zainal Arifin, M.A., Ph.D.

Pada hari kedua, santri-santri baru mengikuti acara demi acara dengan penuh khidmat dan semangat. Pada pertemuan ini, acara dibawakan oleh dua pemateri yang luar biasa, sesi materi II tentang “Ke-Aswaja-an dan Ke-NU-an” oleh Bapak Beni Susanto, M.A. Sementara sesi materi III tentang “Ke-Al-Munawwir-an” oleh Ustadz Abdus Salam, M.A.

Pada hari selanjutnya, tidak kalah dengan hari sebelumnya, santri-santri baru tetap semangat mengikuti kegiatan acara Pekan Ta’aruf. Pada perjumpaan kali ini, ada dua sesi terakhir yang dibawakan oleh dua pemateri, yaitu Ustadz Yunan Roni, M. Sc. dengan tema “Living Al-Qur’an”. Kemudian disambung pemateri berikutnya, yaitu Bapak Dr. Yaltafit Abror Jeem, M.Sc dengan tema “Pesantren dan Adaptasi Kebiasaan Baru” yang dilakukan secara virtual.

Tidak hanya mengundang 5 pemateri yang luar biasa, acara Pekan Ta’aruf ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan lain di setiap pertemuannya, seperti diselenggarakan lomba yang mengasah kemampuan santri baru, Bakti Sosial kepada masyarakat yang kurang mampu bersama Pak RT guna menanamkan jiwa sosial yang tinggi, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Cara Agama Islam Dikawal dengan Ukuran Minimal Menurut Gus Baha

Kemudian pada hari keempat, malam puncak acara Pekan Ta’aruf yang bertepatan pada hari Kamis malam Jum’at (04/02). Seluruh santri PP. Al-Munawwir Komplek L berkumpul di Mushola untuk mengikuti rangkaian acara yang dilaksanakan ba’da Maghrib, dimulai dari pembukaan, pembacaan Maulid, sambutan-sambutan, penampilan santri, dan mauidzoh hasanah sekaligus do’a yang dibawakan oleh Ustadz Dr. Abdul Jalil, S.Th.I, M.S.I.

Dalam kesempatan ini, Ustadz Abdul Jalil menyampaikan materi yang mampu menggugah hati para hadirin. Beliau mengatakan bahwa seorang santri yang menimba ilmu di usia muda merupakan momentum yang pas, dimana jiwa semangat mengaji mereka masih bergejolak dalam raganya. Sebagaimana beliau mengutip pendapat yang mengatakan:

تَعَلَّمُوْا قَبْلَ اَنْ تُسَوَّدُوْا
“Belajarlah sebelum kalian dituankan”.

Artinya belajarah sebelum kalian menjadi orang yang mengajarkan ilmu (baik guru, kiai, atau ustadz). Sebab lanjut beliau, ketika seseorang sudah dianggap dan dipercaya oleh masyarakat, sementara ia belum cukup ilmunya, maka ia tidak memiliki waktu lagi untuk mengulang dan belajar kembali. Oleh sebabnya, marilah belajar dengan sungguh-sungguh sejak dini, kelak apapun yang terjadi di masa depan, kita sudah siap menghadapinya.

Berkenaan dengan pendapat ini, Romo KH. M. Munawwar Ahmad selaku pengasuh Komplek L, menyampaikan sambutannya seusai Ustadz Abdul Jalil meninggalkan tempat acara. Beliau mengatakan bahwa pendapat ini ada dua versi, pertama bahwa orang yang mengatakan pendapat ini adalah Sayyidina Umar bin Khathab, dengan redaksi:

تَفَقَّهُوْا قَبْلَ اَنْ تُسَوَّدُوْا
“Belajarlah sebelum kalian dituankan”.

Versi kedua yaitu dengan redaksi sebelumnya, yakni ta’allamu. Lanjut beliau, dalam kitab Al-Bukhari kitab al-iman bab al-ightibath fil-ilm wal-hikmah, setelah Sayyidina Umar berkata demikian, Imam Bukhari melanjutkan perkataannya: “وَبَعْدَ اَنْ تُسَوَّدُوْا” (bahkan setelah kalian dituankan), “وَقَدْ تَعَلَّمَ اَصْحَابُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي كِبَرِ سِنِّهِمْ” (sebab para Sahabat Nabi belajar di saat mereka sudah besar/berumur). Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa atsar Sahabat Umar yang diriwayatkan oleh Abi Syaibah dan lainnya dari jalur Muhammad bin Sirin dari Al-Ahnaf bin Qais adalah sanadnya sahih (kredibel).

Baca Juga: Gus Baha: Pentingnya Menjaga Sanad Keilmuan

Maksud dari pengasuh Komplek L adalah beliau hendak menyampaikan bahwa meskipun seseorang sudah dituankan (dijadikan tokoh) oleh masyarakat, mungkin karena suatu sebab seperti, adanya tuntutan, belum sempat mengaji, atau selainnya, ia masih memiliki kesempatan untuk tidak berhenti belajar menuntut ilmu. Mengingat dulu para Sahabat juga belajar di saat mereka sudah besar, mereka tidak malu dan tidak gengsi untuk belajar kepada Nabi dan Sahabat lainnya meskipun jarak saling berjauhan.

Hal terpenting yang sebelumnya disampaikan oleh Ustadz Abdul Jalil yaitu tentang seseorang yang belajar mengaji, namun ia sama sekali tidak paham atas apa yang disampaikan gurunya. Tenang saja, sebab meskipun ia tidak memahami ilmu yang disampaikan guru, ia tetap akan mendapatkan tujuh keutamaan, beliau melanjutkan:

Pertama, ينال فضل المتعلمين (mendapatkan fadilah sebagai orang yang belajar ilmu); Kedua, ما دام عنده جالسا كان محبوسا عن الذنوب والخطايا (selama ia duduk di majelis ilmu, ia akan senantiasa terhindar dari dosa dan kesalahan); Ketiga, اذا خرج من منزله نزلت عليه الرحمة (di saat ia keluar dari rumahnya, rahmat turun kepadanya); Keempat, اذا جلس عنده نزلت الرحمة على العالم فتصيبه ببركته (di saat ia duduk, rahmat turun kepada gurunya, lalu ia akan memperoleh keberkahannya).

Kelima, تكتب له الحسنات ما دام  مستمعا (ditulis baginya kebaikan-kebaikan selama ia masih mendengarkan gurunya); Keenam, تحفهم الملائكة بأجنحتهم وهو فيهم (Malaikat akan menaunginya dengan sayap-sayapnya, sementara ia berada di dalamnya); Ketujuh, كل قدم يرفعها ويضعها تكون كفارة للذنوب ورفعا للدرجات وزيادة في الحسنات (setiap langkah-langkahnya, akan menghapus dosa-dosa, mengangkat derajat, dan menambah kebaikan).

Ketujuh, keutamaan ini diperuntukkan bagi seseorang yang benar-benar tidak memahami pelajaran yang disampaikan guru. Adapun orang-orang yang memahaminya, mereka akan mendapatkan keutamaan yang bekali-kali lipat. Hal ini juga dijelaskan dalam kitab I’anah ath-Thalibin dalam pembahasan awal tentang faidah imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi.

Acara selanjutnya adalah penutupan, lalu disambung dengan makan-makan bersama sebagai akhir dari puncak acara Pekan Ta’aruf. Semoga dengan diselenggerakan acara ini, seluruh santri PP. Al-Munawwir Komplek L mampu mengambil ibrah dan manfaat. Amiin.